
By : Tiara Sajanaka
🌼Semakin kebawah, lorong terlihat semakin lebar. Sampai kami tiba disebuah tempat yang luas.
Pria itu, menunjukkan tempat berwudhu. Serta meminta seorang wanita separuh baya agar menemaniku.
Selesai berwudhu, wanita separuh baya itu memberiku sebuah mukena yang bersih dan wangi.
"Terima kasih bu," kataku sopan.
Ibu itu mengangguk tanpa tersenyum.
Dia menunjukkan tempat sholat untuk wanita.
Sedangkan tempat sholat para pria ada disebelah kanan depan.
Dengan partisi yang terbuat dari kayu berukir-ukir.
Partisi itu terlihat kokoh dan berkelas.
Tempat sholat ini cukup lapang dan nyaman.
Langit-langitnya berbentuk kubah besar berwarna biru. Dengan hiasan mozaik warna-warni.
Mengingatkanku pada sebuah masjid berwarna biru.
Sambil mengagumi keindahan kubah,
Aku mencari barisan yang masih longgar.
Hanya barisan didekat jendela besar yang masih longgar.
Segera kuambil sebuah sajadah yang dilipat dirak bersusun. Kemudian membentangnya didekat jendela besar.
Aroma wangi dan lembut tercium dari sajadah yang kubentang.
Sepertinya mereka sangat menjaga kebersihan semua sarana disini.
Membuat siapapun yang beribadah menjadi lebih nyaman.
Aku mulai bersiap-siap untuk sholat magrib berjamaah.
Tapi, apa aku boleh bermakmum pada makhluk astral?
Saat ini adalah pertama kalinya aku melakukan sholat berjamaah dengan para astral.
Keraguan itu kutepis jauh-jauh.
Bukankah saat ini, wujudku juga berupa tubuh astral?
Tentu saja, aku boleh bermakmum pada mereka.
Suasana sholat magrib sangat khusu' dan terasa begitu dalam.
Mereka menghayati setiap gerakan dengan sepenuh hati.
Ayat-ayat yang dilantunkan juga terasa dalam dan penuh perasaan.
Sangat berbeda sekali sewaktu sholat sendiri. Semua kulakukan dengan terburu-buru dan sengaja membaca surat-surat pendek.
Agar bisa menyelesaikan sholat dengan cepat.
Padahal, selesai sholat aku hanya duduk sambil bermain handphone.
Tetapi kenapa sholat menjadi seperti sebuah rutinitas saja buatku?
Berbeda sekali dengan suasana ditempat ini.
Mereka melakukan ibadah sholat magrib dengan tenang dan tertib.
Seakan-akan mereka sedang menikmati setiap momentnya dengan kesungguhan.
Saat berdzikir, mereka juga begitu meresapi.
Akupun terbawa suasana yang khusu'.
Namun, belum sempat bersalam-salaman dengan para jamaah wanita, wanita separuh baya itu telah menepuk bahuku.
Segera kulepas mukena, melipat mukena dan sajadah dengan rapi. Kemudian mengembalikan kepadanya.
"Terima kasih mukenanya ibu," ucapku santun.
Kemudian dia mengantarkan ketempat pria yang membawaku tadi.
Sebelum wanita itu meninggalkan kami, aku mengucapkan terima kasih dengan penuh kesungguhan. Terlihat wanita itu tersenyum tipis sambil mengangguk sopan.
Hatiku terasa damai melihat senyumnya.
Pria separuh baya itu, membawaku kembali melewati lorong yang kami lalui.
Kali ini aku tidak berani bermain-main dengan cahaya yang terpancar dari lantai.
Ada perasaan aneh yang mulai menyergap perlahan.
Membuatku lebih memilih fokus mengikuti langkah kakinya.
Sesampainya di gerbang, pria itu berpamitan.
Akupun mengucapkan terima kasih karena telah diijinkan menumpang sholat ditempat mereka.
Setelah pria itu masuk kedalam gerbang.
Aku mulai mencari wanita yang mengantarku ketempat ini.
Tapi dia tidak terlihat disekitar sini.
Sebaiknya aku memanggil pria tadi. Dan meminta bantuannya untuk menunjukkan jalan.
Namun, aku terkejut saat melihat gerbang itu sudah tidak ada.
Hanya bebatuan sungai setinggi lima meter berdiri tegak di hadapanku.
Ku coba memastikan dengan mencari gerbang itu disekeliling bebatuan.
Ternyata gerbang itu benar-benar menghilang.
Aku tertegun memandang bebatuan yang semakin terlihat menyeramkan.
Suasana di sekeliling juga mulai menjadi gelap. Tidak ada cahaya apapun yang bisa kugunakan sebagai penerang.
Suara kecipak air sungai, membuatku yakin untuk menjauhi sungai.
Namun, masih terlihat cahaya lampu-lampu dari villa-villa diatas bukit.
Dengan hati-hati aku berjalan kearah villa-villa itu.
Melewati hutan kecil, samar-samar sebuah bayangan putih bergelayutan diatas pohon.
Ternyata dia sedang duduk diatas pohon trembesi.
Aku berjalan tanpa memperdulikannya.
Keinginanku hanya ingin segera sampai di komplek villa itu.
Agar tidak berlama-lama berada ditempat yang aneh ini.
"Bagaimana rasanya bertemu mereka?" tanyanya sambil menjejeri langkahku.
"Biasa saja.."
"Kamu sering bertemu bangsa mereka?"
"Aku tidak yakin. Dengan kata sering itu." sahutku dingin.
"Kenapa kamu jalan dengan terburu-buru?"
"Aku ingin segera sampai ke komplek villa itu."
"Kamu kan bisa terbang, kenapa berjalan dengan langkah seperti itu?" ejeknya.
Seketika aku berhenti melangkah.
Berdiri mematung sambil menarik nafas panjang.
Dia benar, tubuh astral sangat ringan.
Dapat melayang dan terbang didunia astral.
Kenapa aku tidak ingat Soal itu?
🍃🍃