
By: Tiara Sajanaka
🌼Pak Rasyid tidak mengantarku pulang.
Tapi dia membawaku ke sebuah pantai di daerah Karangasem.
Pemandangan sepanjang perjalanan sangat menyenangkan. Membuatku melupakan kekesalan padanya.
Pantainya bersih dan sepi. Tidak banyak pengunjung yang datang.
"Jauh banget harus ke Karangasem buat lihat laut." kataku sambil duduk dihamparan pasir putih.
"Pantai ini belum banyak orang yang berkunjung. Kita bisa menikmati suasana lebih tenang."
"Trus, nanti kita tidur dimana?"
"Nanti kita bisa camping disuatu tempat yang romantis."
"Hmm, apa kamu tidak takut aku jahati?"
"Aku tahu, kamu tidak akan melakukan hal itu pada tubuh ini." sahutnya dengan wajah penuh kemenangan.
"Oh, pantas saja kamu memilih dia sebagai wadahmu."
Dia menatapku tajam. "Lira, kalau aku bisa menemuimu disini dengan wujudku disana, tentu akan aku lakukan. Tapi, kamu tahu pulau ini memiliki kekuatan yang luar biasa. Aku bisa hancur berkeping-keping kalau memaksakan menjadi diriku."
"Tapi, Manggala bisa. Dan pemuda yang bersamanya itu juga bisa." kataku sambil terisak.
"Hai..kenapa kamu menangis?" pak Rasyid mendekat dan merangkulku.
"Aku merindukan dia, wajahnya yang tegas. Bola mata yang biru terang, rambut kecoklatan, senyumnya, serta tubuh tinggi tegap yang membuatku nyaman saat berada didalam pelukannya. Lalu sekarang, aku harus menerima sosok itu berada didalam tubuh sahabatku yang...ah sudahlah. Aku tidak mau body shimming."
Pak Rasyid tertawa terbahak-bahak, dia mengacak-acak rambutku dengan gemas.
"Jadi, kamu hanya merindukan tampilan fisikku? Bukan diriku yang sebenarnya?"
"Aku mengenalmu sejak awal seperti itu. Bukan sebagai Arya. Tetapi sebagai pak Rasyid."
Dia menghentikan tawanya. "Aku pikir, kamu akan lebih bahagia saat bersama sahabatmu.Ternyata aku salah. Setidaknya, kita akan menghabiskan waktu bersama sampai cutimu habis."
"Lalu, bagaimana caranya Manggala bisa tetap menjadi dirinya?"
"Kamu lupa siapa Manggala? Dia memiliki ikatan kuat dengan semua aliran air di seluruh Nusantara. Dia bisa kemana saja dengan wujudnya itu. Selama dia tidak membawa pasukannya."
"Kenapa Seperti itu?"
"Ibu Manggala adalah putri penguasa sungai terbesar di negri ini. Kakek Manggala itu, juga sesepuh para astral dunia bawah. Tentu saja, dia memiliki tanda pengenal khusus agar bisa melewati semua perbatasan."
"Jadi, siapa yang bersamanya itu?"
"Pemuda itu bertugas mendampinginya selama dia berada disini."
"Astral dunia bawah?"
"Benar, petugas khusus dari wilayah Bali."
"Pantesan aku bisa merasakan vibrasinya. Karena aku tidak mengenal dia. Kalau dia petugas khusus dengan kemampuan bisa berkamuflase sebagai manusia, itu artinya dia.." aku menjadi tercekat saat menyadari siapa pemuda itu.
Hanya Astral berkemampuan tinggi yang dapat melakukan hal itu.
"Iya, pemuda itu usianya lebih tua dari kami. Dia juga memiliki kemampuan tingkat tinggi."
"Aku bisa merasakan vibrasinya. Tapi pada Arya tidak sama sekali."
"Seorang Panglima, takut padaku?" tanyaku heran.
"Iya, manusia yang memiliki kemampuan seperti dirimu itu sangat menakutkan didunia kami."
"Alasannya?"
"Kalau manusia yang memiliki kemampuan seperti dirimu itu adalah orang dengan keinginan besar untuk menguasai segalanya. Maka kami semua akan berada didalam genggamannya."
"Apa ada yang seperti itu?"
"Dulu banyak, mereka melakukan segala cara untuk dapat mengendalikan makhluk astral. Khususnya bangsa kami."
"Berapa lama mereka bisa melakukan hal itu?"
"Tidak pernah sampai seratus tahun."
Mendengar penjelasannya, membuatku teringat pada para pekerja di kediamannya.
Apa para pekerja itu, adalah manusia-manusia yang dulunya pernah melakukan kesepakatan dengan Arkana maupun pak Rasyid?
Aku ingin menanyakan hal itu padanya.
Tetapi Manggala datang bersama pemuda itu.
Dia berjalan kearah kami sambil membawa kelapa muda.
Penampilannya seperti turis mancanegara.
Memakai celana selutut berwarna khaki, dengan atasan kaos berwarna biru Dongker bertuliskan sebuah tempat ternama di daerah Kuta.
Pemuda yang bersamanya, terlihat berpakaian sama dengannya. Sepertinya mereka tidak memiliki ide fashion lainnya.
Manggala memberikan kedua kelapa muda yang dipegangnya pada pak Rasyid.
Pak Rasyid memberikan sebuah kelapa muda padaku.
Dia duduk disebelah pak Rasyid.
Pemuda itu tersenyum sambil mengangguk sopan padaku. Sebelum dia duduk disebelah Manggala.
"Akhirnya, kami sampai juga ke tempat ini." kata Manggala.
"Apa mobil itu, sulit buat ditangani?" tanya pak Rasyid.
"Tidak, kami tadi melihat ke tempat camping dulu. Aku sudah memesan sebuah tenda untuknya."
"Baiklah, setelah dari sini, kita kesana. Sebelum matahari terbenam." jawab pak Rasyid.
"Apa kalian pikir, aku bisa kenyang dengan sebutir kelapa muda?" ketusku. Kutunjukkan pada mereka kelapa muda yang telah habis kuminum.
Pak Rasyid tertawa renyah, sewaktu melihatku kesal.
Tubuh milik Arya harus makan juga.
Dan kami berdua tetap membutuhkan makanan yang sebenarnya.
Ntah dengan Manggala dan pemuda itu.
Apa mereka juga membutuhkan makanan manusia ditempat ini?
🍃🍃