
By: Tiara Sajanaka
🌼 Matahari pagi mulai bersinar lembut, sewaktu aku duduk di teras menikmati kudapan yang kubeli tadi. Ditemani secangkir kopi Bali yang masih mengepulkan uap wanginya.
Aku membaca semua pesan yang masuk tadi malam dan tadi pagi.
Ada sebuah pesan dari Trisna, dia ingin menyusulku. Tetapi saat ini, ibunya sedang membutuhkan banyak biaya.
Ibu manager mengirim pesan agar aku menggunakan waktu untuk berobat dan beristirahat.
Teman-teman ditempat kerja juga mengirim pesan doa buat kesembuhanku.
Semua pesan kubalas satu persatu dengan rasa haru. Ternyata selama ini, banyak sekali orang baik disekelilingku. Tak terasa air mata haru menetes perlahan.
Kuucapkan syukur atas semua karunia yang ALLAH berikan padaku.
Ada juga pesan dari nomer tak dikenal.
Satu pesan telah terbaca, dan masih ada lima pesan yang belum terbaca.
Setelah membaca semua pesan dari nomer tak dikenal, aku baru sadar.
Ternyata tadi malam, sewaktu membaca pesan itu aku tidak sedang bermimpi.
Samar-samar aku juga teringat saat berada di ruang ilusi. Pak Rasyid mengatakan akan menjemputku.
Untuk beberapa saat pikiranku tidak bisa mencerna semua hal tentang dia.
Terlalu mengejutkan buatku, harus menerima kenyataan, kalau dia menghubungiku melalui telepon seluler.
Dan sebentar lagi dia akan menjemputku.
Apa sekarang ini aku hidup di dunia dongeng?
Atau kisah 1001 malam?
Mungkin ini semua hanyalah hayalan dan halusinasiku.
Semoga saja aku cepat terbangun dan tersadar dari halusinasiku.
Pikiranku masih menerawang, sewaktu aku menyeruput kopi yang masih panas.
Rasa panas itu membuatku tersadar. Kalau aku tidak berhalusinasi.
Kopi ini nyata, kudapan didepanku nyata. Serta tulisan di handphone itu nyata.
Seketika aku menjadi lemas dan gemetar.
Dia benar-benar datang ke kampungku dan memintaku menemaninya selama waktu cuti.
Setelah semua ini selesai. Sebaiknya aku tidak lagi berurusan dengan bangsa mereka.
Aku lelah dan merasa terbelenggu dengan caranya mencintai. Tidak ada seorangpun yang bisa mengekang hidup dan keinginanku.
Jam delapan, aku segera mandi dan bersiap-siap untuk bepergian bersamanya.
Sebuah tas ransel ukuran sedang,kugunakan sebagai tempat pakaian dan perlengkapan. Hanya pakaian ganti beberapa helai saja.
Aku tidak tahu dia akan membawaku kemana. Tetapi yang pasti, kami akan menginap di suatu tempat.
Mungkin kami akan camping atau menjelajah lautan.
Semua itu menyenangkan buatku.
Hatiku berdebar-debar menunggu kedatangannya.
Akan seperti apakah perwujudannya saat berada disini?
Ku perhatikan jam di dinding dengan gelisah. Setiap kali jarum panjang bergerak, perasaanku semakin tidak karuan. Mengalahkan masa remaja sewaktu akan pergi berkencan.
Aku tersenyum tipis, "Saya hanya deg-degan mbak. Karena sudah lama kami tidak bertemu." jawabku asal.
"Apa dia seseorang yang spesial mbak?" godanya.
"Bukan, kami hanya berteman. Tapi, saya merasa sedikit gugup."
"Kok sama teman bisa gugup mbak?" tanyanya heran.
"Iya, saya sedang menduga-duga, Seperti apa penampilannya sekarang ini."
"Haha..mbak Lira ini lucu. Nanti kan ketemu. Kenapa harus pakai menduga-duga segala."
Oalah mbak Warni, nggak mungkin aku menjelaskan padanya kalau yang akan menjemputku bukanlah manusia sesungguhnya. Dia pasti akan menganggap halusinasiku kumat lagi. Setelah itu dia akan menelpon kedua orangtuaku.
Dan mengatakan pada mereka, kalau aku sedang kambuh errornya.
Apalagi mbak Warni itu penakut. Bisa makin kacau keadaanku kalau dia sampai tahu hal yang sebenarnya.
Keponakan mbak Warni, tiba-tiba berdiri dari tempatnya menonton televisi.
Dia segera berlari keluar menuju pagar.
Aku segera menyusul dia keluar. Tidak ada siapa-siapa di depan pagar.
"Ada apa dik?"
"Tadi ada om yang berdiri disini." tunjuknya di luar pagar.
"Mungkin orang lewat."
"Sebentar Tante,nanti om itu kembali."
"Darimana kamu tahu?"
"Iya, tunggu saja." jawabnya yakin.
Gadis ini pasti memiliki talenta yang tersembunyi. Aku belum bisa merasakan energi itu dari dirinya.
Tetapi dia memiliki kepekaan yang cukup baik.
"Apa kamu punya tanda lahir?" tanyaku setengah berbisik.
"Ada, dipunggung sebelah kiri." dia mencoba menarik lengan bajunya untuk menunjukkan tanda lahir itu.
"Biar Tante yang melihatnya." kataku sambil mengintip dari kerah baju belakang.
"Iya, merah dengan semburat kehijauan."
"Memangnya kenapa Tante? Kok nanya tanda lahirku?"
"Soalnya kamu bijak dan pinter banget. Pasti kamu anak yang sangat patuh pada orangtua?"
Gadis itu tertunduk sedih. Sepertinya dia memiliki rasa bersalah pada kedua orangtuanya.
"Nakal dan bandel itu memang dunia anak-anak. Karena orang dewasa tidak memahami dunia anak-anak."
"Iya Tante, kata mamak..aku bandelnya nggak ketulungan. Padahal aku kan hanya main-main."
"Jangan sedih, suatu saat kedua orangtuamu akan paham. Kalau kamu bukan nakal. Tapi kamu terlalu aktif dan selalu ingin tahu."
Gadis itu tertawa dengan sorot mata ceria.
Suatu saat, dia akan dapat melakukan banyak kebaikan dengan talentanya itu.
Semoga saja, dia bertemu dengan guru yang benar-benar bisa membimbingnya.
🍃🍃