SINTRU

SINTRU
SINTRU- 65



By: Tiara Sajanaka


๐ŸŒผTengah malam aku terbangun mendengar suara nada dering dari handphone.


Sebuah nomer yang tidak dikenal.


Kuabaikan saja panggilan itu. Kemudian mengaktifkan mode silent.


Sewaktu akan melanjutkan tidur, kulihat sebuah pesan masuk.


Setelah membaca isi pesan itu, aku terkejut. Benar-benar terkejut. Tidak menyangka sama sekali kalau mereka juga menggunakan telepon seluler.


"Lira, besok aku akan menjemputmu. Sekitar jam sepuluh pagi. Bawa pakaian buat ganti atau kita nanti membelinya di pasar seni."


Begitu tertulis pesan dari pak Rasyid.


Aku setengah percaya setengah tidak percaya. Dan menganggap diriku sedang bermimpi. Pesan itu tidak kubalas.


Karena aku tidak yakin dia melakukan itu.


Menulis pesan menggunakan handphone.


Kutarik selimut dan Kembali melanjutkan mimpi.


Ternyata dia belum puas juga.


Dia masuk kedalam alam ilusiku.


Mengatakan hal yang sama seperti yang ditulisnya.


Aku hanya mengangguk saja sewaktu di alam ilusi. Karena disana, aku tidak dapat mengendalikan sesuatu yang muncul seperti mimpi.


Sayup-sayup terdengar suara adzan subuh dari mushola di sebrang perumahan.


Aku segera bangun untuk mandi. Kemudian melaksanakan sholat subuh. Waktu subuh di Bali terasa lebih cepat dan lebih pendek dari daerah tempat kerjaku.


Sehabis sholat subuh, kulihat mbak Warni sudah bangun. Dia sedang menyapu dan membersihkan seluruh ruangan.


"Mbak, saya mau jalan-jalan sebentar ya. Sambil lihat penjual kue basah."


"Hati-hati mbak, banyak anjing yang dilepas disini."


"Iya mbak, biasanya anjing-anjing sekitaran sini memang suka ngikuti saya jalan."


"Hahha, mbak Lira belum mandi ya?" candanya.


"Wuih, ya sudah mbak. Mau sholat subuh mesti mandi dulu. Biar nyaman waktu sholat."


"Kirain belum mandi," kekehnya.


Mbak Warni tertawa renyah. Dia membukakan pagar sewaktu aku memakai sepatu.


Setelah berpamitan, aku berjalan kearah pasar tradisional dekat rumah.


Biasanya pagi-pagi seperti ini, kue-kue basah masih banyak yang panas dan aromanya sangat menggugah selera.


Beberapa ekor anjing menyapaku dengan gonggongannya yang ramah.


Aku juga menyapa dan menanyakan kabar mereka.


Mereka membalas dengan gonggongan pendek.


Aku tertawa geli, ternyata mereka paham bahasaku.


Mereka mengikutiku sampai belokan pertama menuju ke pasar.


Sebelum melanjutkan perjalanan ke pasar, aku memperhatikan anjing-anjing yang sedang berkumpul dipertigaan.


Sepertinya mereka sedang ngobrol dengan serius. Ntah apa yang mereka bicarakan.


Semoga tidak bergosip tentangku.


Setelah melewati los penjual sayuran dan buah-buahan, aku berbelok ke kiri.


Disini tempat para penjual kue basah dan aneka kudapan lainnya.


Aku punya langganan yang menjual jaje laklak. Atau kue laklak.


Bentuknya sama seperti serabi, tetapi ukurannya lebih kecil.


Jaje laklak ini sangat enak dimakan dengan parutan kelapa dan cucuran gula Bali ganting. Gula Bali ganting itu, adalah gula merah yang dicairkan dan dimasak sampai mengental.


Rasanya sungguh menakjubkan.


Suasana pasar masih terlihat lengang. Aku segera menuju ke tempat penjual kue langganan. Memesan empat bungkus Jaje laklak dan empat bungkus Jaje Bali campur.


Serta beberapa aneka kudapan lainnya.


Pagi yang menyenangkan, membuat perasaanku menjadi lebih baik.


Hari ini, aku bisa menikmati jajanan kesukaan serta menikmati kopi Bali yang gurih. Betapa beruntungnya menjadi manusia. Dapat menikmati kehidupan yang singkat ini dengan penuh kebahagiaan.


Istilah *"Jaan hidup di Bali" itu memang benar adanya, kalau kita dapat menikmati semua moment dengan rasa syukur.


๐Ÿƒ๐Ÿƒ


*Jaan hidup di Bali: Enak hidup di Bali