
By: Tiara Sajanaka
🌼Kami sampai di sebuah bangunan yang cukup luas.
Pengendali kereta kuda, menghentikan kereta tepat di pintu gerbang.
Dua orang pekerja datang membantu Rasyid turun dari kereta.
Pekerja yang mendampingi Rasyid, menyiapkan tandu untuknya. Sebab Rasyid tidak mau menggunakan kursi roda.
Rasyid duduk didalam tandu. Dia juga memintaku duduk bersamanya.
Tapi, aku lebih memilih jalan bersama para pekerja. Walau harus mengatur jarak sedemikian rupa.
Jarak dari gerbang menuju pintu utama rumah besar ini tidak terlalu jauh.
Para pekerja membawa tandu sampai kedalam rumah.
Kemudian mereka memindahkannya ke sebuah sofa khusus diruang tengah.
Seorang pria berusia sekitar dua puluh lima tahun berjalan kearah kami.
Dia tersenyum lebar kearah Rasyid.
Kemudian menatapku seksama.
Sampai akhirnya dia kembali tertawa.
Aku tidak tahu, kenapa pria itu terlihat aneh.
Dia berbicara pada Rasyid. Mengatakan kalau Rasyid bisa masuk keruangannya.
Dua pekerja kembali mengangkat tandu.
Membawa tandu itu, masuk kedalam sebuah ruangan.
Aku menunggu diruang tengah.
Ruangan ini sangat luas dan sepi.
Tidak ada siapapun yang terlihat disekitar ruangan ini.
Setelah duduk termenung selama sepuluh menit, aku berjalan untuk melihat-lihat seluruh ruangan.
Seluruh dinding dihiasi dengan berbagai lukisan dengan segala tema.
Ada rak-rak panjang tempat meletakkan buku-buku.
Berbagai judul buku ada di tempat ini.
Kuraih sebuah buku dengan sampul warna coklat. Tertulis di sampul depan kalau buku yang kuambil adalah buku tentang dunia manusia.
Ternyata mereka juga mempelajari tentang kehidupan dunia manusia.
Buku ini cukup tebal. Menggunakan tulisan dan bahasa Jawa kuno.
Ternyata buku ini adalah sebuah kitab atau serat klasik.
Tentu saja aku sangat senang menemukan sebuah kitab langka.
Segera aku mencari tempat yang nyaman untuk duduk. Membaca kitab dengan seksama. Mengeja satu persatu aksaranya serta menterjemahkan dengan hati-hati.
Kitab ini seperti kitab terjemahan.Sebab, ada istilah-istilah yang terasa asing saat kubaca.
Serta kebudayaan yang tertulis juga jauh berbeda dengan kebudayaan Jawa.
"Itu kitab La Galigo, Lira." ucap seseorang dari arah pintu samping.
Wajahnya terlihat berusia sekitar lima puluh tahun.Cantik, anggun dan rambutnya sepinggang tergerai bercahaya keperakan.
"Ibu kenal saya?" tanyaku santun.
Wanita itu mendekat, kemudian duduk di bangku yang berada didepanku.
"Saya mendengar banyak hal tentangmu. Namamu begitu bergema di seluruh wilayah tuan Arkana." jawabnya lembut.
"Apa hal itu sangat menganggu ya bu?"
"Tidak Lira, kami senang mendengar kisah tentangmu. Seperti kisah perjalanan kami."
"Kami?"
"Hahah, benar kata Manggala. Kamu memang sedikit mengesalkan."
"Oh, ternyata Manggala adalah penyebar gosip itu." sahutku kesal.
"Jangan salah paham. Manggala tidak pernah datang berkunjung ke tempat ini. Tubuh astralnya memiliki energi yang dapat merusak tanaman-tanaman langka disini."
"Lalu, bagaimana Manggala bisa menceritakan tentang saya?"
"Saya sering berkunjung ke tempat mereka. Ibu Manggala wanita yang baik, dan cerdas. Walaupun sedikit temperamental."
"Oh, sebaiknya saya tidak bertemu dengan beliau. Saya tidak tahan dengan wanita yang temperamental."
"Lira, kamu lucu sekali dan sedikit mengesalkan." kekehnya.
"Ibu tinggal di kawasan sorga ini?" tanyaku malu-malu.
"Wah, kawasan ini memang terlihat seperti sorga. Apa kamu melihatnya seperti sorga?"
Aku mengangguk senang."Saya belum pernah melihat kawasan seindah tempat ini. Udaranya juga segar."
Wanita itu tersenyum. Dia memanggil seorang pekerja untuk menyediakan minuman dan cemilan.
"Ibu, saya tidak bisa makan, makanan disini." ucapku hati-hati.
"Kamu bisa memakannya Lira, karena itu makanan manusia. Saya menanam dan mengolah sendiri semua makanan yang akan saya konsumsi."
Seketika mataku membelalak dengan rasa tidak percaya.
"Apa ibu seorang manusia? Dan memiliki tubuh material ditempat ini?" teriakku tertahan.
"Kamu seperti akan meledakkan tempat ini." kekehnya sewaktu melihatku sangat terkejut.
Aku masih tidak percaya dengan semua yang kulihat dan kudengar.
Perlahan-lahan kuulurkan tangan untuk menyentuh lengannya.
Wanita itu meraih tanganku, kemudian dia menjabat tanganku dengan erat.
Aku merasakan tangannya sangat dingin. Seperti es batu yang sangat beku.
Segera kutarik tanganku, kemudian memasukkan tanganku kedalam saku jaket.
"Saya tidak mengerti dengan kondisi ibu." ucapku gemetar.
Ada perasaan aneh yang menguasaiku.
Serta segala dugaan-dugaan mulai bersliweran di dalam pikiran.
🍃🍃