
By: Tiara Sajanaka
🌼 Api unggun sudah mulai padam. Meninggalkan bara diantara debu-debu pembakaran.
Para muda-mudi tidak terlihat lagi. Sepertinya mereka sudah masuk ke dalam tendanya masing-masing.
Aku mulai gelisah menunggu kedatangan mereka. Ada apa sebenarnya, sampai mereka pergi begitu lama.
"Tidurlah, aku akan berjaga disini." kata Mavendra.
"Baiklah,semoga semua baik-baik saja." jawabku. Walau sebenarnya, hatiku sedikit gelisah.
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Sebaiknya kamu tenangkan pikiranmu."
Aku mengangguk. Kemudian masuk ke dalam tenda.
Berbaring di matras dengan pikiran menerawang.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Kenapa Arkana sampai memanggil mereka berdua?
Apa ini ada kaitannya dengan perjalanan mereka ke pulau ini?
Rasa gelisah membuatku sulit untuk terpejam. Sesekali aku melirik matras tempat pak Rasyid. Tapi sampai matahari menjelang terbit, mereka belum kembali.
Aku keluar tenda untuk menyaksikan matahari terbit.
Mavendra tidak terlihat lagi di area ini, mungkin dia menyusul mereka.
Udara dingin membuatku menggigil.
Kulingkarkan syal rajut ke leher, serta memakai Hoodie untuk mengurangi rasa dingin.
Rombongan pemuda-pemudi duduk didekat tebing sambil memasang tripod.
Mereka menunggu moment matahari terbit dengan semangat.
Mereka melambaikan tangan padaku, memintaku bergabung bersama mereka.
Kubalas lambaian tangan mereka, sambil memberi isyarat kalau aku sedang menunggu seseorang.
Mereka tersenyum kemudian mengacungkan jempol padaku.
Aku tersenyum dan mengangguk santun
Sebenarnya, ingin sekali bergabung bersama mereka. Tetapi aku lebih memilih menyendiri didekat tenda.
Tak terasa air mata menetes perlahan. Hatiku terlalu pedih merasakan kesendirian disaat menikmati keindahan menjelang fajar.
Pandanganku fokus menatap semburan keemasan diujung timur. Kilauan itu berpendar indah diantara kabut yang mulai menipis.
Tiba-tiba kurasakan seseorang memelukku erat. Aroma lembut dari tubuhnya membuatku tersentak.
"Tetaplah Seperti ini, kita nikmati kebersamaan ini dengan kebahagiaan. Jangan menangis lagi, Canim."
suara itu, pelukan hangat, aroma tubuhnya benar-benar nyata didekatku.
Bagaimana dia bisa mendapatkan ijin menjadi dirinya saat berada disini?
Apa Arkana telah membuat kesepakatan baru dengannya?
Lalu, bagaimana dengan kesepakatan yang telah kami buat? Apa kesepakatan itu dapat berubah tanpa mendiskusikannya denganku?
Semua pertanyaan itu, membuatku tidak fokus melihat matahari terbit.
"Lihatlah matahari itu, dia begitu indah. Seindah perjalanan kisah cinta kita." bisiknya di telingaku.
Aku tersenyum lebar. Berusaha menikmati keindahan pagi ini. Serta menikmati pelukan hangatnya. Suhu tubuhnya memang berbeda dengan suhu tubuh manusia.
Saat berada didalam pelukannya dengan cuaca sedingin ini, membuatku seperti sedang berendam didalam kolam air panas.
Terasa nyaman dan menenangkan.
"Aku bahagia sekali. Dapat menikmati suasana seperti ini bersamamu." ucapnya sambil memelukku lebih erat.
"Aku juga bahagia. Kamu bisa menemaniku sebagai dirimu sendiri. Bukan sebagai Arya sahabatku." Ucapku dalam hati.
Andai saja, dia bisa menjadi dirinya sendiri.
Tentu aku tidak sesedih sekarang ini.
Sulit buatku untuk menerima sosok Arya sebagai dirinya.
Apalagi sampai harus melakukan adegan ciuman. Oh Tuhan...jangan sampai hal itu terjadi.
Aku tidak bisa melakukan adegan seperti dalam filem Ghost yang di perankan Demi Moore. Sungguh, aku tidak akan sanggup.
Aku tersentak sewaktu mendengar suara tepuk tangan dari arah pemuda -pemudi di dekat tebing. Membuat suasana yang tadi begitu hening, berubah menjadi riuh.
Mereka terlihat bahagia sekali. Telah berhasil mengabadikan momen itu didalam rekaman video dan foto-foto menakjubkan.
Mereka saling berpelukan juga bersalam-salaman.
Kemudian bersorak dengan penuh kegembiraan.
Aku tersenyum melihat mereka.Merasakan kebahagiaan yang mereka luapkan saat ini.
Anak-anak muda yang penuh semangat dan mencintai alam dengan caranya.
Bukan hanya sekedar menikmati suasana.
Tetapi ikut menjaga dan merawat alam dengan berbagai kegiatan positif.
🍃🍃