SINTRU

SINTRU
SINTRU-64



By: Tiara Sajanaka


🌼Sampai di bandara internasional Ngurah Rai, aku segera mencari taxi.


Jam di handphone menunjukkan pukul lima sore.


Perjalanan dari bandara menuju ke rumah orangtuaku memakan waktu sekitar satu jam.


Sebenarnya tidak terlalu jauh. Tetapi disaat jam pulang kerja seperti sekarang ini, sudah dapat dipastikan jalan sekitar Kuta akan padat. Dan menyebabkan kemacetan di setiap ruas jalan.


Namun, aku menyukai kemacetan yang terjadi. Dengan begitu, aku bisa membaca banner yang ada di depan setiap toko, artshop, cafe, restauran dan berbagai usaha lainnya. Hiburan ditengah kemacetan suasana senja di Kuta.


Sewaktu aku sampai didepan rumah. Suasana rumah terlihat sangat sepi.


Pagar rumah tertutup rapat, tetapi tidak digembok. Aku memanggil bapak dan ibu berkali-kali. Tidak terdengar suara sahutan sama sekali.


Kubuka pagar rumah sambil mengucapkan salam.


Meletakkan koper di teras dengan perasaan sedih. Ternyata rumah dalam keadaan kosong.


Kucoba menghubungi nomer telepon seluler kedua orangtuaku. Suara di handphone mengatakan, kalau nomer sedang berada diluar jangkauan.


Aku duduk di teras dengan lesu.


Berharap kedua orangtuaku segera pulang.


Sekitar tiga puluh menit menunggu, kulihat mbak Warni, pengurus rumah membuka pagar.


Dia terkejut melihatku duduk di teras.


"Mbak Lira!" teriaknya tertahan.


"Bapak sama ibu kemana mbak? Kok rumah sepi banget?" tanyaku sedih.


"Lho, mbak nggak tahu kalau bapak dan ibu hari ini berangkat ke Singapura."


"Ngga tahu mbak, saya juga nggak kasih kabar kalau mau pulang." ucapku penuh sesal.


"Masuk dulu mbak." ajaknya setelah membuka pintu rumah.


Mbak Warni membantuku membawa koper ke dalam kamar.


"Tadi nunggu lama ya mbak?"


"Nggak mbak, sekitar tiga puluh menitan."


"Tadi saya ke warung sebentar mbak. Makanya pagar tidak saya gembok."


"Lain kali di gembok saja mbak. Walaupun cuma sebentar. Apalagi suasana di perumahan ini sepi sekali."


"Iya mbak, tapi sekuriti disini selalu berpatroli."


"Syukurlah, semoga lingkungan disini selalu aman." Selama ini di komplek perumahan tempat tinggal kedua orang tuaku memang aman. Lingkungannya juga bersih.


"Mbak Lira mau dibuatkan minuman apa?"


"Terima kasih mbak, nanti saya buat sendiri."


"Kalau gitu, saya pamit mau beresin dapur mbak."


"Iya mbak, terima kasih sudah bantuin saya."


Setelah mbak Warni ke dapur, aku segera mandi dan berganti pakaian.


Kemudian menyusul mbak Warni ke dapur untuk membuat teh panas.


"Rencana berapa hari bapak dan ibu di Singapura mbak?"


"Katanya sebulan mbak,"


"Lama juga disana. Saya hanya dua Minggu disini mbak."


"Mbak Lira nggak nunggu bapak sama ibu kembali?"


"Cuti saya hanya dua Minggu mbak."


"Mbak Lira nggak ingin tinggal di Bali?"


"Pingin, tapi saya tidak betah lama-lama di Bali."


Mbak Warni tersenyum. Dia tahu kenapa aku tidak betah berlama-lama tinggal di Bali.


Selama ini, aku selalu membuat masalah setiap kali tinggal di Bali. Kehidupan yang bebas serta pergaulan dengan teman-temanku, membuat kedua orangtuaku khawatir.


Mereka selalu memintaku agar mencari pekerjaan di luar Bali.


Dengan bekerja di luar Bali, hidupku menjadi lebih teratur dan mandiri.


Serta banyak sekali pengalaman yang kudapatkan disaat merantau.


"Airnya sudah mendidih mbak." kata mbak Warni membuyarkan lamunanku.


Aroma khas dari daun itu mulai menguar di udara, membuatku memejamkan mata sambil menghirup aromanya.


Segar dan wangi melati.


"Oh ya mbak, kenapa mendadak sekali bapak sama ibu ke Singapura?" tanyaku tiba-tiba.


"Kata ibu, mbak Ratu sedang ujian. Kebetulan mbak Ratu baru pindah apartemen yang lebih luas. Makanya, minta bapak sama ibu buat menemani."


"Tahu gitu, saya nggak pulang ke Bali mbak. Tapi langsung nyebrang ke Singapura. Malah lebih dekat." kekehku.


"Iya juga ya mbak, dengar-dengar lewat laut hanya 45 menit."


"Iya mbak, Deket banget. Salah saya juga, nggak bilang kalau mau cuti."


"Saya malah seneng mbak Lira pulang. Jadi ada temannya." ucapnya sumringah.


"Eits, siapa yang bilang kalau saya tidur dirumah? Wong saya sedang transit kok." candaku.


Mbak Warni tertawa renyah. Dia hafal betul.


Setiap kali pulang ke Bali. Sudah dapat dipastikan kalau aku pulang ke rumah kedua orangtuaku hanya untuk mandi dan berganti pakaian. Setelah itu, aku akan pergi bersama teman-teman komunitas.


Bukan melakukan hal-hal tidak baik. Tapi, kami akan melakukan kegiatan di alam.


Mendaki gunung, camping, menyelam, memancing ke laut lepas serta kegiatan alam lainnya.


Tentu saja hal itu membuat kedua orangtuaku khawatir.


"Mbak akan pergi mendaki?"


"Mungkin, rencana mau ke Rinjani. Mbak mau ikut?"


"Nggak, saya ngga berani mendaki mbak. Enak dirumah saja. Nggak capek dan nggak gosong." kekehnya.


"Trus, mbak dirumah sendiri saja?"


"Nanti adik saya datang. Dia juga membawa keponakan buat menemani saya disini selama bapak sama ibu di Singapura."


"Syukurlah kalau begitu mbak. Jadi nggak sepi."


"Iya mbak, bapak sama ibu juga sudah mengijinkan. Mereka menginap disini."


Aku tersenyum lega. Mbak Warni memang sudah lama bekerja disini.


Kami juga sudah mengenal keluarga mbak Warni. Selain itu, mbak Warni orangnya rajin, telaten, cekatan, sabar dan mengerti dengan keinginan bapak juga ibu.


Itu sebabnya, bapak dan ibu sayang sekali pada mbak Warni.


Setelah makan malam, aku menonton televisi ditemani keponakan mbak Warni.


Usianya sekitar delapan tahun.


Anaknya baik dan santun.


"Kelas berapa?" tanyaku pada keponakan mbak Warni.


"Kelas dua, Tante." jawabnya sopan.


"Besok nggak sekolah?"


"Kan libur semester, Tante."


"Wah, asyik dong bisa jalan-jalan sama keluarga."


"Nggak Tante, mamak sama bapak kerja. Saya main disini saja. Nemenin bude Warni."


"Ya ALLAH, bijak sekali kamu nak." kataku takjub.


Gadis kecil itu tersipu malu. Dia kembali asyik melihat layar televisi yang sedang menayangkan film animasi.


Suara telpon di ruang tengah terdengar cukup nyaring. Kulihat mbak Warni bergegas mengangkat telpon.


Sepertinya dia sedang berbicara dengan ibu.


Mbak Warni juga mengatakan kalau aku ada dirumah.


Sebentar kemudian, mbak Warni memanggil ku, mengatakan kalau ibu ingin berbicara denganku.


Aku segera menghampiri mbak Warni. Dia memberikan gagang telepon padaku.


Ibu menanyakan kenapa aku tidak menunggu sampai bapak dan ibu kembali.


Kujelaskan, kalau aku hanya mengambil cuti tahunan.


Kemudian kami berbincang ringan. Ibu berpesan agar aku jangan keluyuran terus selama di Bali. Dan memintaku agar lebih banyak beristirahat.


Kami berbicara sekitar lima menit. Kemudian, gagang telpon kuserahkan kembali pada mbak Warni.


🍃🍃