
By: Setya Rahayu
🌼"Lira,"
"Iya pak,"
"Apa kamu bisa memanggilku Rasyid?"
"Kenapa hal itu menjadi masalah pak?"
"Aku berharap, saat kamu berada di dunia astral, kamu mau memanggilku Rasyid. Hal itu akan sangat kuhargai."
Aku tertegun mendengar ucapannya. Apa memang begitu penting panggilan itu?
Bukankah dengan memanggilnya bapak, sudah sangat jelas kalau aku menghormatinya.
Mungkin di dunia mereka tidak seperti itu.
Mereka sangat sensitif dengan pertanyaan masalah usia. Begitu juga dengan kata tua atau lebih dewasa.
Semoga dia mau menjelaskan hal ini.
"Di dunia manusia, panggilan bapak atau ibu itu adalah cara kita menghormati seseorang."
Pak Rasyid mendekat kearahku.
Dia duduk bersandar didekat jendela.
Suara hujan masih menyisakan gerimis.
Tidak terdengar lagi petir dan Guntur.
Yang mengiringi gerimis subuh ini.
"Di dunia kami, membahas masalah usia itu seperti ingin mengatakan kalau kami sudah terlalu lama menjalani kehidupan.
Kebanyakan para astral selalu sedih dengan masalah itu. Tetapi, kalau kami musnah. Maka kami tidak memiliki kehidupan lagi.
Kalau kami menjalani kematian, kemana kami akan pergi? Manusia mendapatkan karunia kematian. Sedangkan kami, harus menjalani kehidupan tanpa wadah kasar seperti kalian. Selama ratusan tahun. Bahkan ribuan tahun."
"Saya tidak tahu soal itu. Saya pikir, tata cara dalam bermasyarakat disana sama dengan dunia kami. Karena saya sering memanggil para astral dengan sebutan Bu, pak, Mbah, serta sebutan penghormatan lainnya."
"Mereka bisa memaklumi itu. Kalau kamu tidak tahu nama mereka. Tetapi, saat mereka sudah menyebutkan nama, artinya mereka mau dipanggil dengan namanya."
"Ternyata begitu. Lalu bagaimana dengan para astral yang masuk dalam golongan khodam? Mereka selalu minta di hormati."
"Khodam itu masih membawa sifat pemiliknya.Mereka golongan astral yang masih terikat pada dunia manusia.Mereka masih agul, minta disembah, minta dihormati. Kehidupan mereka berbeda dengan kami."
"Ternyata banyak sekali kehidupan dunia astral yang tidak saya ketahui. Padahal, saya sering mengembara disana."
"Kamu mengembara pada tempat yang sudah ditentukan. Bukan traveler tanpa tujuan. Setiap ke dunia astral, kamu selalu ada misi. Itu sebabnya, kamu tidak pernah berbelok dari jalur yang sudah ditentukan."
"Saya takut tersesat. Disana terlalu luas dan banyak batas wilayah masing-masing astral."
"Benar Lira, sikap disiplin itu sangat penting. Apalagi disana kamu tidak akan bisa meminta bantuan pada siapapun.Kecuali penjaga dan pembimbingmu."
Aku terkejut sewaktu dia menyebutkan pembimbing.
Bagaimana dia bisa mengetahui tentang pembimbingku?
Kalau dia sudah tahu, kenapa dia masih menginginkan aku menjadi kekasihnya?
Bukankah mereka pencemburu?
"Kamu teringat pada pembimbingmu? Kamu masih memikirkannya?"
Aku diam. Tidak berani membahas masalah ini. Bukankah pembimbingku telah memberiku kebebasan untuk memilih jalan hidupku?
"Saya bersiap dulu ya. Sebentar lagi akan berangkat kerja." kataku cepat untuk mengalihkan pembicaraan.
"Aku akan kembali. Selama tiga hari ini, aku akan menyelesaikan masalah disana. Kamu tidak apa-apa kan?"
Sebenarnya aku merasa geli dengan Pertanyaaannya. Seolah-olah aku tidak bisa jauh dari dirinya.
"Ya, saya akan baik-baik saja."
"Aku akan merindukanmu." desahnya.
"Bukankah waktu tiga hari itu cepat sekali."
"Benar, kenapa aku jadi merasa tidak nyaman meninggalkanmu?"
Dia tertawa kecil.
Setelah berganti pakaian di kamar mandi, aku duduk berhias di depan cermin berukuran 30 x 50 cm.
"Lira, maukah kamu tinggal bersamaku?"
Kupandang dia dari pantulan di cermin.
"Saya manusia. Dan akan tinggal di dunia manusia." tegasku.
"Tapi, aku tidak bisa berbuat banyak disini."
Kubalikkan badan, menghadap kearahnya.
"Biarkan saya menjalani kehidupan saat ini.Saya tidak ingin hidup tanpa kepastian."
"Menebak hati wanita itu ternyata sulit." keluhnya.
"Tidak sesulit itu. Selama bisa saling memahami dan menghargai, wanita akan mengerti dan tidak menuntut banyak."
"Aku sering melihat wanita memiliki keinginan yang tidak terbendung."
"Kami juga memiliki perbedaan karakter setiap individunya." sahutku sambil melanjutkan berhias.
Setelah mengoleskan lipstik, maka selesailah rangkaian make up yang harus ku aplikasikan ke wajah.
Aku tersenyum padanya.
Dia memandangku dengan tatapan sedih.
Seolah-olah kami tidak akan pernah bertemu lagi.
"Saya berangkat kerja dulu.Jangan khawatirkan saya. Tetapi berhati-hatilah saat kembali." kuambil tas ransel diatas meja. Mendekatinya dan meraih tangannya untuk berpamitan.
Pak Rasyid menarikku ke dalam pelukannya.
Dia memelukku erat sekali.
Jantungku berdegup kencang, kali ini perasaan itu benar-benar tidak dapat dikendalikan.
Saat dia menatap wajahku, aku menciumnya dengan penuh gairah.
Dia membalas dengan penuh perasaan.
Dan berusaha menenangkan hasratku.
Sampai akhirnya, aku merasa kesal.
Mendorongnya dengan kasar.
"Kenapa kamu marah?" tanyanya lembut.
"Apa saya tidak boleh menginginkanmu?"
"Boleh, tapi bukan sekarang. Kita tidak boleh melakukannya tanpa adanya pernikahan."
"Kamu terlalu kuno dan menyebalkan." desisku.
"Seharusnya kamu senang, aku tidak akan menyentuhmu seperti itu tanpa pernikahan."
Mereka memang makhluk kuno dan taat peraturan.
Walaupun mereka memiliki hasrat yang besar. Mereka tetap bisa mengendalikannya dengan baik.
Itu sebabnya, mereka selalu memiliki banyak pasangan. Dengan pernikahan cara mereka.
Kurapikan pakaian dan riasan yang sedikit berantakan.
"Baiklah, saya berangkat kerja." pamitku.
Sebelum membuka pintu, kuambil payung lipat dari dalam laci.
Membuka pintu kamar. Menatapnya sejenak.
Kemudian meninggalkannya sendiri didalam kamar.
🍃🍃