SINTRU

SINTRU
SINTRU- 113



By: Tiara Sajanaka


🌼"Sudah waktunya aku pergi ke tempat mas Jantaka. Apa kamu akan menemaniku?"


"Tidak. Nanti beberapa penjaga wanita yang akan menemanimu."


"Kenapa? Apa masalah muhrim atau bukan juga menjadi hal yang harus dipatuhi?"


"Lira, kami juga memiliki keyakinan. Dan didalam keyakinan kami, hal itu harus dipatuhi."


"Ya..ya..kalian memang mahkluk paling taat dan patuh. Berbeda dengan manusia. Malah lebih suka nerabas larangan."


Rasyid tersenyum, dia meminta tiga orang pekerja wanita menemaniku ke kediaman mas Jantaka.


Akar laut yang dibawa seorang penjaga, diberikan padaku sewaktu kami telah tiba didepan kediaman mas Jantaka.


Aku mengucap salam sebelum mendorong pintu. Terdengar suara jawaban dari dalam rumah.


Suaranya berat dan berwibawa. Itu suara paman mas Jantaka. Hatiku terasa lebih tenang sewaktu mendengar suara beliau.


Para penjaga yang bersamaku, mereka menunggu diluar rumah.


Tetapi mereka membuat tiga formasi bintang.


Dan satu formasi bulan.


Formasi itu adalah bagian dari proses pemulihan yang akan kami lakukan.


Hanya para astral yang dapat membuat formasi seperti ini.


Sedangkan manusia tidak dapat melakukannya. Sebab, ada bagian energi yang harus dipertemukan pada formasi bulan.


Dan hal ini, sering terjadi lompatan energi besar yang menimbulkan percikan energi.


Percikan energi ini seperti kilat yang menyambar-nyambar.


Itu sebabnya, manusia sulit melakukan hal-hal seperti itu. Walaupun ada banyak sekali manusia yang berusaha untuk mendapatkan kemampuan formasi bintang dan bulan.


Aku menyerahkan akar laut kepada paman mas Jantaka. Beliau menerima nampan yang disodorkan.


Tak lama kemudian mas Jantaka datang.


Dia membawa sebuah gelas yang berisi air setengah gelas.


Paman mas Jantaka membaca doa dengan suara jelas.


Selesai membaca doa, paman memasukkan akar laut kedalam gelas.


Kemudian kembali membaca doa.


Beberapa menit membaca doa. Paman mengeluarkan akar laut dari dalam gelas.


Paman menggosok kedua telapak tangannya, lalu memegang akar laut dan membentuknya menjadi sebuah lingkaran.


Paman dan mas Jantaka kembali ke tubuh material mereka. Gelas dan akar Bahar telah berpindah dari dunia astral ke dunia manusia.


Aku tidak tahu, bagaimana caranya paman melakukan hal itu.


Tapi, dia memang memiliki keahlian memindahkan benda dari alam lain.


Tiga formasi bintang, dan satu formasi bulan mulai memancarkan gelombang kearahku. Ternyata tubuh astralku menjadi perantara energi yang mereka kirimkan ke tubuh istri mas Jantaka.


Posisi mereka memang berada diluar rumah.


Namun, gelombang yang dipancarkan dapat menembus atap rumah.


Aku mendekat ke tempat tidur istri mas Jantaka. Dia terlihat semakin pucat dan lemah.


Paman memercikkan air ke seluruh bagian tubuh istri mas Jantaka.


Sedangkan mas Jantaka, meletakkan lingkaran akar laut itu diatas perut istrinya.


Perpaduan energi dari akar laut dan energi dari formasi bintang, bulan terasa memenuhi ruangan.


Ruangan menjadi hangat disertai pusaran angin lembut.


Sekitar satu jam kami berusaha mengembalikan energi istri mas Jantaka.


Tak lama kemudian, istri mas Jantaka membuka mata perlahan. Dia tersenyum kearah suaminya.


Aku keluar untuk menemui para pekerja Rasyid.


Mengatakan pada mereka, kalau kondisi istri mas Jantaka telah membaik.


Mereka mengangguk, kemudian meninggalkanku di tempat mas Jantaka.


Tiba-tiba aku merasa sangat letih. Tubuhku terasa sangat ringan.


Aku seperti tidak sanggup untuk melangkah masuk ke dalam rumah mas Jantaka.


Sebelum jatuh ke tanah, aku sempat memanggil Rasyid.


Sampai akhirnya aku benar-benar jatuh terduduk di tanah. Semua menjadi samar-samar dan tubuh astralku semakin ringan.


Aku merasa seseorang mengangkatku.


Membawaku masuk kedalam rumah mas Jantaka. Anehnya aku tidak bisa melihat wajah orang itu.


Apa dia paman atau mas Jantaka.


Aku yakin dia bukan Rasyid. Sebab, aku hafal aroma tubuh Rasyid.


🍃🍃