SINTRU

SINTRU
SINTRU- 38



By: Setya Rahayu


🌼"Apa saya boleh kembali?" tanyaku hati-hati.


"Setelah kita sholat subuh, aku akan mengantarmu kembali."


"Itu sudah terlalu siang, pak."


"Tidak Lira, kamu tahu perbedaan waktu antara dunia astral dan dunia manusia."


"Baiklah pak, kalau begitu saya akan melanjutkan tidur saja."


"Lira, aku ingin membawamu berjalan-jalan di sekitar sini."


"Tapi, saya lelah sekali pak."


"Itu sebabnya, kamu bisa minum segelas air madu untuk memulihkan staminamu."


pak Rasyid menuangkan air kedalam sebuah gelas dengan gagang tinggi.


Mencampurnya dengan beberapa tetes madu.


"Minumlah, kamu akan merasa lebih baik." dia meletakan gelas diatas meja.


Aku tersenyum geli melihat gelas champagne menjadi gelas untuk minum air madu.


Sah-sah saja. Tidak ada aturan baku untuk meja makan pribadi.


"Apa disini diijinkan mengkonsumsi champagne?"


"Kami memiliki wine dan champagne non alkohol. Minuman itu diperbolehkan disini."


"Ternyata kehidupan para astral sangat menyenangkan."


"Kami hidup sangat panjang. Jadi, kami tahu bagaimana caranya menggunakan waktu dengan baik. Berbeda dengan manusia. Usianya sangat pendek. Tetapi selalu menyia-nyiakan waktu yang singkat itu."


"Sering keadaan yang membuatnya begitu pak."


"Hanya kalian yang bisa merubah masa depan kalian sendiri. Jangan selalu mengatasnamakan takdir. Setelah suatu kejadian itu terjadi atau sesudah kejadian itu terjadi, baru bisa di katakan sebagai takdir. Tetapi kalau belum terjadi, tidak bisa disebut takdir."


"Kami hanya menjalani apa yang telah digariskan di dalam perjalanan kami di muka bumi."


"Bukan seperti itu Lira. Manusia diberi banyak kelebihan dari para astral. Tetapi bukannya menjadikan itu bermanfaat. Malah kalian menjadi tinggi hati dan sering mengagul-agulkan kesempurnaan itu. Dan setiap kali kalian mengalami suatu masalah atau kejadian dari perbuatan kalian sendiri, kalian selalu berlindung dibalik kata "cobaan dan ujian."


"Kenapa bapak malah menyerang saya?"


"Aku tidak menyerangmu, Lira. Tapi, aku berharap kamu memiliki cara pandang yang jauh lebih baik dari pada manusia umumnya."


"Menjelaskan hal yang sebenarnya pada banyak orang itu tidak mudah, pak."


"Kamu bisa melakukannya. Kamu memiliki talenta itu. Dan kamu memiliki tugas untuk meluruskan sesuatu yang salah."


"Siapa yang memberi tugas itu?"


"Kehidupan telah memilihmu. Apa kamu tidak pernah bertanya pada dirimu sendiri? Bagaimana seorang manusia bisa mengembara seenaknya di dunia astral, tanpa ada yang pernah mengganggumu?"


"Bukan itu yang saya pikirkan selama ini. Saya sering bingung sendiri. Kenapa saya memiliki dua dunia?"


"Kamu memang terpilih untuk itu, Lira. Itu sebabnya, saya telah mengenalmu jauh sebelum kita bertemu di mushola itu."


Aku terdiam mendengar kata-katanya.


Mencoba mengingat sosok pak Rasyid didalam kehidupanku yang lalu.


Kuraih gelas champagne dengan perasaan ragu.


Apa aku boleh meminumnya?


"Air didalam gelas itu, menggunakan air mineral kemasan bermerk sama seperti yang kamu konsumsi setiap hari." ucapnya untuk menghilangkan keraguanku.


Aku mengangguk tanda mengerti. Bukan berterima kasih.


Kuambil gelas itu, lalu mendekatkannya ke mulutku.Membaca doa sebelum minum didalam hati.


Baru kemudian meneguknya perlahan-lahan.


Rasanya sama seperti air madu yang sering kubuat. Tidak ada yang aneh didalam campuran ini.


Semoga saja, air dan madu yang kuminum sekarang ini, memang benar berasal dari dunia manusia.


"Bagaimana?"


"Bagaimana apanya pak?"


"Rasa air madu itu."


"Sama seperti air madu yang sering saya buat."


"Syukurlah," ucapnya lega.


"Apa ada sesuatu yang membuatnya berbeda?" tanyaku curiga.


"Tidak ada. Itu artinya kamu sudah bisa minum di dunia kami. Jadi, kamu tidak harus menahan haus selama berada disini."


Aku terharu pada kebaikan dan perhatiannya.


Tetapi aku tidak berani mengucapkan kata terima kasih pada para makhluk astral.


Kecuali saat aku lupa atau sudah terlanjur mengucapkannya.


Karena di dunia manusia, ucapan terima kasih itu adalah tanda kita berterima kasih dan menghormati orang yang telah memberikan kebaikan kepada kita.


Sedangkan di dunia astral, kata terima kasih itu seperti kata hutang. Dan seolah-olah, kita telah berhutang kepada mereka. Walaupun tidak semua astral beranggapan begitu.


Aku cukup berhati-hati saat mengucapkan kata terima kasih di dunia astral.


"Apa kamu sudah siap untuk berjalan-jalan?" tanyanya lembut. Dia mengulurkan tangannya menunggu aku meraihnya.


Kuanggukkan kepala sambil meraih tangannya.


Dia menggenggam tanganku dengan mesra.


"Tersenyumlah setiap kali kamu bertemu para pekerja disini. Hal itu sangat menyenangkan hati mereka."


"Akan saya lakukan."


Dia tersenyum, membawaku keluar dari kamar melalui pintu kamarnya yang lebar dan tinggi. Untuk apa dia membuat pintu sebesar itu?


Apa dia dapat berubah seperti Arkana? Menjadi sangat besar, tinggi dan berapi-api.


Sebagaimana wujud mereka aslinya.


🍃🍃