
By: Tiara Sajanaka
🌼 Sekitar dua puluh menit perjalanan, kami sampai di area yang diberikan Arkana.
Area itu memiliki sungai dibagian perbatasan milik Manggala. Disisi sebelah lagi adalah perbatasan milik pak Rasyid.
Para astral yang menempati area ini tidak akan kekurangan apapun. Mereka juga bebas beraktivitas di area ini.
Kepala pasukan meminta anak buahnya meletakkan kayu-kayu diatas sebuah panggung yang telah disiapkan.
Sepertinya Manggala membuat Persiapan ditempat ini terlebih dulu.
Sebuah panggung dibuat dibagian selatan.
Serta area yang telah diberi pembatas dibagian barat daya.
Manggala datang dengan senyuman tengilnya. Dia berbicara pada kepala pasukan.
Meminta mereka untuk menunggu perintah selanjutnya.
Terlihat pasukan mulai berbaris dengan rapi di tepi sungai. Setelah semua barisan rapi, tiba-tiba saja mereka telah berubah menjadi titik-titik embun yang berbentuk seperti elips.
Dan setiap bentuk elips bergerak secara vertikal dengan sangat lembut.
Sungguh menakjubkan!
Makhluk apa sebenarnya mereka itu?
Betapa terbatasnya kemampuan manusia.
Untuk mengetahui tentang ciptaanNYA yang menakjubkan Seperti itu.
"Kakak ipar," panggil Manggala mengejutkanku.
"Ada apa?"
"Keren kan pasukanku? Ini baru satu pasukan. Kalau kakak ipar ada waktu, akan kuperlihatkan pasukanku yang lainnya."
"Apa semua memiliki kemampuan berkamuflase?" tanyaku penasaran.
"Tentu saja, kakak ipar. Mereka memiliki kemampuan berkamuflase yang berbeda-beda. Kecuali itu, pasukanku adalah pasukan yang paling disegani oleh pasukan lainnya."
"Madsudnya bagaimana?"
"Sama seperti di dunia manusia. Ada angkatan laut, angkatan udara dan angkatan darat. Nah, pasukanku ini adalah angkatan laut."
"Bukannya angkatan sungai ya? Soalnya aku tidak melihat laut disini?" tanyaku heran.
"Kakak ipar kan belum melihat semua wilayah tuan Arkana. Dibagian selatan sana, itu adalah laut. Tapi, kami hanya memiliki sedikit sekali wilayah laut."
"Dari daratan berapa jauh?"
"Sebatas air surut dan karang yang terlihat."
"Wilayah para astral laut."
"Wow, aku kagum dengan cara para astral menjaga setiap wilayahnya. Serta mematuhi garis perbatasan dengan sangat baik."
"Kami juga sering berkonflik karena masalah perbatasan.Itu sebabnya kami memiliki pasukan tempur."
"Oalah, aku pikir hanya manusia yang berkonflik karena masalah perbatasan. Ternyata para astral juga seperti itu." kekehku.
"Kok ketawa?" Manggala menatapku heran.
"Aku tidak menyangka kalau dunia kalian semenarik itu."
"Seperti itulah cara kami membuang kebosanan."
Aku semakin terpingkal-pingkal mendengar ucapannya. Mereka membuang kebosanan dengan bertempur. Semoga saja, tidak ada prajurit yang terluka.
"Sepertinya kalian sedang menikmati obrolan." tiba-tiba pak Rasyid sudah berdiri di depan kami.
Aku terkejut. Mendadak seluruh badanku menggigil.
Aku tidak berharap bertemu dengannya malam ini. Aku belum sanggup menatapnya dengan hati kosong.
Mbak Kun melemparkan selendangnya untuk membelit pinggangku. Sewaktu dia melihat aku sudah hampir tumbang.
Dia menahan selendang sedemikian rupa. Agar aku tetap berdiri dengan baik.
Tapi kakiku benar-benar tidak mau diajak kompromi. Kedua kaki bergetar tanpa dapat kutahan. Membuat posisi berdiri setengah menekuk ke depan.
Pak Rasyid mendekat dan langsung memelukku.
Dia melepaskan ikatan selendang dari pinggangku.
Seketika tubuhku lerai didalam pelukannya. Seperti tidak memiliki tulang sama sekali.
"Manggala, selesaikan semua yang harus dikerjakan saat ini. Dan minta teman Lira untuk membantumu sampai semua tertata pada tempatnya." ucap pak Rasyid tegas.
Aku hanya bisa mendengar suaranya. Tapi tidak sanggup melihat wajahnya yang hanya berjarak sekian inci dari kepalaku.
Betapa memalukan kondisiku saat ini.
Tidak memiliki tenaga sama sekali saat berada disini.
Lalu, bagaimana caraku kembali kalau tidak ada cadangan energi di dalam tubuh astral?
Pak Rasyid membawaku kedalam kediamannya.
Dia membopongku dengan penuh kelembutan. Seperti ingin melindungi dengan seluruh hidupnya.
Aku semakin menyusupkan wajah kedalam dadanya. Agar dapat merasakan moment ini dengan sepenuh hati.
🍃🍃