
By : Tiara Sajanaka
๐ผArkana mempersilahkan mereka menikmati hidangan.
Para pelayan berdiri dibelakang kami.Mereka sangat cekatan membantu meletakkan makanan ke piring, atau menuang minuman.
Setiap kali melihat ada yang ingin meraih makanan ataupun minuman.
Tidak seperti para astral dimensi kedua yang makan dengan sembrono dan tidak beretika.
Para astral yang datang, terlihat sangat sopan dan memiliki table manner.
Arkana meletakkan sepotong roti kismis diatas piring porselen didepanku.
Kuucapkan terima kasih.
Tetapi tidak menyentuhnya.
Dia memperhatikanku lama sekali.
Namun, aku tetap teguh tidak menyentuh roti itu.
Kulihat wajahnya mulai mengeras karena kesal.
Pak Rasyid meminta dengan sopan, agar aku menghargai pemberian Arkana.
Akhirnya kuambil pisau dan garpu yang terletak di samping piring.
Perlahan-lahan mulai mengiris roti menggunakan pisau.
Aku tertegun sewaktu pisau mengenai sesuatu yang keras.
Segera kubuka bagian yang terpotong mengunakan garpu.
Sebuah cincin bertahtahkan berlian sebesar jempol memancarkan keindahannya.
Untuk sesaat aku terbius pada keindahannya itu. Dan hampir saja memakainya di jari manis.
Sebelum memakainya, aku melirik Arkana sekilas.
Wajahnya terlihat mulai lembut dan sedikit tersenyum.
Melihat senyumnya itu, membuatku mengurungkan niat untuk memakai cincin pemberiannya.
Perlahan-lahan kuletakkan cincin itu diatas piring. Serta meletakkan pisau dan garpu berdampingan disamping cincin.
Artinya, aku sudah selesai makan dan tidak menginginkan apapun lagi.
Kutarik nafas lega. Hampir saja aku menerima lamarannya.
Bersyukur selama menjadi manusia, aku tidak pernah tergila-gila pada materi.
Walaupun menyukai barang-barang mewah, hal itu hanya sebatas rasa kagum.
Bukan ingin memiliki.
Barang-barang mewah tidak akan ada harganya buat wanita sepertiku yang tidak paham tentang kualitas.
Aku hanya wanita yang hobi jajan bakso, mie ayam, batagor serta berbagai kuliner kaki lima.
Tidak tergoda dengan barang-barang mewah.
Apa yang kulakukan membuat Arkana marah.
Tubuhnya juga semakin terlihat merah menyala.
Ada rasa takut yang menyusup diam-diam. Tapi segera kutepis dengan cepat.
Agar Arkana tidak merasakan vibrasinya.
Aku tetap duduk dengan tenang sambil tersenyum kearah para astral lainnya.
Seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Sebagai manusia, aku memiliki kuasa lebih tinggi dari mereka.
Selama aku terus bersikap tenang, mereka tidak akan dapat melakukan apapun padaku.
Kemarahan membuatnya tidak sadar meraih tanganku. Seketika dia terkejut dan segera melepaskan tangannya.
"Ikut aku," terdengar suaranya sangat berat dan dalam.
Aku berpamitan pada para tamu.
Mereka sepertinya tahu, dengan situasi saat ini.
Karena kulihat, mereka sudah berhenti makan.
Arkana berjalan dengan langkah lebar-lebar.
Punggungnya yang lebar semakin terlihat besar dan membara.
Setelah kami berada cukup jauh dari meja makan, dia membalikkan badan menatapku
"Kenapa kamu mempermalukanku?" geramnya.
"Bukankah bapak sudah tahu, kalau saya tidak akan menikah dengan bangsa jin."
"Sekarang aku tahu, kenapa mereka memberimu julukan si hati beku.Kamu memang kaku, keras kepala dan tidak berperasaan."
Sebenarnya aku ingin tertawa sewaktu mendengar julukan yang mereka berikan.
Tapi, aku tidak ingin membuatnya semakin menyala-nyala.
Dalam artian menyala yang sebenarnya.
Karena saat ini, tubuhnya sudah mulai membara dan berapi.
Jangan sampai dia menunjukkan wujudnya yang akan membuatku mual.
Wujudnya yang memiliki ekor panjang dan tanduk besar.
"Bangsa kalian selalu mencari celah dalam setiap masalah yang terjadi. Seharusnya, bapak tidak lagi memanfaatkan hal ini hanya untuk menikah dengan manusia." ucapku lembut.
Dia mendekat, dan akan memegang bahuku.
Tapi diurungkannya. Tentu saja dia tidak ingin mengalami lagi kejadian tadi.
"Ntah kekuatan apa yang kamu miliki, sampai bisa membuatku tersengat."
Aku sendiri juga tidak tahu.
Kenapa para astral tidak dapat menyentuhku. Mereka juga harus menjaga jarak tiga meter dariku. Hal itu yang membuatku dapat berkelana di dunia astral tanpa membawa oleh-oleh penumpang gelap.
๐๐