ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
MASA LALU: GAYATRI DAN PUTARAN KEHIDUPANNYA PART 9



Dar ... dar ... dar ...


            Suara tembakan itu terdengar kian mendekat. Wush .... Di saat Haedar dan Jenar berlari bersama untuk membawa pengungsi lainnya menyelamatkan diri, telinga Haedar tiba-tiba mendengar suara peluru yang mendekat ke arah Jenar. Tanpa berpikir dua kali, Haedar dengan cepat mengambil tindakan. Haedar  menghentikan langkah kakinya, melepaskan tubuh wanita tua di punggungnya dan menghalangi tembakan yang datang ke arah Jenar dengan tubuhnya sendiri.


            Dar ... dar ...


            Dua peluru kemudian bersarang di tubuh Haedar dan membuatnya langsung jatuh ambruk.


            “Huek!” Darah kental menyembur dari mulut Haedar karena salah satu peluru bersarang di dadanya dan mungkin menembus jantungnya.


            “Tidak, Haedar!!!” Jenar yang melihat Haedar jatuh ambruk, langsung berlutut di samping Haedar dan memeluk tubuhnya. “Kenapa kau menghalangi peluru itu dan melindungiku??”


            “Huek!” Sekali lagi ... darah mnyembur dari mulut Haedar. “Ini tugasku. Aku adalah orang-orang yang ditugaskan untuk mengawal pengungsi keluar dari kota. Melindungi kalian adalah tugasku dan kematianku ini akan menjadi penyelamat bagi banyak orang nantinya.”


            Air mata mengalir di wajah Jenar. Kebahagiaan yang baru saja dirasakannya dalam sekejap berubah menjadi kesedihan. Pertemuan yang dinantikannya selama hidupnya kini dalam sekejap berubah menjadi perpisahan yang menyakitkan.


            “Jangan menangis, Nona. Kematian saya adalah tugas dan saya bangga melakukannya. Tolong selamatkan diri Nona dan wanita tua itu. Pergilah dari sini sekarang juga dan jangan biarkan nyawaku ini melayang dengan sia-sia, Nona.” Dengan tangan yang bergetar, Haedar menghapus air mata di wajah Jenar. Setelah melakukan hal itu, Haedar tersenyum kecil melihat ke arah Jenar sebelum akhirnya mengembuskan nafas terakhirnya.


            Melihat kekasih yang dinantikannya seumur hidupnya kini telah pergi dalam sekejap mata, Jenar menangis sembari memeluk tubuh Haedar dengan erat. “Kenapa begini lagi??? Kenapa terulang lagi?? Kenapa kau harus berulang kali menyelamatkanku dan akhirnya kehilangan nyawamu?? Aku tidak butuh perlindunganmu, Dewangkara. Aku butuh kau hidup, aku butuh kau di sisiku. Aku butuh kau untuk menepati janji kita untuk menikah. Kenapa terulang lagi? Kenapa begini lagi?? Setelah berulang kali aku melewati putaran kehidupan dengan harapan akan selalu bersamamu, kenapa akhir yang menunggu kita selalu saja perpisahan??? Kenapa? Kenapa??”


            Jenar terus menerus menangis sembari memeluk tubuh reinkarnasi Dewangkara-Heidar yang kehilangan nyawanya lagi dalam putaran kehidupan keenamnya. Jenar terus menangis hingga suara tembakan bersama dengan suara ledakan semakin dekat.


            Boom.


            Dar ... dar ... dar ...


            Jenar kemudian menghentikan tangisannya dan melihat ke arah wanita tua yang tadi sempat ditolong oleh Haedar.


            “Bu, pergilah dan selamatkan dirimu. Ibu masih bisa berjalan bukan?”


            “Apa kamu tidak akan menyelamatkan dirimu, Nak?”


            Jenar menggelengkan kepalanya dan menatap wajah Haedar yang penuh dengan darah. “Tidak, Bu. Pria ini adalah pria yang aku tunggu seumur hidupku. Aku tidak tahu Ibu akan percaya dengan ucapanku atau tidak, tapi ... aku sudah bereinkarnasi berulang kali hanya untuk bertemu dan bersama dengan pria ini lagi. Sayangnya ... akhir yang menunggu kami hanyalah kematian yang memisahkan kami berdua.”


            “Ibu akan tetap di sini dan menemanimu, Nak.” Wanita tua itu menatap ke arah tubuh Heidar yang kini mulai memucat. “Ibu berhutang nyawa pada pemuda itu dan sebagai balasannya, Ibu hanya bisa mendoakan kau dan pemuda itu akan bersama di kehidupan berikutnya, Nak.”


            Jenar tersenyum lemah mendengar doa kecil dari wanita tua yang diselamatkan oleh Heidar sebelumnya. “Terima kasih, Bu.”


            Sekali lagi. Hanya butuh sekali lagi saja, aku pasti akan bisa membuatmu bersamaku, Dewangkara.


            Aku mendengar suara benar Jenar lagi.


             Boom.


            Ledakan tepat jatuh di tempat di mana Jenar bersama dengan tubuh Heidar dan wanita tua itu berada.


            Dengan ledakan itu, reinkarnasi Gayatri dan putaran kehidupannya kali ini pun berakhir. Dan lagi-lagi kematian menjadi pilihan dari reinkarnasi Gayatri, hanya agar dirinya bertemu lagi dengan reinkarnasi Dewangkara dan berakhir bersama.


            Klik.


            Aku membuka mataku ketika mendengar suara jentikan jari itu dan berharap segera bertemu dengan tiga dewa yang membuatku melakukan perjalanan panjang untuk melihat setiap putaran kehidupan milik Gayatri dan apa yang dialaminya. Akan tetapi begitu aku membuka mata, tempat di mana aku tiba, tempat di mana aku berdiri masih tempat yang sama dengan tempat di mana Jenar dan Haedar tewas.


            “Apa ini??” Aku menatap sekelilingku dengan wajah bingung dan tidak mengerti. “Kenapa aku masih di sini dan tidak kembali??”


            Tidak menemukan jawaban, sekali lagi ... aku menatap sekelilingku dan menyadari bahwa meski tempat di mana aku berada adalah tempat yang sama, tapi tempat di mana aku berdiri saat ini adalah sisi yang lain dari tempat di mana reinkarnasi Gayatri dan reinkarnasi Dewangkara tewas tadi.


            “Kenapa aku masih di sini?? Apa masih ada yang harus aku lihat?”


            Aku berdiri di tengah kerumunan lautan manusia yang berhamburan untuk berlari menyelamatkan diri dari perang yang saat ini sedang terjadi. Tapi sesuatu menarik perhatianku dan membuat pandangan tertuju kepadanya. Seorang gadis berlari melawan kerumunan  sama seperti yang dilakukan oleh Jenar tadi. Harusnya ... pemandangan dari adegan ini bukanlah pemandangan yang menarik, hanya saja wajah dari gadis itu ... aku merasa aku pernah melihatnya. Hanya saja ... untuk sejenak kepalaku ini lalai dalam pekerjaannya dan membuatku tidak bisa mengingat siapa pemilik wajah itu.


            Gadis itu terus berlari hingga melewatiku. Matanya menatap ke atas tepatnya di arah belakangku seolah ada sesuatu yang sangat penting di sana untuknya. Dan begitu aku membalik tubuhku, aku menyadari pemandangan apa yang menarik perhatian gadis itu. Jubah itu ... aku mengenalnya dengan baik dan dari jubah itu juga, aku tahu alasan gadis itu menerjang lautan manusia dan menerjang bahaya hanya untuk melihat sosok itu.


            Boom!


            Bersamaan dengan suara ledakan yang kencang, seorang anak kecil yang tertinggal menangis kencang tidak jauh dari lokasi gadis itu. Untuk sejenak ... gadis itu merasa sedikit bimbang: hendak melanjutkan langkah kakinya atau menyelamatkan anak itu. Akan tetapi setelah menimbang selama kurang lebih sepuluh detik, gadis itu kemudian memilih untuk menyelamatkan anak itu. Gadis itu menggendong anak itu dan kemudian membawanya berlari kembali ke arah kerumunan pengungsi.


            Sayangnya nasib baik tidak berpihak pada gadis itu. Dar. Tembakan nyasar mengenai tubuh gadis itu dan membuat gadis itu terjatuh bersama dengan anak yang digendongnya. Beberapa pemuda yang mengenakan seragam yang sama dengan Haedar berusaha untuk membantu gadis itu dengan berusaha membawanya menuju ke tempat yang aman. Akan tetapi ... gadis itu meminta para pemuda itu untuk meninggalkan tubuhnya karena dia sudah merasakan kematian yang semakin dekat dengannya. Ditambah lagi, gadis itu tidak ingin membuat orang lain mati demi menyelamatkan dirinya yang sudah berada di ambang kematian.


            Para pemuda itu dengan berat hati kemudian meninggalkan gadis itu dan sosok yang tadi berusaha dijangkau olehnya kini mendekat kepadanya.


            “Hyang Yuda.”


            Sosok itu mengenalkan dirinya dengan nama Hyang Yuda dan melihat bagaimana Hyang Yuda menatap wajah gadis itu dengan tatapan penuh cinta kasih, aku akhirnya mengenali identitas gadis itu. Dia adalah Pawestri Manohara atau lebih tepatnya reinkarnasi Pawestri Manohara.