ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
MASA LALU: KEMATIAN RAKRYAN TUMENGGUNG SENA



            Sembari mengingat ucapan dari Nona Cintya, aku mengajukan pertanyaan kepada Hyang Tarangga. “Apa mungkin Nona Cintya akan menyusulku ke alam baka jika aku mati?”


            “Ya, dia selalu melakukannya, Raditya. Dan itulah kesalahannya. Wanita bernama Cintya itu mengulangi kesalahannya terus menerus bahkan setelah tahu perbuatannya adalah salah. Dengan alasan cinta, dengan alasan tidak bisa hidup tanpamu, dia akan mengakhiri kehidupannya begitu kau kehilangan nyawamu. Awalnya ... itu adalah hukuman baginya. Tapi hukuman itu seolah tidak pernah berakhir dan terus berulang hingga saat ini.”


            Aku menatap Hyang Tarangga sembari membayangkan ucapan dari Hyang Tarangga tentang Nona Cintya yang akan mengakhiri hidupnya begitu aku kehilangan nyawaku. “Bisakah aku bertanya hukuman apa yang membuat Nona Cintya mengalami kehidupan tragis seperti itu?”


            Hyang Tarangga mendekat padaku, mengangkat tangannya dan meletakannya di atas kepalaku. “Akan lama jika aku menceritakannya dengan kata-kata. Akan lebih cepat jika kau melihat langsung kejadian awal mula dari rantai kehidupan tragis yang mengikat kalian berdua.”


            Tiba-tiba, cahaya putih yang menyilaukan muncul di depanku. Cahaya itu begitu menyilaukan hingga aku tidak bisa membuat kedua mataku tetap terbuka untuk terus melihat. Aku memejamkan mataku karena tidak bisa menahan kilauan cahaya yang muncul dari tangan Hyang Tarangga. Dan ketika cahaya yang menyilaukan itu hilang, aku membuka mataku dan mendapati diriku berada di antara tembok-tembok hitam yang tinggi. Suara gemerincing dari adu pedang terdengar di telingaku. Aku menggerakkan kepalaku untuk melihat ke arah suara itu dan sesuatu yang pernah aku lihat muncul di hadapanku. 


            Tahun 1300.


            Ini adalah detik-detik sebelum kematian Rakryan Tumenggung Sena bersama dengan istrinya, gurunya dan satu orang lain yang tidak aku tahu siapa. Melihat pemandangan mengerikan ini untuk kesekian kalinya ... aku menangis lagi dan kali ini, aku berniat untuk menolong mereka yang kini sekarat.


            “Tidak!!!!”


            Aku melihat wanita bernama Pawestri Manohara melihat ke arah Rakryan Tumenggung Sena yang kini sekarat karena pedang-pedang yang menancap di tubuhnya.


            Tidak, pikirku.


            Aku tahu adegan setelah ini. Sebelum ini ... di mimpiku selalu muncul adegan di mana Pawestri Manohara sepertinya bicara kepada salah satu orang penting yang berada di atas dinding dan melihat kematian semua orang. Tapi ucapan antara Pawestri Manohara dan orang itu tidak pernah bisa aku dengar sebelumnya.


            “Berhenti!” Pawestri Manohara mengambil salah satu pedang dan kemudian mengarahkannya ke lehernya sendiri.


            “Manohara, apa yang kamu lakukan?”


            “Aku yang harusnya bertanya pada Maharaja, apa yang sedang terjadi di sini? Kenapa Maharaja melakukan hal ini?” Mendengar kata Maharaja dari mulut Pawestri Manohara, aku akhirnya tahu siapa yang selama ini bicara dengan Pawestri Manohara sebelum dia memilih mati.


            “Ken Sora berniat untuk melawanku dan tidak berterima kasih atas kebaikan yang telah kuberikan padanya. Dengan alasan itu, aku harus membunuh Ken Sora.”


            Aku melihat Pawestri Manohara memandang sengit ke arah Maharaja dengan air mata yang terus mengalir di wajahnya. “Jika itu alasannya, kenapa Maharaja diam saja melihat suamiku yang juga adik ipar  Maharaja ini dikeroyok seperti ini?” 


            Mendengar pertanyaan itu, Raja yang berdiri di tembok atas bersama dengan pengikutnya hanya bisa diam dan tidak bisa berkata apapun.


            Tidak mendapatkan jawaban dari Raja, wanita yang kukenali sebagai Pawestri Manohara berbicara lagi dan kali ini memanggil dengan lembut sang raja. “Maharaja.”


            “Ya, adikku. Letakkan pedang itu dulu dan kita bicarakan ini!” sang raja gemetar melihat Pawestri Manohara-adik perempuannya membawa pedang dan mengarahkannya ke lehernya sendiri sebagai bentuk ancaman.


Melihat adegan berdarah ini, melihat pembantaian ini, melihat pengeroyokan ini, aku menyadari alasan Pawestri Manohara yang bisa bicara dengan seseorang dengan posisi tinggi sebelum kematiannya. Pawestri Manohara adalah adik raja dan Rakryan Tumenggung Sena adalah adik ipar dari raja saat itu.


            “Maharaja masih ingat dengan janjimu padaku mengenai tiga permintaan yang akan Maharaja kabulkan sebagai ganti dari menyelamatkan nyawa Maharaja.” Aku melihat Pawestri Manohara menangis sembari bicara. Matanya sesekali menatap ke arah Rakryan Tumenggung Sena yang masih sekarat menunggu ajal datang.


            “Setelah ini, aku hanya punya satu permohonan pada Maharaja. Mohon Maharaja untuk mengabulkannya. Tenang saja, permohonanku ini bukanlah permohonan yang sulit dan akan menguntungkan Maharaja.”


            “Apa itu, Manohara?”


            “Sebagai adik dari Maharaja, saya telah mencoreng nama Maharaja dan keturunan dari kerajaan Majapahit. Saya mohon kepada Maharaja untuk menghapuskan nama saya dari keluarga kerajaan. Saya mohon juga kepada Maharaja untuk menghapuskan nama Sena dari catatan sejarah. Saya telah menikah dengan Sena yang merupakan Rakryan Tumenggung di kerajaan Majapahit. Kesalahan yang dibuat suamiku-Sena hari ini, saya akan menanggungnya bersama dengan Sena. Bisakah Maharaja mengabulkan permintaan terakhir saya itu?” 


            “Aku berjanji padamu, Manohara. Kejadian yang menimpamu dan suamimu ini akan menjadi rahasia dan akan kubawa ke dalam kuburku kelak. Tidak ada satupun dari orang-orang yang ada di sini, baik itu bayangkara bahkan hingga Mahapatih sekalipun yang boleh membicarakan tentang kamu dan suamimu, Sena. Aku berjanji padamu, Manohara.”


            “Terima kasih atas kebaikan Maharaja.” Setelah mendapatkan janji dari Raja, tidak lama kemudian Pawestri Manohara menyayat lehernya sendiri dan ambruk dengan darah yang mengalir deras dari lehernya yang terluka.


Dan  di saat terakhirnya. . . Pawestri Manohara tersenyum memandang  ke arah Rakryan Tumenggung Sena yang masih sekarat. “Aku akan selalu bersamamu bahkan dalam kematian sekalipun, Sena.”


            Selama ini ... aku tidak pernah tahu dengan jelas apa yang diucapkan oleh Pawestri Manohara sebelum kematiannya dan alasannya memilih mati bersama dengan suaminya-Rakryan Tumenggung Sena. Tapi mendengar dan melihat langsung percakapan itu, aku akhirnya tahu alasan Pawestri Manohara membunuh dirinya sendiri. Dia melindungi martabat suaminya, martabat keluarganya dan martabat kerajaannya di saat terakhir dengan kematiannya sendiri. Berkat kematiannya, sejarah yang buruk itu akhirnya hana tersimpan dalam kenangan beberapa  orang yang melihat kejadian itu. Kenangan itu nantinya akan menghilang bersama dengan kematian mereka dan akhirnya kejadian mengerikan itu sepenuhnya dilupakan.


            Air mataku terus menerus jatuh melihat kematian tragis seorang wanita yang mengorbankan hidupnya dan hidup anak di kandungannya untuk menyelamatkan martabat banyak orang. Dari tempatku berdiri ... aku melihat ke arah orang-orang yang hanya diam melihat kematian mengerikan dari Pawestri Manohara. Teganya kalian semua!!!


            Aku menatap tajam ke arah mereka dan mataku terhenti pada satu sosok yang berdiri tidak jauh dari Raja. Di antara semua orang yang merasa ngeri dan sedih dengan kematian tragis dari Pawestri Manohara, sosok itu justru tersenyum seolah sedang mendapatkan keinginannya.


            Siapa dia?? Aku bertanya dalam benakku mengenai sosok yang tertangkap oleh mataku itu dan brakk .... Sesuatu menghantam kepalaku, membuat kepalaku merasa sakit yang luar biasa dan perlahan aku mulai kehilangan kesadaranku.


*


            Narator’s POV


            “Kau baik-baik saja, Hyang Yuda?”  Hyang Tarangga bertanya kepada Hyang Yuda ketika Hyang Yuda memaksa untuk ikut bersama dengan Hyang Tarangga.


            “Aku baik-baik saja, Hyang Tarangga. Aku sudah bukan lagi manusia dan lagi kenangan menyakitkan ini sudah tidak lagi menyakitkan bagiku karena Pawestri Manohara sudah ada di sisiku sebagai Dewi.”


            “Ahhh ... Hyang Yuda.” Hyang Marana yang juga mengikuti Hyang Tarangga mengomel kepada Hyang Yuda. “Reaksimu ini benar-benar tidak asyik.”


            “Maaf jika aku tidak bisa membuatmu puas, Hyang Marana.” Hyang Yuda membalas keluhan dari Hyang Marana. Setelah itu, Hyang Yuda mengajukan pertanyaan penting kepada Hyang Tarangga. “Siapa sebenarnya anak itu, Hyang Tarangga? Kenapa dia bisa ada di sana di saat aku mengalami kematian yang mengerikan itu??”


            “Anak itu-Dewangkara adalah anak asuh dari Rakryan Mahapatih Nambi, Hyang Yuda. Anak itu adalah anak dari sanak saudara Rakryan Mahapatih Nambi yang kehilangan kedua orang tuanya dalam perang.  Anak itu bisa berada di sana dan melihat kejadian tragis itu karena dia hendak membawakan makan siang untuk Rakryan Mahapatih Nambi.”


            Hyang Yuda menganggukkan kepalanya dan melihat bekal makan siang yang jatuh berantakan karena pukulan yang diterima di kepala Dewangkara. Tidak heran dia mengenaliku dengan nama Rakryan Tumenggung Sena. Rupanya anak itu ada di sana di saat kematian datang padaku. Hubungan yang tidak sengaja terhubung ini benar-benar tidak bisa aku mengerti. Kami bertemu lagi setelah ribuan tahun berlalu dan dalam keadaan yang berbeda.