ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
PERCAYAKAH KAU PADA DEWA? PART 1



            “Jadi ... manusia ini yang menarik perhatian Hyang Tarangga??” Sosok dengan jubah emas itu mendekat ke sosok yang lebih dulu mendekat ke arahku dan bertanya padanya. Begitu sosok itu muncul di hadapanku, rasanya semua gerakan manusia yang ada berhenti bergerak, seolah kedatangan sosok itu dan mampu menghentikan semua waktu dan gerakan dari semua orang.


            “Benar, Hyang Yuda. Manusia ini yang sedang menarik perhatianku saat ini.”


            “Ah tidak buruk juga. Kau beruntung sekali manusia.” Sosok yang dipanggil dengan nama Hyang Yuda itu mendekat ke arahku dan mendekatkan wajahnya untuk melihatku dengan jelas. “Kau beruntung sekali bisa menarik perhatian dari Dewa Bintang yang mengurus takdir kalian.”


            Aku menatap wajah sosok dengan jubah emas itu yang dipanggil dengan nama Hyang Yuda itu. Sensasi tidak asing muncul ketika aku menatap wajah itu. Wajah rupawan itu, tubuh yang gagah dan auranya yang tidak biasa dalam sekejap membuatku teringat dengan mimpi buruk yang muncul dalam tidurku beberapa waktu ini. Setelah menatap wajah Hyang Yuda, aku menatap wajah sosok lain yang mengenakan jubah putih dan sosok pertama yang menghampiriku yang dipanggil dengan nama Hyang Tarangga. Sensasi yang sama aku rasakan ketika melihat wajah Hyang Yuda, juga kurasakan pada Hyang Tarangga.


            Dua wajah ini ...


            “Hyang Tarangga??” Sosok di belakang dengan jubah hitamnya bersama dengan aura kegelapan mendekat ke arah Hyang Tarangga dan bertanya padanya.


            “Ya, Hyang Marana.”


            “Aku bisa mengerjakan tugasku bukan?”


            “Tentu, Hyang Marana. Kau bisa mengerjakan tugasmu sekarang. Abaikan aku dan Hyang Yuda dan bawa saja atma-atma itu ke Sadyapara.”


            “Baiklah kalau begitu.”


            Tidak lama kemudian sosok dengan jubah hitam yang memancarkan aura hitam yang dingin dan menakutkan itu, mengeluarkan sabit hitam yang besar di tangannya. Sosok yang dipanggil dengan nama Hyang Marana itu kemudian mengayunkan sabitnya, membuat angin dingin berembus kencang.  Angin itu terasa begitu  menusuk hingga ke tulang belulangku dan rasanya aku belum pernah merasakan angin seperti ini sebelumnya. Tidak lama kemudian ... dari arah truk yang terbakar beterbangan arwah-arwah manusia yang berkumpul di depan sosok dengan nama Hyang Marana. Semua arwah itu kemudian berbaris dengan rapi di hadapan Hyang Marana.


            “Hyang Tarangga, Hyang Yuda, aku pamit dulu.”


            “Ya, Hyang Marana.”


            Sosok dengan jubah hitam itu kemudian menghilang dalam sekejap mata bersama dengan arwah-arwah manusia yang tadi muncul dan berbaris di depannya.


            “Si-siapa kalian??” Setelah sosok dengan jubah hitam yang dipanggil dengan nama Hyang Marana menghilang, aku mengajukan pertanyaan penting yang harusnya aku tanyakan sejak awal tadi. Tapi aku terlalu bingung dengan apa yang aku lihat. Aku terlalu bingung dengan kedatangan tiga sosok tidak biasa yang muncul di hadapanku secara tiba-tiba. Aku terlalu bingung hingga bahkan aku tidak sadar jika rasa sakit yang menyerangku tadi kini telah hilang.


            Sosok dengan jubah putih yang dipanggil dengan Hyang Tarangga mendekat ke arahku dan meletakkan tangannya di atas lukaku. Perlahan ... pelat besi yang menancap di tubuhku keluar dari tubuhku tanpa sedikit pun rasa sakit. Pelat besi itu lepas dari tubuhku tanpa meninggalkan bekas luka sedikit pun. Bahkan bajuku yang robek pun kembali seperti semula seperti sihir.


            “Siapa kalian? Kenapa kedatangan kalian mampu membuat semua manusia dan waktu seolah berhenti bergerak?” Aku bangkit dari posisi berlututku dan berdiri untuk bertanya kepada dua sosok asing di hadapanku saat ini.  “Dan lagi kenapa wajah dari sosok ini mirip sekali dengan Rakryan Tumenggung Sena?”


“Kau tahu nama itu, manusia?? Apa kita pernah bertemu saat aku masih jadi manusia?”


Pertanyaanku itu muncul di dalam benakku sembari menatap bingung ke arah sosok dengan nama Hyang Yuda.


“Kami bukan manusia.” Seolah tahu apa yang aku pikirkan, Hyang Tarangga menjawab pertanyaan yang baru saja aku tanyakan dalam benakku.


“Kalau bukan manusia, lalu kalian apa??”  tanyaku masih tidak mengerti. Bagaimana pun aku melihatnya dua sosok di hadapanku ini terlihat sama dengan manusia. Bahkan mereka tidak ada bedanya dengan manusia. Dua sosok itu punya dua mata, satu hidung, satu mulut dan dua telinga. Mereka juga punya dua tangan dan dua kaki.  Bagaimana pun aku mengartikannya, dua sosok di hadapanku ini adalah manusia.


“Aku dulu memang manusia sama sepertimu, tapi sekarang bukan. Bukankah tadi aku sudah mengatakannya??” Hyang Yuda kini bicara dan berusaha memberi penjelasan padaku. Hyang Yuda kemudian menunjuk ke arah Hyang Tarangga dan melanjutkan perkataannya. “Hyang Tarangga adalah dewa bintang dari Amaraloka, sedangkan aku adalah dewa perang yang agung dari Amaraloka. Apa itu menjawab pertanyaanmu, manusia bernama Raditya?”


Dewa?? Dua sosok di hadapanku ini adalah dewa?? Aku mengerjap-ngerjapkan mataku beberapa kali untuk melihat ke arah Hyang Yuda dan Hyang Tarangga. Aku masih tidak bisa percaya jika aku bertemu dengan dewa.


Untuk apa dewa menemuiku? Apa hari ini adalah hari kematianku? Tapi jika hari ini adalah hari kematianku, kenapa mereka tidak membawaku bersama dengan arwah-arwah manusia seperti tadi? Kenapa mereka membiarkanku di sini dan bahkan menghilangkan luka yang menyebabkan kematianku?  Aku mengajukan banyak pertanyaan dalam benakku, tapi aku tidak bisa menemukan jawaban yang tepat untuk membuat diriku mengerti.


Aku menatap sekelilingku yang masih membeku. Waktu dan tubuh manusia diam tidak bergerak bahkan air mata Nona Cintya yang harusnya jatuh ke tanah terhenti tepat di tengah-tengah.  Setelah menatap sekelilingku, aku kembali menatap ke arah Hyang Yuda dan Hyang Tarangga. Jika mereka adalah dewa, itu menjelaskan semua keanehan yang terjadi sejak mereka muncul. Tapi kenapa?? Kenapa dewa mendatangiku??  


“Percayakah kau pada Dewa?” Hyang Yuda secara tiba-tiba mengajukan pertanyaan itu padaku ketika aku sedang dalam kebingungan.


“Tidak.” Aku menggelengkan kepalaku. “Kukira mereka semua hanyalah dongeng dan fantasi yang dibuat oleh banyak orang.”


            “Kalau begitu ... mulai sekarang harusnya kamu percaya, Raditya. Karena kami sudah muncul secara langsung di depanmu.”


            Aku masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Kepalaku masih belum  bisa mencerna informasi asing di hadapanku saat ini. “Jika kalian benar-benar dewa, untuk apa kalian kemari? Untuk apa kalian menemuiku dan bicara padaku?”


            Sebuah buku besar yang berkilau muncul di atas kepala Hyang Tarangga secara tiba-tiba. Buku itu terbuka dan kemudian membuka halaman di dalamnya dengan cepat. Aku menatap heran melihat apa yang terjadi di hadapanku saat ini.


            “Sayang sekali yang mati akan tetap mati ... tapi tidak untuk kematianmu, Raditya,” ujar Hyang Tarangga.


            Tepat setelah sosok yang dipanggil dengan nama Hyang Tarangga mengatakan itu, waktu dan gerakan yang membeku akhirnya kembali lagi. Akan tetapi ... kali ini gerakan mereka aneh. Semua orang dan semua benda bergerak mundur seolah flashback dalam adegan film.