
Tiga hari berlalu dan kini saatnya Dewangkara untuk berpisah dengan Rakryan Mahapatih Nambi dan pergi ke kota Tarik bersama dengan Hattali, Gayatri dan Biantara.
“Jaga baik-baik dirimu, Dewangkara.” Tepat sebelum meninggalkan gerbang ibu kota, Rakryan Mahapatih Nambi mengucapkan salam perpisahannya kepada Dewangkara.
“Ya, Rama. Rama juga harus menjaga kesehatan. Jangan lupa makan dan beristirahat.” Dewangkara mengingatkan Rakryan Mahapatih Nambi yang terkadang suka terlambat makan dan lupa beristirahat ketika sedang ada masalah di antapura.
“Rama akan mengingatnya. Jangan lupa sering mengirim surat. Nanti tiga hari sebelum pernikahan, Rama akan datang ke sana.”
Dewangkara menganggukkan kepalanya. “Ya, Rama.”
Setelah mengucapkan salam terakhirnya pada Dewangkara, Rakryan Mahapatih Nambi mengucapkan salam perpisahan pada Gayatri dan Hattali. “Menantuku yang cantik, mohon maafkan Rama yang serba sibuk ini.”
Gayatri menggelengkan kepalanya. “Tidak, Rama. Gayatri paham dengan pekerjaan Rama dan posisi Rama sebagai Rakryan Mahapatih yang mengurus banyak pekerjaan.”
“Senang mendengar menantuku sangat perhatian sekali. Terima kasih dari Rama untukmu, Gayatri. Terima kasih telah menyukai putraku yang biasa ini, terima kasih telah menerima kekurangannya dan berkorban datang kemari hanya untuk membantu kami.”
Gayatri tersenyum mendengar ucapan Rakryan Mahapatih Nambi sebelum membalasnya. “Terima kasih pada Rama karena telah membesarkan Dewangkara dan merestui hubungan kami. Sebuah keberuntungan bagiku bisa menjadi istri dari Dewangkara dan menantu dari Rama.”
Kedua mata Rakryan Mahapatih Nambi nanar karena terharu mendengar ucapan dari Gayatri. “Terima kasih telah mengatakan itu, Gayatri.”
Setelah Gayatri giliran Hattali yang mengucapkan salam perpisahannya kepada Rakryan Mahapatih Nambi. “Kami akan menunggu kedatanganmu, Rakryan Mahapatih.”
Rakryan Mahapatih Nambi menganggukkan kepalanya. “Tentu, aku pasti datang, Kangjeng. Terima kasihku padamu, Kangjeng, karena mau menerima Dewangkara dan mau menolongnya.”
Hattali membalas ucapan Rakryan Mahapatih Nambi dengan senyuman di bibirnya. “Dewangkara pantas mendapatkannya, Rakryan Mahapatih.”
Dengan membawa banyak barang di kereta kuda sebagai mas kawin untuk Gayatri dari Rakryan Mahapatih Nambi, Dewangkara kemudian meninggalkan ibu kota bersama dengan Hattali, Gayatri dan Biantara. Dewangkara dan Biantara menaiki kuda mereka masing-masing sementara Gayatri dan Hattali duduk di dalam kereta kuda bersama. Lalu di belakang mereka ada tiga kereta kuda lain yang mengangkut barang-barang dan mas kawin untuk Gayatri. Kembalinya Gayatri dan Hattali mendapatkan pengawalan dari pasukan bayangkara karena Maharaja yang sangat menghormati Hattali.
Begitu tiba di depan gerbang kota Tarik, pasukan yang mengantar rombongan kecil Hattali langsung kembali ke ibu kota.
“Selamat datang di kota Tarik.” Dari dalam kereta kuda, Gayatri membuka jendela kereta kudanya dan memberikan sambutan kepada Dewangkara sebagai tanda hari barunya sebagai penduduk Tarik dimulai.
“Terima kasih untuk sambutannya, Gayatri,” balas Dewangkara.
“Selamat datang di kota Tarik.” Setelah Gayatri giliran Biantara yang mengucapkan sambutannya kepada Dewangkara.
“Terima kasih, Biantara.”
Dengan kedatangan Dewangkara di kota Tarik, kehidupan baru Dewangkara sebagai penduduk kota Tarik pun dimulai. Kehidupan Dewangkara di kota Tarik menjadi satu dari beberapa hari-hari dalam hidupnya yang membahagiakan. Di kota Tarik hari-hari yang indah itu berlalu dengan sangat cepat.
Sepuluh hari sebelum pernikahan.
Sebagai orang baru di kota Tarik, Dewangkara belajar beradaptasi dengan cepat. Mungkin karena pekerjaan sebelumnya sebagai pemandu di ibu kota, Dewangkara cepat sekali berbaur dengan orang baru dan mempelajari banyak hal baru dalam waktu singkat. Sembari mengatur pernikahannya dengan Gayatri, Dewangkara belajar banyak hal dari Hattali: dari pembuatan kain dengan kualitas yang baik, memintal benang sutra dengan baik, teknik mewarnai kain dan pembukuan yang baik sebagai dasar berdagang. Dalam waktu empat belas hari, Dewangkara sudah menguasai banyak hal dan kecepatan pemahaman Dewangkara membuat Hattali kagum padanya.
“Kau memilih suami yang baik, Gayatri.” Hattali memuji Dewangkara di depan Gayatri.
“Tidak salah aku jatuh cinta dengannya, Rama. Dewangkara itu sudah rupawan, baik hati, sikapnya baik dan cerdas pula. Dan lagi seperti pesan Rama selama ini, aku mencari calon suami yang rendah hati dan tidak silau dengan kekayaan. Karena itu begitu mengenal Dewangkara, aku langsung jatuh hati padanya, Rama.”
“Apa yang membuat Rama penasaran?” Gayatri yang sejak tadi memandang ke arah Dewangkara yang sedang bekerja dengan Biantara untuk mewarnai kain, kini mengalihkan pandangannya ke arah Hattali.
“Sejak kapan kau menyukai Dewangkara? Rama tidak tahu kapan perasaanmu itu dimulai tapi begitu Rama sadari, kedua matamu itu selalu melihat ke arah Dewangkara.”
“Ahhh ... “ Gayatri terkejut sembari tersipu malu mendengar pertanyaan dari Hattali. “Mungkinkah kedua mataku ini yang membuat Rama tahu jika aku menyukai Dewangkara??”
Hattali menganggukkan kepalanya.
“Apa terlihat jelas, Rama?” tanya Gayatri lagi.
Hattali menganggukkan kepalanya lagi. “Sangat jelas dan kentara sekali. Bahkan Biantara pun juga bisa menebaknya dengan mudah.”
“Ini memalukan sekali! Kalian berdua mengetahuinya dengan cepat sementara Dewangkara sendiri tidak menyadarinya. Aku harus mengatakannya kepada Dewangkara, baru dia menyadari perasaanku untuknya.” Gayatri mengeluh mengingat bagaimana usahanya mengungkapkan perasaannya kepada Dewangkara.
Hattali tersenyum melihat tingkah putrinya. “Jadi sejak kapan kamu menyukainya, Gayatri?”
Gayatri tersipu malu sebelum menjawab pertanyaan dai Hattali. “Awalnya ... aku tertarik sejak dia datang menjemput kita di gerbang ibu kota, Rama. Sepanjang jalan mengantar kita ke pos antapura dan ke kediaman milik Rakryan Mahapatih Nambi, aku melihat dari dalam kereta kuda tindakan Dewangkara. Mungkin ini hal sederhana, tapi Dewangkara selalu mendahulukan wanita ketika berjalan atau bertindak. Banyak sudagar di ibu kota yang menyapanya dan dia hanya menundukkan kepala dengan tersenyum membalas sapaan itu. Lalu ketika Dewangkara mengantarku berkeliling ke ibu kota, Dewangkara adalah orang asing pertama yang meminta Biantara untuk saling memanggil nama masing-masing dan membuang status. Dari dua hal itu, aku tahu Dewangkara adalah orang baik yang langka, Rama.”
Hattali tersenyum mendengar jawaban Gayatri. “Matamu itu jeli sekali, Gayatri.”
Di tengah keasyikan dari Hattali bersama Gayatri yang sedang duduk berbincang bersama dan Dewangkara bersama dengan Biantara yang sedang bekerja, salah satu pekerja di kediaman Yasodana mengantarkan surat untuk Dewangkara. Hattali dan Gayatri tahu surat itu berasal dari Rakryan Mahapatih Nambi karena setiap tujuh hari sekali surat dari Rakryan Mahapatih Nambi selalu datang untuk Dewangkara. Hanya saja ... surat kali ini datang lebih cepat dari seharusnya.
Dewangkara menerima surat itu, membacanya dengan cepat dan kemudian raut wajahnya berubah menjadi gelap.
“Apa itu surat dari Rakryan Mahapatih?” Hattali yang tadi duduk bersama dengan Gayatri, langsung menghampiri Dewangkara bersama dengan Gayatri.
Dewangkara menganggukkan kepalanya. “Ya, Rama. Ini surat dari Rama di ibu kota.”
“Apa terjadi sesuatu?” Kali ini Gayatri yang mengajukan pertanyaan kepada Dewangkara.
“Mbah kakung yang tinggal di Lamajang sedang sakit parah, Rama. Saat mengirimkan surat ini, Rama di ibu kota pergi ke Lamajang untuk menjenguk Mbah Kakung,” jelas Dewangkara.
Hattali akhirnya memahami raut wajah gelap dari Dewangkara. “Apa kau ingin pergi menjenguknya juga, Dewangkara?”
“Jika Rama mengizinkan.”
Hattali tersenyum mendengar jawaban dari Dewangkara. “Tentu saja aku akan mengizinkannya. Aku akan membiarkanmu pergi, hanya saja lima hari sebelum pernikahan kau harus kembali kemari. Bagaimana?”
“Ya, Rama. Lima hari sebelum pernikahan aku akan kembali.”
“Bagaimana denganku, Rama?” Gayatri bertanya pada Hattali. “Bisakah aku ikut dengan Dewangkara?? Aku bisa sekalian mengenalkan diriku pada keluarga besar Rakryan Mahapatih Nambi.”
Hattali menggelengkan kepalanya tidak setuju. “Akan lebih baik jika kau tidak ikut. Kau masih harus mengurus pesta pernikahanmu dengan Dewangkara sementara Dewangkara pergi mengunjungi Lamajang. Pengenalan dirimu itu bisa dilakukan saat pesta pernikahanmu diadakan, Gayatri.”