
Jika kau bertanya apakah aku mencintai Nona Cintya, aku tidak tahu jawabannya. Aku tidak tahu dengan perasaanku sendiri dan perasaan yang aku miliki untuk Nona Cintya. Aku hanya tahu, aku harus melindunginya dengan segenap kekuatan yang aku miliki. Sejak pertama kali aku melihatnya dalam serangan yang menimpanya dan membuatnya kehilangan Iriya, aku merasa bahwa aku harus menggantikan Iriya untuk menjaga Nona Cintya. Itulah hal pertama yang bisa aku pastikan.
Dan sisanya meski aku tidak yakin 100% ... mungkin aku sudah mulai jatuh cinta pada Nona Cintya. Pria mana pun tentu akan jatuh cinta pada wanita seperti Nona Cintya, apalagi jika menerima perhatian yang besar darinya seperti yang aku terima selama ini.
Bruakkk .... mobil kedua yang menjadi pelindung bagi mobil yang membawa Nona Cintya kini oleng sebelum akhirnya menabrak pembatas jalan. Mereka sudah berusaha keras seperti mobil-mobil lainnya untuk melindungi mobil yang membawa Nona Cintya dengan berpindah ke belakang Nona Cintya untuk menghalangi serangan dari musuh.
Dor ... dor ... dor ....
Dor ... dor ... dor ....
Aku membalas tembakan itu dengan melepas peluru yang lebih banyak ke arah mereka.
Dor ... dor ... dor ... dor ....
Dor ... dor ... dor ... dor ....
Mobil itu terus melepas tembakan ke arahku dan ke arah mobil di mana Nona Cintya berada di dalamnya. Sial!!!! Aku mengumpat di dalam benakku karena adu tembak yang tidak segera berakhir ini. Aku menatap ke arah depan dan menyadari jika jalanan yang saat ini terbagi sebentar lagi akan berakhir. Jalanan di depan sana ... adalah jalanan yang selalu ramai karena merupakan pertemuan dari beberapa arah penjuru kota.
Dor ... dor ... dor ....
Aku melepaskan tembakan lagi kali ini berusaha untuk menyasar ban mobil milik musuh dan berusaha untuk membuat mobil itu berhenti. Tapi tiga tembakan yang aku lepaskan gagal mengenai ban dan justru salah satu tembakan musuh mengenai kaca helmku.
Benturan itu ... membuatku terdorong ke belakang, aku sempat oleng dari sepeda motor yang aku kendarai dan nyaris saja kehilangan kendali. Tapi aku beruntung ... peluru itu mengenai helm dan aku bisa bergerak dengan cepat mengendalikan tubuhku.
Di saat aku berusaha untuk membenahi posisi motorku, jalanan yang tadi dibatasi dua arah kini mulai habis. Pada jarak kurang dari 1 km adalah jalanan ramai yang dilewati oleh banyak kendaraan.
Hentikan mobil itu atau bantu mobil Nona Cintya pergi!! Pikiran itu muncul di benakku seolah ingin mengatakan padaku, aku hanya punya dua pilihan itu dalam waktu singkat.
Vrommmm ... vroooom ...
Aku menarik gas di setir kananku untuk mengejar ketinggalanku. Dalam dua menit aku berhasil mengejar ketinggalanku. Tapi kali ini aku tidak mengejar mobil yang menyerang mobil Nona Cintya melainkan mobil Nona Cintya sendiri. Aku mengendarai sepeda motorku ke sisi yang berlawanan dengan mobil musuh dan mengetuk kacanya.
Tok ... tok ... tok.
Aku mengetuk beberapa kali tapi tidak mendapat balasan. Mungkin karena waspada dengan musuh yang ingin menyerang dan keamanan soal orang yang duduk di dalam mobil, tak satupun dari orang di dalam mobil yang membukakan kaca mobilnya untukku. Alhasil ... aku terpaksa membuka kaca helmku dan tidak lama kemudian jendela belakang terbuka.
“Apa yang kau lakukan????” Aku mendengar Nona Cintya berteriak padaku. “Kenapa kembali kemari?”
Dor ... Dor ... Di saat aku berusaha untuk bicara dengan Nona Cintya, pihak musuh berusaha untuk menembakiku dan membuatku jatuh. Akan tetapi bermain dengan setir dan kecepatan motor yang aku kendarai, aku bisa menghindari tembakan itu. Aku beruntung aku punya pendengaran yang tajam yang berulang kali menyelamatkanku.
“Maafkan aku, Nona. Tapi aku tidak bisa membiarkan Nona dalam bahaya. Aku berjanji pada Nona satu hal.”
“Apa kau gila?? Cepat pergi dari sini!!! Aku dan Alby akan baik-baik saja!!!”
“Ketika aku memberi aba-aba mohon hentikan mobilnya, Nona. Di depan sana adalah jalanan ramai. Serangan ini akan membahayakan nyawa banyak orang jika dilanjutkan lebih lama lagi!”
“Kau tidak menuruti perintahku?” Aku mendengar teriakan Nona Cintya. Dia berteriak padaku untuk menyelamatkan diriku tanpa menyebut namaku demi melindungiku dari musuh.
Ah ... siapa yang akan menyangka mendengarnya memanggil namaku adalah sesuatu yang bisa aku rindukan. Aku menatap Nona Cintya sebelum menutup kaca helmku dan menurunkan kecepatan motor yang aku kendarai.
Aku menurunkan kecepatan dan kemudian berpindah ke sisi belakang mobil yang membawa Nona Cintya. Setelah berpindah jalur ... aku kembali mengambil pistol di tangan kiriku dan mulai menembaki mobil musuh yang berusaha untuk membuat mobil yang membawa Nona Cintya berhenti.
Dor ... dor ... dor ... Adu tembakan antara aku dan pihak musuh yang menyerang mobil Yasodana kembali terjadi.
Tiga ratus meter lagi. Aku melihat jalanan ramai yang kini sudah dekat. Aku terus menembakkan peluru dengan tujuan untuk membuat mobil itu berhenti mengejar mobil Nona Cintya.
Dua ratus meter lagi. Aku terus menembakkan peluru dan terus gagal. Bahkan lebih buruknya kali ini mobil yang mengejar mobil Nona Cintya terus mendekat ke arah mobil Nona Cintya dan membuat mobil Nona Cintya terjepit ke dinding pembatas jalan.
Sial!! Aku tidak punya pilihan lain. Jika terus seperti ini, mobil yang membawa Nona Cintya akan hancur dan membuatnya celaka. Aku menarik gas di setirku dan mendekat ke arah mobil yang menyerang mobil Nona Cintya. Aku membuka kaca helmku sepenuhnya untuk membuka identitasku dan berteriak pada mereka.
“Sasaran kalian adalah aku bukan??”
Benar saja ... begitu mereka melihat wajah di balik helm yang menyerang mereka berulang kali, mobil itu langsung melepaskan mobil Nona Cintya dan berbalik mengejarku. Aku menaikkan kecepatan motor yang aku kendarai dan menunggu keberuntungan kecil yang mungkin bisa menyelamatkanku.
Mobil itu terus berusaha mengejarku, berjalan sejajar denganku dan kemudian berniat untuk menutup jalanku. Tapi sebelum hal itu terjadi ... aku melihat truk dengan muatan yang akan melewati perempatan besar di luar jalanan ini.
Dor ... dor ... dor. Sembari terus menghindari tembakan dari musuh, aku menaikkan kecepatanku dan membuat musuh mengalihkan perhatiannya ke arahku. Lalu, bruak ....
Aku melompat dari motorku tepat beberapa detik sebelum motorku menabrak truk muatan besar yang melewati perempatan jalan besar di mana jalanan satu arah berakhir. Bruuuaakkkk ... tidak hanya motorku saja yang menabrak truk muatan besar itu, pihak musuh yang sedang fokus padaku tidak menyadari kedatangan truk itu dan membuat mereka langsung menabrak truk besar itu.
Truk berhenti dan terguling ke sisi lain karena dua benturan yang diterimanya.
“Kau baik-baik saja, Raditya???” Aku yang baru saja hendak bangkit dari jatuhku, melihat Nona Cintya yang berlari ke arahku dan langsung memelukku.
“Ya, aku baik-baik saja.”
“Kau gila, Raditya!!! Aku membuat rencana itu untuk menangkap basah mereka yang berusaha melukaimu dan kau justru menjatuhkan mereka semua???”
“Maaf. Tubuhku bergerak sendiri ketika tahu kau dalam bahaya.”
Duar ... mungkin karena bahan bakar yang bocor, truk itu kemudian meledak dan membuat semua orang terkejut. Di saat yang sama dengan ledakan itu, di saat semua orang terkejut dengan kecelakaan nahas itu, sesuatu dari truk itu melayang dan hendak jatuh ke arah Nona Cintya. Aku melihat pelat besi yang cukup besar hendak jatuh ke arah Nona Cintya yang sedang membelakangi truk karena melihat keadaanku.
“Maafkan aku, Cintya. Aku baru sadar jika aku mulai mencintaimu.”
Setelah mengatakan itu, aku bangkit dan mendorong Cintya menjauh dan jleb ... pelat besi itu menancap di tubuhku, bahkan menembus tubuhku.
“Tidak!!!!!”
Aku mendengar teriakan Nona Cintya yang melihatku dengan wajah ketakutan di saat yang sama ... aku melihat tiga sosok yang melayang di udara sebelum akhirnya turun dan menginjak daratan. Satu dari tiga sosok itu memiliki rupa yang tidak asing di ingatanku. Sosok itu berjalan mendekat ke arahku, melewati semua orang yang ketakutan melihat apa yang terjadi padaku dan semua orang seolah tidak menyadari kehadiran tiga sosok itu.
“Lagi-lagi kau mengubah takdir kematianmu, Raditya,” ujar sosok itu padaku dengan wajahnya yang sedih.