
“Jangan menyesali pilihan yang kau buat sendiri, Dewangkara!!” Maharaja berteriak sembari mengangkat tangannya memberi perintah kepada semua pasukannya untuk menyerang ke arah Dewangkara.
“Saya tidak akan menyesali pilihan ini, Maharaja.” Dewangkara membalas teriakan Maharaha dengan berbalik berteriak sembari bersiap mengambil ancang-ancang untuk melakukan serangan balik.
Dewangkara melihat banyaknya jumlah pasukan milik Maharaja yang kini berlari ke arahnya sembari menghunuskan pedang dan tombak mereka. Glup. Dewangkara menelan ludahnya menyadari bahwa pasukan milik Maharaja yang tersisa bahkan lebih banyak dari pasukan yang dibawa oleh Dyah Halayuda. Aku pasti bisa melewatinya, Dewangkara meyakinkan dirinya sendiri.
Di saat yang sama, Maharaja yang tidak ingin menerima kekalahan setelah berhasil menjatuhkan benteng milik Rakryan Mahapatih Nambi dan tinggal selangkah lagi sebelum menghabisi orang yang mengkhianatinya, berteriak memberi semangat kepada pasukannya. “Siapapun yang bisa membuat Dewangkara jatuh dan kalah, aku akan memberikan hadiah apapun kepada kalian!!”
“Ahhhhhhh!” teriakan pasukan milik Maharaja menggema di malam yang sunyi dan pekat seolah mengatakan malam yang dingin hari ini tidak cukup untuk menghentikan semangat membara mereka untuk mendapatkan hadiah dari Maharaja.
Kling. Kling. Kling. Tombak milik Dewangkara diayunkan dan langsung menangkis beberapa pedang yang mendekat ke arahnya.
“Jatuhkan dia!!!” Salah satu dari Rakryan Tumenggung yang ikut maju ke arah Dewangkara berteriak membakar semangat dari bayangkara yang berusaha untuk mengepung dan menjatuhkan Dewangkara.
Akan tetapi Dewangkara yang sudah membulatkan tekadnya, tidak mudah jatuh dan masuk ke perangkap musuh di hadapannya. Dengan beberapa ayunan dari tombak miliknya, Dewangkara berhasil menjatuhkan banyak bayangkara yang mendekat ke arahnya dan membuat banyak orang tercengang ketika melihat Dewangkara yang masih sanggup mengeluarkan banyak tenaga bahkan setelah peperangannya melawan pasukan di bawah pimpinan Dyah Halayuda.
Kling. Kling. Kling.
Dewangkara sekali lagi mengayunkan tombak miliknya dengan sangat kencang dan langsung membuat banyak bayangkara jatuh terjerembap karena tidak sanggup menahan ayunan tombak dari Dewangkara yang kencang dan menyakitkan.
Wush ... Dewangkara yang berhasil merebut tombak milik musuh, kemudian mengayunkan tombak itu sekuat tenaganya sembari berlari menembus bayangkara yang terjatuh.
Wush ... dengan menggunakan tombak yang didapatkannya, Dewangkara melompat dengan tinggi melewati banyak pasukan bayangkara yang terkejut dan tercengang melihat aksi dari Dewangkara tersebut. Menemukan kesempatan emas untuk terus bergerak maju dan mendekat ke arah Maharaja, Dewangkara memanfaatkan kesempatan itu dengan baik dengan langsung mengayunkan tombak miliknya sendiri begitu mendaratkan kakinya.
“Sial!!!” Salah satu Rakryan Tumenggung yang ikut melakukan serangan itu terkejut melihat Dewangkara berulang kali melakukan lompatan tinggi dan berhasil membuat banyak bayangkara terkejut sebelum akhirnya menerima serangan dari Dewangkara.
“Jika seperti ini terus, pasukan kita akan kalah, Maharaja.” Salah satu Rakryan Tumenggung yang berada di sisi Maharaja dan bertugas untuk melindungi Maharaja, menilai bahwa kemampuan Dewangkara sangatlah berbahaya.
“Siapa itu, Rama?” Di saat semua orang mulai sedikit gentar melihat kemampuan dari Dewangkara yang terus maju tanpa rasa takut sekalipun meski jelas terlihat bahwa dirinya kalah jumlah dengan pasukan musuh. Maharaja justru teringat kenangan kecilnya bersama dengan Maharaja pertama yang tidak lain adalah ayahnya.
“Kenapa Rama selalu tersenyum penuh bangga ketika melihatnya?”
“Rakryan Tumenggung Sena. Dia adalah calon suami dari bibimu. Bagaimana menurutmu, putraku?”
Maharaja teringat kenangan kecilnya yang sudah lama sekali dan sudah tertumpuk dalam banyaknya kenangan lain. Akan tetapi kenangan itu muncul dengan tiba-tiba ketika Maharaja melihat Dewangkara menembus pasukannya dan terus menerus mempersempit jarak dengan dirinya.
“Apa yang membuatnya istimewa, Rama? Kenapa Rama sepertinya merasa kagum pada Rakryan Tumenggung itu? Rama bahkan selalu meluangkan waktu berharga milik Rama untuk melihat latihan dari Rakryan Tumenggung Sena.”
“Ya, saya melihatnya, Rama.”
“Teknik melompat dengan tombak itu belum sempurna. Tapi ketika teknik itu berhasil disempurnakan oleh Rakryan Tumenggung Sena, maka teknik itu akan mampu membuatnya dengan mudah mengecoh pasukan musuh dan menjatuhkan pasukan musuh dalam waktu singkat.”
“Benarkah itu, Rama??”
“Ya, itu benar. Rakryan Tumenggung Sena adalah pemuda yang selalu berusaha dan tidak pernah menyerah dengan keadaan apapun. Dia dengan mudah mendapatkan posisi itu hanya dalam hitungan tahun yang singkat dan di usia yang sangat muda. Terlebih caranya berpikir membuatku kagum padanya. Karena hal itulah, aku mengizinkan bibimu untuk menikah dengannya. Jika bisa ... kelak aku ingin Rakryan Tumenggung Sena duduk di kursi Rakryan Mahapatih dan membantumu menjadi Maharaja yang bijak di masa depan.”
“Maharaja??” Rakryan Tumenggung di samping Maharaja berulang kali memanggil Maharaja yang terdiam karena ingatan lamanya. “Maharaja baik-baik saja?”
Akhirnya aku ingat alasan kenapa berulang kali aku merasa tidak asing dan kagum dengan teknik itu. Di masa lalu, aku pernah melihat teknik itu beberapa kali. Hanya saja .., saat itu teknik itu masih belum sempurna. Maharaja bicara di dalam benaknya sendiri sembari melihat jarak Dewangkara yang terus mendekat ke arahnya.
Karena dia tahu teknik itu, maka dia juga pasti mengenal Rakryan Tumenggung Sena. Aku ingat dengan baik Maharaja merahasiakan semua hal tentang Rakryan Tumenggung Sena dan kematiannya yang tragis. Maharaja pertama melarang siapapun untuk membahas Rakryan Tumenggung Sena dan apapun tentang dirinya bahkan termasuk teknik yang sedang dipelajari oleh Rakryan Tumenggung Sena waktu itu. Maharaja melihat ke arah Dewangkara yang terus mendekat sementara bayangkaranya terus menerus berjatuhan. Tidak bisa!! Seperti pesan Rama, apapun yang terjadi tidak boleh ada siapapun yang membahas lagi tentang Rakryan Tumenggung Sena. Dan kini semua orang mulai membahas Rakryan Tumenggung Sena lagi dan teringat padanya lagi karena melihat Dewangkara menggunakan teknik yang pernah digunakan Rakryan Tumenggung Sena beberapa kali dalam perang dan latihannya.
Maharaja memanggil Rakryan Tumenggung yang berada di dekatnya dan kemudian memberikan instruksinya melihat Dewangkara yang terus menerus mendekat kepadanya. “Bunuh dia dan Rakryan Mahapatih Nambi sekarang juga!!!”
“Bagaimana caranya, Maharaja? Pasukan kita terus berjatuhan ketika menghadapi pemuda itu.”
“Gunakan pasukan pemanah di belakang. Untuk melindungi pasukan kita yang terluka, tembakkan panah kita ke arah Rakryan Mahapatih Nambi di belakang Dewangkara. Dengan begitu Dewangkara pasti akan langsung berlari kembali ke arah Rakryan Mahapatih Nambi dan itulah kesempatan kita untuk menjatuhkan Dewangkara.”
“Baik, Maharaja.”
Untuk melindungi rahasia milik Rama, kau harus mati, Dewangkara!!! Tatapan Maharaja yang penuh kagum pada Dewangkara kini berubah menjadi tatapan tajam dengan niat membunuh sama seperti ketika dirinya menyerang benteng Gending untuk menjatuhkan Rakryan Mahapatih Nambi. “Maaf tapi kamu harus mati di sini, Dewangkara. Jika kau merasa tidak terima dengan kematianmu hari ini, maka salahkan saja hubungan yang kamu miliki dengan Rakryan Tumenggung Sena dan Rakryan Mahapatih Nambi. Salahkan kemampuanmu itu yang sama dengan kemampuan milik Rakryan Tumenggung Sena!”
Syutt ... syutt ... syutt ....
Wushh .... wussh ....
Melihat hujan panah yang mengarah ke tubuh Rakryan Mahapatih yang sedang sekarat, Dewangkara langsung berbalik dan berlari untuk melindungi Ayah asuhnya.