
Zaky sudah selesai mandi. Kini mereka sedang berjalan pelan sambil bergandengan tangan di koridor kamar untuk keluar asrama.
“Kamu mau ke mana, Zaky?” tanya Dava yang baru saja sampai di lantai 3 setelah menaiki tangga. Sepertinya ia baru selesai berjalan-jalan pagi.
“Aku akan mengantarnya,” sahut Zaky menunjuk Chike.
“Wah, siapa ini?” tanya Dava yang baru sadar kalau Zaky sedang menggandeng seorang gadis kecil.
“Astaga! Siapa anak ini? Yang pasti bukan anakmu, bukan? Kurasa dia keponakanmu benar?” seru ibu pemilik asrama yang baru keluar dari kamarnya, ikut bertanya.
“Bisa dikatakan seperti itu, Bu Laila,” sahut Zaky sedikit canggung.
“Kamu begitu menggemaskan. Berapa usiamu?” Bu Laila bertanya seraya mengelus pelan rambut sebahu Chike.
“Selamat pagi, Bibi. Umurku 10 tahun,” sahut Chike membungkuk sopan. Ia tersenyum mengemaskan.
“Ya ampun! Dia sangat sopan dan menggemaskan hingga aku ingin mencubit pipi gembulnya,” gemas Bu Laila yang membuat Chike tersenyum malu. Sedangkan Zaky dan Dava ikut tertawa pelan, ikut merasa gemas.
“Baiklah, kamu begitu kami akan pergi sekarang. Aku akan segera kembali setelah mengantarnya pulang.” Zaky menepuk pelan pundak Dava.
“Baiklah, sampai jumpa lagi.” Bu Laila kembali mengusap rambut Chike gemas.
“Kami pamit, Bibi, Paman. Semoga harimu menyenangkan,” pamit Chike. Zaky mengajak Chike untuk oergi sekarang. Mereka pun menuruni tangga dan keluar dari asrama.
“Semoga harimu menyenangkan...,” ucap Dava sok imut kepada Bu Laila, mengikuti cara bicara Chike ketika mereka sudah tak terlihat lagi.
“Astaga! Hentikan itu!” seru Bu Laila sambil menatap Dava dengan raut wajah berpura-pura jijik.
“Mengapa kamu seperti itu, Bu?! Aku dulu juga sangat imut seperti itu,” gerutu Dava mencebikkan bibirnya.
“Ya, ya, terserah kamu saja. Lebih baik kamu sekarang kembali membaca bukumu. Jika kamu bermalas-malasan seperti sekarang, kapan skripsimu akan selesai? Sudah, sana kembali ke dalam kamarmu,” usir Bu Laila mengejek Dava.
“Wah, jika aku tidak memahami perkataanmu mungkin aku akan merasa sangat senang karena menganggap kamu mengkhawatirkan aku, Bu,” sungut Dava.
“Hahaha, aku hanya bercanda. Sudah, sana masuk ke kamarmu karena aku juga akan pergi ke luar sebentar.”
“Memangnya mau ke mana, Bu?” tanya Dava penasaran.
“Aku hanya akan pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan,” jawab Bu Laila.
“Apakah kamu perlu bantuan, Bu?” tawar Dava.
“Ah, tidak usah. Aku hanya akan berbelanja sebentar dan hanya sedikit yang perlu dibeli, jadi aku bisa pergi sendiri hari ini,” tolak Bu Laila.
“Baiklah, kalau begitu aku akan kembali ke kamarku dulu, Bu. Jika membutuhkan bantuan, kamu bisa pergi ke kamarku.”
“Ya, aku mengerti. Aku berangkat sekarang sebelum terlalu siang. Kamu rajin-rajin lah belajar, jangan terlalu lalai,” nasihat Bu Laila.
“Siap, laksanakan!” Dava bergaya ala tentara dan membuat Bu Laila tertawa. Setelah itu Bu Laila pergi ke pasar dan Dava kembali ke dalam kamarnya.
*****
Zaky dan Chike berhenti di persimpangan jalan. Terlihat beberapa kendaraan yang berlalu lalang di jalan utama yang tak jauh dari tempat mereka.
“Di mana rumahmu?” tanya Zaky.
“Tak jauh lagi, Paman. Hanya butuh berbelok sekali lagi dan akan sampai di rumahku.”
“Itu bagus! Kalau begitu ayo kita lanjut berjalan agar kamu segera sampai di rumah,” ajak Zaky namun ditolak oleh Chike.
“Tidak perlu, Paman. Aku akan pulang sendiri saja,” ucap Chike.
“Tidak usah, Paman. Aku sudah baik-baik saja sekarang dan aku bisa pulang sendiri.” Chike melepaskan genggaman tangan mereka.
“Tidak! Biarkan aku mengantarmu,” kekeuh Zaky.
“Tidak perlu, Paman!” Chike kembali menolak.
“Hah, terserah kamu saja. Tapi, apa kamu benar-benar yakin ingin pulang sendiri?” Zaky kembali bertanya untuk memastikan.
“Iya, Paman.”
“Baiklah, kalau begitu hati-hati di jalan,” nyerah Zaky.
“Terima kasih banyak, Paman. Kalau begitu selamat tinggal,” pamit Chike.
“Ya, selamat tinggal. Berjalanlah perlahan, tak perlu berlari,” nasihat Zaky.
“Baik, Paman. Bye...,” Ucap Chike yang sudah berjalan menjauh sambil melambaikan tangannya. Zaky membalas lambaian itu dan tak lupa untuk tersenyum.
Zaky kembali berjalan untuk balik ke asrama. Namun, sebelum itu ia singgah ke minimarket untuk membeli beberapa barang.
*****
“Chike begitu menggemaskan,” ucap Zaky dengan senyuman yang terus terlukis di bibirnya.
Ia kembali tertawa pelan di sepanjang jalan ketika mengingat Chike. Apalagi ketika Chike tertawa, pipi gembulnya terlihat sangat menggemaskan. Jangan lupakan lesung pipi yang membuatnya terlihat manis.
Zaky terus berjalan dengan senyuman yang mengembang di bibirnya. Sudah lama sekali sejak Zaky terus tersenyum seperti itu.
“Ya ampun...aku ingin bertemu dengannya lagi. Dia terlihat begitu menggemaskan,” harap Zaky.
Ia menghembuskan napasnya panjang dan berusaha mengatur wajahnya yang terasa sedikit kaku akibat terlalu lama tersenyum. Lama-lama setiap orang mungkin akan menganggapnya seperti orang gila jika ia terus tersenyum seperti itu di sepanjang jalan.
“Astaga! Mengapa aku bisa lupa untuk membeli penghapus! Padahal tujuanku ke minimarket untuk membeli itu. Dasar kamu Zaky! bisa-bisanya kamu malah membeli cemilan daripada barang yang kamu butuhkan,” gerutunya ke diri sendiri.
Mau tak mau Zaky kembali ke minimarket untuk membeli penghapus. Miliknya yang lama hilang entah ke mana. Ia tak tau apa karena ia lupa menaruhnya di mana atau terjatuh di suatu tempat ketika ia membawanya ke kampus.
“Cuma ini, Kak?” tanya kasir ketika melihat belanjaan Zaky yang hanya berupa penghapus.
“Iya, Kak.”
“Baik... apa tidak ada barang lain yang ingin dibeli lagi?” tanyanya lagi.
“Tidak, cukup ini saja.”
“Totalnya lima ribu rupiah, Kak.” Zaky memberi lembaran uang sepuluh ribu kepada kasir dan mengambil kembaliannya.
“Terima kasih dan sampai jumpa kembali, Kak,” ucap kasir itu ramah. Zaky hanya membalas dengan senyuman tipis.
“Aku lelah jika disuruh berjalan bolak-balik ke asrama,” keluh Zaky. Jalanan menuju asrama yang ia tinggali memang sedikit menanjak hingga membuat tenaga seseorang terkuras jika berjalan bolak-balik seperti dirinya.
Zaky menghela napasnya dan melihat pemandangan sekitar lalu kembali melihat ke jalan. Zaky menghentikan langkahnya di ujung jalan ketika matanya melihat seorang gadis yang berdiri di depan asrama. Orang itu terlihat seperti kebingungan.
“Siapa orang itu? Aku belum pernah melihatnya selama berada di asrama. Apakah ia penghuni baru?” tanya Zaky pada dirinya. Tak ingin ambil pusing, Zaky kembali melanjutkan perjalanannya menuju asrama.
Ketika jarak Zaky sudah dekat dengan asrama, ia melihat gadis itu menatapnya dengan lekat. Zaky merasa kaget ketika ia dipeluk secara tiba-tiba oleh orang yang tak dikenalnya, apalagi oleh seorang gadis.
Zaky melihat gadis yang memeluknya itu dengan bingung. Mengapa gadis itu tiba-tiba memeluknya? Apakah gadis itu mengenalnya? Semua pertanyaan itu terlintas di dalam pikiran Zaky.
“Aku sangat merindukanmu, Paman!” ucap gadis itu semakin mempererat pelukannya. Sedangkan Zaky kini merasa sangat kebingungan dengan kondisi yang sedang dialaminya.