ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
MASA LALU: KEMBALINYA INGATAN DEWANGKARA PART 3



            Semakin dekat dengan antapura, semakin sesak dada Dewangkara. Kedua tangan Dewangkara semakin bergetar dengan hebat dan keringat dingin mulai mengucur di keningnya.


            “Apa kau baik-baik saja, Dewangkara?” Gayatri bertanya ketika turun dari kuda miliknya dan melihat ke arah Dewangkara yang turun dari kudanya dengan sedikit sempoyongan.


            Dewangkara merasa kedua kakinya kehilangan tenaganya ketika turun dari kudanya. Rasanya kedua kaki yang tegap itu, tidak akan sanggup menahan berat tubuhnya apalagi membawanya berjalan.


            “Dewangkara?” Gayatri bertanya lagi. Kali ini dengan wajah yang benar-benar khawatir pada Dewangkara.


            Bertahanlah! Hanya untuk saat ini saja!!! Aku mohon diriku! Aku sudah di sini dan setidaknya biarkan aku mencoba sekali saja! Jika setelah memasuki antapura ingatanku tidak kembali, aku akan mengubur keinginanku untuk mengingatnya! Setelah memberi dorongan kepada dirinya sendiri, Dewangkara mencoba untuk tersenyum melihat ke arah Gayatri dan menjawab pertanyaan dari Gayatri. “A-aku baik-baik saja, Gayatri.”


            “Kamu yakin?? Wajahmu mengatakan sebaliknya, Dewangkara.”


            Dewangkara tersenyum pahit menyadari bahwa Gayatri dapat dengan jelas melihat kebohongan yang dibuatnya. “Aku sudah di sini, Gayatri. Setidaknya ... aku akan mencoba sekali saja untuk melihat ke dalam dan melihat apakah ingatanku ini akan kembali setelah aku masuk ke dalam sana.  Dan jika akhirnya ingatanku tidak kembali, aku akan mengubur keinginanku untuk mengetahui ingatan itu.”


            Gayatri tahu saat ini, dia tidak akan bisa menggoyahkan keinginan Dewangkara. Melihat bagaimana Dewangkara berusaha bertahan meski merasakan sakit, Gayatri hanya bisa mendukung keinginan Dewangkara meski hatinya yang melihat hal ini merasa tidak tega. “Haruskah aku dan Biantara menemanimu masuk ke dalam??”


            Dewangkara menggelengkan kepalanya. “Tidak. Biarkan aku masuk sendiri. Tapi ... jika dalam waktu dua jam aku tidak kembali, kalian bisa masuk dan mencariku. Apa kau mau melakukannya?”


            Gayatri dan Biantara menganggukkan kepala mereka setuju dengan permintaan Dewangkara. Melihat dua teman barunya mengikuti keinginannya, Dewangkara hanya bisa tersenyum dan berkata, “Terima kasih.”


            Dewangkara mengatur nafasnya beberapa kali, menyeimbangkan tubuhnya dan memberikan dorongan pada tubuhnya untuk tetap bertahan selama beberapa jam ke depan. Setelah semua usaha untuk mengusir rasa takut sebagai bentuk pertahanan tubuhnya, Dewangkara mulai melangkahkan kakinya berjalan ke dalam antapura yang kini terlihat tidak terawat dan dibiarkan begitu saja. Bangunan yang dulunya megah itu kini terlihat suram dan benar-benar tidak terawat. Banyak bagian dari bangunan itu rusak karena diabaikan begitu saja. Tempat yang dulu begitu diimpikan oleh semua orang agar bisa memasukinya, kini berubah menjadi tempat yang tidak lagi menarik di mata banyak orang.


            Wush. Begitu melewati gerbang antapura, Dewangkara merasakan embusan angin menerpa wajahnya. Embusan angin itu membawa pasir bersamanya dan membuat penglihatan Dewangkara untuk sejenak terganggu.


            Sial! Mataku!!! Kedua mata Dewangkara yang kemasukan pasir, kemudian secara spontan menutup untuk mempertahankan diri.  Air mata kemudian mengalir dari kedua mata Dewangkara sebagai bentuk untuk pertahanan untuk membuang pasir yang masuk ke kedua matanya. Dan begitu bisa melihat lagi, Dewangkara melihat pemandangan yang berbeda. Antapura yang terlihat di kedua mata Dewangkara saat ini berubah menjadi antapura yang masih indah dan megah seperti dulu.


            “Itu Rakryan Tumenggung Sena!”


            Dalam pemandangan yang dilihat oleh Dewangkara saat ini, dia melihat anak kecil yang tidak lain adalah dirinya sendiri enam belas tahun yang lalu. Dewangkara melihat dirinya enam belas tahun yang lalu, melarikan diri dari abdi yang membawanya ke antapura karena melihat Rakryan Tumenggung Sena yang sedang berlari memasuki antapura dengan pasukan di belakangnya.


            Dewangkara mengikuti langkah kaki dirinya enam belas tahun yang lalu dan langkah itu terhenti ketika dirinya enam belas tahun yang lalu bersembunyi di balik dinding karena Rakryan Tumenggung Sena menghentikan pasukannya. Dewangkara yang merasa penasaran dengan pemandangan itu mendekat ke arah Rakryan Tumenggung Sena dan mendengar percakapannya dengan satu orang dari pasukan yang dipimpinnya.


“Anggara. . . bawa surat ini bersamamu dan segeralah pergi ke kediamanku. Simpan surat ini, tidak peduli apapun yang terjadi dan jangan percayai siapapun di Antapura.” 


            “Apa maksudnya ini, Rakryan Tumenggung? Mohon dijelaskan karena saya tidak mengerti, Rakryan Tumenggung?”


            “Ini hanya dugaanku saja ... seseorang mungkin telah menghasut Maharaja atau Mahapatih Nambi dan membuat mereka bergerak untuk membunuh Guruku. Dengan sukarela guruku datang kemari untuk meminta kematian dan seseorang memanfaatkan hal itu untuk membunuh guruku dan membuatnya mati sebagai pengkhianat bukannya pahlawan.”


            “Menurutmu siapa yang bertemu dengan Guruku sebelum Guruku datang ke Antapura dan punya kesempatan untuk membuat kebohongan dengan niat membunuh Guruku?”


            “Sekarang tidak ada waktu lagi ,,, pergilah ke kediamanku dan jaga istriku, Pawestri Manohara! Jangan sampai dia tahu, apa yang akan aku lakukan setelah ini! Simpan surat ini baik – baik. Jika kelak kamu menemukan kesempatan dan menemukan seseorang yang mampu untuk membersihkan nama guruku, berikan surat ini padanya.”


            Tidak lama kemudian pasukan Rakryan Tumenggung Sena pergi seperti perintah yang diberikan dan Rakryan Tumenggung Sena berlari seorang diri ke arah ratusan bayangkara yang sedang mengeroyok guru dari Rakryan Tumenggung Sena–Ken Sora.


            Pemandangan yang mengerikan ini perlahan membuat Dewangkara menangis karena tidak sanggup melihatnya. Tapi kedua matanya tetap terus melihat seolah mengatakan pada dirinya bahwa pemandangan yang mengerikan ini harus dilihat oleh Dewangkara. Di sampingnya, Dewangkara melihat dirinya enam belas tahun juga menangis melihat pemandangan yang sama dengan dirinya.


“Jika kelak kamu menghadapi situasi yang sama dengan situasi yang dihadapi gurumu saat ini, apa yang akan kamu lakukan, Sena? Maksudku kamu harus memilih antara kesetiaan dan orang yang kamu sayangi. Jika itu terjadi, mana yang akan kamu pilih, Sena?”  


“Aku tidak akan memilih di antara keduanya.”


 “Lalu apa yang akan lakukan? Kamu tidak akan bisa selamanya berdiri di antara keduanya. Suatu saat keduanya akan memaksamu untuk memilih.”


“Aku memang tidak memilih keduanya, tapi aku akan membuat pilihanku sendiri tidak berdasarkan kesetiaan dan hubungan kasih sayang yang kumiliki. Aku hanya akan memihak pada kebenaran. Aku akan melindungi pihak yang benar meski itu artinya aku melanggar sumpah kesetiaanku, meski itu artinya aku harus melepaskan hubunganku itu.”


“Jika saya berada di posisi Mahisa Anabrang saya akan memilih untuk menangkap hidup–hidup Adipati Tuban dan membiarkan Maharaja yang menghukumnya secara langsung. Hukuman yang diberikan langsung oleh Maharaja tidak akan menyakiti siapapun termasuk Guru.”  


            “Saya akan berdiri di sisi yang benar, Maharaja. . .”


            Entah bagaimana, Dewangkara tidak tahu. Tapi di saat pemandangan ini berlangsung, Dewangkara dapat dengan jelas melihat apa yang ada di dalam benak Rakryan Tumenggung Sena saat ini. Dewangkara mendengar suara penyesalan yang sedang berteriak dengan keras di dalam hati Rakryan Tumenggung Sena di saat pilihannya saat ini akan membawanya pada sebuah kepastian yakni kematiannya sendiri.


            Lima tahun yang lalu, aku tidak bisa menentukan mana yang benar dan mana yang salah dalam kasus guruku.


 Pikiranku membawaku pada sebuah pengandaian. Aku berpikir seandainya saja Mahisa Anabrang memiliki sedikit welas di hatinya, mungkin nasib tragis guruku akan memiliki akhir yang berbeda. Tapi ...  jauh dalam pikiranku, aku selalu menyalahkan diriku sendiri karena saat itu, aku sendiri punya kesempatan untuk menyelamatkan guruku.


Lima tahun yang lalu ...  harusnya aku melakukan hal ini. Melihat getaran di tangan guruku saat itu, harusnya aku berlari mendekatinya dan menghentikannya.


Jika saat itu aku melakukan hal itu, akankah Guruku menghentikan niatnya untuk membunuh Mahisa Anabrang? Jika saat itu aku melakukan hal itu, akankah kisah tragis dari guruku memiliki akhir yang berbeda? Jika saat itu aku melakukan hal itu, akankah situasi buruk ini menjauh dari hidup Guruku?


Butuh lima tahun lamanya bagiku untuk menemukan jawaban yang tepat ini. Sekarang ...  aku sudah berdiri di sisi yang benar, Rangga. Kali ini ... aku tidak akan gagal lagi, aku tidak akan menyesal lagi. Semua perasaan bersalah yang selama ini kurasakan akhirnya akan pergi.


Mendengar apa yang dipikirkan Rakryan Tumenggung Sena sebelum kematian datang menjemputnya, Dewangkara hanya bisa jatuh berlutut dengan air mata yang terus jatuh. Dewangkara hanya bisa terdiam dan tidak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan Rakryan Tumenggung Sena, seseorang yang dikaguminya.