
“Paman!” Mala-adik dari Danapati langsung menyapa Dyah Halayuda ketika datang mengunjungi rumahnya. Mala yang sejak kecil selalu bersikap manja kepada Dyah Halayuda langsung tersenyum senang ketika melihat kedatangan pamannya. “Salam, Paman.”
“Malaku yang paling cantik.” Dyah Halayuda langsung membalas sapaan dari Mala ketika melihat keponakannya yang paling cantik itu menyapa kedatangannya dengan senyum bahagia. Seperti biasanya, Dyah Halayuda akan melontarkan pujiannya kepada Mala. “Hari ini kau semakin cantik saja, Mala.”
“Tentu saja, Paman. Seperti yang Paman tahu, aku adalah salah satu gadis tercantik di ibu kota. Bahkan beberapa pawestri pun kalah dengan kecantikanku. Itulah yang orang-orang katakan di kota, Paman.” Mala membanggakan kecantikan yang dimilikinya kepada Dyah Halayuda.
“Itu memang benar, Mala. Di mata Paman, kamulah yang paling cantik. Tapi sayang sekali ...”
Mala mengerutkan alisnya mendengar ucapannya Dyah Halayuda. “Apanya yang sayang sekali, Paman?”
“Sayang sekali, keponakan Paman yang cantik ini masih belum menikah. Apa kau tidak punya tambatan hati, Mala? Jika ada kau bisa mengatakannya pada Paman dan Pamanmu yang tersayang ini akan mengatakannya pada Ramamu, bagaimana?”
Mala tersenyum mendengar tawaran menggiurkan dari pamannya itu. Mala merangkul lengan Dyah Halayuda dan kemudian menariknya masuk ke dalam kediamannya di mana Danapati sedang duduk menyantap makanan ringan yang tadi dibelinya.
“Paman.” Danapati langsung meletakkan makanannya, bangkit dari duduknya dan langsung memberi salam kepada Dyah Halayuda. “Salam, Paman.”
“Salam, Danapati.” Dyah Halayuda membalas sapaan dari Danapati, kemudian memberikan isyarat pada Danapati untuk duduk kembali sementara dirinya duduk di dekat Danapati diikuti dengan Mala.
“Apa yang membawa Paman datang kemari?” Danapati mengajukan pertanyaan kepada Paman. “Rama dan Biyung(1) sedang tidak ada di rumah Paman.”
(1)Biyung dalam bahasa Sanskerta berarti Ibu.
Dyah Halayuda tersenyum mendengar ucapan Danapati. “Apa Pamanmu ini tidak boleh mengunjungi keponakanku ketika saudaraku tidak ada di rumah??
“Tentu saja tidak, Paman. Tidak ada yang melarang kedatangan Paman di rumah ini. Kita semua bisa hidup tentram seperti ini, semua karena bantuan dari Paman.”
Dyah Halayuda menatap ke arah Mala-keponakannya yang cantik yang mengingatkannya kepada adik kesayangannya yang telah mati belasan tahun lalu. “Paman kemari ingin bertanya pada kalian. Bukankah kalian sudah cukup dewasa sekarang??”
Mala dan Danapati menganggukkan kepala mereka bersama-sama.
“Kalau begitu ... apa dari kalian tidak ada yang ingin menikah?? Ramamu bingung dengan kalian berdua yang masih belum menikah padahal usia kalian sudah di atas dua puluh tahunan?? Terutama kamu, Danapati. Namamu terkenal buruk di ibu kota karena sering sekali merayu banyak gadis di ibu kota.”
Danapati tersenyum kecut mendengar ucapan Dyah Halayuda mengenai rumor buruk yang beredar tentang dirinya. Tapi sesuatu muncul di dalam benak Danapati ketika pertanyaan mengenai pernikahan diajukan oleh Dyah Halayuda. “Apakah Paman akan membantuku jika aku menyukai seorang gadis?”
“Akan aku dengar dulu bagaimana gadis itu, Danapati.”
Danapati menceritakan pertemuannya dengan Gayatri dan kecantikan yang dimiliki oleh Gayatri. Tepat setelah menceritakan hal itu, Danapati kemudian mengajukan pertanyaan kepada Dyah Halayuda tentang niatnya untuk menikahi Gayatri. “Bagaimana, Paman? Apa Paman bisa membantuku mengatakan pada Rama untuk melamar Gayatri?”
“Tidak.” Tanpa berpikir dua kali, Dyah Halayuda langsung menolak permintaan dari Danapati dan membuat Danapati terkejut tidak percaya. Di sisi lain Mala yang sejak awal merasa tidak suka dengan Gayatri, tersenyum senang mendengar penolakan dari Dyah Halayuda.
“Kamu tahu Pamanmu ini adalah calon Rakryan Mahapatih berikutnya di antapura. Pamanmu ini sekarang adalah orang kepercayaan Maharaja. Jadi kenapa kamu tidak memilih untuk menikahi keponakan Maharaja saja, Danpati?? Ada banyak keponakan Maharaja yang cantik jelita yang lebih cantik dari Gayatri yang asal usulnya tidak jelas.”
“Tapi Paman ...” Danapati masih berusaha untuk mendapatkan keinginannya.
“Tidak ada tapi-tapian lagi, Danapati. Paman akan bicara dengan Ramamu dan akan mencarikan calon istri dari kalangan saudara Maharaja untuk masa depan keluarga ini. Kau harus tahu Danapati, menikahi keluarga kerajaan akan membuat hidupmu terjamin.”
Danapati yang biasanya bertindak sombong di depan banyak orang di ibu kota dan selalu bertindak sewenang-wenang karena statusnya sebagai keponakan dari Dyah Halayuda, kini tidak bisa berkutik ketika Dyah Halayuda menolak keinginannya tanpa berpikir dua kali. Danapati tahu dengan baik kehidupannya saat ini benar-benar baik karena bantuan dari Pamannya. Danapati juga sangat tahu jika Pamannya itu sangat ingin menjadi Rakryan Mahapatih dan akan melakukan apapun untuk mendapatkan posisi itu. Hanya saja ... Danapati tidak akan mengira jika Dyah Halayuda tidak akan menyetujui permintaannya menikahi gadis yang diinginkannya padahal selama ini Dyah Halayuda selalu menuruti keinginannya.
Kesal dengan Danapati, Dyah Halayuda kemudian mengalihkan perhatiannya kepada Mala dan bertanya pada Mala. “Bagaimana denganmu, Mala? Apa ada seorang pria yang menarik perhatianmu?”
“Dewangkara, Paman. Aku ingin menikah dengan Dewangkara, Paman.” Mala menjawab dengan sedikit malu-malu.
“Tidak bisa, Mala!! Aku tidak ingin Dewangkara menjadi adik iparku!!” Jawaban Mala itu membuat Danapati geram karena Danapati selama selalu merasa kesal setiap kali melihat Dewangkara. Danapati merasa kesal dengan Dewangkara karena dirinya selalu kalah dari Dewangkara dalam banyak hal, terutama dari banyak wanita yang diam-diam selalu mengagumi Dewangkara.
“Kenapa tidak???” Mala langsung membalas penolakan dari Kakaknya dan hal itu membuat Dyah Halayuda merasa sedikit bingung.
“Kau tahu sendirikan Dewangkara itu-“
“Tunggu sebentar! Siapa itu Dewangkara?? Dia putra dari siapa?? Namanya terdengar tidak asing di telinga Paman.” Dyah Halayuda memotong ucapan Danapati karena bingung melihat Danapati dan Mala berdebat karena nama Dewangkara.
“Dewangkara itu adalah anak asuh dari Rakryan Mahapatih Nambi. Beberapa tahun yang lalu Dewangkara berhasil lolos ujian masuk bayangkara. Akan tetapi Rakryan Mahapatih Nambi tidak mengizinkan Dewangkara untuk menjadi Bayangkara karena masalah kesehatan, Paman.”
Mendengar penjelasan dari Mala, Dyah Halayuda mengingat Dewangkara yang sejak tadi membuatnya merasakan sensasi tidak asing. Kalau aku tidak salah mengingat, anak itu adalah anak waktu itu. Anak itu juga adalah anak yang mendapatkan nilai terbaik beberapa tahun lalu dalam ujian bayangkara yang nilainya hampir menyamai nilai ujian dari Rakryan Tumenggung Sena. Jika saja bukan karena penyakit yang dimilikinya, anak itu mungkin akan jadi Rakryan Tumenggung yang berikutnya dan mungkin akan menyamai kehebatan dari Rakryan Tumenggung Sena.
Dyah Halayuda menatap sedih ke arah Mala. “Sayangnya untuk permintaan Mala kali ini, Paman tidak akan bisa mengabulkannya. Kamu bisa menikah dengan siapapun di dunia ini asal bukan orang dari Rakryan Mahapatih Nambi, Mala.”
“Kenapa begitu, Paman? Apa karena penyakit yang diderita Dewangkara??” Mala masih berusaha untuk mendapatkan keinginannya.
“Tidak. Paman tidak akan keberatan dengan penyakit Dewangkara, Mala. Paman selalu yakin penyakit akan selalu ada obatnya. Hanya saja ... Dewangkara adalah anak asuh dari Rakryan Mahapatih Nambi-musuh Paman selama ini. Paman tidak akan mengirimmu menikahi keturunan dari musuh Paman, Mala.”
“Tapi Paman-“
Dyah Halayuda bangkit dari duduknya dengan tiba-tiba. “Tidak ada tapi-tapian, Mala. Tidak tetap tidak.”
Dyah Halayuda berjalan keluar dari rumah Mala dan Danapati. Mala masih berusaha untuk membujuknya tapi keputusan Dyah Halayuda sudah bulat dan tidak ada toleransi untuk hal itu. Sembari berjalan pergi mengabaikan bujukan Mala, Dyah Halayuda mengingat beberapa kenangan lamanya tentang adiknya-Dyah Manila yang juga jatuh cinta kepada pria yang berhubungan dengan musuhnya.
Terulang lagi. Dyah Halayuda menatap ke arah langit. Kenapa terulang lagi seperti ini?