ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
MASA LALU: RENCANA PERNIKAHAN PART 3



            Karena ingat dengan ucapan Rakryan Mahapatih Nambi yang meminta Dewangkara untuk tidak banyak menggunakan teknik melompat dengan menggunakan tombak, selama beberapa babak dalam ajang tanding itu Dewangkara menggunakan teknik satu pedang atau dua pedang.


            Kling ... kling ... suara pedang-pedang yang saling bertabrakan terdengar hampir di setiap pertandingan. Satu lawan jatuh dan Dewangkara memenangkan satu babak. Satu lawan berikutnya jatuh dan Dewangkara menenangkan dua babak. Begitu seterusnya hingga Dewangkara akhirnya mengalahkan enam lawannya dan masuk ke semifinal di mana ada empat pendaftar yang telah mengalahkan lawan-lawannya. Dan di antara empat orang ada Dewangkara dan Danapati.


            “Kenapa kau tidak menggunakan tombak dan sejak tadi hanya menggunakan pedang saja?” Biantara bertanya pada Dewangkara ketika Dewangkara beristirahat sebelum babak selanjutnya.


            “Ramaku melarangku menggunakan teknik itu jika tidak terpaksa.” Dewangkara menjawab sembari mengambil air minum yang telah dibawakan oleh Gayatri yang sejak tadi duduk menonton bersama dengan Biantara. “Ah, apakah kau sudah menyampaikan pesanku pada Rama?” 


            Biantara menganggukkan kepalanya. “Aku sudah menyampaikan pesanmu pada Rakryan Mahapatih Nambi.”


            “Lalu apa kata Rama? Apa dia marah dengan keputusanku??”


            Biantara menggelengkan kepalanya. “Tidak. Kata Rakryan Mahapatih Nambi, kau boleh memenangkan pertandingan kali ini, Dewangkara. Baik kau kalah atau menang, semua sudah diatur oleh Rakryan Mahapatih Nambi.”


            Dewangkara menatap Gayatri dengan senyuman kecil di bibirnya sebelum memberikan komentarnya untuk Biantara yang telah susah payah menyampaikan pesannya untuk Rakryan Mahapatih Nambi. “Bagus sekali kalau begitu, kita beruntung kalian bisa sampai di sini pagi tadi dan membantuku Ramaku menyusun rencananya.”


            Gayatri mendekat ke arah Dewangkara dan kemudian berbisik untuk bertanya karena tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi saat ini. “Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kenapa kau dan Rakryan Mahapatih Nambi memintaku dan Rama untuk datang kemari dengan cepat jika kita hanya akan membahas pernikahan kita saja?”


            Dewangkara kemudian berbisik ke arah Gayatri dan Biantara yang juga sama penasarannya mendekatkan telinganya ke arah Dewangkara untuk mendengar penjelasan dari Dewangkara.


            “Kau juga penasaran, Biantara?” tanya Dewangkara yang terkejut melihat Biantara mendekatkan telinganya untuk ikut mendengar.


            “Ya, aku juga penasaran. Apa aku tidak boleh ikut mendengar??”


            Dewangkara tersenyum membalas pertanyaan Biantara. “Tentu saja boleh, asal kalian tidak menceritakan hal ini pada Lingga ketika kembali nantinya.”


            Gayatri dan Biantara melihat satu sama lain sebelum akhirnya menganggukkan kepala mereka bersama-sama sebagai tanda setuju untuk persyaratan yang diminta oleh Dewangkara.


            “Baiklah kalau begitu, sekarang dengarkan apa yang akan aku ceritakan. Begini ....” Dewangkara kemudian menjelaskan apa yang terjadi padanya beberapa hari yang lalu yang melibatkan dirinya dan Danapati. Dewangkara memberi penjelasan dengan detail mengenai masalah yang dibuat oleh Danapati hingga terjadi bentrokan yang cukup parah di ibu kota


            “Pria bernama Danapati itu ... “ Begitu Dewangkara menyelesaikan ceritanya, Gayatri langsung berucap sembari menatap jijik ke arah di mana Danapati sedang duduk beristirahat. “Dia benar-benar menjijikkan.”


            Biantara menganggukkan kepalanya setuju. “Itu benar. Bagaimana dia bisa menggoda wanita yang telah bersuami?? Itu benar-benar tindakan yang buruk sekali!”


            Dewangkara mengangkat kedua bahunya. “Seperti yang kalian tahu, Danapati itu adalah keponakan Dyah Halayuda-orang terdekat Maharaja saat ini. Jadi banyak wanita di ibu kota ini yang mau saja menerima rayuan dari Danapati dengan berbagai alasan. Tapi seperti ucapan Biantara, Danapati benar-benar keterlaluan kali ini. Secantik apapun wanita, jika sudah menikah sudah tidak lagi bisa untuk didekati karena sudah menjadi milik orang lain. Harusnya Danapati tahu akan hal itu.”


            Percakapan Dewangkara bersama dengan Gayatri dan Biantara kemudian berakhir ketika iring-iringan Maharaja bersama dengan beberapa pejabatnya datang dan membuat semua orang langsung bersujud untuk menunjukkan rasa hormat mereka, tidak terkecuali Dewangkara bersama dengan Gayatri dan Biantara.


            “Salam, Maharaja.”


            “Aku hanya sedikit sesak. Tapi selebihnya baik-baik saja.”


            “Kau yakin?” Kali ini giliran Biantara yang bertanya. “Kau tidak boleh kalah dalam ajang ini, Dewangkara. Jika tidak Kangjengku yang cantik ini akan diminta untuk menikah dengan pria kotor bernama Danapati. Dan jika hal itu terjadi ...”


            “Tenang saja, Biantara.” Dewangkra langsung menjawab ucapan Biantara bahkan sebelum Biantara menyelesaikan ucapannya yang terhenti. “Aku tidak akan membiarkan siapapun merebut calon istriku!”


            “Kalian bisa bangun.” Maharaja memberikan perintahnya kepada semua rakyatnya yang bersujud untuk bangun.


            Dyah Halayuda sebagai perwakilan dari Maharaja kemudian naik ke atas tempat adu tanding dan meminta empat peserta yang menang untuk naik ke atas dan memperkenalkan dirinya kepada Maharaja. Empat peserta itu naik termasuk Dewangkara dan Danapati dan mulai memperkenalkan diri mereka masing-masing.


             “Ah ... kau rupanya yang bernama Dewangkara.” Maharaja langsung menatap penuh perhatian ketika Dewangkara telah mengenalkan dirinya.


             “Ya, saya Dewangkara, Maharaja.” Dewangkara yang sudah menduga hal ini karena ucapan ayah asuhnya, menjawab dengan menundukkan kepalanya dan bersikap seolah tidak tahu dengan perhatian Maharaja padanya. “Kiranya bagaimana Maharaja bisa tahu nama saya?”


             “Aku sudah mendengar bagaimana kau menyelesaikan bentrokan yang terjadi di ibu kota beberapa hari yang lalu seorang diri. Aku khusus datang hari ini kemari dan melihat ajang ini, hanya untuk melihatmu dan kemampuan hebatmu itu, Dewangkara.” Maharaja mengatakan langsung niatnya kepada Dewangkara dan semua rakyatnya.


             “Maharaja terlalu memuji, saya tidak sehebat itu, Maharaja.”


             “Kau mirip dengan Ayahmu,  Dewangkara.” Maharaja tersenyum mendengar jawaban dari Dewangkara itu sembari melihat ke arah Rakryan Mahapatih Nambi yang duduk di dekatnya. “Terlalu merendah bukanlah hal yang baik. Karena itu ... aku secara khusus menyiapkan peraturan khusus untuk pertandingan kali ini.”


             Dewangkara bersama dengan tiga peserta lainnya memandang Maharaja dengan tatapan terkejut. Keempat peserta adu tanding tidak menyangka kedatangan Maharaja itu akan mengubah aturan adu tanding yang akan membahayakan nyawa mereka.


             “Jika adu tanding sebelumnya kalian hanya perlu membuat lawan kalian keluar dari tempat pertandingan, maka kali ini tidak begitu. Kalian harus membuat lawan kalian menyerah baik itu tidak sadarkan diri atau tidak bisa bertanding lagi atau menyerah dengan sukarela. Lalu jika sebelumnya senjata yang kalian gunakan hanya satu jenis, maka setelah ini aku akan menyiapkan berbagai jenis senjata di arena yang bisa kalian pakai sesuka hati. Dan pemenangnya akan menerima hadiah yang besar dariku.” Maharaja menambahkan peraturan baru untuk adu tanding terakhir.


             Salah satu peserta kemudian mengacungkan tangannya untuk bertanya kepada Maharaja mengenai aturan tambahan dalam pertandingan untuk menentukan pemenang.


             “Saya mohon izin bertanya, Maharaja.”


             “Apa yang ingin kamu tanyakan?”


             “Bagaimana jika dalam pertandingan ini kita tidak sengaja membunuh lawan kita, Maharaja? Apa kita akan menerima hukuman karena pembunuhan?”


             Maharaja tersenyum sembari menggerakkan tangannya sebagai ganti dari menggelengkan kepalanya. “Tidak, kalian tidak akan mendapatkan hukuman untuk perbuatan itu.  Seperti ucapanku tadi, kalian harus membuat lawan kalian itu menyerah apapun caranya.”


             Semua orang terkejut mendengar peraturan baru yang dibuat oleh Maharaja itu.  Banyak peserta yang tadi gugur dalam babak pertama kini mengembuskan nafas leganya karena tidak sampai pada babak di mana mereka harus mempertaruhkan nyawanya untuk pertandingan karena kedatangan Maharaja. Semua orang terkejut dan merasa takut dengan aturan itu tidak terkecuali, Gayatri, Biantara dan Rakryan Mahapatih Nambi yang datang bersama Maharaja.


             Rakryan Mahapatih Nambi yang duduk di dekat Maharaja melihat ke arah Dewangkara dengan wajah cemas. Sudah kuduga ajang tanding ini hanyalah jebakan untuk putraku.