
Setelah akhirnya berkuda selama setengah hari, begitu tiba di kembali di Lamajang matahari terik yang tadi membakar kulit Dewangkara kini telah bersembunyi di balik langit malam yang gelap. Begitu akhirnya tiba kembali di kediaman Rakryan Mahapatih Nambi di Lamajang, Dewangkara langsung berlari turun dari kudanya melewati semua pelayat yang datang ke rumah Rakryan Mahapatih Nambi dan langsung menghampiri Rakryan Mahapatih Nambi yang memandang terkejut ke arah Dewangkara.
“Putraku, kenapa kau kembali???”
Dewangkara berlutut sebelum akhirnya meminta sesuatu pada Rakryan Mahapatih Nambi daripada menjawab pertanyaan ayahnya. “Maaf, Rama. Kita mungkin tidak punya banyak waktu. Tapi sebelum saya memberikan penjelasan pada Rama, bisakah kita bicara berdua saja di tempat yang sepi??”
Rakryan Mahapatih Nambi melihat ke arah pelayat yang terus berdatangan dari luar kota untuk menunjukkan belasungkawanya pada keluarga Rakryan Mahapatih Nambi. “Baiklah ... ikut Rama.”
Rakryan Mahapatih Nambi menuruti permintaan Dewangkara dan kemudian membawa Dewangkara masuk semakin dalam ke kediamannya untuk bicara empat mata saja.
Srek. Pintu ditutup dengan rapat dan Rakryan Mahapatih Nambi langsung mengajukan pertanyaan kepada Dewangkara dengan dugaan di dalam benaknya. “Apa yang membawamu kembali, Dewangkara?? Jangan bilang padaku jika kau berubah pikiran soal pernikahanmu dengan Gayatri.”
“Bukan itu, Rama. Masalah pernikahanku dengan Gayatri, tak pernah terbersit pun pikiran bahwa aku akan berubah pikiran, Rama..”
“Lalu?? Kenapa kau kembali??”
Glup. Dewangkara menelan ludahnya sebelum mengatakan apa yang diketahuinya dari informasi para sudagar yang ditemuinya ketika hendak kembali ke kota Tarik. Glup. Dewangkara menelan ludahnya untuk kedua kali dan kali ini sedang berusaha untuk mengatur kalimat yang tepat sebelum memberi penjelasan kepada Rakryan Mahapatih Nambi-ayah asuhnya.
“Sebelum menyanggah ucapanku, Rama jangan menyela ucapanku. Aku tahu apa yang aku ucapkan ini mungkin adalah sesuatu yang berbahaya dan salah di mata Rama, tapi ... aku mempertaruhkan nyawaku kembali kemari dan melanggar janjiku dengan Gayatri yang harusnya kembali ke Tarik hari ini semata-mata karena khawatir pada keselamatan Rama. Bisakah Rama melakukannya?”
“Baiklah Rama akan melakukannya. Rama akan diam hingga ceritamu berakhir.”
“Terima kasih, Rama.” Setelah mengatur nafas dan kalimat di dalam benaknya, Dewangkara mulai menceritakan satu persatu runtutan adegan yang membuatnya kembali ke Lamajang dan bukan ke Tarik. Dan seperti permintaan Dewangkara, Rakryan Mahapatih Nambi hanya diam mendengarkan sepanjang cerita Dewangkara.
“Apa kau sudah selesai menceritakan apa yang ingin kamu katakan pada Rama??” Rakryan Mahapatih Nambi mengajukan pertanyaan ketika Dewangkara menutup mulutnya.
“Ya, Rama.”
“Terima kasih untuk kekhawatiranmu itu, putraku. Tapi aku yakin Maharaja akan percaya pada Rama. Sudah bertahun-tahun Ramamu ini menjabat sebagai Rakryan Mahapatih kerajaan ini, tentunya Maharaja harusnya tahu betapa besarnya pengorbanan yang Ramamu ini berikan pada kerajaan ini.”
Sudah kuduga, Rama akan berkata seperti ini. Dewangkara yang hafal betul sifat Rakryan Mahapatih Nambi sudah menduga jika ayah asuhnya akan mengatakan hal ini ketika dirinya memberikan informasi penyerangan ini. Dewangkara sendiri tahu jika berita mengenai penyerangan ini memang belum sepenuhnya benar karena Dewangkara belum memeriksanya secara langsung. Tapi ...
Tapi ... Dewangkara tahu ada seseorang dibalik penyerangan ini yang memberikan umpan mematikan pada Maharaja dan membuat Maharaja marah besar hingga mengerahkan pasukan bayangkara miliknya ke Lamajang. Bukan tanpa sebab Dewangkara menduga orang itulah penyebabnya. Dari ingatan masa lalunya, Dewangkara yakin jika orang itu lagi membuat pertikaian ini terjadi.
“Kenapa kamu bertanya, Dewangkara?”
“Bagaimana jika begini Rama.” Dewangkara menatap Rakryan Mahapatih Nambi. “Ada seseorang yang membawa pesan dari orang kepercayaan Maharaja. Tapi ketika berada di hadapan Maharaja, orang itu menyampaikan pesan yang salah dan membuat Maharaja marah besar. Jika hal itu terjadi, menurut Rama apa yang akan dilakukan oleh Maharaja??”
“ ... “ Rakryan Mahapatih Nambi membeku, merasakan sensasi aneh di dalam benaknya.
“Bagaimana jika hal ini bukan pertama kalinya terjadi, melainkan sudah beberapa kali terjadi? Bagaimana jika di masa lalu sesuatu yang sama terjadi, Rama?”
“ ... “ Rakryan Mahapatih Nambi masih membeku, berusaha untuk mencerna ucapan Dewangkara, tapi di satu sisi Rakryan Mahapatih Nambi tidak ingin percaya dengan ucapan Dewangkara itu.
“Apa Rama tidak merasakan sesuatu yang janggal selama ini? Sejak pemerintahan Maharaja pertama, satu persatu orang kepercayaan Maharaja sekaligus sahabat dari Maharaja pertama, mati satu persatu dengan tuduhan pemberontakan. Teman-teman Maharaja pertama adalah teman-teman Rama juga. Bersama dengan Rama, mereka semua membantu Maharaja pertama mendirikan kerajaan ini. Mereka rela mengorbankan nyawa mereka untuk Maharaja pertama, tapi mereka semua mati dalam kasus yang sama: pemberontakan. Apa Rama tidak pernah mencurigainya??”
Kali ini ... ucapan dari Dewangkara berhasil memberikan pukulan telak kepada Rakryan Mahapatih Nambi-ayah asuhnya. “K-kau?? Bagaimana kau tahu tentang hal itu semua, Dewangkara??”
“Saat aku di Tarik, aku mempelajari banyak hal. Rama. Kota itu adalah ibu kota lama dan tidak sulit bagiku untuk menemukan beberapa orang tua yang tahu beberapa kisah lama terutama saat pemerintahan Maharaja pertama. Jika aku jadi Rama, sudah sejak lama aku merasa curiga dengan dua kejadian masa lalu. Terlebih lagi pemberontakan dari Ken Sora-guru dari Rakryan Tumenggung Sena, kasus itu sangatlah mencurigakan Rama. Jika saat itu Ken Sora berniat untuk memberontak keputusan Maharaja mengenai hukumannya, kenapa Ken Sora datang ke antapura hanya dengan membawa dua temannya? Jika aku jadi Ken Sora, aku akan membawa pasukanku dan membuat Rakryan Tumenggung Sena berada di pihaknya untuk membantunya??”
“I-itu ...” Rakryan Mahapatih Nambi kehilangan kata-katanya mendengar penjelasan dari Dewangkara.
“Tapi saat itu ... Rakryan Tumenggung Sena yang punya pasukan pribadi dan dikenal dengan pasukannya yang selalu membawa kemenangan memilih untuk maju seorang diri dan tidak membawa pasukannya untuk menyelamatkan gurunya-Ken Sora. Bukankah itu sudah jelas, Rama?” Dewangkara sekali lagi memberikan penjelasannya kepada Rakryan Mahapatih Nambi berdasarkan apa yang didapatnya ketika tinggal di Tarik dan ingatan lamanya tentang Rakryan Tumenggung Sena.
“Apanya yang jelas, Dewangkara??”
“Jika saat itu Rama dan Maharaja yang tahu bahwa Rakryan Tumenggung Sena maju seorang diri menghentikan penyerangan, maka Rakryan Tumenggung Sena bisa memberikan penjelasan mengenai Ken Sora dan memberikan bukti untuk menyelamatkan Ken Sora. Tapi ... saat itu, baik Maharaja dan Rama sama sekali tidak gentar melihat Rakryan Tumenggung Sena yang berjuang seorang diri melawan ratusan bayangkara untuk menyelamatkan gurunya. Kalian tidak berhenti hingga Rakryan Tumenggung Sena sekarat. Kalian baru berhenti ketika Pawestri Manohara yang berteriak maju menghampiri Rakryan Tumenggung Sena.”
Mendengar penjelasan Dewangkara, Rakryan Mahapatih Nambi terjatuh lemas. Seperti ucapan Dewangkara, dua pelaku pemberontakan di kerajaan Majapahit ini adalah teman lama dari Rakryan Mahapatih Nambi. Bersama dengan Rakryan Mahapatih Nambi, Ken Sora, Ranggalawe dan Mahisa Anabrang membantu Maharaja pertama mendirikan kerajaan ini.
Jika apa yang dikatakan putraku itu adalah benar, maka selama ini aku duduk di posisi sebagai Rakryan Mahapatih di kerajaan ini, aku telah gagal menjalankan tugasku.