
Berkat bantuan Raka yang bergerak sebagai umpan baru, Bara berhasil tiba dengan mobil yang membawa tubuh Raditya di bagasi. Di lokasi pernikahan di gedung milik pemerintah, Bara mengambil jalan belakang dan meminta pengawal Yasodana yang berjaga di untuk membawa tubuh Raditya ke ruang ganti.
“Raditya, bangun!!!”
Beberapa kali Bara berusaha membangunkan Raditya dari bius yang diberikannya. Beberapa kali juga Bara terpaksa harus menepuk wajah Raditya agar Raditya bisa segera bangun.
“A-apa yang terjadi?” Raditya bertanya kepada Bara segera setelah kedua matanya terbuka.
“Sekarang kau sudah ada di lokasi pernikahan. Tidak lama lagi pernikahanmu dengan Nona Cintya akan dimulai. Kita akan bersiap!”
“Ba-bagaimana dengan Alby? Apa dia baik-baik saja?” Raditya rupanya masih ingat dengan Alby dan posisinya yang tadi bergerak sebagai umpan untuk dirinya.
“Dia baik-baik saja. Tuan Raka membawanya ke rumah sakit.”
Persiapan langsung dilakukan. Penata rias langsung merias wajah Raditya setelah Bara membantu Raditya mengganti pakaiannya dengan pakaian pernikahan. Meski efek bius masih tersisa, tapi Raditya berusaha mempertahankan kesadarannya dengan sangat baik. Dan dalam empat puluh lima menit, persiapan Raditya telah selesai.
“Acaranya sudah bisa dimulai, Tuan Bara.” Salah satu pengawal Yasodana memberi kabar kepada Bara bahwa Nona Cintya juga telah selesai bersiap untuk pernikahannya.
“Aku mengerti.” Bara kemudian meminta pengawal itu untuk memberi kabar kepada Nona Cintya yang berada di ruangan lain untuk menuju aula utama. Setelah memberi kabar untuk Nona Cintya, Bara membantu Raditya berjalan menuju aula utama. “Kita pergi, Raditya. Apa sisa efek biusnya masih tersisa??”
“Sedikit.”
“Kalau begitu ... aku akan membantumu berjalan.” Bara menarik lengan Raditya dan membantunya menopang tubuhnya untuk berjalan.
Kedua pria itu terus berjalan menuju aula dan sesekali Bara melihat ke arah Raditya yang mengenakan setelan jas putih. “Setelan putih ini terlihat cocok untukmu, Raditya! Dengan begini kau sudah terlihat seperti keluarga bangsawan.”
“Terima kasih untuk pujiannya, Bara. Sebelum tiba di aula, aku ingin meminta sesuatu padamu. Bisakah aku melakukannya?”
“Kau bertanya padaku??” Bara membalas pertanyaan Raditya. “Tidak lama lagi kau adalah bagian dari keluarga Yasodana, kau tidak perlu meminta kami! Ucapanmu adalah perintah yang harus kami semua lakukan.”
“Ah benar. Aku melupakan hal itu.” Raditya tersenyum kecil sembari melepaskan lengannya yang ditopang oleh Bara. Efek bius yang diberikan oleh Bara pada Raditya telah sepenuhnya menghilang dan kini Raditya benar-benar mendapatkan kesadaran dan kendali tubuhnya.
“Kau sudah benar-benar sadar??” Bara mengerutkan keningnya melihat Raditya berusaha untuk berjalan sendiri.
Raditya menganggukkan kepalanya. “Aku sudah cukup sadar sekarang, Bara. Apa kau ingat ceritaku tentang kehidupan lamaku sebelum aku lahir sebagai Raditya??”
Bara mengerutkan keningnya lagi mengingat cerita aneh yang pernah diceritakan oleh Raditya tentang kehidupannya sebagai Dewangkara dan banyak nama lain sebelum akhirnya lahir sebagai Raditya. “Aku mengingatnya.”
“Setelah ini ... jika sesuatu yang buruk menimpaku dan membuatku kehilangan nyawaku, jaga baik-baik Nona Cintya. Jika sampai nyawaku melayang, Nona Cintya akan mengakhiri hidupnya dan tragedi itu akan terulang lagi. Jadi ... aku minta padamu untuk melindungi Nona Cintya apapun yang terjadi. Bisa kau melakukannya, Bara??”
“Bicara apa kau, Raditya??” Bara terkejut dan tidak percaya dengan ucapan Raditya pada dirinya. “Aku ada di sini! Aku tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk menimpamu dan menimpa Nona Cintya!!”
Raditya tersenyum pada Bara. “Aku tahu itu, Bara. Kau akan melakukan semua yang terbaik untuk melindungi kami berdua demi Nona Cintya dan juga rencananya. Tapi ... takdir yang berat mengikat kami berdua, Bara!! Apa yang aku lihat di masa lalu sudah terulang berulang kali dan jika kejadian yang sama terjadi lagi, maka hal yang sama akan dilakukan oleh Nona Cintya. Aku mengatakan hal ini padamu untuk memastikan kau selalu melindungi Nona Cintya apapun yang terjadi, Bara! Bagaimanapun, Nona Cintya harus tetap bertahan hidup bahkan jika aku mati sekalipun nantinya!”
Jika benar cerita itu adalah cerita kehidupan mereka berdua, maka alasan Nona Cintya selalu bersikap baik pada Raditya adalah dia mengenali Raditya sebagai pasangannya di masa lalu. Prok ... prok ... prok ... tepuk tangan terdengar kencang bersamaan dengan kedatangan Nona Cintya bersama dengan Tuan Indra Yasodana. Dengan gaun putih yang panjang, Nona Cintya masuk ke dalam aula. Nona Cintya benar-benar terlihat cantik dengan balutan gaun putih itu.
“Cintya Yasodana ... “
“Berhenti sekarang!!!” Ucapan janji suci yang hendak diucapkan dengan tiba-tiba dihentikan oleh Bagaspati Wardana bersama dengan Agni Wardana. Di saat yang bersamaan pengawal Wardana menerobos masuk ke dalam aula dan membuat semua peserta undangan ketakutan.
Bara langsung memberi aba-aba kepada pengawal Yasodana untuk bersiap pada posisi mereka untuk melindungi empat keluarga Yasodana. Keluarga Vamana yang hadir-Gulzar juga memberi aba-aba kepada pengawal Vamana untuk melindungi keluarga Vamana.
Prok ... prok ... prok ... Nona Cintya bertepuk tangan melihat bagaimana Bagaspati menunjukkan wajahnya yang sesungguhnya di depan Nona Cintya. “Aku benar-benar tidak menyangka kau akan menunjukkan wajahmu yang bengis itu di hadapanku sekarang, Bagaspati!!”
“Maaf, Cintya!! Tapi aku tidak punya pilihan lain selain melakukan ini. Pria itu tidak pantas untuk menjadi suamimu!! Dia hanya pria biasa yang tidak punya apapun. Dia bukan bangsawan dan juga tidak memiliki apapun untukmu!!” Bagaspati membalas sembari mengacungkan pistol ke arah Raditya. Kali ini Bagaspati tidak lagi ragu menunjukkan dirinya yang ingin membunuh Raditya dan menggagalkan pernikahan ini.
“Apa yang Kakak lakukan?? Jangan bunuh Raditya!! Kakak hanya perlu memisahkan mereka! Raditya adalah milikku!” Agni berusaha untuk menarik pistol yang diarahkan Bagaspati pada Raditya.
Nona Cintya tersenyum mendengar perdebatan kecil antara Bagaspati dan Agni. Nona Cintya kemudian mengabaikan perdebatan kecil itu dan melihat ke arah Gulzar Vamana. “Bagaimana dengan kau, Gulzar? Apa kau tidak setuju dengan pernikahan ini?”
Gukzar Vamana tersenyum mendengar pertanyaan Nona Cintya dan mengangkat kedua tangannya sebagai tanda.. “Aku rasa aku tahu apa tujuanmu, Cintya. Aku setuju denganmu dalam hal ini.”
“Kalau begitu ... bantu aku bawa keluar semua tamu undangan di sini dan lindungi mereka. Biar aku menyelesaikan masalahku dengan keluarga Wardana dan jika setelah ini, aku tidak selamat, kuharap kau mau melanjutkan apa yang aku lakukan sekarang, Gulzar.” Nona Cintya memberi aba-aba kepada pengawal Yasodana untuk membuka jalan bagi Vamana dan tamu undangan untuk keluar dari aula.
“Aku mengerti. Tapi ... aku harap kau akan selamat, Cintya.”
Setelah Vamana dan tamu undangan keluar dari aula, kini yang tersisa hanyalah dua keluarga bangsawan: Yasodana dan Wardana yang saling berhadapan satu sama lain. Kepala keluarga Wardana berusaha menghentikan pertikaian yang akan terjadi tapi dihentikan oleh Bagaspati yang langsung menembak ayahnya sendiri dan merebut posisi kepala keluarga Wardana dalam sekejap. Dor.
“Maaf, Ayah! Tapi Ayah benar-benar tidak layak menjadi kepala keluarga lagi!!!”
Devi dan Agni yang melihat tindakan kejam Bagaspati langsung menghampiri tubuh Ishwar Wardana-kepala keluarga Wardana yang baru saja dihabisi oleh Bagaspati.
“Kau anak durhaka!!! Bagaimana bisa kau membunuh ayahmu sendiri, Bagaspati???” Devi berteriak dengan air mata jatuh memeluk tubuh suaminya.
“Itu memang kenyataannya, Ibu. Karena Ayah melindungi Agni di masa lalu, kini Cintya menolak menikah denganku.” Setelah mengatakan hal itu, Bagaspati mengarahkan pistolnya ke arah Agni dan berniat untuk melepaskan tembakan lagi. Dor.
“Kakak!!! Apa kau sudah gila??” Agni berteriak ketika tembakan yang diarahkan padanya justru dihalangi oleh Ibunya-Devi.
Bagaspati tersenyum melihat ke arah Agni dan dor ... Bagaspati melepaskan tembakan lagi ke arah Agni. “Maaf adikku tapi semua ini terjadi karena kau dan perbuatanmu di masa lalu.”
“Teganya Kakak-“ Agni ambruk dengan darah mengalir di tubuhnya.
“Ayah dan Ibu juga bersalah karena menutupi perbuatanmu dari mata dunia.” Setelah membunuh Agni dan keluarganya, Bagaspati melihat ke arah Nona Cintya dengan senyum kemenangan. “Aku sudah membunuh mereka yang bersalah kepadamu, Cintya. Sekarang menikahlah denganku, Cintya.”
Bara mengambil posisi melindungi di depan Raditya dan Nona Cintya. Pria ini sudah kehilangan akalnya! Dia sudah gila!!!