ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
Terungkap



Preview bab sebelumnya


“Apa ini? Ke mana Dia pergi?” tanya Zaky pada dirinya sendiri ketika melihat kamar Chike yang kosong. Dengan langkah perlahan ia mulai menjelajahi setiap sudut kamar.


*****


Zaky berhenti di depan meja belajar. Ia memperhatikan catatan yang ditulis Chike. Pandangannya terhenti ketika melihat banyak sekali catatan-catatan yang ditempelkan di dinding samping meja.


Zaky membaca catatan itu dengan seksama. Hingga lututnya terasa lemas ketika ia membaca surat kabar yang memuat berita pembunuhan yang mana dirinya yang menjadi korban. Zaky menumpu badannya yang lemas di atas meja menggunakan tangan.


Sepertinya kepingan puzzle yang terakhir sudah berhasil diselesaikan. Perasaan Zaky kita campur aduk. Ia tak sengaja melihat sebuah foto yang terselip di dalam buku catatan Chike. Betapa kagetnya ia ketika melihat foto itu yang ternyata adalah foto dirinya yang diambil oleh Dava.


Zaky bergegas kembali ke kamarnya. Ia membuka laci mejanya dan mengambil sebuah foto yang terletak di sana.


“Apa... Bagaimana semua ini?” tanya Zaky tak percaya ketika membandingkan kedua foto itu yang sama persis.


“Bagaimana bisa??” Tubuh Zaky merosot lemas. Ia terduduk di lantai kamarnya dengan tangan yang masih memegang kedua foto itu.


“Apa-apaan ini?? Chike!!!” Zaky bangkit dan segera keluar dari kamar untuk mencari Chike.


“CHIKE!!!” Zaky terus berteriak memanggil Chike di sepanjang koridor asrama. Para penghuni asrama yang lain bahkan keluar dari kamar mereka untuk melihat Zaky. Mereka merasa bingung dengan Zaky yang terlihat panik dan gelisah.


“CHIKE!! CHIKE!!!!” Zaky terus memanggil Chike dan mencarinya di seluruh sudut asrama mulai dari kamar, balkon, ruang makan, dapur, bahkan ke kamar mandi.


“Hiks... sebenarnya dari mana kamu berasal?” tanya Zaky yang kembali terduduk lemas di ruang makan karena tidak menemukan Chike. Perasaannya benar-benar campur aduk. Ia tak tau harus melakukan apa.


“Dari mana aku berasal? Entahlah, aku juga tidak tahu dari mana aku berasal.”


“Yang pasti aku berasal di mana kamu seharusnya berasal. Namun, bukan aku.”


“Hiks... Paman, kali ini kamu tidak boleh mati.”


“Kumohon padamu, Paman. Hiks, tolong jangan mati.”


“Kamu tidak boleh mati. Jangan buat aku menyesal untuk kedua kalinya. Aku tidak akan sanggup untuk menerimanya.”


Zaky kembali menangis sejadi-jadinya ketika potongan memori tentang percakapan Chike terlintas di ingatannya. Mengapa ia begitu bodoh hingga tidak menyadari semua itu sampai sekarang? Mengapa?


“Hiks...Chike, apa yang sudah kamu lakukan? Apa kamu melakukan perjalanan 10 tahun lalu untuk menyelamatkan aku? Hiks...” Zaky mencoba menghapus air matanya yang terus mengalir. Ia benar-benar tak tau harus berbuat apa.


“Maaf.”


“Maaf? Untuk apa?”


“Maaf karena aku masih belum bisa menyelamatkanmu.”


“Maksudmu apa?”


“Tapi, aku yakin bahwa aku akan berhasil lain kali. Jadi, bersabarlah hingga saat itu.”


Zaky langsung bangkit ketika ingatan itu terlintas. Ia kembali berlari mencari Chike dengan perasaan cemas, berharap semoga yang ia pikirkan tidak terjadi.


“Kumohon, jangan lakukan sesuatu yang bodoh,” harap Zaky yang sudah mencari Chike di luar asrama.


Sedangkan di sini lain.


“Kamu siapa?” tanya pria bertopi hitam sambil memandang Chike yang berdiri di depannya.


“Itu kamu kan?” tanya Chike dengan amarah yang tertahan. Ia mengeluarkan pisau dapur yang di simpannya di dalam kantong hoodie yang ia kenakan.


*****


“Aku tau kalau kamu adalah diriku di masa lalu. Aku tau jika aku mengatakan ini akan membuatmu sangat terluka. Tapi, aku harus melakukan ini untuk menjauhkan mu dari kehidupan Paman Zaky untuk selamanya. Aku yang berasal dari 10 tahun yang lalu tidak mempunyai pilihan selain menjauhi Paman Zaky. Aku yang sekarang harus mewujudkan hal itu,” tekadnya dalam hati.


Chike kecil menyadari jika ada seseorang yang sedang mengikuti dirinya. Ia berhenti dan ingin berbalik. Chike yang melihat itu dengan cepat memegang bahunya dan membuat Chike kecil menghadap dirinya.


“Jangan pernah datang mencari Paman lagi. Jangan pernah kembali lagi ke sini. Jangan pernah datang untuk melihatnya lagi. Aku tau kamu pasti sangat merindukannya. Tapi aku tidak peduli tentang itu, kamu harus menjauh dari hidupnya. Pergi sejauh mungkin dari kehidupan Paman Zaky. Kamu harus melakukan ini jika tidak ingin merasakan penyesalan di kemudian hari.”


Chike langsung mengatakan tekadnya pada Chike kecil yang tidak mengetahui apa pun. Chike mengatakan itu dengan mata yang berkaca-kaca. Ia sebenarnya tidak ingin melakukan itu, namun ia harus.


“Jika kamu tidak ingin hidup dalam perasaan bersalah selama 10 tahun...Jika kamu tidak ingin Paman Zaky mati, maka kamu harus menjauh dari kehidupannya. Apa kamu mengerti?!!” seru Chike yang meminta kepastian.


“Apa yang sedang Bibi katakan?” tanya Chike kecil yang sudah menangis.


“Jangan menangis... Jawab aku!! Apa kamu mengerti perkataanku?! Jika tidak, Paman akan mati karena dirimu. JAWAB AKU!!!!” seru Chike.


“HEI, CHIKE!!!” seru Zaky menolak bahunya pelan hingga pegangannya di bahu Chike kecil terlepas.


“APA YANG SEDANG KAMU LAKUKAN??!!!!” Zaky berseru marah.


“Jangan ikut campur. Ini adalah urusanku dengannya!” Air mata Chike hampir mengalir, namun masih sanggup ditahan.


“BAGAIMANA BISA KAMU MENGATAKAN AKU TIDAK BOLEH IKUT CAMPUR?!!! KAMU SEDANG MENGANCAM SEORANG ANAK KECIL!!” Zaky kembali berseru marah.


“Jangan takut, ada aku di sini. Kamu jangan menangis lagi, oke? Apa kamu baik-baik saja?” tanya Zaky khawatir. Ia memeriksa kondisi Chike kecil yang menangis, takut jika ia terluka. Sedangkan Chike hanya diam dengan perasaan campur aduk ketika melihat adegan itu.


“Apa kamu memang orang yang seperti itu??!!” tanya Zaky pada dirinya.


“Kamu tidak akan pernah mengerti,” sahut Chike.


“MENGERTI??!! APA YANG HARUS AKU MENGERTI???!!! APA KAMU MEMANG ORANG YANG SEPERTI ITU, CHIKE ZIZAYA?!!!” hardik Zaky tak habis pikir.


Chike menundukkan kepalanya. Ia berusaha menahan isakannya yang ingin lolos. Mendengar Zaky yang begitu marah padanya membuat hatinya begitu sakit.


“Maaf....” ucap Chike pelan, setelah itu ia langsung pergi. Ia bahkan tidak menghiraukan panggilan Zaky dan terus berlari pergi.


*Malam harinya


Chike berpikir keras di tempat duduknya. Ia menggigit kuku ibu jarinya, menandakan ia sedang gelisah sekarang. Chike terus berusaha mencari cara agar bisa menyelamatkan Zaky kali ini.


Ide gila terlintas di benaknya. Dengan bergegas ia pergi ke dapur dan mengambil pisau. Ia menyembunyikan pisau itu di dalam kantong hoodie yang dipakainya.


Chike langsung pergi keluar dari asrama. Dia menuju ke tempat yang menjadi sumber permasalahan, rumah si pembunuh.


Saat Chike baru sampai di depan rumah pria itu, terdengar suara kunci pintu gerbang yang dibuka. Dengan segera Chike bersembunyi dan melihat pria bertopi hitam keluar dari dalam rumah itu.


Pria itu membenarkan posisi topinya hingga wajahnya tidak terlihat, kemudian melangkah pergi. Chike yang tak ingin kehilangan jejak pun memutuskan untuk mengikuti pria itu.


Pria itu merasa jika ia sedang diikuti oleh seseorang. Saat di belokan gang, pria itu langsung berlari dengan cepat dan membuat Chike kehilangan jejaknya.


“Sial! Ke mana perginya Dia?” umpat Chike ketika kehilangannya. Chike berusaha berlari untuk mencari pria itu. Ia memilih jalur lain yang memiliki titik temu dengan gang yang tadi ia dan pria itu lalui.


“Siapa kamu?” tanya pria bertopi itu tiba-tiba. Ternyata ia sudah menunggu kedatangan Chike di persimpangan yang menghubungkan kedua gang itu. Persimpangan itu gelap, hanya ada cahaya remang dari lampu jalanan yang berada lumayan jauh dari posisi mereka.


Chike yang kaget karena kemunculan pria itu yang tiba-tiba berjalan mundur dengan perlahan. Sedangkan pria itu semakin melangkah maju mendekati Chike. Ia menunjukkan smirknya yang terlihat menyeramkan dan membuat Chike sedikit gentar untuk melanjutkan niatnya.