
Di kota Tarik.
Gayatri yang sedang menunggu kedatangan Dewangkara, terlihat terkejut ketika mendapati seseorang dari pos dagang datang dengan membawa surat yang dikirimkan oleh Dewangkara. Dengan berat hati Gayatri membaca surat itu dan ekspresi Gayatri langsung berubah ketika menemukan sesuatu yang buruk di dalam surat yang dikirimkan oleh Dewangkara.
Tidak!! Gayatri langsung menjatuhkan surat yang dibacanya sembari mengingat firasat buruk yang dirasakannya ketika mengantar kepergian Dewangkara ke Lamajang. Tidak!! Mungkinkah firasat buruk saat itu adalah pertanda dari ini?? Jika itu benar, maka aku harus segera membawa Dewangkara pergi dari Lamajang sekarang juga!!!
“Ada apa, Gayatri??” Biantara yang berdiri menemani Gayatri menunggu kedatangan Dewangkara, bertanya kepada Gayatri karena melihat reaksi Gayatri yang tidak biasa. “Apa yang tertulis dalam surat itu? Apa alasan Dewangkara menunda kepulangannya??”
Gayatri mengambil surat Dewangkara yang dijatuhkannya dan kemudian bergegas berjalan. “Biantara, siapkan kudaku sekarang!!! Aku harus ke Lamajang dan membawa pulang Dewangkara sekarang juga!!!”
Biantara terkejut mendengar perintah dari Gayatri dan langsung berdiri menghalangi langkah Gayatri untuk meminta penjelasan dari Gayatri. “Apa yang terjadi dengan Dewangkara? Kenapa pula kamu harus ke sana sendiri dan membawa paksa Dewangkara pulang??”
“Tidak usah banyak bertanya, Biantara!! Lakukan perintahku dan siapkan kudaku sekarang juga!! Aku akan pergi ke Lamajang sekarang juga baik itu denganmu atau tanpamu, Biantara!!” Gayatri bergerak ke sisi lain untuk melepaskan dirinya dari hadangan langkah Biantara yang masih tidak mengerti.
“Sebenarnya ada apa?? Katakan dulu padaku!! Kita tidak bisa pergi ke Lamajang di malam hari seperti ini. Tidak tahukah kau jalanan di luar sana sangat berbahaya ketika malam tiba?? Ada banyak bandit yang menunggu dan juga tidak baik bagi seorang gadis keluar di malam hari seorang diri!” Biantara berusaha untuk membujuk Gayatri dan menghentikan niat Gayatri.
“Ada apa ini??” Keributan antara Biantara dan Gayatri terdengar hingga ke telinga Hattali dan membuat Hattali akhirnya membuka mulutnya untuk bertanya. “Kenapa kalian berdua ribut-ribut seperti ini?”
Gayatri terdiam dan tidak menjawab, dirinya masih berusaha untuk pergi ke tempat kudanya berada. Namun langkahnya dihentikan oleh Biantara. Sementara itu, Biantara menundukkan kepalanya mendengar suara Hattali-Tuannya sembari berusaha untuk menghentikan niat Gayatri yang ingin pergi.
“Kenapa kalian diam saja??” Hattali mengulangi pertanyaannya lagi ketika tak satupun dari Gayatri dan Biantara yang menjawab pertanyaannya.
“Gayatri menerima surat dari Dewangkara yang mengatakan bahwa dia menunda kepulangannya. Tapi begitu membaca surat itu, Gayatri berniat untuk membawa kudanya dan pergi langsung ke Lamajang sekarang juga.” Melihat Gayatri yang diam saja, Biantara tidak punya pilihan lain selain menjawab pertanyaan Hattali.
“Dewangkara menunda kepulangannya??” Hattali mengerutkan kedua alisnya. “Apa ada sesuatu yang terjadi di Lamajang?”
Biantara menundukkan kepalanya sebelum menjawab pertanyaan Hattali. “Saya tidak tahu Rama. Saya belum membaca isi surat dari Dewangkara, Rama.”
Mendengar jawaban dari Biantara, Hattali kemudian mendekat ke arah Gayatri. Hattali mengulurkan tangannya ke arah Gayatri dan meminta surat yang digenggam oleh Gayatri saat ini. “Berikan surat itu pada Rama, Gayatri!”
Gayatri yang selalu menghormati ayahnya, mau tidak mau memberikan surat dari Dewangkara kepada Hattaili-ayahnya dan begitu membaca isi surat itu, reaksi Hattali langsung berubah sama seperti ketika Gayatri sedang membaca surat itu.
“Biantara!” Hattali memanggil nama Biantara yang saat ini sedang menghadang langkah kaki Gayatri yang ingin segera pergi ke Lamajang.
Biantara terkejut mendengar perintah Hattali. Biantara sama sekali tidak menduga Hattali memberikan perintah itu padanya. Tapi ... Biantara tahu dengan baik bahwa Hattali membuat keputusan itu semata-mata demi Gayatri sendiri, jadi Biantara langsung menangkap pergelangan tangan Gayatri dan menarik Gayatri untuk masuk ke dalam kamarnya.
“Maafkan aku, Gayatri.” Di tengah usahanya membawa Gayatri dan menaati perintah Hattali, Biantara meminta maaf pada Gayatri.
“Rama tidak bisa melakukan itu padaku!!” Gayatri berusaha untuk melepaskan tangannya yang digenggam kuat oleh Biantara. “Jika aku tidak pergi ke Lamajang sekarang juga dan membawa Dewangkara kembali kemari, dia mungkin tidak akan selamat, Rama!! Kumohon Rama, biarkan aku pergi sekarang juga untuk membawa Dewangkara kembali kemari!!!”
Belum hilang rasa terkejutnya mendengar perintah yang tidak biasa dari Hattali untuk Gayatri, Biantara dibuat terkejut lagi ketika mendengar ucapan dari Gayatri yang mengatakan Dewangkara mungkin akan kehilangan nyawanya.
“Biantara!!!” Hattali menaikkan suaranya dan memberikan perintah lagi kepada Biantara yang terdiam karena dibuat terkejut berulang kali dalam waktu yang singkat. “Cepat masukkan Gayatri ke dalam kamarnya!!”
“Baik, Rama!!!” Meski tidak mengerti, meski tidak bisa memahami apa yang terjadi, Biantara tidak punya pilihan lain selain menuruti perintah dari Hattali.
“Tidak, Rama!! Jangan lakukan ini!!! Biarkan aku pergi ke Lamajang untuk menjemput Dewangkara, Rama!!! Dia calon suamiku!! Aku tidak bisa membiarkannya berada dalam bahaya, Rama!!!” Gayatri terus berusaha untuk memohon kepada Hattali untuk membiarkannya pergi ke Lamajang.
“Maafkan Ramamu ini, Gayatri. Tapi Rama percaya pada Dewangkara. Rama percaya Dewangkara akan kembali dan menepati janjinya untuk menikahimu, Gayatri. Dan sebaliknya ... kau juga harus percaya Dewangkara akan kembali dan tunggulah di sini dengan tenang, Gayatri!!!”
Tidak berhasil menggoyahkan pendirian Hattali-ayahnya, Gayatri kini memohon pada Biantara yang sedang menggenggam lengannya dengan kuat dan memaksanya untuk berjalan menuju ke kamarnya. Gayatri bahkan meneteskan air matanya memohon pada Biantara. “Biantara, aku mohon padamu biarkan aku pergi!! Jika aku tidak pergi sekarang dan membawa Dewangkara kembali ke Tarik sekarang juga, aku mungkin akan kehilangan dirinya selamanya. Firasatku mengatakan aku harus pergi sekarang juga, Biantara!!! Aku mohon padamu, Biantara!!”
Biantara yang masih tidak tahu apa yang sedang terjadi saat ini pada Dewangkara, hanya bisa menuruti perintah dari Hattali karena yakin apa dipikirkan Hattali saat ini adalah demi keselamatan Gayatri.
Krek. Biantara berhasil mengunci Gayatri di dalam kamarnya.
Buk ... buk ... buk ... Tapi Gayatri masih tidak menyerah. Gayatri terus memukul pintu kamarnya sembari berulang kali berteriak dengan suara seraunya karena bercampur dengan tangisan, memohon kepada Biantara dan Hattali untuk membiarkannya pergi ke Lamajang dan membawa Dewangkara kembali.
“Kumohon, Rama! Kumohon, Biantara!! Biarkan aku keluar dari sini dan pergi ke Lamajang!! Aku harus pergi ke Lamajang dan memaksa Dewangkara kembali ke Tarik!!!”
Biantara yang tidak tega mendengar teriakan dan tangisan Gayatri, Biantara memberanikan diri bertanya kepada Hattali. “Sebenarnya apa isi surat dari Dewangkara, Rama? Kenapa Gayatri tiba-tiba berniat untuk ke Lamajang dan membawa Dewangkara kembali?”
Huft. Hattali menghela napas panjang sebelum memberikan surat dari Dewangkara yang kini berada di tangannya. “Bacalah ini dan kau akan mengerti kenapa aku memintamu untuk mengurung Gayatri!”
Biantara menerima surat dari Dewangkara dan tidak lama kemudian ekspresi wajah Biantara berubah gelap sama seperti ketika Gayatri dan Hattali membaca surat itu.