ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
MASA LALU: GAYATRI DAN PUTARAN KEHIDUPANNYA PART 4



            Dan seperti yang sudah aku duga sebelumnya, Luzia benar-benar tidak menyerah untuk mendapatkan nama dari reinkarnasi Dewangkara dan Ragnala.


            “Apa kau akan terus mengikutiku, Nona?” Reinkarnasi dari Dewangkara dan Ragnala melihat ke arah Luzia dengan tatapan risi. Jujur aku juga akan mengalami hal yang sama jika ada seorang wanita yang mengejar-ngejarku seperti yang Luzia saat ini lakukan. “Apa tradisi kalian tidak mengajarkan kalian untuk menjaga jarak dari pria dan menjaga keanggunan wanita dengan tidak mengejar pria lebih dulu?”


            “Mereka mengajarkanku. Tapi aku tidak peduli dengan hal itu. Sejak pertama kali aku melihatmu, aku sudah jatuh hati pada Tuan. Sekarang bisakah Tuan mengatakan padaku siapa nama Tuan??”


            “Apa kau akan berhenti mengikuti jika aku memberi tahu namaku, Nona?”


            “Ya, aku akan melakukannya.”


            “Namaku Armahedi.” Reinkarnasi Dewangkara dan Ragnala di hadapanku, akhirnya memberi tahu namanya kepada Luzia karena merasa risi dengan tindakan Luzia yang selalu mengikuti Armahedi ke mana pun hingga membuat beberapa rekan kerja Armahedi menggunjingkan Armahedi dengan Luzia.


            “Armahedi?? Itu nama yang bagus sekali.” Luzia menatap Armahedi dengan senyuman. “Nama itu sangat cocok untuk pria dengan wajah rupawan seperti Tuan.”


            “Dan karena Nona sudah tahu namaku, sekarang bisakah Nona berhenti mengikutiku dan membuat semua rekanku selalu bicara tentangmu?? Aku sudah lelah berusaha menjelaskan pada mereka bahwa Nona dan aku tidak memiliki hubungan apapun.”


            Dari tempatku berdiri sebagai penonton, aku bisa menebak apa yang sedang dipikirkan Luzia ketika mendengar ucapan dari Armahedi. Luzia merasa senang dengan rumor yang beredar tentang dirinya dan Armahedi.


            “Jika Tuan merasa lelah menjelaskan, kita bisa membuat rumor itu menjadi kenyataan. Dengan begitu ... Tuan tidak perlu repot-repot menjelaskan pada mereka. Bagaimana?”


            Jelas Armahedi langsung menolak tawaran Luzia itu. Banyak alasan yang membuat Armahedi langsung menolak usulan dari Luzia dan satu alasannya adalah darah asing yang mengalir dalam diri Luzia. Tapi sekali lagi ... Luzia masih saja tidak menyerah. Luzia berlari pulang ke kediamannya dan langsung meminta pada ayahnya.


            “Ayah, aku ingin  seorang pria menjadi suamiku!!”


             Tapi permintaan itu tidak dituruti oleh Ayah Luzia karena darah yang mengalir dalam tubuh Luzia dan Armahedi jelas-jelas berbeda.


            “Kau bisa menikah dengan pria yang jauh lebih baik dari pria bernama Armahedi itu, Luzia. Satu lagi ... pesan Ayah, jangan pernah memiliki hubungan dengan pria pribumi.”


            Mendapat penolakan untuk kedua kalinya, tidak membuat Luzia menyerah. Dewangkara dan aku sudah mengikat janji. Dalam kehidupan apapun, aku dan dia adalah suami istri dan itu tidak akan berubah. Satu-satunya orang yang akan jadi suamiku adalah Dewangkara dan kali ini dia hidup dengan nama Armahedi.


            Sayangnya ... sebelum semua usaha Luzia untuk membuat Armahedi jatuh cinta padanya dan membujuk semua orang agar mengijinkan dirinya menikah dengan Armahedi, sebuah serangan dilancarkan oleh bangsa Luzia. Perebutan kota pusat perdagangan bersama dengan pelabuhan besar yang terkenal itu membuat banyak melayang dan di antaranya adalah Armahedi.


            “Tidak!!!” Luzia yang menemukan tubuh Armahedi di antara banyak mayat di dekat pelabuhan hanya bisa menangis memeluk tubuh Armahedi. “Kenapa begini?? Kita baru saja bertemu, kenapa Tuhan dengan teganya merebut kau dariku lagi?? Ini sudah ketiga kalinya dan Tuhan sama sekali tidak mengalah padaku dengan berulang kali merebutmu dariku??? Kenapa begini?? Kenapa??”


            Setelah cukup lama menangis sembari memeluk tubuh Armahedi yang telah kehilangan nyawanya, tatapan mata Luzia kemudian tertuju pada lautan di mana dirinya dan Armahedi pertama kali bertemu. Dengan sekuat tenaganya, Luzia membawa tubuh Armahedi yang telah kehilangan nyawanya ke arah pinggir pelabuhan dan memandang lautan di depannya yang dingin bercampur dengan darah banyak orang yang kehilangan nyawanya.


            “Dalam kehidupan ini ... kau dan aku tidak bisa bersama untuk ketiga kalinya, Dewangkara. Kau pergi lebih dulu dan sama seperti sebelumnya, aku juga akan menyusulmu agar kita bisa bersama. Aku yakin jika aku melakukan hal ini lagi, di kehidupan berikutnya aku pasti bisa bersatu denganmu.” Luzia memandang lautan sebelum memeluk tubuh Armahedi dengar erat dan kemudian melemparkan dirinya ke laut. Byurrr ....


            Aku yang berdiri sebagai penonton, tanpa seijinku tubuhku tiba-tiba melompat juga ke arah laut. Aku merasakan apa yang dirasakan oleh Luzia yang merupakan reinkarnasi dari Gayatri. Dalam kedalaman dan kegelapan laut, Luzia tidak pernah melepaskan pelukannya pada Armahedi dan terus memandang wajah Armahedi.


            Putaran ketiga kehidupan Gayatri. Tahun 1621(1).


(1)tahun 1621 adalah tahun di mana VOC melakukan pembantaian di Kepulauan Banda.


            Klik. Suara jentikan jari kemudian terdengar dan kali ini sama seperti sebelumnya, adegan berpindah. Jika pada putaran kedua kehidupannya, Gayatri menjadi orang dengan keturunan darah asing maka kali ini yang terjadi adalah berbeda. Jika sebelumnya reinkarnasi Gayatri bertemu dengan reinkarnasi Dewangkara dan mengalami pertemuan singkat, maka kali ini ceritanya berbeda. Reinkarnasi Gayatri berteman dengan reinkarnasi Dewangkara sejak mereka kecil dan tumbuh bersama.


            “Bailan!!” Reinkarnasi Gayatri memanggil nama dari reinkarnasi Dewangkara dalam kehidupan ini. Dari tempatku menonton, aku melihat reinkarnasi Gayatri datang dengan sengaja ke tempat kerja Bailan dengan membawa bekal makan siang. “Ini makan siangmu. Ibumu menyuruhku datang untuk membawanya padamu.”


            “Terima kasih, Emola!!!” Bailan menerima bekal makan siangnya dengan senyuman di bibirnya dan di saat yang sama, aku juga melihat senyuman Emola yang bahagia menerima senyuman dari Bailan.


            “Kenapa kalian tidak menikah saja?? Kalian sudah terlihat seperti suami istri idaman??” Rekan kerja Bailan berteriak pada Bailan dan Emola dengan senyuman di wajah mereka.


            “Ya, menikah saja!! Kalian setiap hari membuatku merasa iri. Aku ingin sekali memiliki istri seperti Emola yang setiap hari dengan sengaja datang kemari membawa makanan untukmu, Bailan.”


            “Haruskah begitu??” balas Bailan dan balasan itu membuat Emola tersipu malu dengan wajahnya yang merona.


            “Ya, lakukan itu, Bailan. Dan kami semua di sini akan mendukungmu.” Salah satu rekan kerja Bailan meneriakkan hal itu diikuti dengan anggukan kepala rekan-rekan Bailan yang lain.


            Aku beruntung. Dalam kehidupan ini, aku bertemu dengan reinkarnasi Dewangkara sebagai teman masa kecil. Kami tumbuh bersama dan hidup bersama. Dengan begini, aku rasa tidak butuh waktu lama lagi bagi kami untuk menikah dan hidup bersama seperti yang kami janjikan. Itulah yang aku dengar dari dalam benak Emola, seperti kehidupan-kehidupan lain milik Gayatri yang selalu mengingat cintanya pada Dewangkara.


            “Karena kalian yang memberiku saran untuk menikahi Emola, sekarang tanyalah pada Emola, apakah dia mau menikah denganku??” Bailan bertanya lagi kepada rekan-rekan kerjanya.


            Semua rekan kerja Bailan langsung melihat ke arah Emola seolah sedang menuntut sesuatu yang sangat-sangat mendesak sekarang dan saat ini juga.


            “Apa kau dengar, Emola? Bailan meminta kami untuk bertanya padamu, apakah kau ingin menikah dengan Bailan?” salah satu reka Bailan memberanikan dirinya untuk bertanya pada Emola.


            “Jika kau menerima Bailan, kami semua akan mendukungmu.”


            “Bailan adalah pria pekerja keras dan orang yang baik. Banyak dari wanita di sekitar sini yang tertarik pada Bailan. Jika kau menolaknya sekarang, para wanita lain akan langsung berbaris untuk mendapatkan Bailan.”


            Melihat pemandangan ini ... untuk sejenak aku merasa sedikit malu. Aku bertanya-tanya kenapa banyak gadis jatuh hati padaku dalam setiap kehidupanku baik sekarang dan kehidupan masa laluku?? Apakah aku serupawan itu??


            “Tentu saja aku akan menerimanya.” Jawaban dari Emola itu membuatku terkejut. Meski berulang aku telah melihat pemandangan ini, aku tetap terkejut melihat Gayatri dan beberapa putaran kehidupannya yang selalu berakhir jatuh hati pada Dewangkara dan reinkarnasinya.


            Jika bisa bertanya, aku ingin tahu sebesar apa cinta Gayatri pada Dewangkara hingga rela terus menerus mencintai bahkan setelah banyak kehidupan pahit dilaluinya??