ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
MASA LALU: GAYATRI DAN PUTARAN KEHIDUPANNYA PART 8



            Putaran kehidupan keenam Gayatri. Tahun 1945.


            Hukuman ini ... kurasa sudah terlalu berat untuk Gayatri dan setiap reinkarnasinya. Itulah yang aku pikirkan di dalam benakku. Aku ingin sekali menggantikan Gayatri menanggung rasa kehilangannya. Aku ingin sekali menggantikannya. Tapi sayangnya ... selama Gayatri selalu mengambil pilihan yang sama, maka putaran kehidupannya akan selalu berakhir dengan cara yang sama.


            Klik.


            Suara jentikan jari yang sudah aku dengar berulang kali ini menjadi pertanda bahwa adegan berikutnya akan muncul di hadapanku dan kali ini ... pemandangan menyedihkan apa lagi yang akan aku lihat dari putaran kehidupan milik Gayatri. Aku tidak tahu. Hanya saja ... aku berharap pemandangan tragedi ini bisa segera berakhir. Aku ingin segera kembali ke waktu di mana aku hidup dan memeluk tubuh wanita yang penuh luka kehilangan dalam setiap putaran kehidupannya.


            Boom.


            Baru tiba di tempat adegan berikutnya, aku langsung mendengar suara ledakan yang sangat kencang. Di depanku sekarang ... terlihat bangunan yang megah yang di bagian depannya terjadi bentrokan. Kekacauan, kerusuhan ... aku tidak tahu mana kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan saat ini.  Putaran kehidupan kali ini benar-benar berbeda dengan putaran kehidupan sebelumnya di mana aku selalu datang ke momen manis antara reinkarnasi Gayatri dan reinkarnasi Dewangkara.


            Boom.


            Suara ledakan kedua aku dengar pertanda putaran kehidupan keenam milik Gayatri ini benar-benar berbeda dari putaran-putaran sebelumnya.


            “Lari!!!!!”


            “Keluar dari hotel sekarang juga!!!”


            Dari arah bangunan megah di depanku, aku melihat banyak orang berhamburan berlari keluar untuk menyelamatkan diri mereka karena suara ledakan yang terdengar. Belasan, puluhan hingga ratusan orang berlari melewatiku begitu saja karena aku hanyalah bayangan tak terlihat dan penonton yang tidak seharusnya ada. Satu demi satu wajah orang-orang yang berlari melewatiku tidak sempat tertangkap oleh kedua mataku. Akan tetapi hal itu tidak berlaku bagi reinkarnasi Gayatri. Waktu seolah melambat hanya agar aku mengenali wajahnya di antara ratusan wajah orang-orang  yang berlarian melewatiku.


            “Cepat lari, Jenar!! Perang sepertinya sedang terjadi sekarang!!” Seorang pria parih baya yang mungkin adalah ayah dari reinkarnasi Gayatri pada putaran kehidupan ini terus mendorong reinkarnasi Gayatri yang bernama Jenar untuk terus berlari menghindari serangan yang sedang terjadi.


            Dar ... dar ... dar ...


            Dar ... dar ... dar ...


            Setelah suara ledakan, kini terdengar suara beruntun tembakan. Jenar memandang ke atas dengan terus berlari. Aku yang berlari tepat di sampingnya mendengar suara hati Jenar yang kini sedang bertanya-tanya. Apakah kali ini aku dan Dewangkara tidak akan bertemu? Apakah kali ini ... aku akan mati sebelum bertemu dengan Dewangkara?


            Dengan terus berlari di dekat Jenar dan mengikutinya, aku berusaha untuk menemukan sosok dari reinkarnasi Dewangkara. Namun di tengah lautan manusia yang berhamburan untuk menyelamatkan diri, aku yang hanya bayangan dan sosok yang bukan dari bagian adegan ini, tidak mampu menemukan sosok dari reinkarnasi Dewangkara dalam putaran kehidupan ini.


            Mungkinkah? Dalam benakku, aku menanyakan hal yang sama dengan Jenar. Apakah kali ini, dalam kehidupan ini, reinkarnasi Gayatri dan reinkarnasi Dewangkara tidak akan pernah bertemu bahkan hingga kematian menjemput keduanya?


            Tapi setelah berlari cukup jauh dan terus mengikuti langkah kaki Jenar, aku melihat Jenar tiba-tiba menghentikan langkah kakinya. Matanya memandang urus ke depan dan tertuju kepada sosok pria dengan seragam militer yang sedang membantu banyak orang untuk menyelamatkan diri dari perang yang sedang terjadi.


            “Cepat kemari!!! Cepat mengungsi kemari!!!” Pria itu ... pria dengan wajah yang sama dengan Dewangkara dan aku rasa ... dialah reinkarnasi dari Dewangkara dalam putaran kehidupan ini.  Aku melihat nama pria itu tertulis di seragam militernya dan menemukan nama dari reinkarnasi Dewangkara dalam putaran kehidupan ini. Pria itu bernama Haedar.


            “Jenar!! Apa yang kau lakukan?? Kenapa berhenti??” Ayah Jenar berusaha untuk membangunkan Jenar dari rasa terkejutnya bertemu dengan reinkarnasi Dewangkara-Haedar.


            “Jenar??? Jenar??” Setelah berulang kali memanggil dan tidak mendapatkan respon, Ayah Jenar kemudian menarik tangan Jenar dan berusaha untuk membuat Jenar berlari bersamanya. Tapi sama seperti sebelumnya, Jenar tidak bergerak dan masih membeku.


            Reaksi Jenar yang masih membeku itu kemudian menarik perhatian dari Haedar karena lautan manusia di belakang Jenar yang berusaha untuk menyelamatkan diri mulai terlihat ujungnya. Haedar kemudian menerobos kerumunan lautan manusia dan menghampiri Jenar. Haedar menarik tangan Jenar dan memaksanya untuk berlari bersama dengan ayah Jenar.


            “Kita harus pergi dari sini, Nona. Tempat ini berbahaya!! Perang sudah pecah dan kalian warga sipil harus segera menyelamatkan diri dari tempat ini, jika perlu keluar dari kota ini sekarang juga!!!”


            Menerima uluran tangan dari Haedar, kaki Jenar mulai bergerak mengikuti langkah kaki Haedar yang bahkan memaksanya untuk berlari melewati lautan manusia lain untuk menyelamatkan diri. Aku yang berlari di samping Jenar, melihat senyuman kebahagiaan muncul di bibir Jenar ketika menatap tangannya yang digenggam oleh Haedar. Senyuman itu terlihat semakin lebar tatkala Jenar menatap punggung Haedar yang berlari di depannya dan memimpin jalan.


            Dar ... dar ... dar ...


            Dar ... dar ... dar ...


            Dar ... dar ... dar ...


            Boom ...


            Dari belakang terdengar suara tembakan yang terdengar jelas dan semakin mendekat. Haedar yang sepertinya juga menyadari hal itu kemudian menoleh ke belakang di mana rekan-rekannya yang tadi berusaha untuk mengarahkan pengungsi mulai berlarian mengikuti para pengungsi. Haedar dengan tiba-tiba melepaskan genggaman tangannya pada tangan Jenar dan menghentikan langkahnya. Mata Haedar kemudian tertuju pada wanita tua yang terjatuh dan menangis di belakang beberapa rekan Haedar yang berlari menyusul Haedar.


            “Maafkan aku, Nona. Lanjutkan larimu dan selamatkan dirimu!” Haedar kemudian berlari ke arah wanita tua itu dan bermaksud untuk membantunya melarikan diri bersama dengan semua orang.


            Jenar ... harusnya berlari pergi seperti perintah Haedar. Akan tetapi Jenar berbalik menyusul ke arah Haedar. Bibirnya bergumam sembari menatap Haedar. “Aku tidak akan kehilanganmu lagi, Dewangkara. Dalam hidup ini ... kita akan bersama, Dewangkara. Aku tidak akan kehilanganmu lagi. Tidak untuk kali ini!!”


            Jenar bermaksud menolong Haedar agar Haedar bisa segera menyelamatkan wanita tua itu dan menyelamatkan dirinya sendiri juga. Jenar berhasil membantu Haedar dengan membuat wanita tua itu berada di punggung Haedar.


            “Terima kasih, Nona.” Haedar mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Jenar.


            “Sama-sama. Aku Jenar. Siapa namamu?” Jenar bertanya kepada Haedar sembari terus berlari bersama dengan Haedar.


            Haedar melirik nama di bajunya untuk memberikan isyarat kepada Jenar. “Seperti yang tertulis di seragam ini, namaku Haedar.”


            Wushh ... dor ... dor ...  baru saja pertemuan yang ditunggu Jenar akhirnya datang dalam hidupnya, pertemuan itu berubah menjadi perpisahan hanya dalam waktu singkat.


            Air mataku menetes lagi melihat kematian dari reinkarnasi Dewangkara untuk kesekian kalinya.