ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
MASA LALU: KEMBALINYA INGATAN DEWANGKARA PART 1



            “Kita tetap berteman baik bukan?” Gayatri mengajukan pertanyaan itu ketika hendak kembali ke kota Tarik.


            Hari ini Hattali bersama dengan rombongannya memutuskan untuk kembali ke kota mereka-Tarik. Dan Dewangkara yang bertugas menjadi pemandu selama Hatttali  dan rombongannya tinggal di ibu kota, mengantar Hattali dan rombongannya hingga ke depan gerbang ibu kota.


            “Tentu, kita teman.” Dewangkara menjawab dengan senyuman di bibir sembari melihat Gayatri dan Biantara secara bergantian. “Kau, Gayatri dan Biantara, kita adalah teman baik.”


            Gayatri tersenyum mendengar balasan dari Dewangkara. “Keberatan jika aku mengirimimu surat sebagai pertemanan kita, Dewangkara?”


            “Tentu saja tidak. Aku akan dengan senang hati menerimanya, Gayatri.”


            “Baiklah kalau begitu, aku akan mengirimu surat dan jika aku berkunjung ke ibu kota lagi, aku akan mengabarimu.”


            “Ya.”


Dewangkara tersenyum melihat Gayatri. Dan setelah giliran Gayatri, giliran Hattali yang mengucapkan perpisahan dengan Dewangkara.


            “Senang bisa bertemu denganmu, Kangjeng Dewangkara.”


            “Saya juga, Kangjeng. Saya sangat senang bisa bertemu dengan Kangjeng dan bicara banyak hal dengan Kangjeng.”


            Hattali memeluk Dewangkara sebelum berpisah. “Kabari aku jika kau ingin berkunjung ke Tarik. Kau akan selalu diterima di kediaman kami. Dan lagi bisakah mulai hari ini Kangjeng memanggilku Rama?? Melihat hubungan Kangjeng dengan putriku dan Biantara, aku sudah menganggap Kangjeng sebagai anakku. Bagaimana?”


            Dewangkara tersenyum. “Jika begitu aku akan memanggil Kangjeng dengan Rama dan Kangjeng berhenti memanggilku dengan Kangjeng. Cukup panggil Dewangkara saja. Bagaimana, Rama?”


            Hattali melepaskan pelukannya pada Dewangkara. “Setuju, Dewangkara.”


            Setelah saling berpamitan, Hattali dan rombongannya kemudian keluar dari ibu kota. Dari dalam keretanya, Gayatri membuka tirai yang di dalam keretanya untuk melihat wajah Dewangkara untuk terakhir kalinya. Kapan kita bisa bertemu lagi, Dewangkara??


            Hattali yang berkuda di samping kereta Gayatri, menyadari tatapan Gayatri pada Dewangkara yang masih berdiri di depan gerbang ibu kota untuk mengantarkan kepergian mereka untuk terakhir kalinya.


            “Tidak lama lagi, dia akan datang ke kota kita, Gayatri.”


            Gayatri tersentak mendengar ucapan Hattali. Gayatri terkejut tapi di saat yang sama merasa sedikit bahagia membayangkan pertemuannya dengan Dewangkara lagi. “Benarkah itu, Rama??”


            Hattali menganggukkan kepalanya. “Dewangkara memutuskan untuk menemukan ingatannya dan untuk menemukan kembali ingatannya, dia akan mengunjungi tempat di mana dia kehilangan ingatannya. Tempat itu adalah ibu kota lama di mana kita tinggal, Gayatri.”


            Gayatri tersenyum mendengar ucapan Hattali. Wajahnya memerah karena perasaan senang dan tidak sabar menantikan hari itu.


            “Sepertinya putriku sudah cukup dewasa. Jika kau menyukai Dewangkara, Ramamu ini akan bicara padanya nanti ketika dia datang berkunjung ke kota Tarik. Bagaimana?”


            Tawaran itu terdengar begitu membahagiakan di telinga Gayatri. Bahkan karena saking senangnya, Gayatri sempat membeku seleme beberapa detik karena tidak menyangka jika Hattali-ayahnya akan menyadari perasaannya pada Dewangkara.


            “Rama tidak keberatan jika aku menikah dengan Dewangkara?” Gayatri bertanya berusaha untuk memastikan jika Ayahnya tidak sekedar bicara.


            “Tentu tidak. Ramamu ini cukup menyukai Dewangkara. Dia pria yang baik, santun, perhatian, berbudi luhur dan sepertinya tipe pria yang akan menyayangi keluarganya.” Hattali memberikan banyak alasan kepada Gayatri atas penerimaannya untuk Dewangkara menjadi menantunya kelak. Tapi ada satu alasan yang tidak diungkapkan oleh Hattali kepada Gayatri: Dewangkara adalah peringkat satu dalam ujian bayangkara dan itu sudah cukup membuktikan jika Dewangkara adalah pria yang sanggup menjaga Gayatri.


            “Nanti ketika Dewangkara datang berkunjung ke kota kita. Aku akan memastikannya lebih dulu baru setelah itu, Ayah bisa meminta Dewangkara untuk menikahiku.”


            Entah keberuntungan atau tidak, Dewangkara tidak tahu. Tapi sehari setelah mengantar kepergian Hattali dan rombongannya, antapura meminta kain lagi untuk acara lamaran dari salah satu anak Maharaja yang akan diadakan tujuh hari lagi. Untuk membantu ayahnya, Dewangkara mengajukan diri untuk pergi ke Tarik dan mengambil kain itu sendiri. Setelah perjalanan kurang lebih sembilan jam lamanya dengan berkuda dan beberapa kali istirahat, Dewangkara akhirnya tiba di kota Tarik, kota yang dulunya adalah ibu kota Majapahit pada masa pemerintahan Maharaja pertama, kota di mana Dewangkara pernah tinggal dan kehilangan ingatannya serta kota di mana Gayatri dan keluarganya tinggal.


            Setelah bertanya ke sana kemari, akhirnya Dewangkara tiba di kediaman Yasodana. Kediaman itu cukup besar karena menjadi satu dengan pembuatan kain. Selain itu jumlah pekerja yang banyak terlihat dari luar kediaman Yasodana, mereka semua sedang sibuk membuat kain dan mewarnainya.


            “Benarkah ini kediaman Yasodana?” Dewangkara bertanya kepada salah satu pekerja yang dekat dengan pintu masuk.


            “Itu benar, Kangjeng.”


            “Kalau begitu bisakah saya bertemu dengan Kangjeng Hattali?” tanya Dewangkara lagi.


            Pekerja itu kemudian meninggalkan pekerjaannya, mengantar Dewangkara meletakkan kudanya di kandang di samping kediaman di mana semua kuda milik Yasodana berada. Setelah mengamankan kudanya, memberinya makan dan minum, pekerja itu kemudian mengantarkan Dewangkara memasuki kediaman Yasodana. Semakin masuk lebih dalam ke kediaman Yasodana, semakin banyak pekerja yang dilihat oleh Dewangkara dan kebanyakan pekerja itu adalah para wanita yang memang telaten dalam pembuatan dan pewarnaan kain.


            “Itu ...” Dewangkara bertanya kepada pekerja yang mengantarnya masuk ke dalam kediaman Yasodana.


            “Ya, Kangjeng.”


            “Kenapa semua orang melihat ke arahku? Apakah ada sesuatu di wajahku yang membuat semua orang melihatku seperti itu?” Dewangkara bertanya karena merasa semua tatapan para wanita pekerja tiba-tiba mengarah pada Dewangkara. Beberapa wanita bahkan menjatuhkan kain yang sedang dikerjakan olehnya, menatap ke arah Dewangkara dengan mata berbinar dan mulut yang terbuka dan beberapa wanita yang berjalan, ada yang terhenti sebelum akhirnya membuat rekan-rekan yang mengikutinya menabrak dan jatuh bersama-sama.


            Pekerja yang mengantar Dewangkara menghentikan langkahnya dan menjawab pertanyaan Dewangkara. “Itu karena wajah tampan dari Kangjeng. Jujur saja di kota ini tidak banyak pria muda yang tampan. Para pria muda biasanya lebih memilih ke ibu kota untuk mengikuti ujian bayangkara. Beberapa yang tinggal memilih untuk bercocok tanam dan akhirnya kulit mereka berubah gelap karena terbakar matahari. Tapi Kangjeng benar-benar terlihat berbeda. Biantara-raksaka yang mengikuti Kanjeng Gayatri sudah terlihat rupawan meski memiliki kulit yang sedikit gelap. Dan sekarang Kangjeng muncul di sini dengan wajah rupawan ditambah lagi kulit Kangjeng yang benar-benar bersih. Ini adalah pemandangan langka bagi para wanita di sini, Kangjeng.”


             “Ah begitu rupanya.” Dewangkara tersenyum kecut mendengar penjelasan dari pekerja yang mengantarnya. Pekerja itu kembali berjalan setelah memberikan jawaban dan Dewangkara kembali mengikuti langkah dari pekerja itu sembari berpikir di dalam benaknya. Jika yang kemari adalah Danapati, maka semua wanita ini pasti akan masuk ke dalam bujuk rayuan Danapati.


            “Dewangkara!!!”            


            Sebuah teriakan yang nyaring terdengar hingga ke seluruh bagian dari kediaman Yasodana. Dewangkara menghentikan langkah kakinya karena mendengar namanya dipanggil. Dewangkara berbalik karena arah suara yang memanggil namanya berada di belakangnya dan begitu berbalik, Dewangkara melihat Gayatri yang sedang berlari ke arahnya. Mata Dewangkara membulat besar karena terkejut melihat Gayatri mengenakan pakaian yang sangat cantik. Baju yang dikenakan Gayatri adalah baju khas Cina yang merupakan satu dari beberapa sudagar asing yang sering datang ke ibu kota. Karena pekerjaannya sebagai pemandu jalan, Dewangakra sudah sering bertemu dengan sudagar asing dan mengenali beberapa ciri khas serta bahasa mereka.


            “Ahhh!!” Gayatri yang tidak terbiasa mengenakan pakaian gaya Cina kemudian menginjak bagian bawah pakaiannya ketika hendak menghentikan langkah larinya di depan Dewangkara.


            “Kangjeng!” Semua orang berteriak ketika melihat Gayatri hendak terjatuh. Bahkan Biantara yang mengikuti Gayatri di belakangnya pun ikut berteriak karena jeda langkahnya untuk menahan tubuh Gayatri sebelum jatuh, terlalu jauh. Biantara tidak akan sempat menolong Gayatri.


            Hup, Dewangkara dengan sigap menangkap tubuh Gayatri yang telah kehilangan keseimbangan dan mulai jatuh.


             “Kau baik-baik saja, Gayatri?” Dewangkara langsung mengajukan pertanyaan itu kepada Gayatri ketika berhasil menangkap tubuh Gayatri.


            “Ah, maaf. Aku belum terbiasa menggunakan pakaian ini, Dewangkara.” Gayatri merasa sedikit malu dengan kecerobohannya di depan Dewangkara. Padahal tadinya ... Gayatri hanya ingin menyapa Dewangkara saja. Gayatri lupa jika dia sedang mencoba pakaian yang baru dibuatnya ketika mendengar bisik-bisik pekerja wanita yang membicarakan Dewangkara.


            Dewangkara membantu Gayatri kembali ke posisi berdirinya dan tersenyum. “Kau terlihat cantik mengenakan baju itu, Gayatri.”


            “Terima kasih.” Gayatri tersipu malu mendengar pujian itu. Di saat yang sama semua pekerja wanita yang mengagumi Dewangkara semakin bertambah kagum saat melihat Dewangkara yang baru saja menolong Gayatri dengan sigap. “Apa yang membawamu kemari, Dewangkara?”


            “Ah ... antapura meminta kain lagi. Dalam lima hari ke depan aku harus membawanya ke ibu kota. Apakah bisa?”


            “Lima hari itu adalah waktu yang cukup banyak, Dewangkara. Kami tentu bisa melakukannya.” Gayatri tersenyum senang melihat Dewangkara. Mimpi apa aku semalam?? Belum tujuh hari berlalu, aku sudah bertemu dengan Dewangkara lagi. Sepertinya kami berdua benar-benar berjodoh.