ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
MASA LALU: PILIHAN DAN KONSEKUENSI PART 3



            “Saya punya ide, Maharaja. Tidak tahukah Maharaja ingin mendengarnya atau tidak?” Dyah Halayuda membuka mulutnya kepada Maharaja yang sedang kesal karena hingga malam tiba, pasukannya belum menembus dua benteng yang melindungi Lamajang.


            “Apa itu, Dyah Halayuda?” Maharaja merespon pertanyaan Dyah Halayuda seperti keinginan dari Dyah Halayuda. Saat ini ... keinginan Dyah Halayuda sudah ada tepat di depan matanya dan Dyah Halayuda tidak akan melepaskan kesempatan emas di tangannya ini.


            Dyah Halayuda kemudian membisikkan sesuatu ke telinga Maharaja dan tidak lama kemudian Maharaja tersenyum mendengar bisikan dari Dyah Halayuda.


            “Bagaimana, Maharaja? Apa itu ide yang bagus?” tanya Dyah Halayuda setelah menarik wajahnya menjauh dari Maharaja.


            “Itu ide yang bagus, Dyah Halayuda.” Maharaja memuji ide yang diberikan oleh Dyah Halayuda dan setelah itu Maharaja menatap ke arah pembawa pesannya untuk memberi pesan baru. “Kirim pesanku ke pasukan di benteng Gending. Aku sendiri yang akan memimpin pasukan untuk menembus benteng itu.”


            “Baik, Maharaja.”


            Pembawa pesan dari benteng Gending langsung keluar dari kamp milik Maharaja untuk menyampaikan pesan dari Maharaja untuk pasukannya. Sementara itu, Maharaja bangkit dari duduknya dan mengganti pakaiannya dengan pakaian perangnya untuk bersiap maju ke garis depan.


            “Maharaja cukup melakukan apa yang saya tadi bisikkan dan saya sendiri akan menahan Dewangkara di benteng Pejarakan. Mohon beri sinyal kepada saya jika Maharaja telah berhasil menjatuhkan benteng Gending.” Dyah Halayuda memberi peringatannya kepada Maharaja yang sedang mengganti pakaiannya dibantu dengan abdinya.


            “Aku mengerti, Dyah Halayuda. Setelah ini berakhir, aku pasti akan memberikanmu posisi yang tepat di antapura untuk membayar jasamu yang berharga hari ini,  Dyah Halayuda.”


            Dyah Halayuda tersenyum kecil mendengar pujian Maharaja untuknya. “Terima kasih, Maharaja. Bisa bersama dengan Maharaja dan melayani Maharaja, sungguh adalah berkah yang tidak tergantikan untuk saya,   Maharaja.”


            Maharaja yang telah mengganti pakaiannya muncul di depan Dyah Halayuda. “Aku akan sangat senang sekali jika Rakryan Mahapatihku saat ini juga memikirkan hal yang sama denganmu, Dyah Halayuda. Sayangnya ... dia tidak menghargaiku sebagai Maharajanya hanya karena dia membangun kerajaan ini dengan Ramaku. Kita bersiap, Dyah Halayuda!”


            “Baik, Maharaja.”


            Maharaja keluar dari kampnya dengan baju perang dan senjata miliknya, diikuti dengan Dyah Halayuda yang berjalan tepat di belakangnya. Di depan pasukannya, Maharaja mengangkat pedang miliknya dan berkata, “Sebelum matahari terbit, kita harus menjatuhkan dua benteng itu dan menangkap pengkhianat yang telah mengkhianatiku dan kerajaan ini!!”


            Semua pasukan milik Maharaja yang bersiap di depan kamp milik Maharaja kemudian menjawab perintah dari Maharaja secara serentak. “Baik, Maharaja.”      


            Di benteng Pejarakan.


            Dewangkara yang telah berhasil membunuh lima Rakryan Tumenggung yang memimpin pasukan untuk menjatuhkan benteng Pejarakan kini mulai merasakan tubuhnya kehilangan lebih dari separuh  tenaganya. Hossh ... hossh ... nafas Dewangkara memburu lebih cepat karena kelelahan yang kini menjalar di seluruh tubuhnya. Tangan dan kakinya benar-benar kelelahan hingga tidak berhenti bergetar. Keringat dingin  terus mengucur di seluruh tubuh Dewangkara karena gerakan yang terus menerus dilakukannya tanpa henti.


            Tapi ... melihat bagaimana hasil usahanya, Dewangkara merasa sedikit bangga. Dengan jumlah pasukan yang sangat kurang dari bayangkara milik Maharaja, Dewangkara berhasil memukul mundur bayangkara dan menjatuhkan lima Rakryan Tumenggung hanya dengan beberapa serangan darinya. Bahkan jumlah bayangkara yang mati di tangannya hari ini, Dewangkara sudah tidak bisa menghitungnya lagi.


            Setelah melihat keberhasilan kecilnya, Dewangkara memberi tanda pada pasukan milik Rakryan Mahapatih Nambi di belakangnya untuk kembali ke benteng. Akan tetapi sebelum semua orang kembali, Dewangkara mendengar suara derap langkah kaki kuda yang bergerak mendekat dengan cepat ke arahnya.


            Dewangkara langsung memberikan perintahnya kepada pasukan di belakangnya untuk tidak kembali ke benteng dan mengambil posisi bersiap. Sial!! Mereka bahkan tidak memberi jeda waktu sedikit pun bagi kami untuk mengambil nafas. Inilah kelebihan dari jumlah pasukan yang banyak!!


            Benar seperti yang ditakutkan oleh Dewangkara, begitu melihat pasukan yang mendekat, Dewangkara mengenali pasukan itu.  Terlebih lagi pemimpin pasukan yang berada di atas kuda dan berdiri di bagian tengah pasukan itu.


            Dyah Halayuda. Akhirnya orang itu turun tangan sendiri kemari. Dewangkara tersenyum melihat kesempatan untuk membunuh Dyah Halayuda yang kini memimpin perang untuk melawannya.


            “Aku benar-benar terkejut, Dewangkara-putra Rakryan Mahapatih Nambi. Aku benar-benar terkejut dengan kemampuanmu itu.”


            “Haruskah saya menganggap itu sebagai pujian, Kangjeng Dyah Halayuda??” balas Dewangkara.


            “Tentu. Itu memang pujian dariku dan dari Maharaja untukmu. Kami semua terkejut mendengar kabar bahwa benteng yang tadinya sudah hampir ditembus dan jatuh kini membalik keadaan hanya dengan kedatangan satu orang. Mendengar kabar itu, membuatku teringat dengan kenangan lama. Di masa lalu, Rakryan Tumenggung Sena juga sering melakukan hal itu. Kedatangannya selalu mampu memgubah keadaan genting menjadi kesempatan dan berakhir dengan kemenangan Majapahit. Dan kali ini pun sama, kau benar-benar mirip dengan Rakryan Tumenggung Sena dalam banyak hal, Dewangkara.”


            Dewangkara yang masih mengatur nafasnya sembari melihat jumlah pasukan yang datang bersama dengan Dyah Halayuda, berusaha untuk tetap menjaga senyuman di wajahnya. Sial!! Jumlah pasukan ini bahkan tiga kali lipat dari pasukan sebelumnya!! Apakah aku bisa bertahan hingga pagi melawan mereka ketika kami semua sudah sangat kelelahan??


            “Terima kasih untuk pujiannya, Kangjeng Dyah Halayuda. Aku benar-benar tidak menyangka menerima banyak pujian dari Kangjeng.”


            “Ya, aku sendiri terkejut melihat betapa kagumnya aku padamu, Dewangkara sama seperti aku yang juga mengagumi Rakryan Tumenggung Sena. Kalian berdua adalah bakat yang langka, sayangnya ... kalian memilih pihak yang salah dan membuat kalian berdua berada di situasi yang sama.”


            Tidak lama kemudian ... Dyah Halayuda memberi isyarat pada pasukan yang dibawanya untuk maju menyerang Dewangkara secara serentak. Dewangkara yang berada di sisi berlawanan dengan pasukan Dyah Halayuda melihat taktik perang yang saat ini sedang digunakan oleh Dyah Halayuda: Dirada Meta(1).


(1)Dirada Meta: satu dari delapan strategi perang Majapahit yang dikenal sangat mematikan. Strategi ini menerapkan seperti gajah yang mengamuk karena pasukannya bergerak seperti gajah yang mengamuk.


            Sial!! Mereka menggunakan strategi ini yang artinya mereka ingin segera menghabisi semua orang di benteng ini, apapun yang terjadi!!! Dewangkara yang mempelajari strategi perang Majapahit sebelum ujian bayangkara mengenali strategi ini dan tahu dengan baik bahwa strategi ini adalah strategi paling mematikan yang dimiliki Majapahit karena pasukan yang maju sudah tidak kenal rasa takut dan tidak takut untuk mati.


            Dewangkara melihat ke arah belakang di mana pasukannya sedang bersiap untuk menahan serangan yang dilancarkan dalam hitungan detik. Dewangkara melihat semua wajah gelap dari pasukannya yang mengenali strategi yang saat ini sedang digunakan oleh musuh mereka. Sial!! Mental mereka ...


            Mau tidak mau untuk menaikkan mental pasukannya yang sudah merasa kalah lebih dulu karena melihat strategi lawan, Dewangkara harus melakukan sesuatu untuk menaikkan kembali mental pasukannya agar bisa bertahan lebih lama lagi. Sekali lagi ... Dewangkara mengangkat dua tombaknya untuk menerjang bayangkara yang sudah seperti gajah gila yang menyerang dengan sanga brutal.


            Aku harus bertahan! Aku harus bertahan apapun yang terjadi!!  Dewangkara melompat tinggi untuk masuk ke dalam  pasukan musuh dengan tujuan membuyarkan strategi musuh. Mata Dewangkara menatap tajam ke arah Dyah Halayuda yang mundur ke belakang untuk mendapatkan perlindungan dari pasukannya.


            Aku harus membunuh orang itu!! Dengan begitu mental pasukan ini akan hancur seketika dan akar pembuat masalah ini akan berakhir pada waktu ini!!! Dewangkara mengeratkan tangannya yang menggenggam tombak di tangannya. Dewangkara berusaha keras menerjang pasukan musuh dengan tujuan membunuh Dyah Halayuda.