ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
Debaran Hati



Zaky menaiki tangga dengan napas yang terengah-engah, kecapekan. Bagaimana tidak? Zaky harus rela menggendong Chike yang ketiduran di punggungnya dari lantai 1 sampai lantai 3. Rasanya tulang punggung Zaky akan remuk.


“Astaga! Apa yang terjadi? Apa Chike mabuk?” tanya Bu Laila ketika melihat Zaky yang menggendong Chike berhenti di beberapa tangga terakhir sebelum lantai 3. Zaky terlihat berusaha mengatur napasnya dan menahan berat badan Chike supaya tatap seimbang. Jika tidak mereka berdua akan terjatuh.


“Berapa banyak yang Dia minum hingga keadaannya seperti ini?” Bu Laila kembali bertanya ketika ia menghampiri Zaky yang sudah berada di lantai 3 dengan selamat. Zaky tak menjawab, ia begitu sibuk untuk mengatur napasnya yang terasa akan habis.


“Omong-omong, sejak kapan kalian berdua sangat dekat?” Bu Laila terus saja bertanya dan membuat langkah Zaky tertahan. Kini Zaky sudah hampir membungkuk dengan sempurna karena berusaha menahan berat badan Chike. Zaky sudah tak sanggup untuk berbicara karena terlalu fokus untuk mengatur napasnya.


“Ha, ha, bukan seperti itu,” sahut Zaky dengan napas yang terengah-engah.


“Apanya yang bukan seperti itu?! Pasti sesuai dengan yang kupikirkan. Jika tidak, bagaimana kalian bisa pulang bersama di larut malam begini? Bahkan kalian sudah minum-minum bersama,” selidik Bu Laila sambil bersedekap tangan.


Zaky terus berusaha mengatur napasnya. Ia berbicara dengan susah payah. “Memang benar, tapi...”


“Wow! Bagus sekali! Di malam yang sudah larut ini aku harus melihat kemesraan seorang pria tampan dan seorang wanita cantik yang baru pulang dari acara minum bersama. Seperti yang orang-orang katakan, tidak ada pria dan wanita yang tidak saling memiliki perasaan satu sama lain jika terus bersama,” cerocos Bu Laila memotong ucapan Zaky.


Zaky merasa sudah tidak sanggup untuk menahan beban di punggungnya. Ia berniat untuk segera menuju ke kamar. Namun, lagi-lagi langkahnya harus tertahan oleh Bu Laila yang ada di depannya. Zaky rasanya ingin memaki namun ia harus menelan itu semua sendiri.


“Wah...aku salut padamu. Ke mana pun kamu pergi pasti kamu akan mendapatkan begitu banyak perhatian,” ucap Bu Laila takjub. Zaky terus berusaha membenarkan posisi Chike yang merosot.


“Hei Zaky!! Kamu dari mana saja?!” seru Dava yang berniat pergi ke dapur untuk mengisi botol airnya.


“Dav, tolong aku, hah...” ucap Zaky cepat ketika melihat Dava. Ia merasa lega karena Dava yang datang tepat waktu.


“Eh, bukankah itu penghuni kamar 308? Apa yang terjadi padanya?” tanya Dava yang langsung bergegas menghampiri Zaky dan membantu menahan berat badan Chike dari samping. Bu Laila yang melihat itu dengan segera menyingkir ke samping.


“Tolong ambilkan kunci di saku sebelah kiri,” pinta Zaky bersusah payah.


“Kunci? Apakah kamu mau membiarkan Dia tidur di dalam kamarmu?” tanya Dava tak percaya namun tetap merogoh kunci di saku Zaky. Sedangkan Bu Laila hanya memperhatikan interaksi mereka.


“Setidaknya, hah, biarkan aku untuk meletakkannya dulu, hah, Dia sangat berat. Aku, hah, akan tidur di dalam kamarnya, jadi kamu, hah, tidak perlu khawatir.” Zaky terus saja terengah-engah.


“Tapi, sejak kapan kalian menjadi dekat?” Dava masih sempat-sempatnya bertanya kepada Zaky yang sudah seperti akan habis pasokan oksigennya.


“Mengapa kamu terus bertanya?! Bagaimana pun terima kasih,” ucap Zaky kesal dan langsung mengambil kunci di tangan Dava.


“Baiklah, kalau begitu pergilah istirahat!” ucap Dava sedikit berteriak kepada Zaky yang sudah pergi menuju kamarnya tanpa berpamitan.


“Apa kamu tidak beristirahat juga?” tanya Bu Laila setelah diam daritadi.


“Ya, aku akan tidur sebentar lagi. Aku hanya ingin mengambil air,” ucap Dava memperlihatkan botol minum yang dibawanya.


“Wah, tapi apa benar mereka baru selesai pergi minum bersama?” tanya Dava yang masih tak percaya dan melihat ke arah Bu Laila yang memberikan isyarat agar tidak usah melanjutkan pembahasan tersebut.


“Hah, baiklah,” sahut Dava mengerti.


“Tapi, aku masih tak menyangka mereka pergi minum bersama. Apalagi mereka begitu tega hingga tidak mengajakku juga,” dengus Dava. Bu Laila tertawa kecil.


“Sudahlah, biarkan saja mereka ingin melakukan apa pun. Lebih baik sekarang kamu ambil airnya dan segera masuk ke dalam kamar.”


“Baiklah, selamat malam, Bu Laila.”


“Ya, selamat malam juga.” Dava pun pergi ke dapur, sedangkan Bu Laila kembali melanjutkan pekerjaannya dengan berkas-berkas yang masih menumpuk di meja.


******


Zaky duduk di samping Chike dan mencoba mengatur napasnya. Ia memperhatikan wajah tidur Chike yang terlihat sangat damai.


“Sepertinya aku harus mencari obat demam,” gumam Zaky sambil memegang pipi dan kening Chike yang terasa sedikit panas.


Zaky ingin beranjak dari duduknya, namun tangannya ditahan hingga membuatnya berhenti. Zaky mengurungkan niatnya untuk pergi ketika melihat Chike yang sudah terbangun dan menahan langkahnya.


“Mengapa kamu bangun?” tanya Zaky kembali duduk ke tempat semula.


“Jangan bangun! Badanmu terasa panas,” ucap Zaky mencegah Chike yang ingin bangun.


“Kepalaku terasa pusing...,” ucap Chike parau. Ia memegang kepalanya yang terasa berdenyut.


“Wajar saja, badanmu panas. Aku baru saja ingin mencari obat untukmu.” Zaky mencoba membantu Chike yang ingin duduk. Ia meletakkan bantal di belakang Chike sebagai sandaran.


“Lebih baik kamu tidur kembali. Jika kamu duduk seperti itu bisa membuat sakit kepalamu semakin bertambah. Badanmu juga terasa panas,” ucap Zaky khawatir.


“Aku baik-baik saja, Kak.”


“Baik-baik saja bagaimana? Siapa pun pasti akan masuk angin dan sakit jika duduk seperti itu di cuaca malam yang dingin.” Zaky kembali mengingat keadaan Chike saat ia menemukannya tadi.


“Selain itu, kamu juga minum begitu banyak tadi. Jika dari awal aku tau kamu sakit pasti aku tidak akan mengizinkanmu untuk pergi minum. Seharusnya aku tidak mengizinkan hal itu dan segera membawamu pulang saja,” gerutu Zaky pada dirinya sendiri. Chike menatap Zaky dengan senyuman tipis yang terukir di bibirnya yang sedikit pucat.


“Apa? Mengapa kamu menatapku seperti itu?” tanya Zaky yang merasa tak nyaman ditatap terus-menerus.


“Maaf,” ucap Chike pelan. Ia menundukkan kepalanya.


“Maaf? Untuk apa?” tanya Zaky bingung.


“Maaf karena aku masih belum bisa menyelamatkanmu,” ucap Chike dengan sendu.


“Maksudmu apa?” tanya Zaky yang masih tak mengerti. Chike menatap Zaky dan berusaha memaksakan senyumannya.


“Tapi, aku yakin bahwa aku akan berhasil lain kali. Jadi, bersabarlah hingga saat itu.” Bukannya menjawab pertanyaan Zaky, Chike malah mengucapkan sesuatu yang membuat Zaky semakin merasa kebingungan, tak mengerti.


“Baiklah. Apa pun yang sedang kamu katakan sekarang, anggap saja aku mengerti. Jadi, lebih baik kamu tidur saja sekarang. Kamu membutuhkan istirahat yang cukup, oke?” ucap Zaky yang tak ingin ambil pusing untuk memahami perkataan Chike yang memang sudah sangat sering membuatnya merasa bingung.


“Ada satu hal lagi yang ingin aku lakukan. Aku juga harus meminta maaf untuk itu.”


“Memangnya apa yang ingin kamu katakan hingga kamu harus meminta maaf?” Zaky menatap Chike sedikit waspada.


“Aku akan melakukan sesuatu yang tidak akan kamu sukai,” sahut Chike.


“Memangnya ap...” Belum sempat Zaky menyelesaikan perkataannya, sebuah benda kenyal sudah menempel di bibirnya. Chike menciumnya!


Zaky terpaku atas kejadian yang sedang terjadi padanya, badannya terasa kaku. Chike terlihat menutup matanya. Zaky yang sudah tersadar ingin menolak tubuh Chike, namun ni diurungkan. Tangannya yang sudah bersiap untuk mendorong hanya terhenti di udara.


Zaky menurunkan kembali tangannya. Ia memejamkan matanya dan memilih untuk menerima ciuman itu.


Deg! Deg! Deg!


Suara debaran jantung Zaky begitu kencang. Ia bahkan merasa jika orang lain bisa mendengar suara debarannya saat ini.