ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
MASA LALU: DEWANGKARA DAN KEMAMPUANNYA PART 2



            “Apa-apaan ini??” Gayatri memprotes untuk kesekian kalinya.


            Dewangkara menggelengkan kepalanya mendengar protes yang keluar dari mulut Gayatri sejak pagi ini. Aku benar-benar tidak menyangka jika Gayatri yang kelihatannya lembut, ternyata bisa banyak memprotes.


            “Kenapa Rama menyuruhmu kemari dan mengambil banyak waktu dari Dewangkara??” Gayatri kembali mengeluarkan protesnya lagi.


            “Paman yang memintaku kemari, katanya ada seseorang yang hebat datang dari ibu kota. Paman memintaku untuk melihat kemampuan dari orang yang hebat itu sebagai pelajaran bagiku yang telah tujuh kali gagal dalam ujian bayangkara.” Lingga mengatakan kegagalannya dengan rasa bangga seolah kegagalan itu adalah keberhasilan.


            Dewangkara dan Biantara yang tidak ingin terlibat adu mulut dengan Gayatri, berdiri menjauh dan hanya diam menonton Gayatri dan Lingga adu mulut. Lingga sendiri adalah keponakan dari Hattali Yasodana. Sebelumnya Hattali pernah menceritakan keponakannya yang sudah tujuh kali mengikuti ujian bayangkara di ibu kota dan tujuh kali itu pula mengalami kegagalan. Orang yang dibicarakan oleh Hattali itu adalah Lingga.


            Dengan kedua tangan yang terlipat di dadanya, Dewangkara melihat ke arah Lingga dan memperhatikan Lingga dari atas kepala hingga ke ujung kakinya. Secara keseluruhan kondisi tubuhnya bagus dan bugar. Dia punya otot yang kuat dan kurasa ketahanan fisiknya cukup bagus. Apa mungkin teknik dan pengalamannya yang kurang?? Sembari memperhatikan Lingga, Dewangkara mencoba mencari tahu kenapa pria dengan fisik yang bagus ini selalu gagal dalam ujian bayangkara.


            Dewangkara menggerakkan bahunya untuk menyenggol Biantara yang berdiri di sampingnya. “Aku ingin bertanya padamu, Biantara.”


            “Apa??”


            “Pria bernama Lingga ini memiliki tubuh yang bagus. Bagaimana menurutmu?” Dewangkara berusaha untuk menemukan jawabannya dengan bertanya pada Biantara. Menurut Dewangkara, orang yang mengenal baik Lingga mungkin bisa memberikan beberapa informasi yang membantu Dewangkara untuk menemukan kelemahan dari Lingga.


            “Ya, kondisi tubuhnya bagus. Lingga sendiri adalah petani. Dia sudah terbiasa melakukan pekerjaan berat. Jadi tidak heran jika ketahanan fisiknya bagus. Kenapa kau bertanya?”


            Dewangkara menaikkan satu tangannya untuk menopang dagunya. “Apakah di sini ada lapangan besar yang bisa digunakan untuk berlatih kuda, berpedang dan memanah, Biantara?”


            Biantara menganggukkan kepalanya. “Ada. Di belakang kediaman ini ada lapangan untuk berlatih yang digunakan Rama untuk berlatih. Mau berlatih??”


            “Ya. Rama memintaku untuk menemukan alasan kegagalan Lingga hingga gagal sebanyak tujuh kali.”


            “Aku akan menyiapkannya. Apa saja yang kau butuhkan?”


            “Kudaku dan kuda miliknya.” Dewangkara menunjukkan jarinya ke arah Lingga. “Lalu beberapa pedang, busur dan panah dan jika ada beberapa tombak. Lalu apapun yang bisa digunakan untuk menjadi sasaran panah baik itu yang diam di tempat atau yang bergerak. Apa kau bisa menyiapkannya, Biantara?”


            “Tentu. Aku akan menyiapkannya dengan cepat. Lalu ...”


            “Lalu??” Dewangkara melihat ke arah Biantara yang tiba-tiba menghentikannya kalimatnya. “Lalu apa?”


            “Apa aku juga bisa ikut berlatih nanti??”


            Dewangkara tersenyum kecil mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Biantara. “Kenapa tidak? Kalau begitu, kau bawa kudamu juga dan pedang milikmu.”      


            “Terima kasih.”


            Sekitar tiga puluh menit kemudian ...


            Dewangkara mengira Gayatri dan Lingga yang adu protes sejak tadi, akan cukup lelah untuk bicara. Nyatanya dua orang itu masih sanggup untuk bicara banyak hal.


            “Kau benar-benar akan mengajari Lingga, Dewangkara?” protes Gayatri lagi yang entah sudah tidak bisa dihitung oleh Dewangkara.


            “Ya. Aku sudah berjanji pada Rama akan mengajarinya selama aku tinggal di sini.” Dewangkara sama sekali tidak goyah dengan janjinya pada Hattali. “Seorang pria bisa dipercaya karena ucapannya dan aku adalah orang yang akan menepati janjiku.”


            Dewangkara mengambil salah satu tombak yang disiapkan oleh Biantara dan melihat ke arah Biantara. “Mau mencoba untuk melawanku, Biantara??”


            Biantara tersenyum senang. “Ya, aku ingin mencobanya.”


            Biantara mengambil salah satu tombak dan kemudian bersiap di depan Dewangkara. Keduanya kemudian saling memberi hormat sebelum melakukan latihan tanding. Setelah saling memberi hormat, Dewangkara kemudian memberikan aturan pertandingan latihannya kepada semua orang.


            “Aturannya mudah. Siapa yang terjatuh lebih dulu, dia yang kalah. Apa bisa dipahami?”


            “Ya.”


            “Kita mulai.”


            Begitu kata ‘kita mulai’ keluar dari mulut Dewangkara, Biantara langsung menghunuskan tombaknya ke arah Dewangkara dan berniat untuk langsung mengalahkan Dewangkara dengan cepat. Dewangkara yang melihat hal itu tersenyum di tempatnya berdiri dan menunggu hingga Biantara mendekat ke arahnya dalam jarak yang telah diperhitungkannya. Dalam benaknya, Dewangkara berbicara sendiri. Beruntungnya aku. Aku benar-benar beruntung karena ingatanku sudah kembali. Berkat itu ... ingatanku tentang melihat latihan Rakryan Tumenggung Sena pun juga sudah kembali.


            Begitu Biantara mendekat hingga jarak yang sudah ditentukan, Dewangkara menghunuskan tombaknya ke arah Biantara. Dewangkara berlari dan kemudian membuat ujung tombaknya menancap di tanah. Setelah melakukan hal itu, Dewangkara melompat tinggi dengan menggunakan tombaknya sebagai penumpu. Gayatri dan Lingga yang melihat gerakan dari Dewangkara, hanya bisa terdiam dengan kedua mata mereka yang menatap dengan takjub.


            Di sisi lain Biantara yang terkejut dengan apa yang dilakukan Dewangkara, terlambat untuk bereaksi karena Dewangkara kini sudah berada tepat di belakangnya ketika mendarat. Tidak butuh waktu yang lama bagi Dewangkara untuk menjatuhkan Biantara. Karena begitu mendaratkan kakinya dan masih membelakangi Biantara, Dewangkara menarik tombaknya yang menancap di tanah, mengayunkannya dan memukul bagian punggung Biantara hingga jatuh terjerembap.


            Buk. Biantara jatuh hanya dengan satu serangan dari Dewangkara.


            Gayatri dan Lingga yang masih terkejut dengan apa yang mereka lihat, hanya bisa diam membeku tanpa bisa memberikan respon mereka.


            “Bagaimana, Kangjeng Lingga? Apa ini cukup?” Dewangkara mencoba bertanya pada Lingga karena melihat Lingga terdiam.


            “I-itu ... “ Lingga yang masih merasa takjub, berbicara dengan gagap. “Hebat sekali. Kangjeng peringkat berapa dalam ujian bayangkara??”


            Dewangkara menggaruk kepalanya merasa enggan untuk menjawab.


            “Dewangkara peringkat satu dalam ujian bayangkara beberapa tahun yang lalu.” Jawaban itu diberikan oleh Hattali Yasodana yang diam-diam melihat pertandingan sederhana antara Dewangkara dan Biantara.


            “Peringkat satu??” Lingga dan Gayatri melihat Dewangkara dengan wajah terkejut.


            “Kau baik-baik saja, Biantara?” Karena ada Hattali  yang menggantikannya untuk menjawab rasa takjub Gayatri dan Lingga, Dewangkara mengalihkan pandangannya ke arah Biantara dan  berjalan ke arahnya, bermaksud untuk membantunya bangkit.


            “Ya, aku baik-baik saja.” Biantara mencoba bangkit dengan bantuan Dewangkara. “Kau benar-benar hebat, Dewangkara.”


            “Terima kasih.”


            “Kalau dia peringkat satu dalam ujian, kenapa dia di sini dan bukan menjadi bayangkara di antapura?” tanya Lingga lagi. “Kemampuannya benar-benar hebat, Rama. Harusnya dalam dua tahun dia sudah bisa menjadi pasukan elite bayangkara di antapura dan mungkin menduduki posisi Rakryan Tumenggung.”


            Dewangkara tersenyum mendengar gambaran hebat dari Lingga untuk dirinya dan menjawab,  “Harusnya memang begitu, Kangjeng Lingga. Tapi karena saya memiliki beberapa gangguan, saya tidak bisa menjadi anggota bayangkara, anggota pasukan elite apalagi menjadi Rakryan Tumenggung seperti ucapan Kangjeng.”


            Glup. Lingga menelan ludahnya karena tidak percaya jawaban yang diberikan Dewangkara padanya.


            “Jadi ... “ Hattali mengajukan pertanyaan kepada Lingga. “Karena kau masih berusaha untuk menjadi anggota bayangkara, apa kau mau belajar selama beberapa hari dengan Dewangkara?”