
Chike mengikuti langkah dirinya yang berumur 10 tahun. Ia bertekad untuk menjauhkan dirinya yang berumur 10 tahun dari kehidupan Zaky.
“Aku tau kalau kamu adalah diriku di masa lalu. Aku tau jika aku mengatakan ini akan membuatmu sangat terluka. Tapi, aku harus melakukan ini untuk menjauhkan mu dari kehidupan Paman Zaky untuk selamanya. Aku yang berasal dari 10 tahun yang lalu tidak mempunyai pilihan selain menjauhi Paman Zaky. Aku yang sekarang harus mewujudkan hal itu,” tekad Chike dalam hati.
Chike kecil menyadari jika ada seseorang yang sedang mengikuti dirinya. Ia berhenti dan ingin berbalik. Chike yang melihat itu dengan cepat memegang bahunya dan membuat Chike kecil menghadap dirinya.
“Jangan pernah datang mencari Paman lagi. Jangan pernah kembali lagi ke sini. Jangan pernah datang untuk melihatnya lagi. Aku tau kamu pasti sangat merindukannya. Tapi aku tidak peduli tentang itu, kamu harus menjauh dari hidupnya. Pergi sejauh mungkin dari kehidupan Paman Zaky. Kamu harus melakukan ini jika tidak ingin merasakan penyesalan di kemudian hari.”
Chike langsung mengatakan tekadnya pada Chike kecil yang tidak mengetahui apa pun. Chike mengatakan itu dengan mata yang berkaca-kaca. Ia sebenarnya tidak ingin melakukan itu, namun ia harus.
“Jika kamu tidak ingin hidup dalam perasaan bersalah selama 10 tahun...Jika kamu tidak ingin Paman Zaky mati, maka kamu harus menjauh dari kehidupannya. Apa kamu mengerti?!!” seru Chike yang meminta kepastian.
“Apa yang sedang Bibi katakan?” tanya Chike kecil yang sudah menangis. Ia tak tau mengapa wanita di depannya tiba-tiba menyuruhnya untuk menjauhi Zaky. Ia merasa takut dan sedih atas ucapan Chike.
“Jangan menangis... Jawab aku!! Apa kamu mengerti perkataanku?! Jika tidak, Paman akan mati karena dirimu. JAWAB AKU!!!!” seru Chike.
“HEI, CHIKE!!!” seru Zaky menolak pelan bahu Chike hingga melepaskan pegangannya pada bahu Chike kecil.
“APA YANG SEDANG KAMU LAKUKAN??!!!!” Zaky berseru marah. Ia berniat mengikuti Chike karena merasa khawatir. Namun, ia malah harus melihat adegan yang membuatnya marah.
“Jangan ikut campur. Ini adalah urusanku dengannya!”Air mata Chike hampir mengalir, namun masih sanggup ditahan.
“BAGAIMANA BISA KAMU MENGATAKAN AKU TIDAK BOLEH IKUT CAMPUR?!!! KAMU SEDANG MENGANCAM SEORANG ANAK KECIL!!” Zaky kembali berseru marah.
“Jangan takut, ada aku di sini. Kamu jangan menangis lagi, oke? Apa kamu baik-baik saja?” tanya Zaky khawatir. Ia memeriksa kondisi Chike kecil, takut jika ia terluka. Sedangkan Chike kecil sudah menangis tersedu-sedu.
“Apa kamu memang orang yang seperti itu??!!” tanya Zaky pada Chike yang hanya berdiri. Ia masih berusaha menenangkan Chike kecil yang menangis.
“Kamu tidak akan pernah mengerti,” sahut Chike.
“MENGERTI??!! APA YANG HARUS AKU MENGERTI???!!! APA KAMU MEMANG ORANG YANG SEPERTI ITU, CHIKE ZIZAYA?!!!” hardik Zaky tak habis pikir. Ia tak menyangka Chike akan melakukan sesuatu yang begitu rendah.
Chike menundukkan kepalanya. Ia berusaha menahan isakannya yang ingin lolos. Mendengar Zaky yang begitu marah padanya membuat hatinya begitu sakit.
“Maaf....” ucap Chike pelan, setelah itu ia langsung pergi.
“CHIKE ZIZAYA!!!” seru Zaky memanggil Chike yang sudah pergi menjauh. Ia menggaruk kepalanya frustasi, pusing dengan tindakan Chike.
*****
Malam hari
Zaky berada di dalam kamarnya. Ia berpikir keras untuk menemukan jawaban atas sikap Chike yang tidak pernah bisa dimengertinya. Sebenarnya apa tujuannya? Mengapa ia melakukan semua itu?
Zaky terus berpikir keras, mencoba menyusun setiap kepingan ingatannya bak puzzle. Semua ingatannya bermunculan kayaknya sebuah kaset.
“Kalau begitu aku minta maaf, sepertinya aku melupakannya. Tapi, seharusnya aku tidak memiliki riwayat ingatan yang buruk. Ah, sudahlah! Kalau begitu siapa namamu? Beritahu aku siapa namamu.”
“Chike Zizaya, Paman. Chike Zizaya.”
“Omong-omong, aku belum tau siapa nama kamu. Kemarin aku lupa untuk menanyakannya. Jadi, siapa namamu gadis kecil?”
“Chike.”
“Siapa?”
“Chike, Paman. Chike Zizaya.”
“Memangnya berapa umurmu?”
“Aku? Tanggal 2 Mei lalu usiaku genap 20 tahun.”
“Berapa usiamu sekarang?”
“Usiaku 10 tahun, Paman.”
Ingatan Zaky tentang Chike dan Chike kecil terus saja berputar di pikirannya. Ia terus berusaha berpikir keras agar segera menemukan jawaban yang dicari.
Ingatannya tentang percakapan Dava dengan orang tuanya juga bermunculan. Ia bahkan juga mengingat percakapannya dengan Chike melalui telepon.
“Dan apakah Om dan Tante tau? Dia bahkan mengatakan bahwa mereka sudah saling kenal selama 10 tahun.”
“Benarkah? Apakah dia teman SMP-mu?”
“Apa ini kamu, Paman?”
“Siapa ini?”
“I-ini benar-benar kamu kan?”
“Ini benar-benar kamu, Paman.”
“Halo? Apa anda masih di sana?”
“Apa anda yang menelepon saya juga kemarin?”
“Anda pasti melakukan kesalahan. Silahkan periksa kembali nomor panggilan yang ingin anda tuju.”
“Ini kamu, Paman!”
“A-aku merindukanmu. A-aku benar-benar sangat merindukanmu, Paman Zaky.”
“10 tahun...” Zaky berusaha untuk menyusun semua kejadian itu menjadi sebuah jawaban. Ia benar-benar berpikir dengan keras untuk memecahkan kepingan puzzle itu.
“Kamu yang seharusnya mati, bukan aku mau pun Paman.”
“Seharusnya kamu yang harus mati!! TAPI KENAPA HARUS PAMAN?!!! KENAPA?!!”
“Dasar kamu bajingan keji...hiks.”
“Kamu seharusnya tidak membunuh Paman...”
“AARRRGGGG!!!”
“Kenapa?? Kenapa??!!! Hiks.”
“CHIKE!!!”
“Ada apa Chike??!!”
“Paman...”
“Ya, aku ada di sini sekarang.”
“Hiks... Paman, kali ini kamu tidak boleh mati.”
“Oke, aku tidak akan mati. Tidak akan.”
“Kumohon padamu, Paman. Hiks, tolong jangan mati.”
“Iya, aku tidak akan mati. Jadi, Jangan menangis lagi, Chike.”
“Kumohon padamu, Paman. Berjanjilah kalau kamu tidak akan mati kali ini.”
“Iya, aku berjanji. Aku tidak akan mati seperti yang kamu takutkan.”
“Kamu tidak boleh mati. Jangan buat aku menyesal untuk kedua kalinya. Aku tidak akan sanggup untuk menerimanya.”
Zaky mengingat kejadian semalam. Ia terus berusaha menyusun dan mencocokkan setiap kejadian. Kejadian tadi pagi juga tak luput dari ingatannya.
“Jangan pernah datang mencari Paman lagi. Jangan pernah kembali lagi ke sini. Jangan pernah datang untuk melihatnya lagi. Aku tau kamu pasti sangat merindukannya. Tapi aku tidak peduli tentang itu, kamu harus menjauh dari hidupnya. Pergi sejauh mungkin dari kehidupan Paman Zaky. Kamu harus melakukan ini jika tidak ingin merasakan penyesalan di kemudian hari.”
“Jika kamu tidak ingin hidup dalam perasaan bersalah selama 10 tahun...Jika kamu tidak ingin Paman Zaky mati, maka kamu harus menjauh dari kehidupannya. Apa kamu mengerti?!!”
Zaky menggaruk kepalanya frustasi. Ia benar-benar bingung dengan semua itu. Namun, Zaky tiba-tiba bangun dari duduknya ketika menemukan sebuah titik terang atas jawaban yang dicari.
Walau pun ia meragukan kesimpulannya itu, namun ia harus memastikannya. Ia segera memakai jaketnya dan pergi ke kamar Chike untuk meminta kepastian jawaban. Apakah kesimpulan yang ia buat benar atau salah? Entahlah, makanya ia harus menemui Chike.
TOK! TOK! TOK!
Zaky mengetuk pintu kamar Chike, namun tak mendapatkan jawaban. Ia kembali mencoba mengetuk pintu.
TOK! TOK!
“Chike!!” Zaky mencoba memanggil namun tak ada sahutan. Zaky mencoba membuka pintu dan ternyata berhasil! Sepertinya Chike lupa mengunci pintu kamarnya.
Zaky melihat sekitar, apakah ada orang yang lewat atau tidak? Ketika ia tidak melihat seorang pun, dengan ragu ia masuk ke dalam kamar Chike. Zaky melepaskan sepatunya dan menghidupkan lampu kamar Chike yang mati.
“Apa ini? Ke mana Dia pergi?” tanya Zaky pada dirinya sendiri ketika melihat kamar Chike yang kosong. Dengan langkah perlahan ia mulai menjelajahi setiap sudut kamar.