
Setelah kembali dari pekerjaannya, Dewangkara mengantarkan Gayatri dan Biantara kembali ke kediaman milik Rakryan Mahapatih Nambi di mana mereka tinggal untuk sementara waktu ketika berada di ibu kota. Sebelum kembali ke kediamannya, Dewangkara menyempatkan dirinya untuk bertemu dengan Hattali Yasodana. Dewangkara ingin meminta saran kepada Hattali Yasdana mengenai ingatannya yang hilang dan konsekuensi yang mungkin harus dihadapinya ketika ingatan itu kembali.
“Kangjeng Hattali, apakah saya mengganggu jika ingin bertanya pada Kangjeng??” Dewangkara yang muncul di depan ruang tidur, langsung mengetuk pintu kamar Hattali.
Kebetulan Hattali sedang sibuk dengan pembukuannya dan mengatur beberapa barang yang akan dibawanya untuk kepulangannya besok ke Tarik. Hattali menutup catatannya dan melihat ke arah Dewangkara dengan senyuman tipis. “Tentu tidak, Kangjeng Dewangkara. Masuklah dan kita bisa bicara.”
Setelah mendapat persetujuan dan dipersilakan untuk masuk, Dewangkara masuk ke dalam ruang istirahat Hattali. Dewangkara mengambil kursi di sudut ruangan dan membawanya ke dekat meja kerja Hattali di mana Hattali tadi duduk dengan kesibukannya.
“Jadi ... apa yang ingin Kangjeng Dewangkara tanyakan pada saya?”
Dewangkara mengatur nafasnya, menguatkan mentalnya dan tekadnya sebelum bertanya kepada Hattali. Setelah beberapa kali mengatur nafasnya dan memastikan tekadnya, Dewangkara bertanya kepada Hattali. “I-ini soal ingatan saya yang hilang. Menurut Kangjeng apakah membuat kembali ingatan itu kembali akan merugikan banyak orang?”
“Kenapa Kangjeng mengatakan hal itu?”
“Rama selalu melarang saya untuk mengingat ingatan yang hilang itu, Kangjeng. Alasan itu membuat saya berniat untuk mengubur keinginan itu selama ini, Kangjeng. Tapi semalam ... dalam mimpi buruk saya itu, saya melihat sesuatu yang janggal. Ingatan yang hilang itu mungkin menyimpan sesuatu yang penting seperti ucapan Kangjeng pada saya.”
Hattali menganggukkan kepalanya mengingat ucapannya sendiri kepada Dewangkara. “Aku merasa mimpi buruk yang terus menerus muncul bertujuan untuk membuat Kangjeng mengingat kembali ingatan saat itu. Terlepas dari penting atau tidaknya ingatan itu, ketika Kangjeng mengingatnya Kangjeng tidak perlu mengatakannya pada siapapun jika merasa ingatan itu menyimpan sesuatu yang penting dan mungkin berbahaya. Tapi bukankah lebih baik bisa mengingat ingatan itu lagi dan bersiap-siap, dari pada tidak tahu sama sekali dan tidak bisa mempersiapkan diri?”
Dewangkara menganggukkan kepalanya. Dewangkara setuju dengan ucapan Hattali Yasodana. Setidaknya aku bisa bersiap-siap jika ada bahaya yang sedang mengintai, ucap Dewangkara di dalam benaknya sembari mengingat kembali mimpi buruknya semalam.
Senyuman itu. Wajah penuh kemenangan itu, benar-benar menggangguku. Ketika semua orang bersedih, ketika semua orang memasang wajah tidak tega, ketika semua orang memasang wajah tidak percaya, dialah satu-satunya orang yang tersenyum penuh kemenangan seolah peristiwa berdarah yang mengerikan itu adalah sesuatu yang paling diinginkannya.
“Kenapa tiba-tiba Kangjeng berniat untuk mengembalikan ingatan itu?” tanya Hattali.
“Semalam aku melihat sesuatu yang tidak biasa dalam mimpiku. Kali ini wajah dan senyuman itu muncul dengan sangat jelas dalam mimpiku dan aku merasa aku harus segera menemukan ingatan itu. Aku merasa sesuatu yang buruk mungkin akan terjadi lagi, meski aku tidak bisa memastikannya.” Dewangkara berusaha memberikan penjelasan meski tidak memberikan rincian dari mimpinya semalam. Dewangkara merasa mimpi buruknya itu mungkin akan membawa masalah pada orang lain jika diceritakan kepada orang lain.
“Sepertinya Kanjeng sudah memutuskan untuk mengingatnya lagi?”
Dewangkara menganggukkan kepalanya lagi. “Ya, Kangjeng. Saya datang kemari untuk bertanya bagaimana cara saya untuk membuat ingatan itu kembali?”
Tuk ... tuk ... tuk. Hattali mengetukkan jarinya beberapa kali ke atas meja sebelum memberikan sarannya kepada Dewangkara. “Kenapa tidak pergi ke tempat di mana Kanjeng kehilangan ingatan? Mengingat Kanjeng menyebut nama Rakryan Tumenggung Sena, itu artinya tempat di mana Kangjeng mungkin kehilangan ingatan adalah ibu kota lama. Mungkin dengan pergi ke sana, ingatan Kangjeng akan kembali.”
Dewangkara menganggukkan kepalanya lagi. “Itu benar, Kangjeng. Enam belas tahun yang lalu saya kehilangan ingatan saya ketika masuk ke dalam antapura. Sejak saat itu saya dilarang masuk ke dalam antapura oleh Rama. Bahkan ketika ibu kota akhirnya dipindahkan, Rama tetap melarang saya untuk masuk ke dalam antapura. Beberapa tahun yang lalu saya ikut ujian untuk menjadi bayangkara di antapura, saya lolos tapi Rama membuat saya akhirnya tidak bisa menjadi bayangkara karena penyakit dan mimpi buruk saya.”
“Ujian bayangkara? Kangjeng mengikutinya?”
Dewangkara menganggukkan kepalanya dengan sedikit malu. “Ya, Kangjeng. Jika bukan karena penyakit saya itu, mungkin sekarang saya tidak akan bertemu dengan Kanjeng karena sibuk berperang.”
“Apakah sesulit itu?” Dewangkara menggelengkan kepalanya. “Menurut saya, ujian itu benar-benar mudah. Dari ujian tulis hingga ujian lapangan menurut saya, itu bukan ujian yang sulit.”
“Kangjeng peringkat berapa sampai bilang ujian itu mudah? Dari cerita keponakan saya, ujian tulis itu benar-benar sulit. Pertanyaan itu mencakup cara bercocok tanam dan masalah yang ada di kerajaan ini, bahkan beberapa pertanyaan dalam ujian membahas mengenai pemberontakan yang terjadi pada masa kepemimpinan Maharaja pertama. Lalu untuk ujian lapangannya, setiap orang diuji dalam berkuda, memanah, menggunakan pedang, hingga mengatur strategi perang. Bukankah itu ujian yang sulit, Kangjeng? Siapa orang yang mampu menguasai semuanya??”
Dewangkara tersenyum melihat gambaran dari ujian bayangkara yang diucapkan oleh Hattali kepada dirinya. “I-itu sepertinya keponakan Kangjeng sedikit melebih-lebihkan. Banyak pria di ibu kota yang mampu menguasai semua ujian lapangan itu, Kangjeng. Meski beberapa orang tidak lihai tapi beberapa orang mampu menggunakan pedang untuk membunuh lawan. Beberapa pria mampu menembakkan panah meski harus beberapa kali meleset dari sasaran.”
Hattali menatap ke arah Dewangkara dengan tatapan bingung karena sejak tadi gambaran ujian yang diucapkan oleh Dewangkara terkesan mudah. Hal itu berbanding terbalik dengan gambaran yang diceritakan oleh keponakannya pada Hattali. “Kangjeng belum menjawab pertanyaan saya tadi. Kangjeng peringkat berapa dalam ujian itu?”
“Haruskah saya menjawabnya, Kangjeng?” Dewangkara tadinya tidak ingin mengatakan peringkat ujiannya karena merasa sedkit malu dengan keadaannya saat ini.
“Ya, Kangjeng. Jadi ketika saya bertemu dengan keponakan saya lagi, saya bisa menjelaskan padanya jika ceritanya pada saya mungkin hanya dilebih-lebihkan saja.”
“Dalam ujian itu, saya diperingkat pertama, Kangjeng.”
“Pertama?” Hattali mengulangi kata itu lagi karena tidak percaya dengan apa yang didengar oleh kedua telinganya baru saja.
“Ya, Kangjeng Hattali. Saya berada di peringkat pertama dalam ujian itu.”
Hattali melongo mendengar ucapan Dewangkara. Dirinya benar-benar terkejut karena saat ini di hadapannya ada seseorang dengan nilai terbaik dalam ujian bayangkara. Jika saja keponakan itu ikut dalam kepergianku kali ini ...
“Bagaimana Kangjeng bisa menguasai semuanya??”
Dewangkara memiringkan kepalanya karena bingung tidak tahu bagaimana harus menjelaskan kepada Hattali. “I-itu saya juga tidak tahu, Kangjeng.”
Hattali mengerutkan keningnya. “Kenapa bisa begitu?”
“Untuk ujian tulis, saya bisa menjawabnya karena sejak kecil saya biasa mendengarkan Rama saya membaca laporan pekerjaannya. Tapi untuk ujian lapangan, sejujurnya itu adalah pertama kali saya mencoba melakukannya. Karena penyakit saya, Rama melarang saya untuk berlatih pedang, memanah atau berkuda. Tapi sejak kecil saya sering ikut saudara-saudara saya berlatih dan melihat mereka.”
“Hanya melihat??” Hattali mengulangi dua kata itu karena tidak bisa percaya dengan pendengarannya untuk kedua kalinya.
Dewangkara menganggukkan kepalanya. “Ya, Kangjeng. Saya hanya melihat dan tanpa saya sadari saya bisa menguasainya.”
Hattali menggerutu di dalam benaknya karena menyesal telah bertanya pada Dewangkara. Aku bertanya pada orang yang salah.
Hattali menatap ke arah Dewangkara, kali ini tatapannya berubah sedikit sedih. Sayang sekali bakat istimewa ini tidak dimanfaatkan dengan baik. Jika saja bukan karena penyakit itu, jika saja bukan karena ingatannya yang hilang, mungkin anak ini sudah menjadi Rakryan Tumenggung sehebat Rakryan Tumenggung Sena. Benar-benar sayang sekali.