ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
MASA LALU: RENCANA PERNIKAHAN PART 4



             Danapati sepertinya benar-benar ingin memenangkan adu tanding ini. Bagaimana tidak? Pertandingan Danapati berlangsung tidak dalam waktu yang lama dengan keadaan lawannya yang tewas. Danapati yang selama ini terlihat seperti pecundang kali ini memperlihatkan kemampuannya yang sebenarnya. Maklum beberapa tahun yang lalu, Danapati pun pernah lulus ujian masuk bayangkara tapi berakhir dikeluarkan karena kelakuan Danapati yang tidak bisa disiplin dan menaati peraturan yang ada.


            Lalu untuk adu tanding antara Dewangkara dengan lawannya sebelum melawan Danapati yang dipastikan maju ke babak akhir, pertarungan itu berlangsung cukup seru meskipun pada akhirnya lawan Dewangkara memilih untuk menyerah karena ketakutan melihat bagaimana nasib dari lawan Danapati yang tewas tanpa sempat mengatakan menyerah.


            “Kenapa kau tidak menggunakan tombak dan teknikmu yang waktu itu?” Setelah selesai dengan adu tandingnya, Dewangkara diizinkan untuk istirahat sejenak sebelum pertandingan terakhir. Dan Danapati yang sudah sangat tidak sabar ingin mengalahkan Dewangkara, menghampiri Dewangkara untuk bertanya.


            “Kenapa kau penasaran dengan teknik itu?” balas Dewangkara yang masih mengatur nafasnya setelah pertandingannya.


            “Minumlah ini, Dewangkara.” Gayatri dan Biantara yang selalu di dekat Dewangkara ketika Dewangkara tidak bertanding, memberikan minum untuk Dewangkara dan membuat Danapati yang melihatnya merasa kesal.


            “Aku hanya penasaran ingin melawan teknikmu itu, Dewangkara. Dan lagi ...” Danapati melihat dengan sengit ke arah Gayatri dan Biantara yang selalu berada di dekat Dewangkara. “Kenapa dua orang ini selalu menempel padamu, Dewangkara??”


            Dewangkara tersenyum mendengar pertanyaan dari Danapati. “Kenapa?? Kau cemburu?? Kau bilang ingin menikahi Gayatri, tapi kau tidak sanggup menarik perhatian Gayatri padamu. Bukankah itu namanya kau berangan-angan terlalu tinggi, Danapati??”


            “Kau!!!” Danapati hendak melayangkan pukulannya ke arah Dewangkara.  Namun tangannya dihentikan oleh Biantara yang bergerak dengan cepat. Dan hal itu membuat Danapati semakin kesal saja. “Beraninya kau menahan pukulanku, huh??”


            “Cukup, Danapati!!!!” Kali ini suara itu datang dari arah Dyah Halayuda yang tiba-tiba datang ke tempat di mana Dewangkara sedang beristirahat.


            “Paman!” Danapati langsung menarik tangannya dan langsung mengubah sikapnya ketika melihat kedatangan Dyah Halayuda.


            Di sisi lain Dewangkara yang melihat wajah Dyah Halayuda kembali teringat dengan kenangan lamanya ketika Dyah Halayuda tersenyum senang melihat kematian dari Rakryan Tumenggung Sena. Akhirnya aku bertemu dengan orang ini lagi.


            “Salam, Dyah Halayuda.” Dewangkara memberikan salamnya kepada Dyah Halayuda yang diikuti oleh Gayatri dan Biantara.


            “Salam.” Dyah Halayuda membalas salam dari Dewangkara bersama dengan Gayatri dan Biantara sebelum bicara kepada Danapati. “Kenapa kau di sini, Danapati? Kau ingin dibuat gagal dalam adu tanding ini karena memukul lawanmu sebelum pertandingan dimulai??”


            “Itu ... “ Danapati yang tadi bicara dengan berani kini bicara dengan sedikit gugup di depan Dyah Halayuda dan membuat Dewangkara menyadari Danapati takut dengan pamannya sendiri.


            “Kau benar-benar tidak berubah, Danapati!! Cepat kembali ke tempatmu sana!!!” Dyah Halayuda kemudian mengusir Danapati untuk kembali ke tempat istirahatnya sendiri. Setelah membuat Danapati pergi, Dyah Halayuda kemudian melihat Dewangkara dengan senyuman di bibirnya. “Sejak kabar itu terdengar, sama seperti Maharaja, aku cukup penasaran denganmu, Dewangkara. Sayang sekali ... kau tidak menjadi bayangkara di antapura. Jika kau menjadi bayangkara beberapa tahun yang lalu, mungkin sekarang kau sudah duduk di posisi Rakryan Tumenggung, Dewangkara.”


            Dewangkara menundukkan kepalanya sebelum membalas ucapan Dyah Halayuda. “Kangjeng terlalu meninggikan saya. Saya tidak sehebat itu, Kangjeng.”


            “Ah benarkah??” Dyah Halayuda masih tersenyum melihat ke arah Dewangkara. “Kuharap aku bisa melihat kehebatanmu setelah ini, Dewangkara. Maharaja secara khusus menyiapkan hadiah untukmu jika pemenang dalam adu tanding ini adalah kau, Dewangkara.”


            Setelah mengatakan hal itu, Dyah Halayuda pergi dari tempat istirahat Dewangkara dan membuat Gayatri dan Biantara yang mendengar percakapan dari Dewangkara, merasa sedikit cemas.


            “Kau benar, Biantara. Orang itu saat ini adalah orang kepercayaan Maharaja dan orang yang mungkin sedang merencanakan sesuatu untuk Ramaku.”


            “Apa tidak apa-apa kau memenangkan pertandingan ini, Dewangkara?” tanya Gayatri khawatir. “Seperti ucapan pria itu, Maharaja dengan khusus menyiapkan hadiah jika kau adalah pemenang adu tanding ini. Dewangkara.”


            “Tenang saja, Gayatri.” Dewangkara berusaha untuk menghilangkan kecemasan Gayatri. “Ramaku pasti sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh Dyah Halayuda dengan Maharaja. Jadi jebakan ini, harusnya ... aku bisa keluar dengan baik nantinya.”


            Percakapan antara Dewangkara dengan Gayatri dan Biantara kemudian berakhir ketika terdengar suara pukulan gong yang kencang sebagai tanda pertandingan terakhir dari adu tanding dimulai.


            Prok ... prok ... Tepuk tangan semua orang yang melihat adu tanding itu terdengar sangat kencang hingga menggema ke seluruh penjuru ibu kota. Maharaja bersama dengan Rakryan Mahapatih Nambi dan Dyah Halayuda juga ikut bertepuk tangan dengan harapan pertandingan terakhir ini akan menjadi pertandingan yang sangat menarik.


            Di sisi panggung tanding, Danapati yang ingin melawan teknik tombak milik Dewangkara sengaja memilih tombak sebagai senjatanya. Danapati ingin menunjukkan pada semua orang bahwa teknik tombak milik Dewangkara tidak sehebat kelihatannya dengan membuat Dewangkara kalah dalam pertandingan ini. Dewangkara yang memahami niat Danapati, kemudian mengambil tombak sebagai senjatanya dan membuat Danapati mendapatkan keinginannya.


            Buk. Dua tombak yang digenggam oleh Dewangkara dan Danapati saling bertabrakan. Keduanya saling mengayunkan tombaknya masing-masing untuk menjatuhkan lawannya. Tapi setelah sekian lama adu tombak itu terjadi, tidak ada satupun dari Dewangkara dan Danapati yang kelelahan dan berniat untuk menyerah.


            Buk. Dua tombak yang digenggam oleh Dewangkara dan Danapati terus memukul bagian tubuh dari lawannya tapi tidak menemukan celah untuk mengakhiri pertandingan dan membuat lawannya jatuh tidak berdaya. Baik Dewangkara dan Danapati sama-sama bertekad untuk mendapatkan kemenangan dari Maharaja dengan tujuan yang berbeda.


            Ini tidak akan berhasil. Jika terus seperti ini, kami berdua hanya akan terus bertarung dan akhirnya kalah oleh kelelahan. Sembari menghadapi serangan dari Danapati, Dewangkara yang sedang memikirkan strategi untuk melawan Danapati sedang mencari solusi untuk mengakhiri pertandingan ini dan mendapatkan kemenangannya.


            Tidak bisa begini!! Aku harus mencari jalan lain untuk mengakhiri pertandingan ini!! Sembari terus mengayunkan tombaknya melawan Danapati, Dewangkara berusaha untuk menemukan celah kesempatan untuk mengubah keadaan dan posisinya.


            Buk. Celah yang ditunggu Dewangkara akhirnya datang. Danapati yang tidak terbiasa menggunakan tombak, mulai kelelahan mengayunkan tombak dan membuat pukulan Dewangkara berhasil membuat jatuh tombak milik Danapati. Tombak milik Danapati menancap di arena dan kesempatan itu digunakan dengan baik oleh Dewangkara.


            Dewangkara mengayunkan tombaknya dan memukul perut Danapati dan membuatnya terhempas ke pinggir arena. Gagal menggunakan tombak, Danapati mengambil pedang yang disediakan di pinggir arena untuk melawan Dewangkara. Danapati berlari ke arah Dewangkara dengan menghunuskan pedangnya dengan niat membunuh Dewangkara.


            Melihat cara yang sama ketika sedang bertanding dengan Biantara, Dewangkara tersenyum melihat ke arah pedang yang terhunus padanya. Dalam jeda waktu yang cukup singkat, Dewangkara menghitung jarak lompatan yang akan dibuatnya dengan tombak sebagai penumpunya. Setelah melakukan hal itu dan Danapati masuk dalam perkiraan jaraknya, Dewangkara berlari ke arah Danapati kemudian melompat tinggi dengan tombak miliknya sebagai penumpunya.


            Sama seperti Biantara yang membeku melihat lompatan tinggi Dewangkara, Danapati pun membeku karena terkejut dan kesempatan itu digunakan dengan baik oleh Dewangkara.


            Buk. Dengan jeda waktu yang sangat singkat, Dewangkara langsung mengayunkan tombak miliknya begitu mendarat dan memukul Danapati dengan sangat keras hingga terhempas ke sisi lain arena. Pukulan yang keras itu akhirnya membuat Danapati kehilangan kesadaran dirinya dan membuatnya mengalami kekalahan.


            “Wuahhhhhh ....” Sorakan semua orang yang menonton terdengar begitu Danapati kehilangan kesadarannya dan membuat Dewangkara keluar sebagai pemenang adu tanding.