ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
AKHIR KISAH DEWANGKARA DAN GAYATRI PART 1



            Aku membuka kedua mataku dan mendapati ruangan di mana aku berada sangatlah gelap. Di mana ini? Di mana aku? Dua pertanyaan itu muncul di dalam benakku sembari kedua mataku berusaha mencari titik terang untuk melihat. Hosh ... hosh ... di saat yang sama nafasku terasa sesak. Tanpa sadar aku mengangkat kedua tanganku untuk meminta tolong, tapi kedua tanganku menabrak sesuatu yang ada di depanku.


            Buk. Kedua tanganku memukul sesuatu di depanku dan aku sadar ada sesuatu yang menghalangi penglihatanku di depanku. Buk ... buk ... buk ... Aku memukul beberapa kali benda di depanku dan kreeet .... benda itu bergerak, membuat cahaya masuk dan membantuku untuk melihat.


            Aku melangkah keluar dan menyadari bahwa tubuhku berada dalam lemari kecil yang cukup sempit. Lemari itu hanya memiliki sedikit celah dan ruangan di mana lemari itu berada adalah ruangan gelap dengan sangat sedikit cahaya.


            “Akkhhhh!”


            Dari arah luar ruangan di mana aku berada, aku mendengar teriakan dan itu bukan hanya satu dua kali teriakan. Aku berjalan ke sisi dinding ruangan untuk menemukan saklar lampu di ruangan ini dan klik, lampu menyala.


            “Akhhhkkkh!”


            Dar ... dar ... dar ....


            Dar ... dar ... dar ....


            Kali ini aku mendengar teriakan bersamaan dengan beberapa suara tembakan. Sesuatu sedang terjadi di luar sana!!! Aku melihat ruangan di mana aku berada dan menemukan sebuah cermin di ruangan itu. Aku menatap diriku sendiri dan kemudian mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Samar-samar aku mengingat Bara dan ucapan terakhirnya.


            “Sial!! Pernikahanku dan Cintya!!!”


            Brakkk ... aku membuka pintu dengan kencang dan langsung berlari menuju ke arah suara tembakan dan teriakan berasal. Semakin dekat dengan tujuanku, semakin aku melihat banyak orang berlarian ke arah yang berlawanan denganku.


            “Aula ... sesuatu terjadi di aula pernikahanku dengan Cintya yang harusnya diadakan,” gumamku.


            Dar ... dar ... dar ....


Dar ... dar ... dar ....           


Aku terus berlari melawan arus untuk melihat apa yang terjadi dan semakin aku dekat ke aula, semakin kencang suara tembakan itu terdengar. Deg.  Firasatku mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Perasaan ini ... adalah perasaan yang sama ketika aku melihat Gayatri dan setiap putaran kehidupannya kehilangan Dewangkara dan reinkarnasinya. Siapapun itu, semoga aku tidak lagi kehilangan. Siapapun itu, tolong jaga dia dengan baik.


Bruaak!


Di tengah usahaku untuk menembus arus manusia-para undangan untuk menyelamatkan diri, tubuhku menabrak seseorang dan membuatku menatap dirinya.


“Radittya??”


Aku menatap orang itu dan mengenali wajahnya. Dia adalah Gulzar Vamana.


“Ya, ini saya, Tuan Gulzar. Apa yang terjadi di sana?? Saya mendengar suara tembakan dari sana. Apakah Nona Cintya baik-baik saja?”


            Gulzar Vamana menatapku dengan tatapan terkejut, tidak percaya dan wajahnya menjadi pucat seolah sedang melihat hantu.


            “Tuan Gulzar??” Aku bertanya lagi.


            “K-kau?? Bagaimana kau bisa ada di sini?? Bukankah harusnya kau di dalam untuk melindungi Cintya???” Gulzar masih melihatku dengan tatapan terkejut.


            “A-apa maksudnya dengan di dalam, Tuan? Saya baru saja sadar dari tidur karena ulah Bara-“ Aku terdiam mengingat apa yang Bara lakukan padaku. Dia membiusku untuk melindungiku dan membawaku kemari dengan aman. Tapi kenapa ketika berada di sini, dia tidak membangunkanku dan mengunciku di lemari di ruang ganti??


            Dar ... dar ... dar ....


            Dar ... dar ... dar ....


            Dar ... dar ... dar ....


            “Maafkan saya, Tuan Gulzar. Saya tahu Tuan akan senangtiasa berada di pihak Nona Cintya, sekarang saya harus pergi untuk melindungi Nona Cintya. Mohon Tuan mengamankan semua tamu undangan hari ini.” Sebelum pergi bergegas ke arah Nona Cintya, aku menundukkan kepalaku kepada Gulzar Vamana untuk meminta bantuannya.


            “Bagaimana kau yakin aku selalu berada di sisi Cintya?” Gulzar bertanya padaku dengan nada seriusnya.


            “Saat ini adalah jawabannya. Jika Tuan punya niat buruk pada Nona Cintya, saat ini juga Tuan pasti akan membunuh saya. Tuan tahu saya adalah kunci penting bagi Nona Cintya untuk mewujudkan keinginannya.”


            Dar ... dar ... dar ....


            Dar ... dar ... dar ....


            Dar ... dar ... dar ....


            “Kau benar, Raditya.” Gulzar Vamana tersenyum padaku. “Tidak heran Cintya memilihmu. Kau bahkan lebih peka dari Bara dalam hal ini. Kau bisa bergegas untuk membantu Cintya, untuk yang lainnya kau bisa serahkan padaku.”


            Para tamu undangan yang berlari keluar akhirnya berakhir. Dari kejauhan aku melihat pintu aula pernikahan yang terbuka. Dari posisiku, aku dapat dengan jelas melihat adu tembak antara keluarga Yasodana dan Wardana dengan tiga keluarga Wardana yang telah menjadi korbannya. Yang lebih mengejutkan adalah aku melihat seseorang yang mengenakan pakaian pernikahanku dan memiliki wajah yang mirip denganku.


            “Itu aku??” Aku bergumam kecil melihat seseorang yang memiliki wajah yang mirip denganku berdiri melindungi Nona Cintya.


            Tidak! Itu bukan aku! Aku meyakinkan diriku melihat cara orang yang mengenakan pakaian pernikahan dan memiliki wajah yang mirip denganku itu, ketika menggunakan pistol di tangannya. Bara, apa yang kau lakukan dengan menyamar sepertiku???


            Aku berniat berlari ke arah Bara yang menyamar sepertiku untuk melindungi Nona Cintya. Tapi sebelum aku tiba untuk membantu, Bagaspati Wardana akhirnya diringkus dan berhasil ditangkap.


            Rencana Bara berhasil.


            “Kau bukan Raditya??” Dari tempatku berdiri, aku mendengar Nona Cintya mengatakan kalimat itu kepada Bara.


            “Maafkan saya, Nona. Saya terpaksa melakukan ini karena alasan yang tidak bisa dijelaskan.” Bara menundukkan kepalanya ke arah Nona Cintya untuk meminta maaf.


            “Di mana Raditya sekarang, Ba-“ Nona Cintya belum menyelesaikan pertanyaannya kepada Bara ketika sesuatu terjadi. Dar ... dar ... dar ... suara tembakan terdengar lagi. Aku menolehkan kepalaku ke arah suara tembakan itu terjadi dan menyadari tembakan itu berasal dari arah Bagaspati yang baru saja diringkus dan dibawa.


            Dari arah yang sama, tiba-tiba Bagaspati muncul dengan mengacungkan pistol ke arah Nona Cintya.  Bara yang sedang menyamar sebagai diriku secara spontan melindungi Nona Cintya dengan tubuhnya sendiri sebagai perisai untuk Nona Cintya. Dan deg ... jantungku berdetak kencang. Firasat buruk yang sejak tadi aku rasakan rupanya berasal dari kejadian yang saat ini terjadi di hadapanku.


            Dar ... Bagaspati melepaskan tembakan ke arah Bara yang berdiri di depan Nona Cintya.


            “Tidak!!!” Aku berteriak kencang sembari mengacungkan pistol yang aku bawa dan melepaskan tembakan untuk membuat arah peluru yang mengincar Bara berubah. Tapi tembakan yang aku arahkan meleset karena pengaruh obat bius yang masih tersisa di dalam tubuhku.


            “Maaf, Raditya.” Dari posisiku, aku melihat Bara sama sekali tidak punya niat untuk menghindari peluru yang datang ke arahnya dan sebaliknya dari posisi yang strategis itu, Bara melepaskan tembakan ke arah Bagaspati yang meneriakkan kemenangannya karena mengira dia telah berhasil membunuhku.


            Bruak. Bara dan Bagaspati ambruk di saat yang bersamaan.


            “Apa yang kau lakukan, Bara??” Aku langsung bertanya ke arah Bara ketika berhasil menuju ke arahnya setelah Bara ambruk dan ditangkap oleh Nona Cintya. “Kenapa kau melakukan ini dan mengorbankan nyawamu sendiri?”


            Aku melihat pakaian pernikahanku yang dikenakan Bara berubah menjadi merah karena darah Bara yang terus mengalir. Darah itu mengalir ke tanganku dan membuatku melihat alasan Bara memilih menyamar sebagai diriku.