ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
MASA LALU: KISAH YANG TIDAK BOLEH DIUNGKAP PART 6



            Ketika kembali dari antapura untuk mengunjungi Maharaja dan memberikan buah kesukaan Maharaja-anggur, Dyah Halayuda tidak langsung kembali ke kediamannya dan  justru menunggu kedatangan Danapati yang telah menyelesaikan hukumannya di kediaman keluarga Danapati.


            “Paman menunggu Raka?” Mala yang terkejut mendapati Dyah Halayuda duduk di kediamannya langsung mengajukan pertanyaan.


            “Ya, Paman menunggu Rakamu,. Hari ini berkat Rakamu, Paman nyaris saja mendapat masalah di depan Maharaja.” Dyah Halayuda mengepalkan kedua tangannya menahan amarahnya di depan keponakan tercintanya.


            “Apa yang Raka perbuat kali ini, Paman??” Agni yang tidak tahu apa-apa karena sejak pagi berada di antapura karena menerima undangan dari para pawestri, benar-benar terkejut mendengar berita itu dari Dyah Halayuda.


            “Kau tidak perlu tahu, Mala. Itu masalah Paman dengan Rakamu.” Dyah Halayuda yang sangat menyayangi keponakannya-Mala itu berusaha untuk tidak membuat Mala khawatir. “Bagaimana hari ini? Apa kau senang dengan undangan yang kau terima dari para pawestri dan masuk ke antapura?”


            Mala menunjukkan bungkusan yang dibawanya ke arah Dyah Halayuda dengan wajah senang. “Lihat ini, Paman! Aku mendapatkan hadiah dari pawestri dan seperti ucapan Paman selama ini, antapura adalah tempat yang indah. Aku tidak heran kenapa Paman selalu bahagia ketika masuk ke dalam antapura.  Di sana benar-benar tempat yang indah.”


            “Itu benar, Mala. Antapura adalah tempat yang indah dan di sana, kita bisa memiliki apapun yang kita inginkan. Karena itu Pamanmu ini sangat-sangat ingin masuk ke sana dan untuk bisa selalu datang ke sana, Pamanmu ini harus memiliki posisi yang tinggi.”


            “Dan posisi itu adalah posisi Rakryan Mahapati, benar begitu Paman?” Mala menjawab ucapan Dyah Halayuda dengan cepat karena tahu apa yang selalu didambakan oleh Dyah Halayuda.


            “Ya, itu benar.” Dyah Halayuda menganggukkan kepalanya.


            “Kapan Paman akan mendapatkan posisi itu dan membuatku bisa masuk ke antapura dengan mudahnya??” Mala bertanya dengan mata berbinar karena merasakan apa yang dirasakan oleh Dyah Halayuda.


            “Sebentar lagi. Pamanmu ini sudah mendapatkan kepercayaan dari Maharaja, yang Paman butuhkan hanyalah satu kesempatan saja.”


            Kereta yang membawa Danapati akhirnya tiba dan Dyah Halayuda langsung meminta Mala untuk segera masuk ke dalam kediaman. “Masuk ke dalam rumah dan apapun yang aku lakukan pada Ramamu, jangan pernah keluar sekalipun!!”


            Mendengar nada suara Dyah Halayuda yang berubah dingin dan sorot matanya yang kini menatap tajam ke arah Danapati yang turun dari kereta kuda, Mala merasa sedikit takut. Meski begitu, Mala mencoba untuk bertanya pada Dyah Halayuda. “Apa yang akan Paman lakukan??”


            “Memberi Rakamu itu pelajaran! Masuk dan jangan keluar apapun yang terjadi! Jika kau tidak ingin terluka, tetaplah di dalam rumah, Mala!”


            Mala yang merasa takut dengan sikap dingin Dyah Halayuda hanya bisa menuruti perintah dari Dyah Halayuda dengan langsung masuk ke dalam rumah. Sementara itu Dyah Halayuda yang melihat Danapati dibopong oleh abdi untuk masuk ke rumah, menatap Danapati dengan tatapan tajam.


            “Salam, Paman.” Danapati memberi salam kepada Dyah Halayuda dengan suara lemahnya.


            “Paman, aku-“ Danapati berusaha untuk memberikan alasan untuk perbuatannya. Namun ketika matanya menatap ke arah Dyah Halayuda dan menerima tatapan tajam dari Dyah Halayuda, Danapati tidak berani menyelesaikan alasan yang dibuatnya.


            Dyah Halayuda mengubah posisinya dan kemudian berlutut di depan Danapati. Dyah Halayuda mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan plak .... Suara pukulan tangan Dyah Halayuda di wajah Danapati terdengar sangat kencang hingga membuat semua abdi yang melihatnya langsung menundukkan kepala mereka.


            “Kau benar-benar menyusahkan, Danapati!! Karena ulahmu hari ini, aku nyaris saja mendapat masalah dan nyaris kehilangan semua usahaku untuk menarik hati Maharaja!”


            Danapati menundukkan kepalanya sembari memegang wajahnya yang menerima tamparan dari Dyah Halayuda. “Itu ... jika bukan karena Dewangkara, aku tidak akan tertangkap, Paman. Dan jika aku tidak tertangkap, aku tidak akan membuat masalah untuk Paman.”


            Danapati membuat alasan dan hal itu justru membuat Dyah Halayuda merasa semakin kesal saja.  Amarahnya memuncak lagi dan plak .... Dyah Halayuda mengayunkan tangannya yang lain dan memukul sisi lain dari wajah Danapati. “Jangan kau kira, aku tidak tahu apa yang terjadi Danapati!!! Masalah yang kau buat hari ini bukan karena Dewangkara yang menangkapmu dan membawamu ke pengadilan., tapi karena kau menggoda istri dari sudagar asing yang datang ke ibu kota. Paman sangat berterima kasih pada Dewangkara yang telah membawamu ke pengadilan karena jika kerusakan yang ditimbulkan oleh ulahmu  ini lebih besar lagi, maka Maharaja sendiri yang turun tangan untuk menghukummu!! Dan jangan harap kau masih bisa melihat hari esok, jika Maharaja sendiri yang memberi hukuman padamu, Danapati!!!”


            Danapati menundukkan kepalanya dan kali ini tidak lagi bisa membuat alasan untuk membela dirinya sendiri. “I-itu ... maafkan aku, Paman. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku berjanji!”


            “Jangan janjikan sesuatu yang tidak bisa kamu tepati, Danapati!!  Ini bukan pertama kalinya kau membuat janji dengan mulutmu itu bahwa kau tidak akan mengulangi perbuatanmu lagi!!” Dyah Halayuda mengangkat wajah Danapati yang menunduk dengan jari telunjuknya dan membuat Danapati melihat ke arahnya. “Mulai sekarang!! Kau tidak boleh berhubungan dengan wanita manapun! Kau juga tidak akan menikah dengan siapapun hingga kau memberikan kontribusi yang berarti!”


            “Ma-maksud, Paman?”


            “Karena ulahmu hari ini, Dewangkara putra dari Rakryan Mahapatih Nambi itu menarik perhatian dari Maharaja dan kau juga akan melakukan hal yang sama: menarik perhatian Maharaja dengan masuk menjadi bayangkara.”


            “Tapi itu mungkin, Paman. Aku sudah dikeluarkan dari bayangkara dua tahun lalu. Bagaimana aku bisa masuk lagi??”


            Dyah Halayuda menarik jarinya yang tadi menarik wajah Danapati. “Menurutmu siapa Pamanmu ini, Danapati?? Aku adalah orang kepercayaan Maharaja bahkan lebih dipercaya dari Rakryan Mahapatih Nambi. Membuatmu kembali ke bayangkara bukan hal yang sulit bagiku. Akan tetapi jika setelah ini, aku melihatmu membuat ulah lagi, jangan salahkan aku jika akhirnya aku akan membuangmu dari keluarga ini. Aku tidak butuh keponakan yang tidak berguna apalagi keponakan yang selalu membuat masalah dan menjadi batu sandunganku!! Mengerti??”


            Danapati menundukkan kepalanya dengan tubuh yang gemetar ketakutan. “Aku mengerti, Paman.”


            “Ah satu lagi??” Dyah Halayuda yang hendak bangkit dari duduknya, mengurungkan niatnya. “Aku ingin memastikan cerita bayangkara yang tadi membuat laporan. Apakah Dewangkara putra dari Rakryan Mahapatih Nambi itu bisa melompat tinggi dengan menggunakan tombak? Seingatku dulu sewaktu ujian bayangkara, aku tidak melihat kemampuannya itu.”


            Danapati segera menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan dari Dyah Halayuda. “Itu benar, Paman. Dewangkara-dia melakukan gerakan itu bukan hanya satu kali saja. Dia melompat dengan menggunakan tombak sebagai penumpunya dan berkat tekniknya itu, dia dapat langsung menghentikan bentrokan yang terjadi.”


            Dyah Halayuda bangkit dari posisinya dengan posisi terkejut. Kepalanya membuatnya teringat akan seseorang yang dulu juga menggunakan teknik yang sama dengan Dewangkara. Bagaimana dia bisa menguasai teknik itu??