ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
MASA LALU: KEMBALINYA INGATAN DEWANGKARA PART 5



            Tidakk!!! Dewangkara membuka matanya dan mendapati dirinya berada di kamarnya di kediaman Yasodana. Dewangkara bangun dalam posisi duduk dengan tangan yang berusaha menggapai-gapai.


            “Akhirnya kau bangun juga, Dewangkara.” Tangan Dewangkara yang tadi berusaha menggapai ketika terbangun, digenggam oleh  Gayatri yang berada di sampingnya. Gayatri menggenggam tangan Dewangkara dengan tatapan cemas dan khawatir. “Untung saja kau bangun, Dewangkara.  Jika tidak, Rama mungkin akan memanggil sepuluh tabib di kota ini hanya untuk memeriksa keadaanmu.”


            Kening Dewangkara mengerut. “Sepuluh tabib?? Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku bisa tiba-tiba kembali ke kamarku??”


            Gayatri melepaskan genggamannya di tanganku. Tangannya bergerak ke keningku dan kemudian berusaha menghilangkan kerutan di keningku seperti yang pernah dilakukannya.  “Seperti permintaanmu, aku dan Biantara menyusulmu ketika kau tidak kunjung kembali. Dan betapa terkejutnya aku dan Biantara ketika menemukanmu ambruk sembar kesulitan untuk bernafas. Biantara kemudian menggendongmu kembali ke kudamu dan menarik kudamu dengan berkuda untuk membawamu kembali ke kediaman. Begitu tiba, Rama sepertinya sudah menyadari apa yang akan terjadi padamu dan Rama sudah memanggil tabib. Tapi sudah beberapa jam berlalu, kau tidak kunjung bangun. Rama berniat untuk memanggil sepuluh tabib jika kau masih tidak sadarkan diri lebih lama lagi.”


            Dewangkara melihat ke arah jendela yang masih terbuka dan menemukan langit  kini telah gelap. Dewangkara akhirnya paham alasan Hattali Yasodana hendak memanggil sepuluh tabib lagi jika dirinya tidak segera membuka matanya.


            “Kau sudah bangun, Dewangkara?”


            Dari arah pintu kamarnya, Hattali muncul bersama dengan Biantara di belakangnya. Dewangkara melihat nafas Biantara yang sedikit terengah-engah menandakan jika Biantara baru saja berlari memberi kabar kepada Hattali tentang keadaan dirinya.


            Dewangkara memasang senyuman terbaiknya ke arah Hattali. “Maafkan saya, Rama. Sepertinya saya menyulitkan Rama lagi.”


            Hattali berjalan mendekati Dewangkara dan memberikan isyarat pada Gayatri untuk meninggalkan dirinya dengan Dewangkara saja. Tapi Gayatri yang tahu arti isyarat itu memprotes.


            “Tapi, Rama. Gayatri masih ingin di sini. Bagaimana jika Dewangkara tidak sadarkan diri lagi??”


            “Rama harus bicara dulu dengan Dewangkara berdua saja.”


            Sepertinya ucapan Hattali itu masih meninggalkan rasa tidak terima dari Gayatri karena Gayatri menolak untuk bangkit dari duduknya di samping Dewangkara. Melihat adu tatapan sengit dari ayah dan anak, Dewangkara akhirnya membuka mulutnya.


            “Rama benar. Aku harus bicara lebih dulu dengan Rama. Nanti kita bicara lagi dan aku pastikan aku akan baik-baik saja, Gayatri. Penyakitku ini harusnya tidak akan kumat lagi setelah bangun dari tidurku.”


            Gayatri sebenarnya masih ingin tetap di sana. Tapi mendengar ucapan dari Dewangkara, Gayatri tidak punya alasan untuk tetap tinggal. Alhasil Gayatri akhirnya bangkit dari duduknya dan berjalan keluar kamar Dewangkara bersama dengan Biantara, dengan bibir merengut.


            “Maafkan putriku, Dewangkara. Dia benar-benar khawatir dengan keadaanmu tadi.” Hatalli duduk di kursi yang tadi ditempati Gayatri dan mulai bicara dengan Dewangkara.


            “Saya mengerti, Rama. Rama saya juga  akan bersikap sama seperti Gayatri jika tahu penyakit saya  kumat.” Dewangkara mencoba tersenyum lagi untuk membuat Hattali merasa tenang.


            “Kau sudah lebih baik, Dewangkara?”


            “Sudah, Rama.”


            “Jadi ... apakah kau menemukan ingatanmu yang hilang setelah datang ke sana?” Hattali menghentikan basa-basinya dan langsung menanyakan pertanyaan yang merupakan tujuan utamanya datang menemui Dewangkara.


            Dewangkara menganggukkan kepalanya dengan lemah. “Ya, Rama. Saya sudah mendapatkan semua ingatan saya yang hilang.”


            “Apa ingatan itu benar-benar berhubungan dengan Rakryan Tumenggung Sena?” Hattali mencoba memastikan karena ucapan dalam mimpi Dewangkara  ketika dirinya berada di kediaman milik Rakryan Mahapatih Nambi, menyebut nama Rakryan Tumenggung Sena.


            Dewangkara menganggukkan kepalanya lagi. ”Ya, Rama. Rakryan Tumenggung Sena adalah penyelamat saya. Dialah orang yang melindungi saya ketika desa saya diserang dalam perang. Dia juga orang yang membawa saya ke kediaman Rakryan Mahapatih Nambi. Saya ingat waktu itu Rakryan Tumenggung Sena masih bayangkara biasa. Dan ketika saya melihatnya lagi, orang yang menolong saya telah menjadi Rakryan Tumenggung yang dibanggakan dan dikagumi oleh semua orang di kerajaan ini.”


            “Hanya itu saja??” Hattali bertanya untuk memastikan lagi.


            Dewangkara melihat Hattali sepertinya menangkap maksud dari ucapannya. “Kau tidak akan mengatakan apa yang kau lihat waktu itu pada Rama, bukan?”


            “Maafkan saya, Rama. Tapi akan lebih baik jika hanya saya saja yang mengetahui kejadian itu. Mengingat bagaimana Maharaja meminta orang untuk memukul kepalaku karena tidak sengaja melihat kejadian saat itu, akan lebih baik bagi Rama dan keluarga Rama jika kalian tetap tidak tahu.”


            “Baiklah jika itu yang kamu pikirkan. Rama akan menurutinya.” Hattali bangkit dari duduknya dan hendak berjalan keluar dari kamar Dewangkara. Tapi sebelum berjalan, Hattali mengingatkan Dewangkara mengenai permintaannya pada Dewangkara. “Besok ... kau bisa melakukan apa yang aku minta, Dewangkara? Aku hanya ingin memastikan saja.”


            “Ya, Rama. Saya bisa melakukannya, tapi setelah saya kembali ke antapura. Saya ingin memberikan penghormatan terakhir di sana, Rama.”


            “Kalau soal itu, Rama tidak keberatan. Karena kau menyanggupinya, malam ini Rama akan mengirim pesan dan besok dia akan datang kemari untuk menemuimu.”  


            “Ya, Rama. Sekali lagi, terima kasih banyak untuk bantuan Rama. Saya sudah merepotkan Rama dan keluarga Rama.”


            Hattali tersenyum melihat ke arah Dewangkara. “Kau ini juga bagian dari keluargaku, Dewangkara. Tidak perlu segan pada Rama dan semua orang di kediaman ini.”


            Setelah mengatakan hal itu, Hattali keluar dari kamar Dewangkara dan Gayatri langsung masuk ke dalam kamar Dewangkara bersama dengan tabib.


            “Bagaimana keadaannya?” Gayatri langsung mengajukan pertanyaan kepada tabib begitu tabib selesai memeriksa denyut nadi di pergelangan Dewangkara.


            “Kangjeng Dewangkara sudah baik-baik saja, Kangjeng.”


            “Ah syukurlah.” Gayatri mengembuskan nafas lega.


Gayatri kemudian memanggil Biantara yang berjaga di depan kamar Dewangkara dan memintanya untuk mengantar tabib kembali ke kediamannya. Tidak lama setelah Biantara pergi mengantar tabib, abdi di kediaman Yasodana datang dengan membawa beberapa makanan yang hangat untuk disantap oleh Dewangkara dan Gayatri.


“Kita makan malam dulu.” Gayatri memberikan mangkuk yang berisi bubur hangat kepada Dewangkara. Baru setelah itu mengambil mangkuknya sendiri yang berisi nasi hangat.


“Kamu belum makan, Gayatri?” Dewangkara bertanya karena tidak percaya.


“Ya, aku belum makan. Tapi tenang saja, Biantara sudah makan tadi.  Aku memaksanya makan karena dia tadi menggendongmu beberapa kali dan harus mengantar tabib kembali ke kediamannya.” Gayatri menjawab dengan entengnya sembari memakan nasi hangatnya dengan beberapa potong daging.


“Kenapa belum makan?”


“Aku tidak akan makan hingga kamu sadar.” Untuk kedua kalinya, Gayatri menjawab dengan nada enteng dan membuat Dewangkara merasa semakin bingung dengan jalan pikiran Gayatri.


“Bagaimana jika aku tidak sadar hingga besok??”


“Maka aku tidak akan makan hingga besok. Melihatmu seperti tadi, aku benar-benar ketakutan hingga tidak enak untuk makan. Aku merasa kamu akan mati begitu saja hanya karena ingin menemukan ingatanmu itu.”


“Maaf.” Dewangkara menundukkan kepalanya melihat bubur hangat di tangannya. “Aku tidak menyangka kau akan setakut itu, Gayatri.”


“Karena kau sudah sadar, sekarang ayo kita makan. Perutmu pasti sudah sangat lapar.”


Dewangkara menganggukkan kepalanya. “Ya.”