
Meski mengatakan kalimat yang cukup menyakitkan, ucapan itu tidak membuat Bagaspati mengerti dan memahami akar masalah dari pembatalan pertunangan yang dilakukan oleh Nona Cintya.
“Tidak!! Jika kau tidak bertemu dengan pria itu, hari ini kau akan tetap menikah denganku, Cintya!! Semua ini adalah kesalahannya!! Kehadirannya mengubah segalanya!!”
Nona Cintya mengabaikan teriakan dari Bagaspati yang masih saja bersikeras apa yang dilakukannya dan apa yang terjadi dalam hidupnya, semua dikarenakan Raditya bukan karena pilihannya sendiri. Nona Cintya menghampiri Raditya. “Kau baik-baik saja, Raditya?”
“Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Ini bukan masalah besar mengingat aku adalah pengawalmu.”
Bara tersenyum melihat Raditya yang tidak mengalami luka sedikit pun setelah melawan Bagaspati yang kehilangan akalnya.
“Biar saya ikat lukamu dulu, Tuan Bara.” Salah satu pengawal Yasodana yang selamat, mendekat ke arah Bara dan membalut luka Bara dengan kain seadanya.
“Terima kasih.”
Inilah akhirnya, Raditya! Bara tersenyum melihat Raditya yang kini memeluk tubuh Nona Cintya karena pernikahan berdarah ini telah berakhir dan keduanya bisa melanjutkan pernikahan setelah ini.
“Kau baik-baik saja, Bara?” Raditya berteriak kepada Bara yang masih merawat lukanya dengan seadanya.
“Ini hanya luka kecil. Jangan khawatir!!”
Brakk ... suara benturan terdengar dari arah perginya Bagaspati. Tidak lama kemudian terdengar beberapa suara tembakan kencang yang membuat semua orang terkejut. Dar ... dar ... dar ... Raditya, Bara dan beberapa pengawal Yasodana yang masih selamat mengambil posisi waspada dengan bahaya yang mungkin mendekat. Tapi ...
Dar ... sebuah tembakan tidak terlihat datang ke arah Nona Cintya dan secara spontan, Raditya yang mendengar suara datangnya peluru memasang tubuhnya sebagai pelindung untuk Nona Cintya.
“Awas!!!”
“Lihat!! Aku bisa menjatuhkanmu bukan, Raditya??” Dari kejauhan terlihat Bagaspati yang tersenyum bahagia karena berhasil membuat Raditya menerima peluru yang dilepaskannya. “Aku hanya perlu mengincar Cintya yang merupakan kelemahanmu dan kau secara spontan akan memasang tubuhmu sendiri sebagai pelindung baginya. Raditya, kau tidak akan pernah bisa bersama dengan Cintya!”
Brak ... pengawal Yasodana yang sempat kehilangan Bagaspati, kembali meringkus Bagaspati dan menghentikan semua gerakan dari Bagaspati. Tapi kali ini nahas, tembakan yang diterima oleh Raditya mengenai dadanya dan mungkin bersarang di jantungnya.
Buk ... huek ...
“Raditya!!!” Cintya berteriak sembari menopang tubuh Raditya yang ambruk karena tembakan yang diterimanya.
“Tidak!!” Bara berlari ke arah Raditya dengan wajah tidak percaya karena apa yang ditakutkan oleh Raditya benar-benar terjadi.
“Tidak, Raditya!!! Tidak, bertahanlah!! Kau tidak bisa melakukan hal ini lagi padaku!!!” Nona Cintya menangis memeluk tubuh Raditya. Setelan jas putih yang dikenakan oleh Raditya kini berubah menjadi merah karena darahnya yang mengalir terus menerus.
“Ma-af. Ber-jan-ji-lah ka-u a-kan te-tap hi-dup, Cintya!” Dengan susah payah sembari menahan rasa sakit, Raditya berbicara kepada Nona Cintya.
“Tidak mau. Aku tidak mau hidup tanpamu lagi, Raditya!! Tidak mau!!! Kenapa ini terjadi lagi?? Kenapa ini terulang lagi?? Kau selalu pergi ketika melindungiku, Raditya. Ini tidak adil, kenapa Tuhan selalu merebutmu dariku???” Nona Cintya menolak membuat janji kepada Raditya dan bahkan menyalahkan Tuhan.
Raditya melihat ke arah Bara yang berlutut di sisi yang berlawanan dengan Nona Cintya. “Ja-ga dia un-tuk-ku, Ba-ra!!”
Huek ... Raditya memuntahkan darah dari mulutnya lagi dan ini adalah pertanda bahwa peluru itu memang mengenai jantung dari Raditya. Bara yang menyadari bahwa Raditya mungkin tidak akan bertahan lebih lama lagi, menggenggam tangan Raditya dan membuat janji pada Raditya. “Aku akan menjaga Nona, Raditya.”
“Te-ri-ma ka-sih. Ka-u te-man dan sau-da-ra ter-baikku.” Setelah mengatakan hal itu kepada Bara, Raditya mengalihkan pandangannya ke arah Cintya dan mengucapkan salam perpisahannya kepada Nona Cintya. “A-ku a-kan se-la-lu men-cin-tai-mu, Cin-tya. Ki-ta ber-te-mu la-gi di ke-hi-dup-an be-ri-kut-nya.”
Raditya mengembuskan nafas terakhirnya tepat di depan Nona Cintya dan hal itu membuat Bara yang juga melihatnya, merasa sangat terpukul. Bara baru saja mensyukuri keadaan karena Raditya selamat dan kebahagiaan akan datang pada Nona Cintya. Tapi situasi itu berubah dalam sekejap. Rasa syukur yang Bara yang ucapkan kini berubah menjadi rasa sedih karena Raditya telah mengembuskan nafasnya tepat di hadapannya.
“Sial!!” Bara bangkit dari posisi berlututnya dengan air mata berjatuhan sembari melihat Nona Cintya yang menangis sembari memeluk tubuh Raditya yang telah kehilangan nyawanya. Bara mengambil pistol milik Raditya dan memastikan ada peluru yang tersisa di dalamnya. Aku akan membalaskan kematianmu, Raditya! Dengan penuh amarah, Bara berjalan pergi menuju ke arah di mana Bagaspati diringkus.
“Aku harus membunuhnya!!!” Setelah menemukan Bagaspati yang kini terikat di kursi, Bara mengarahkan pistol yang dibawanya untuk menghabisi nyawa Bagaspati detik ini juga.
Dar ...
Bara membeku mendengar suara tembakan yang bukan berasal darinya. Tidak!!! Bara berbalik dan segera berlari menuju ke arah di mana dirinya meninggalkan Nona Cintya dan Raditya.
Buk. Begitu tiba di aula, Bara jatuh berlutut mendapati Nona Cintya yang terjatuh di samping tubuh Raditya dengan bekas tembakan di kepalanya. Air mata yang belum mengering karena kehilangan Raditya, kini bertambah deras karena melihat bagaimana Nona Cintya memilih untuk mati dengan cara yang tidak terduga.
“Tidak!!!” Untuk kedua kalinya, Bara gagal dengan tugasnya. Dan kali ini kegagalannya benar-benar fatal. Bersamaan dengan penyesalannya karena janji dan tugasnya gagal lagi, sebuah ingatan muncul di dalam benak Bara. Ingatan itu memperlihatkan dua orang yang tewas berdarah di tengah-tengah tanah perang yang berbau anyir karena darah yang menggenang.
Bara melihat seseorang berlutut di depan dua orang yang mati dengan mengenaskan. Satu adalah seorang pria yang memiliki wajah yang sama dengan Raditya dan satu lagi adalah seorang wanita yang memiliki wajah yang sama dengan Nona Cintya.
“Nona Gayatri, Dewangkara ... “
Bara melihat orang itu menangis dengan berlutut di depan mayat wanita dan pria itu. Bara mendekat ke arah pria itu dan mendapati wajah pria itu sama seperti dirinya. Ini aku??? Apa ini?? Apa yang aku lihat sekarang??
Bara melihat sosok yang memiliki wajah yang sama dengannya kemudian membawa dua mayat yang memilik wajah yang sama dengan Raditya dan Nona Cintya. Pria itu membawa dua mayat itu dan kemudian menguburnya di makam yang sama.
“Jika kelak di kehidupan berikutnya kita bertemu lagi, biarkan aku yang menggantikan kalian mati. Di kehidupan berikutnya, aku pasti akan melindungi kalian berdua. Ini janjiku kepada kalian, Dewangkara, Nona Gayatri.”
Bara tersentak mendapati apa yang dilihatnya, Bara kemudian teringat dengan cerita Raditya mengenai kehidupan masa lalunya yang terhubung dengan Nona Cintya.
“Maafkan aku, Raditya. Aku gagal menjaga janjiku dulu dan sekarang!!” Bara menangis di depan dua orang yang berharga baginya untuk kedua kalinya.
*
Klik. Suara jentikan jari terdengar dan membuat Bara tersentak karena terkejut. Bara menatap seseorang dengan jubah putih berdiri di hadapannya dan merasa asing dengan sosok itu.
“Siapa kau??”
“Aku dewa bintang yang mengurus takdir manusia. Namaku Hyang Tarangga.”
Bara menatap sekelilingnya dan mendapati Raditya masih dalam pengaruh bius yang tadi diberikannya dan masih belum mengganti pakaiannya dengan setelan jas putih. Bara melihat ke arah cermin dan mendapati wajahnya basah oleh air matanya sendiri.
“Ini mimpi??” Bara menghapus air matanya yang terus berjatuhan membasahi wajahnya.
“Tidak. Itu bukan mimpi. Apa yang kau lihat baru saja adalah gambaran masa depan di mana Raditya mati dan Cintya juga akan memilih mati untuk menyusulnya.”
Bara mengalihkan wajahnya lagi pada sosok yang menyebut dirinya dengan nama Hyang Tarangga. “Kenapa kau menunjukkan masa depan itu padaku??”
“Cintya-wanita itu terikat dengan ujian kesengsaraan karena membunuh dirinya sendiri ketika hidup sebagai Gayatri.”
“Ujian kesengsaraan??” Bara bingung dan tidak mengerti.
“Seperti ingatan yang kau lihat, Gayatri harusnya tidak mati di saat Dewangkara kehilangan nyawanya. Gayatri yang tidak bisa menerima kematian calon suaminya memilih untuk mengakhiri hidupnya karena tidak ingin berpisah dengan Dewangkara. Dan ujian kesengsaraan yang harus Gayatri lewati adalah tetap hidup meski reinkarnasi Dewangkara mati sekali lagi di hadapannya.”
“Itu artinya Raditya akan tetap mati lebih dulu dari Nona Cintya??” Bara berusaha untuk memperjelas apa yang didengarnya.
“Itu benar. Hanya saja .., waktunya tidak hanya sekarang dan untuk bisa mewujudkannya, semua tergantung padamu, Bara.” Hyang Tarangga mengangkat tangannya dan meletakkan tangan itu di atas kepala Bara.
Dalam waktu singkat semua ingatan Biantara masuk ke dalam benak Bara dan membuat Bara melihat bagaimana hari-harinya bersama dengan Dewangkara dan Gayatri yang penuh dengan kebahagiaan.