
Merasa ucapan dari Dewangkara ada benarnya, Rakryan Mahapatih Nambi kemudian mengambil jalan untuk bersiap-siap. Karena beberapa pejabat kerajaan masih ada di kediamannya dan banyak orang di Lamajang yang mungkin terkena imbas dari salah paham antara Maharaja dan dirinya, Rakryan Mahapatih Nambi langsung memerintahkan semua pasukan pribadi miliknya di Lamajang untuk membangun dua benteng pertahanan Gending dan Pejarakan demi melindungi semua orang yang ada di Lamajang termasuk para pejabat yang masih ada di kediamannya.
Pembangunan dua benteng itu pun kemudian menarik semua perhatian pejabat di kediaman Rakryan Mahapatih Nambi dan membuat mereka bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.
“Apa yang terjadi, Rakryan Mahapatih? Kenapa Rakryan Mahapatih tiba-tiba mendirikan dua benteng di gerbang Lamajang?” tanya salah satu pejabat yang ada.
“Aku tidak tahu ini kabar benar atau tidak, tapi aku mendengar kabar bahwa Maharaja dan pasukannya sedang menuju kemari. Dari berita yang aku dengar, Maharaja datang untuk menyerang kemari.” Rakryan Mahapatih Nambi yang mengumpulkan semua pejabat yang ada di kediamannya kemudian memberikan penjelasan kepada mereka semua.
“Apa maksudnya dengan pasukan, Rakryan Mahapatih? Kenapa Maharaja melakukan hal itu?” Satu persatu pejabat yang lain mulai angkat bicara karena terkejut mendengar pernyataan dari Rakryan Mahapatih Nambi yang terasa seperti sesuatu yang mustahil.
“Tidak mungkin!! Apa ada sesuatu yang terjadi hingga membuat Maharaja marah besar hingga mengerahkan semua pasukannya kemari??”
“Apa yang sebenarnya terjadi di sini?? Bukankah semua orang di sini sedang berkabung dengan kehilangan Rakryan Mahapatih Nambi?? Kenapa Maharaja justru membawa pasukannya untuk menyerang kemari??”
Rakryan Mahapatih Nambi menggelengkan kepalanya dengan ragu. Tapi kemudian mulutnya terbuka dan mengatakan sesuatu yang menjadi dugaan dari penyerangan yang akan dilakukan oleh Maharaja. “Beberapa hari yang lalu, Maharaja mengirim Dyah Halayuda kemari atas nama dirinya. Melalui mulut Dyah Halayuda, Maharaja bertanya padaku, apa yang aku butuhkan. Dan aku menjawab bahwa aku hanya ingin meminta waktu libur sedikit lebih lama lagi sebelum akhirnya kembali ke Ibu kota untuk menjalankan tugasku. Aku curiga pada Dyah Halayuda. D-dia mungkin menyampaikan sesuatu yang lain pada Maharaja dan membuatku terlihat ingin memberontak di depan Maharaja.”
“Dia lagi???” Salah satu pejabat di ruangan itu menunjukkan wajah tidak sukanya ketika Rakryan Mahapatih Nambi menyebut Dyah Halayuda dan Dewangkara yang ada di ruangan sebelah untuk mengintip, melihat hal itu.
“Kenapa dia lagi?? Dyah Halayuda hanyalah sepupu Maharaja pertama. Kenapa dia selalu ikut campur masalah kerajaan??” pejabat yang lain mengeluarkan komentarnya.
“Ya, betul. Sejak Maharaja pertama, aku benar-benar tidak menyukai Dyah Halayuda. Dia terus menempel di sisi Maharaja dan membuat penilaian Maharaja menjadi kabur.”
“Melihat keadaan ini ... aku curiga. Jangan-jangan di masa lalu, Dyah Halayuda juga pernah melakukan hal yang sama dan membuat salah satu pejabat penting kehilangan nyawanya karena ucapan Dyah Halayuda yang tidak sesuai dengan pesan yang dikirimkan.”
Wajah semua orang kemudian membeku mendengar ucapan dari salah satu pejabat itu dan dalam benaknya, mereka semua memikirkan orang yang sama: Ken Sora dan Rakryan Tumenggung Sena. Dewangkara dan Rakryan Mahapatih Nambi pun memikirkan hal yang sama ketika mendengar ucapan itu.
Apakah setelah ini kebenaran mengenai kematian Rakryan Tumenggung Sena dan istrinya akan terungkap? Apa dengan cara ini, aku bisa mengungkapkan kematian tidak adil dari Rakryan Tumenggung Sena? Sembari mencuri dengar, Dewangkara memikirkan hal itu di dalam benaknya.
“Aku memanggil kalian semua dan membuat kalian semua di sini berkumpul, ingin memberikan pilihan untuk kalian. Jika kalian ingin menyelamatkan diri, kalian bisa segera pergi dari Lamajang sekarang juga. Aku tidak akan menyalahkan pilihan kalian itu dan menghormati pilihan kalian itu. Aku hanya ingin meminta tolong pada kalian yang pergi dari sini. Jika kalian yang pergi berhasil selamat, tolong ungkapkan apa yang terjadi di sini nanti jika pada akhirnya aku kalah dan kehilangan nyawaku.”
Mendengar ucapan dari Rakryan Mahapatih Nambi, semua orang justru membulatkan tekad mereka dengan wajah membara.
“Kami tidak akan pergi meninggalkan Rakryan Mahapatih. Apapun yang terjadi, kami tidak akan pergi dan tidak akan sudi berada di bawah pimpinan Maharaja yang bahkan tidak bertanya lebih dulu kejelasan itu pada Rakryan Mahapatih.”
Mendengar semua pejabat di kediamannya yang setia padanya, Rakryan Mahapatih Nambi memiliki secercah harapan untuk mendapatkan kemenangan atau setidaknya mendapatkan kesempatan pada Maharaja untuk menghentikan peristiwa berdarah yang mungkin akan terjadi dalam hitungan hari.
Dewangkara yang tengah memeriksa pembangunan benteng, memprediksi kedatangan Maharaja dan pasukannya adalah besok siang. Karena jumlah pasukan yang banyak dan membawa banyak hal termasuk persediaan, pasukan Maharaja pasti akan datang lebih lambat dari seseorang yang pergi berkuda dengan kecepatan terbaik dari kudanya. Di saat yang sama, Dewangkara memikirkan Gayatri dan Hattali di kota Tarik yang telah menerima surat darinya dan menunggu kepulangannya.
“Nak.” Rakryan Mahapatih Nambi berbicara kepada Dewangkara di malam hari sebelum Maharaja dan pasukannya tiba besok.
“Besok pagi-pagi sekali, keluarlah dari Lamajang dan pergi ke Tarik. Kau sudah lebih dari cukup membantu Rama di sini dan sudah waktunya kamu kembali ke Tarik.”
Dewangkara terkejut mendengar ucapan dari ayah asuhnya yang memintanya pergi meninggalkannya di saat genting seperti ini. “Itu tidak mungkin, Rama!! Aku tidak akan pergi dan meninggalkan Rama di sini seorang diri!!”
“Rama tidak seorang diri, putraku. Ada banyak orang di sini yang akan membantu Rama dan melindungi Rama. Ini bukan pertama kalinya bagi Rama untuk berperang. Akan tetapi bagimu, ini adalah pertama kalinya kau ikut dalam perang, Dewangkara!” Rakryan Mahapatih Nambi berusaha untuk membujuk Dewangkara agar pergi ke Tarik.
“Tidak, Rama! Aku tidak akan melakukan hal itu!!” Dewangkara masih bersikukuh dengan pilihannya.
“Bagaimana dengan Gayatri? Apa kau tidak memikirkan bagaimana Gayatri sedang menunggu kepulanganmu di Tarik?? Apa kau ingin membuat Gayatri kehilangan calon suaminya sebelum pernikahan, Dewangkara??” Rakryan Mahapatih Nambi masih berusaha untuk mengubah keputusan dari Dewangkara.
“Tidak, Rama! Aku tidak akan pergi sebelum tahu bahwa Rama baik-baik saja. Aku akan kembali ke Tarik setelah menyelesaikan ini, Rama. Aku yakin Gayatri akan menghormati pilihanku ini, Rama.”
“Kamu tidak akan mengubah pilihanmu itu, Dewangkara??” Rakryan Mahapatih Nambi bertanya lagi kepada Dewangkara.
“Ya, Rama. Aku tidak akan pergi sebelum memastikan Rama dan semua orang di sini telah selamat!!”
“Kalau begitu ... aku tidak punya pilihan lain, putraku. Maafkan Ramamu ini.” Setelah mengatakan hal itu, Rakryan Mahapatih Nambi mengangkat tangannya dan membuat semua abdi pria di kediamannya mengepung Dewangkara.
“Apa ini, Rama??” Dewangkara memandang bingung ke arah semua abdi yang kini berdiri dengan tujuan melawannya.
“Lakukan perintahku sekarang!!” Rakryan Mahapatih Nambi tidak memberikan jawaban untuk pertanyaan Dewangkara dan justru memberikan perintah untuk seluruh abdi yang mengepung Dewangkara.
Tapi ini bukan hal yang sulit bagi Dewangkara. Tidak sulit baginya untuk melepaskan diri dari kepungan abdi di kediaman milik Rakryan Mahapatih Nambi karena sebelumnya Dewangkara juga mampu menghadapi banyak orang sekaligus di ibu kota. Hanya saja sesuatu yang tidak disangka oleh Dewangkara terjadi.
Wush.
Telinga Dewangkara mendengar sesuatu saat sedang berusaha menghindari para abdi yang berusaha menangkap dirinya. Dewangkara yang terlambat menyadari apa yang mendekat ke arahnya, akhirnya jatuh tumbang ketika benda itu melukai salah satu tangannya.
“Rama ... ini ... “ Dewangkara menatap lengan kirinya yang tertancap anak panah dan memandang Rakryan Mahapatih Nambi dengan wajah terkejut.
“Maafkan Ramamu ini, putraku.”
Perlahan pandangan Dewangkara menjadi buram dan seluruh tubuhnya kehilangan semua tenaga miliknya. Bruk. Dewangkara jatuh berlutut di depan semua abdi dan Rakryan Mahapatih Nambi.
“Ra-ma.” Lidah Dewangkara yang mulai kaku kesulitan untuk bicara.
“Ini yang terbaik, putraku. Maafkan Ramamu ini, tapi sudah lebih dari cukup usahamu ini untuk selalu berada di sisiku dan melindungiku. Sekarang ... sudah saatnya kamu pergi dan mendapatkan kebahagiaanmu sendiri. Menikahlah dengan Gayatri dan hiduplah bahagia di sana, Dewangkara.”
Sebelum menutup matanya dan kehilangan kesadaran, kalimat itulah yang Dewangkara dengar dari mulut Rakryan Mahapatih Nambi.