ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
MASA LALU: GAYATRI DAN PUTARAN KEHIDUPANNYA PART 2



     Melihat bagaimana Gayatri mengakhiri hidupnya karena tidak sanggup menahan rasa sakitnya kehilangan Dewangkara, aku jatuh berlutut di samping Gayatri dengan bercucuran air mata. Aku menangis selama beberapa saat hingga sosok yang bernama Hyang Yuda meletakkannya tangannya di bahuku. Aku menolehkan kepalaku memandang ke arah Hyang Yuda dan kemudian melihat ke arah Hyang Tarangga dengan air mata yang masih mengalir. “Kenapa begini akhirnya?? Aku tidak pernah menyangka jika keputusan yang aku buat sebagai Dewangkara akan membuat Gayatri begitu menderita?? Apa aku salah membuat keputusan? Apa harusnya aku mengabaikan Ramaku dan memilih hidup bahagia bersama Gayatri? Apa harusnya aku melupakan kejahatan yang aku lihat dan hidup dengan bahagia bersama dengan Gayatri??”


            Hyang Yuda tersenyum padaku. “Tidak, pilihan yang kau buat tidak salah. Aku pun memilih melakukan hal yang sama dan pada akhirnya aku bisa berada di sini, di posisi ini dan bisa bertemu denganmu lagi meski wujudku tidak lagi manusia.”


            “Jika benar keputusanku tidak salah, lalu kenapa Gayatri berakhir seperti ini? Kenapa  dia harus mati dengan cara seperti ini??” Aku bertanya masih dengan terus meneteskan air mta di samping Gayatri. Aku ingin menyentuh Gayatri yang telah kehilangan nyawanya, tapi aku tidak bisa melakukannya karena Gayatri di hadapanku hanyalah ingatan masa lalu dari kehidupanku yang sebelumnya. Tiba-tiba aku teringat dengan Nona Cintya mengingat dialah reinkarnasi dari Gayatri dan lahir dengan wajah yang sama dengan Gayatri. Tidak berhenti sampai di situ saja, benakku kemudian membayangkan apa yang terjadi pada Gayatri, terulang pada Nona Cintya.            


            Hyang Tarangga mendekat ke arahku dan berdiri di sampingku. Kali ini giliran tangan Hyang Tarangga yang mendarat di bahuku. “Seperti yang kamu pikirkan. Apa yang Gayatri lakukan saat ini akan terulang kembali pada Cintya jika kau mati lebih dulu dari Cintya. Janji yang dibuat Gayatri adalah menikahimu. Suaminya hanyalah kamu seorang. Jika pada akhirnya kau mati lebih dulu bahkan sebelum menikah dengan Gayatri dan setiap reinkarnasi dari Gayatri, maka dia akan mengambil keputusan yang sama seperti yang kamu lihat saat ini, Raditya.”


            Selama hidupku ... aku tidak pernah mengira seseorang akan mampu memberikan nyawanya demi cinta. Aku yang lahir dan besar di panti asuhan belajar mengenai hal itu. Dengan dibuang di panti asuhan oleh orang tuaku yang bahkan tidak aku ketahui siapa mereka, aku belajar bahwa bahkan darah yang kental dan sama pun belum menjamin cinta seseorang. Tapi saat ini, detik ini, melihat Gayatri memilih mati karena Dewangkara telah mati, aku tidak bisa tidak mengubah pandanganku tentang cinta.


            “Apa salah seseorang memilih mati demi kekasihnya, Hyang Tarangga?” Aku membuka mulutku dan mengajukan pertanyaan itu pada Hyang Tarangga.


            Hyang Tarangga menatapku dengan tatapan sedih seolah ingin mengatakan padaku bahwa dia juga merasa sedih dengan nasib Gayatri karena keputusan yang aku ambil demi melindungi banyak orang atas nama Dewangkara. “Apapun alasannya, membunuh diri sendiri adalah perbuatan yang salah. Karena itulah aku memberi hukuman pada Gayatri dengan membuatnya menjalani semua kehidupan berikutnya dengan membawa ingatannya sebagai Gayatri dan kisah cintanya tentang dirimu. Gayatri dan setiap reinkarnasinya akan mengingat semua kehidupan yang dilaluinya dengan harapan setiap kali kehilanganmu dan reinkarnasimu, dia akan memilih untuk tetap hidup. Sayangnya bahkan setelah melewati empat kehidupan dan bahkan enam kehidupan, pilihan Gayatri tetap sama dengan dia berakhir dengan bunuh diri setiap kali kehilangan dirimu, Raditya.”


            Aku menundukkan kepalaku merasa bersalah dan merasa bahwa apa yang diterima Gayatri sebagai hukuman terlalu berat. Aku merasa bahwa harusnya akulah yang menerima hukuman itu karena bagaimanapun akulah alasan di balik tindakan yang diambil Gayatri dan setiap kehidupan lainnya.


            “Biarkan aku saja yang menanggung hukuman itu, Hyang Tarangga! Biar aku yang menggantikan Gayatri menanggung hukuman itu!!” Aku memohon kepada Hyang Tarangga.


            “Perbuatan buruk manusia itu adalah milik mereka sendiri. Baik perbuatan baik dan perbuatan buruk kelak akan kembali kepada orang yang melakukannya, orang yang menjalani. Dosa dan pahala tidak akan bisa diberikan, maka apa yang terjadi pada Gayatri tidak akan bisa berpindah padamu, Raditya. Kau juga telah menjalani konsekuensi untuk pilihanmu itu dengan kehilangan nyawamu saat itu. Kau tahu hidupmu mungkin bisa bahagia, akan tetapi demi kebenaran kau mengabaikan kebahagiaan itu.”


            Aku menangis mengetahui usahaku memohon akan berakhir dengan sia-sia. “Apa tidak ada yang bisa aku lakukan untuk menggantikan Gayatri dan Nona Cintya menjalani hukumannya, Hyang Tarangga??”


            “Kau masih beruntung, wahai manusia bernama Raditya. Gayatri dan seluruh putaran kehidupannya masih beruntung menurutku. Istri dari Hyang Yuda saat masih menjadi manusia dengan nama Rakryan Tumenggung Sena menanggung hukuman yang jauh lebih berat dari kekasihmu. Dia membunuh dirinya sendiri untuk melindungi martabat kerajaan dan juga martabat suaminya sebagai Rakryan Tumenggung terbaik saat itu. Akan tetapi dalam prosesnya dia membunuh putra di dalam kandungannya yang sudah memiliki nyawa. Dan hukuman untuk itu, dia harus menjalani hidup penuh kesengsaraan selama empat kehidupan dan yang lebih buruk adalah dalam empat kehidupan itu dia tidak bisa bertemu dengan kekasihnya karena manusia bernama Rakryan Tumenggung Sena telah diangkat menjadi dewa.”  Hyang Marana menatapku dengan matanya yang tajam dan dalam seolah kedalaman mata itu tidak berujung seperti palung terdalam di muka bumi ini. “Hukuman itu sudah cukup ringan mengingat Hyang Yuda mengorbankan berkah miliknya dan ingatannya agar tidak mengganggu empat kesengsaraan yang dijalani oleh istrinya. Dan buruknya setiap kali karena berkah itu, istrinya yang berulang kali bereinkarnasi di Janaloka selalu berakhir jatuh hati pada Hyang Yuda sebelum akhirnya kehilangan nyawanya dengan cara yang menyakitkan.”  


            Mulutku bergetar mendengar cerita itu. Mataku bergerak melihat ke arah Hyang Yuda yang selalu muncul dalam mimpiku sebagai Rakryan Tumenggung Sena. Aku benar-benar tidak menyangka pilihan yang diambil oleh Rakryan Tumenggung Sena demi kebenaran akan membuat istrinya dan beberapa putaran kehidupan milik istrinya akan menjadi penderitaan.


            “Apa kau paham alasanku menceritakan hal ini padamu, wahai manusia bernama Raditya?” 


Hyang Marana bertanya padaku dan aku memberikan jawabanku dengan menghapus air mataku sembari menganggukkan kepalaku.


“Aku rasa aku mengerti.”


“Bahkan dewa sekalipun punya hukuman untuk perbuatannya dan tidak bisa berbuat apapun ketika hukuman itu harus dijalani.” Setelah mengatakan itu, Hyang Marana menjauh dariku. Hyang Marana kemudian menghentikan langkah kakinya di dekat Hyang Yuda dan bicara padanya. “Maaf, Hyang Yuda. Aku sedikit kesal jadi aku sedikit menceritakan kisahmu padanya.  Mengingat dia adalah pengagummu, aku rasa dia akan mengerti jika aku menceritakan kisahmu dan penderitaan yang kau alami padanya.”


“Aku mengerti, Hyang Marana.  Terima kasih banyak untuk bantuannya.” Hyang Yuda membalas ucapan Hyang Marana dengan senyuman di bibirnya. “Aku benar-benar tidak menyangka jika kau yang terlihat selalu tidak peduli ini, kali ini mau maju dan ikut bicara.”


“Melihatnya membuatku teringat denganmu. Meski jalan kalian sekarang berbeda, tapi situasi yang membuat kalian hidup dengan beberapa penderitaan adalah sama.  Kalian berada dalam kematian yang menyakitkan karena orang yang sama, terlebih lagi kalian terhubung dengan cara yang sedikit unik.”


            Melihat bagaimana Hyang Yuda yang dulunya hidup sebagai Rakryan Tumenggung Sena kini hidup sebagai dewa yang punya rekan yang baik, aku merasa sedikit senang. Setidaknya meski kematian yang sangat menyakitkan datang padanya, tapi kehidupan yang dimilikinya saat ini jauh lebih baik dari kehidupan sebelumnya.