ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
Terima Kasih Untuk Semuanya



Malam hari


Zaky dan Chike balik ke asrama setelah semalaman berada di rumah sakit. Dokter mengatakan jika Chike sudah bisa pulang karena pengobatannya sudah selesai. Yang masih perlu dikontrol hanyalah perbannya.


“Pelan-pelan menaiki tangganya,” peringat Zaky yang memapah tubuh Chike karena masih sedikit lemas.


“Apa kalian sudah kembali?” tanya Dava yang duduk di kursi meja resepsionis. Ia segera bangkit dan menghampiri mereka, berniat untuk membantu memapah.


“Apakah kamu terluka sangat parah? Lihatlah wajahmu yang sangat pucat. Bagaimana kamu bisa terluka?” tanya Dava beruntun.


“Aku baik-baik saja. Ini hanya goresan kecil,” sahut Chike pelan, suaranya sedikit serak.


“Apakah benar hanya tergores? Lalu mengapa kamu harus melakukan operasi darurat semalam?” tanya Dava khawatir.


“Chike bilang Dia baik-baik saja. Semalam Dia hanya dijahit beberapa jahitan saja. Sudahlah, lebih baik kamu minggir, Dava! Chike butuh istirahat sekarang!” sahut Zaky pelan. Ia merasa lelah sangat lelah sekarang karena harus terjaga semalaman untuk menjaga Chike.


“Baiklah, aku mengerti. Kamu tidak perlu marah seperti itu. Aku hanya bertanya karena merasa khawatir,” sahut Dava yang merasa sedikit kesal.


“Sudahlah, kalian tidak perlu ribut. Semalam dokter mengatakan ini bukanlah cedera yang serius sehingga aku boleh pulang. Aku akan baik-baik saja setelah istirahat yang cukup,” ucap Chike menengahi.


“Ya, kamu benar. Baiklah, lebih baik kamu segera masuk ke kamar dan beristirahat,” ucap Dava yang merasa tak enak karena terbawa emosi. Padahal di hadapan sedang ada orang sakit.


“Lebih baik kamu minggir!” usir Zaky yang membuat Dava hanya menatapnya malas.


“Eh, tunggu sebentar!” seru Dava ketika Zaky dan Chike baru berjalan beberapa langkah.


Zaky mengatupkan rahangnya . “Apa lagi sekarang?” tanya Zaky pelan, berusaha menekan emosinya.


“Tunggu sebentar!” Dava pun dengan segera membuka laci meja untuk mengambil sesuatu.


“Ngomong-ngomong, Zaky... ini ada sesuatu untukmu. Tadi siang keponakanmu datang ke sini untuk memberikannya padamu,” ucap Dava yang menyodorkan kalung pemberian Chike kecil.


Zaky diam, tak merespon. Ia melihat kalung itu dan Chike secara bergantian. Chike hanya menatap Zaky dengan mata sendunya. Sedangkan Dava tiba-tiba merasa canggung dengan keadaan itu.


“Ah, bukan seperti itu. Dia hanya...” Dava berusaha mencari pembelaan yang tepat ketika ia mengingat ucapan Chike kecil yang mengatakan bahwa sepertinya penghuni kamar 308 tidak menyukai dirinya.


“Ah, entahlah! Bagaimana pun, anak itu, ah tidak! Maksudku keponakanmu menitipkan ini dan menyuruhku untuk memberikan padamu,” ucap Dava cepat karena tidak tau harus mengatakan apa. Ia menarik tangan Zaky dan memberikan kalung itu di telapak tangannya. Sedangkan Chike memandang kalung itu dengan perasaan campur aduk.


“Astaga! Sebenarnya apa yang sudah kamu katakan padanya? Dia terlihat sangat takut denganmu. Dia bahkan tak berani memberikan kalung itu secara langsung kepada Zaky,” keluh Dava.


“Ah, benar! Dia juga mengucapkan terima kasih untukmu, Zaky!” lanjut Dava. Chike menundukkan kepalanya. Sedangkan Zaky hanya diam, tak tau harus merespon bagaimana.


“Baiklah, bagaimana pun terima kasih,” sahut Zaky pelan.


“Benar, aku hampir lupa!” seru Dava. Zaky hanya menghela napasnya pelan sambil terus menopang tubuh Chike yang lemas.


“Apa itu?” tanya Zaky.


“Aku tadi masuk ke dalam kamarmu dan mengambil foto karya debut ku untuk diberikan pada keponakanmu.” Ucapan Dava sukses membuat Zaky dan Chike menatapnya secara bersamaan.


“A-apa? Mengapa kalian berdua menatapku seperti itu? Itu hanyalah sebuah foto. Kamu masih bisa mengambilnya lagi lain kali. Apa kamu punya masalah dengan itu? Lagian foto itu diambil menggunakan kameraku. Jadi, secara teknis itu adalah milikku!” seru Dava menjelaskan karena merasa tak nyaman ditatap seperti itu. Chike hanya tersenyum tipis.


”Ah, jadi itu adalah sebabnya mengapa Chike bisa memiliki fotoku,” batin Zaky melihat Chike yang tersenyum.


“Ya terserahlah!” seru Dava menggaruk kepalanya yang tak gatal.


“Baiklah, aku mengerti,” sahut Zaky yang melihat Dava benar-benar canggung.


“Terima kasih,” ucap Chike pelan.


“Apa yang kamu katakan?” tanya Dava yang tak mendengar dengan jelas.


Chike menatap Dava dan tersenyum tipis. “Terima kasih banyak. Kamu sudah melakukannya dengan baik,” ulang Chike.


“Ya, baiklah. Sekarang masuklah ke dalam kamar dan istirahat,” sahut Dava yang entah mengapa merasa lega.


“Kami pamit duluan, Dav. Kamu juga, cepatlah masuk dan beristirahat karena ini sudah malam,” ucap Zaky berpamitan.


“Ya, istirahatlah.” Zaky mengangguk.


“Mari kita pergi, Chike!” ajak Zaky kembali memapah Chike.


“Selamat malam, Kak Dava,” ucap Chike.


“Selamat malam,” sahut Dava. Ia kembali duduk di kursi sambil memandang Zaky dan Chike yang berjalan semakin menjauh.


*Di tempat lain


Chike kecil terus menatap foto Zaky sambil rebahan di kasurnya. Ia terus saja tersenyum menatap foto itu.


Ia kemudian bangkit dan berjalan menuju meja belajar miliknya. Ia membuka laci dan mengambil sesuatu di dalamnya.


“Sekarang ini terlihat lebih bagus,” ucapnya ketika sudah memasukkan foto Zaky ke dalam bingkai foto. Senyuman tidak lekang dari bibir mungilnya.


“Selamat malam, Paman! Semoga Paman bermimpi indah.” Ia meletakkan bingkai foto itu di atas meja dan pergi beranjak menuju kasur. Ia harus tidur sekarang karena malam semakin larut. Tak lupa ia mematikan lampu tidur dan mulai memejamkan mata. Tak lama kemudian, dengkuran halus terdengar dari bibirnya.


*****


Zaky mengamati Chike yang sudah tertidur dengan lelapnya. Sepertinya ia sudah berkelana ke mana-mana di alam mimpinya.


Zaky tersenyum melihat wajah Chike yang terlihat begitu damai dalam tidurnya. Ia membelai pelan rambut Chike hingga membuat Chike sedikit menggeliat.


“Chike,” panggil Zaky pelan. Namun, Chike tak kunjung terbangun.


“Apa kamu merasa begitu bersalah padaku hingga kamu beranjak dewasa?” Zaky tersenyum lembut dan terus membelai rambut Chike yang tertidur.


“Kamu saat itu masih sangat kecil. Tapi, karena aku... selama 10 tahun...” Zaky menarik napasnya dalam-dalam, tak sanggup untuk melanjutkan ucapannya. Ia menelan ludahnya untuk membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering.


“Aku sangat peduli padamu hingga saat itu aku tidak tau harus berbuat apa selain mengorbankan diriku sendiri. Kali ini pun aku tidak bisa melihatmu terluka apalagi itu karena aku.” Zaky menjeda ucapannya, dadanya terasa sesak.


Zaky mencoba tersenyum dengan paksa. “Terima kasih sudah kembali padaku lagi setelah bertahun-tahun lamanya. Terima kasih, karena kamu sudah berusaha mendekatiku lagi setiap saat. Terima kasih karena sudah menyimpan ku di dalam hatimu selama 10 tahun setelah kematian ku. Terima kasih untuk semuanya.”


Zaky menghentikan elusannya. Ia menyeka air matanya yang sudah menetes. Ia menengadah untuk menahan air matanya keluar lagi.


“Hah...” Zaky menghela napasnya setelah merasa sedikit tenang kemudian melanjutkan ucapannya.


“Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih padamu. Mulai sekarang, giliran ku. Biarkan aku yang mendekatimu.” Zaky mendekati wajah Chike kemudian mengecup bibirnya pelan. Chike yang masih terlelap tidak menyadari kecupan itu.


“Kamu hebat karena sudah bertahan sampai sejauh ini. Selamat malam, Chike,” ucap Zaky pelan dengan senyuman tipis di bibirnya. Kemudian ia bangkit dan duduk di kursi untuk mengawasi Chike yang tertidur lelap.