ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
MASA LALU: DEWANGKARA DAN KEMAMPUANNYA PART 1



            Pagi-pagi sekali, Dewangkara sudah berkuda menuju kembali ke antapura di mana dirinya kemarin menemukan ingatan lamanya. Tapi karena Biantara menemukan dirinya berniat pergi, Dewangkara mau tidak mau akhirnya membiarkan Biantara ikut menemaninya. Ketika melewat pasar, Dewangkara dan Biantara berhenti sejenak untuk membeli beberapa bunga yang akan diletakkan Dewangkara di tanah di mana Rakryan Tumenggung Sena meregang nyawanya sebagai bentuk penghormatannya. Dewangkara memilih bunga anyelir putih sebagai pilihannya. Dari ilmu pengetahuan yang didapatkannya sebagai pemandu di ibu kota, Dewangkara belajar banyak hal dan salah satunya beberapa makna bunga.


            “Aku tidak akan lama, Biantara. Kau bisa menungguku di sini.” Dewangkara yang turun dari kudanya membuat permintaan kepada Biantara.


            “Yakin akan baik-baik saja?”


            Dewangkara menangkap raut khawatir di wajah Biantara. “Ya, aku akan baik-baik saja. Percayalah padaku.”


            Setelah berhasil membuat Biantara percaya padanya,  Dewangkara berjalan masuk ke dalam antapura lagi dengan beberapa bunga di tangannya. Tidak seperti kemarin, kali ini langkah kaki Dewangkara terasa lebih ringan dan nafasnya tidak lagi terputus-putus karena rasa sesak yang menyerangnya tanpa alasan. Begitu tiba di tempat kematian Rakryan Tumenggung Sena, Dewangkara meletakkan bunga anyelir putih yang dibawanya dan kemudian berlutut untuk berdoa.


            Apa Rakryan Tumenggung  mengingatku?


            Aku ragu Rakryan Tumenggung masih mengingatku. Jadi aku akan memperkenalkan diriku. Namaku Dewangkara, anak asuh dari Rakryan Mahapatih Nambi. Belasan tahun yang lalu, aku diselamatkan olehmu dalam perang dan sejak saat itu, aku selalu mengagumi, Rakryan Tumenggung. Aku ingin menjadi seperti dirimu yang begitu kuat dan tangguh ketika berada di medan perang. Sosokmu yang sedang duduk di atas kuda dan sedang mengayunkan pedang dan tombak adalah sosok yang luar biasa di mataku. Dan karena itu, dulu aku ingin sekali menjadi bayangkara dan menjadi Rakryan Tumenggung di kerajaan ini. Setiap kali ke antapura, aku akan menyelinap pergi hanya untuk melihatmu berlatih dengan pasukanmu, Rakryan Tumenggung Sena.


            Sayangnya ... aku gagal melakukannya, Rakryan Tumenggung. Aku gagal menjadi bayangkara apalagi menjadi Rakryan Tumenggung seperti dirimu. Dan buruknya lagi, aku bahkan melupakan ingatanku tentang dirimu dan  ingatan saat aku melihatmu meregang nyawa dengan cara yang paling buruk dan mengenaskan. Harusnya saat itu ... aku bicara, harusnya saat itu aku melakukan sesuatu, yang mengatakan pemberontakan itu mungkin adalah kesalahan, mungkin adalah jebakan. Mungkin jika aku melakukan itu, setidaknya kematianmu tidak akan dilupakan oleh banyak orang seperti yang terjadi hari ini.  Tapi aku kehilangan ingatanku dan melupakan segalanya tentangmu, Rakryan Tumenggung Sena.


            Setelah ini, setelah aku kembali ke ibu kota. Aku akan membicarakan masalah ini pada ayah asuhku. Mungkin dengan begitu seseorang akan menggali kejadian saat itu lagi dan mengungkap apa yang sebenarnya terjadi hari itu.


            Mohon maafkan aku, Rakryan Tumenggung. Maaf karena melupakan segalanya, maaf karena ayahku terlibat dalam kejadian hari itu dan maaf karena tidak bisa melakukan apapun saat itu untuk menolongmu dan menolong istrimu.  Sekali lagi, maafkan orang yang telah berhutang nyawa padamu ini, tapi tidak bisa membalasnya dengan benar, Rakryan Tumenggung Sena.


            Setelah berdoa untuk Rakryan Tumenggung Sena, Dewangkara kemudian bangkit dari sikap berlututnya, menghampiri Biantara dan segera kembali ke kediaman Yasodana sebelum Gayatri menyadari jika Dewangkara telah menghilang.


            “Dari mana kalian berdua??” Begitu tiba di kediaman Yasodana, Dewangkara dan Biantara disambut oleh Gayatri dengan kedua tangannya yang berada di pinggangnya, lengkap dengan kedua matanya yang melotot dan menatap tajam ke arah Dewangkara dan Biantara.


            Gawat!! ucap Dewangkara dan Biantara di dalam benak mereka.


            “Habis berkeliling.” Dewangkara menjawab dengan kebohongan untuk pertanyaan Gayatri. Dewangkara tahu jika dirinya mengatakan ke mana perginya dirinya tadi, penjelasan itu hanya akan membuat Gayatri semakin marah saja.


            “Kenapa tidak mengajakku? Aku takut setengah mati melihat kau menghilang dari kamarmu, Dewangkara.” Gayatri melihat tajam ke arah Dewangkara. Dan tidak cukup di situ saja, Gayatri mengalihkan pandangannya ke arah Biantara dan menatapnya lebih tajam dari pada Dewangkara. “Dan kau juga, Biantara!! Aku memintamu untuk menjaga Dewangkara, kenapa kau ikut menghilang juga bersamanya??”


            “Karena kau memintaku untuk menjaga Dewangkara, aku mengikutinya pergi, Gayatri. Kau tidak memintaku untuk membangunkanmu jika Dewangkara hendak berjalan-jalan.”


            Dewangkara tersenyum kecil mendengar penjelasan yang diberikan oleh Biantara pada Gayatri. Ini adalah pertama kalinya, Dewangkara melihat Biantara bicara dalam jumlah kata yang banyak dan juga melawan ucapan Gayatri. Selama ini Dewangkara mengira, Biantara adalah pria yang tidak banyak bicara dan sama sekali tidak akan pernah melawan ucapan Gayatri.  Tapi nyatanya apa yang Dewangkara pikirkan adalah salah. Biantara ternyata mampu bicara lebih banyak dan melawan ucapan dari Gayatri.


            “Apa yang akan kau lakukan setelah ini,  Dewangkara? Jika tidak ada rencana, aku akan membawamu berkeliling kota Tarik, bagaimana?” Di sela-sela makan pagi, Gayatri mengajukan rencananya untuk Dewangkara.


            Sayangnya untuk beberapa hari ke depan hari-hari Dewangkara telah diminta oleh Hattali, Ayah dari Gayatri. “Sayangnya aku tidak bisa melakukan hal itu, Gayatri.”


            “Kenapa? Apa kau punya rencana lain dari antapura yang perlu kamu kerjakan?” Gayatri bertanya dengan raut penasaran hingga nasi yang harusnya masuk ke mulutnya tertinggal satu di dekat bibirnya.


            Dewangkara tersenyum melihat ke arah Gayatri dan tanpa sadar tangannya mengambil nasi di dekat bibir Gayatri. Dewangkara kemudian memakan nasi itu karena kebiasaan di rumahnya yang tidak boleh membuang-buang makanan. “Aku sudah dimintai tolong oleh Rama. Jadi selama tinggal di sini, aku punya kegiatan, Gayatri.”


            Dewangkara melanjutkan makan paginya sementara Gayatri membeku karena terkejut dengan apa yang baru saja dilakukan Dewangkara padanya. Gayatri membeku untuk beberapa waktu dan membuat Dewangkara bingung karena Gayatri tidak segera menyelesaikan makan paginya.


            “Apa kau baik-baik saja, Gayatri??” Dewangkara bertanya sembari melirik ke arah Biantara karena bingung dengan sikap Gayatri. Dewangkara bertanya pada Biantara. “Apa aku berbuat kesalahan lagi padanya??’


            Biantara mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban untuk pertanyaan Dewangkara.


            “Gayatri??” Dewangkara memanggil nama Gayatri untuk kedua kalinya dan kali ini panggilannya berhasil membuat Gayatri tersadar dari sikap membekunya.


            “Ya??” Gayatri gelagapan melihat ke arah Dewangkara. Wajahnya tiba-tiba saja memerah dan membuat Dewangkara semakin khawatir saja.


            “Kau baik-baik saja, Gayatri?? Aku berulang kali memanggilmu dan kau sama sekali tidak mendengar panggilanku.”


            “A-aku baik-baik saja.” Gayatri langsung melanjutkan makannya dengan sedikit gugup. Tapi sebelum Dewangkara melanjutkan kembali makan paginya, Gayatri menghentikan makannya lagi dan melihat ke arah Dewangkara dengan pandangan menuntut. “Rama meminta tolong apa padamu, Dewangkara??”


            “Ah itu ...”


            “Diajeng, aku datang.”


            Dewangkara yang tadinya ingin memberi penjelasan kepada Gayatri, harus menghentikan niatnya karena seseorang yang muncul di ruang makan dan langsung menyapa Gayatri.


            “Kenapa kau kemari, Lingga??” tanya Gayatri terkejut melihat kedatangan pria itu.


            Lingga melihat ke arah Dewangkara, Gayatri dan Biantara secara bergantian. Lingga kemudian menghentikan tatapan matanya pada Dewangkara dan menatap Dewangkara dengan senyuman kecil di wajahnya sembari menjawab pertanyaan dari Gayatri. “Aku datang untuk menemui pria ini, Diajeng.”