
Pagi hari
Zaky dan Dava sedang berjalan pelan. Mereka ingin pergi ke halte bus untuk berangkat kuliah, menemui dosen pembimbing.
“Cuaca hari ini sangat dingin. Apakah kamu yakin masih ingin memakan es krim?” tanya Zaky.
“Tentu saja! Tidak ada alasan bagiku untuk tidak memakan es krim hari ini!” sahut Dava.
Hari ini suhunya lebih rendah dari hari sebelumnya, mungkin sekarang sekitar 8°C. Padahal suhu biasanya hanya berkisar 17° sampai 12°C saja.
Zaky merasa kedinginan. Ia menggosok-gosokkan telapak tangannya untuk menciptakan rasa hangat. Bahkan karena terlalu dingin, Zaky akan mengeluarkan asap dari mulutnya setiap kali ia berbicara.
“Tapi hari ini cuacanya begitu dingin. Bukankah sebaiknya kita memakan sesuatu yang berkuah dan hangat?” saran Zaky yang kembali menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya.
“Tidak! Aku akan tetap memakannya hari ini! Rasanya akan jauh lebih enak jika dimakan dalam cuaca seperti ini,” sahut Dava tegas.
“Ya, terserah kamu saja! Aku tidak akan pernah memahami seleramu yang aneh itu,” jawab Zaky menyerah.
“Ayolah, sobat! Memakan es krim di cuaca seperti sekarang tidak seburuk yang kamu duga,” ucap Dava yang masih berusaha membujuk Zaky.
“Bagimu yang memiliki selera begitu buruk mungkin memang benar akan terasa nikmat. Tapi, bagi orang sepertiku yang memiliki selera normal pasti akan menghindari sesuatu yang dingin di cuaca seperti ini,” gerutu Zaky.
“Ayolah! Mengapa kamu begitu marah? Percayalah padaku kalau itu akan terasa lebih baik daripada yang kamu bayangkan,” bujuk Dava.
“Tidak! Jika kamu memang benar-benar ingin memakannya, maka kamu makan saja sendiri. Jangan kamu menghasutku untuk mengikuti keinginanmu,” tolak Zaky datar.
“Oh, ayolah! Mengapa kamu begitu dingin padaku? Cukup cuaca saja yang dingin, tapi kamu jangan,” ucap Dava sok imut. Zaky menyerngit jijik mendengarnya.
“Maaf, aku pria normal!” jawab Zaky bergidik ketika mengingat kembali ucapan Dava barusan.
“Ayolah, Sayangku... Mengapa kamu begitu kejam?” Lagi-lagi Dava bersikap sok imut yang terlihat begitu menjijikkan di mata Zaky.
“Cukup! Hentikan itu sekarang!”
“Ck! Kamu memang tidak seru diajak bercanda,” keluh Dava.
“Ayolah... mari kita makan es krim hari ini. Anggap saja sebagai vitamin penambah semangat sebelum kita bertemu dosen pembimbing.” Dava kembali berusaha membujuk.
“Tidak! Kamu makan saja sendiri!” jawab Zaky datar dan mempercepat tempo langkahnya, meninggalkan Dava di belakang.
“Hei! Tunggu aku! Mengapa kamu begitu tega meninggalkanku begini?” seru Dava sambil menggerutu, berusaha menyamakan langkahnya dengan Zaky.
“Hei! Jalanlah secara perlahan! Aku tidak suka lari di pagi hari!” seru Dava ketika sudah berhasil menyamakan langkahnya. Ia memegang bahu Zaky agar menahan langkahnya.
Zaky hanya diam, tidak merespon. Ia menatap Dava dengan raut wajah datarnya. Sedangkan Dava menjadi salah tingkah.
“Jangan menatapku dengan tatapanmu yang tajam begitu. Aku rasa tatapanmu bisa melubangi wajahku,” ucap Dava kembali menggerutu. Sedangkan Zaky semakin menatap Dava dengan datar.
“Baiklah, baiklah! Aku menyerah! Hentikan tatapan tajammu yang seperti laser itu,” nyerah Dava.
Zaky tersenyum, penuh kemenangan. Sedangkan Dava kesal melihat itu. Sepertinya kali ini pun dirinya harus kalah. Zaky jika sudah marah terlihat begitu menyeramkan.
“Baguslah jika kamu sudah mengerti,” ucap Zaky puas.
“Tapi aku benar-benar ingin memakan es krim hari ini,” desah Dava kecewa.
“Aku tidak melarangmu untuk memakannya asal kamu tidak berlebihan. Dan satu hal lagi, jangan memaksaku untuk mengikuti keinginanmu itu.”
“Tapi, rasanya tidak senikmat itu jika aku hanya memakannya sendiri. Memakan sesuatu yang enak itu memang akan terasa lebih nikmat jika dimakan bersama-sama,” ucap Dava mendramatisir.
“Terserah! Aku tetap tidak ingin memakannya!” putus Zaky.
“Ayolah... Sekali ini saja kamu mengikuti keinginanku.” Dava kembali mencoba membujuk.
“Tidak!” Zaky kembali melanjutkan langkahnya.
“Ayolah... Sekali ini saja!” Dava masih kekeuh dengan keinginannya.
Ucapan itu berhasil membuat langkah Zaky terhenti. Ia tersenyum samar, namun kembali merubah raut wajahnya menjadi datar ketika membalikkan badan, menghadap Dava.
Zaky berdeham untuk mengatur suaranya agar terkesan tidak tertarik. “Hanya es krim? Itu terlalu murah sebagai sogokan. Aku bahkan bisa membeli 10 bungkus jika hanya untuk itu,” ucap Zaky meremehkan.
“Lalu apa yang kamu inginkan? Ini sudah mendekati penghujung bulan, artinya anggaranku semakin menipis,” keluh Dava.
“Jika begitu, kita batalkan saja kesepakatannya,” jawab Zaky terlihat cuek. Tapi sebenarnya hatinya sedikit berdebar karena takut jika gertakannya gagal. Baru saja ia ingin berbalik dan melanjutkan langkahnya, ucapan Dava berhasil membuatnya kembali tersenyum.
“Oke! Dua hari aku akan membersihkan kamar dan mencuci pakaianmu!” putus Dava.
“Dua minggu,” sahut Zaky.
“Kamu ingin menjadikanku sebagai babumu?!” seru Dava tak terima. Zaky hanya mengendikkan bahu acuh.
“Tiga hari.” Dava kembali menawar.
“Seminggu penuh!”
“Apa mak...”
“Seminggu! Jika tidak mau, maka lupakan saja. Lagian di sini aku tidak dirugikan sedikit pun,” sahut Zaky cepat dan membuat ucapan Dava yang ingin protes mengambang di udara.
“Baiklah, kamu menang lagi! Puas?!” kesal Dava. Sedangkan Zaky kini melihatnya dengan raut wajah puas.
“Hah... Kalau begitu mari kita beli es krimnya sekarang,” desah Dava.
*****
“Apa yang kamu cari?” tanya Zaky ketika melihat Dava yang seperti panik mencari sesuatu di dalam tasnya. Kini mereka sudah berdiri di depan minimarket untuk membeli es krim.
“Apa kamu melupakan sesuatu?” Zaky kembali bertanya ketika tidak mendapatkan jawaban. Sedangkan raut Dava sudah terlihat sangat panik.
“Apa yang kamu cari?” tanya Zaky kembali ketika melihat Dava yang begitu heboh mencari sesuatu di dalam tasnya.
Dava melihat Zaky yang kebingungan. “Sepertinya aku lupa membawa skripsiku. Aku lupa memasukkannya ke dalam tas tadi dan hanya kubiarkan tergeletak di atas kasur,” ucap Dava yang membuat Zaky menganga tak percaya.
“Astaga! Apa yang sudah kamu lakukan? Mengapa kamu begitu ceroboh?!” seru Zaky tak percaya.
“Baiklah, aku pergi sekarang,” sahut Dava cepat.
“Hei! Mau ke mana kamu?” seru Zaky.
“Aku akan mengambil skripsiku. Kamu beli saja es krimnya duluan dan sisakan punyaku.” Dava menyerahkan dompetnya pada Zaky.
“Lebih baik kita membatalkan membeli es krimnya dan fokus untuk skripsimu.”
“Tidak! Es krim dan skripsi itu 2 hal yang berbeda! Mereka tidak sama, jadi jangan pernah mengatakan itu lagi.” Setelah mengatakan itu Dava langsung berlari kembali ke asrama.
“Hei! Aku akan meninggalkanmu jika terlalu lama!” teriak Zaky.
“Tidak akan lama! Aku akan segera kembali!” sahut Dava dari kejauhan.
Zaky menghela napasnya ketika Dava sudah menghilang dari penglihatannya. Ia pun masuk ke dalam minimarket untuk membeli es krim coklat yang menjadi rasa kesukaan mereka berdua.
*****
Zaky duduk di kursi panjang yang ada di pinggir jalan sambil memakan es krim miliknya secara perlahan. Cuaca sangat dingin, jika ia memakan semuanya sekaligus akan berdampak untuk giginya nanti.
Sudah sekitar 15 menit ia duduk di situ, menuggu Dava yang tak kunjung terlihat batang hidungnya. Kini Zaky sudah membuka bungkus es krimnya yang kedua. Memakan es krim di cuaca dingin ternyata rasanya tidak terlalu buruk seperti yang dikatakan Dava tadi.
Zaky terus memakan es krimnya. Tak lama kemudian, datang seorang gadis kecil dan langsung duduk di samping Zaky serta menyisakan jarak hanya beberapa jengkal saja dari Zaky. Gadis kecil itu hanya terduduk diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Zaky melihat gadis kecil itu perlahan. Ternyata gadis itu melakukan hal yang sama dan membuat Zaky langsung memalingkan wajahnya ketika mata mereka beradu. Entah mengapa Zaky tiba-tiba merasa sedikit canggung.