ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
Memberitahunya



“Dia mengalami stress yang cukup membuat kehamilannya terganggu, tensi darah rendah. Dan juga tidak memikirkan kesehatan untuk sang bayi. Mungkin kau harus memilih makanan yang sehat agar dia tidak sakit seperti ini!”


“Ha ... Hamil?”


Untuk sesaat Roy tertegun sejenak, menerima kenyataan bahwa wanita itu hamil. Ya, kemungkinan hamil anak pria brengsek itu. Dan kemungkinan lagi bahwa ayah dari anak ini sudah tahu kalau istrinya hamil.


“Kalau begitu aku permisi dulu, ini ada beberapa vitamin yang harus kau belikan untuknya. Bilang padanya untuk tidak banyak pikir dan jaga pola makannya!”


“Baik”


Edward memberikan secarik kertas kepada Roy dan kemudian menghilang dari pandangan laki-laki itu.


Roy menerimanya dan pergi dari apartemen untuk membelikan vitamin untuk Santika, sepanjang perjalanan dia banyak melamun dan nyaris hampir tertabrak trotoar.


Oh, sh itt


Roy memarkirkan mobilnya diseberang kiri jalan, dia turun dari mobil dan hendak menyeberang jalan untuk pergi ke apotek.


“Bukankah itu Al dan apa jangan-jangan itu istri barunya?”


Tanpa disengaja Roy melihat Al dan istri barunya itu pergi setelah berkunjung ke apotek untuk membeli sesuatu. Dan Roy hanya bisa melihat sekilas wajah istrinya dari sisi yang jauh.


“Sepertinya wajah istri barunya Al sangat familiar sekali, dan aku merasa aku pernah bertemu dengannya. Tapi dimana ya?”


Roy segera menyebrang jalan dan menuju apotek untuk membeli beberapa vitamin untuk Santika. Setelah selesai dia menuju kembali ketempat mobilnya terparkir dan meleset menuju apartemennya.


“Cantik, aku bawakan vitamin untukmu. Bangunlah dulu dan minum vitaminnya!”


Roy membuka pelan pintu kamar Santika, laki-laki itu terlihat bingung dengan sikap wanita didepannya itu. Santika terlihat mondar-mandir memasukkan barang-barangnya kedalam sebuah koper yang lumayan berukuran besar. Lantas membuat mulut Roy gatal untuk bertanya.


“Hei, cantik. Kau kenapa?”


“Roy.”


Santika berbalik dan menatap intens Roy, wajah wanita itu terlihat gusar dan cemas. Bisa Roy lihat kepanikan yang sangat besar diwajahnya wanita blasteran itu.


Roy lantas bingung dengan ucapan Santika, mereka?


Siapa mereka yang dimaksud oleh Santika, dan kenapa wanita itu terlihat panik sekali?


“ROY, KITA HARUS PERGI SECEPATNYA!”


Suara Santika naik satu oktaf, wanita itu terlihat kesal dengan Roy yang hanya diam mendengarkan perintah nya.


“Iya, iya cantik. Tapi kenapa kau ingin pergi secepatnya, apa ada yang menganggumu atau ada yang menerormu?”


“Ti.. tidak ada, a.. aku hanya tidak ingin kalau Mama nya Al tau kalau a.. aku mengandung cucunya.”


Roy memegang bahu wanita itu, menyuruh wanita itu untuk duduk di sofa lalu menyodorkan air putih. Setelah wanita itu meminumnya, Roy menyuruhnya untuk menghembuskan nafasnya lalu mengeluarkan secara perlahan. Ini dilakukan agar Santika bisa kembali tenang dan bisa menceritakan apa yang jadi permasalahan dia cemas.


“Roy.”


“Ya?”


Santika terlihat menjeda sedikit ucapannya, dia melihat tangannya yang digenggam erat oleh Roy dan meyakinkan dirinya untuk lebih rileks dan nyaman.


“Waktu kau keluar dari apartemen ini, mamanya Al meneleponku. Dia sangat marah dan menyuruhku untuk balik ke rumah utama, dia juga mengancam ku jika aku tidak balik ke rumah maka aku.. aku akan ..”


“Akan apa?”


“Aku akan terus diteror dan jika dia berhasil menangkapku, aku akan dipisahkan dengan anakku setelah aku melahirkannya.”


“Teror?”


Roy rasa ucapan Santika tidak masuk akal, dia kenal betul Mamanya Al. Wanita tua itu bukan mama mertua yang kejam yang sering menindas menantunya. Memang sih mulutnya seperti gunung meletus yang sekali bicara bikin sakit kepala. Tapi dia mempunyai hati yang baik dan pribadi yang lemah lembut.


“Sepertinya itu bukan ancaman dari Mama nya Al.”


Tbc.