
Narator’s POV
Karena alasan mengenai ingatannya yang bermasalah dan larangan untuk mengingat kembali ingatannya yang hilang, Rakryan Mahapatih Nambi melarang Dewangkara untuk bekerja di tempat yang berhubungan dengan kerajaan. Alhasil ... Rakryan Mahpatih Nambi menyerahkan pekerjaan dagang keluarganya kepada Dewangkara dan pagi ini ada sudagar(1) kain yang akan datang ke ibu kota dan mengantarkan kain untuk dikirim ke antapura. Dan di sinilah peran dari Dewangkara.
(1)Sudagar dalam bahasa Sanskerta berarti pedagang atau saudagar.
Dewangkara sebagai anak asuh dari Rakryan Mahapatih Nambi bertugas untuk menjemput kalangan sudagar itu di depan gerbang ibu kota dan kemudian mengantarkannya ke pos istana di mana para sudagar akan menyerahkan barang-barang mereka yang telah dipesan oleh antapura. Beberapa sudagar biasanya langsung pulang setelah melakukan tugas dan mendapatkan upahnya. Tapi beberapa sudagar terkadang memilih untuk tinggal di ibu kota selama beberapa hari karena alasan lelah dan perjalanan yang jauh. Dewangkara ... yang bertugas untuk mengantar para sudagar kemudian akan mengantar para sudagar untuk mendapatkan penginapan di ibu kota dan jika tidak dapat menemukan penginapan yang kosong, Dewangkara akan membawa sudagar itu ke salah satu rumah milik Rakryan Mahapatih Nambi yang kosong dan menyediakan beberapa layanan seperti mengantar makanan.
Begitu tiba di gerbang Ibu kota untuk menjemput rombongan sudagar, Dewangkara terkejut melihat rombongan yang lebih banyak dari seharusnya.
“Kangjeng(2) Yasodana.” Dewangkara menyapa lebih dulu rombongan yang diduganya sebagai rombongan sudagar yang datang hari ini.
(2)Kangjeng adalah sapaan untuk menghormati kalangan bangsawan atau setingkat juragan.
“Ya, itu benar nama saya keluarga saya. Nama saya adalah Hattala Yasodana, sudagar kain dari Tarik. Apa benar ini Kangjeng Dewangkara, putra Rakryan Mahapatih Nambi?” Pria tertua yang diduga Dewangkara sebagai pemimpin dari sudagar hari ini menjawab sapaan dari Dewangkara.
“Ya, saya adalah Dewangkara putra dari Rakryan Mahapatih Nambi. Saya hari ini akan mengantar rombongan ini ke pos istana. Tapi ...” Dewangkara melihat banyaknya orang di rombongan yang ikut bersama dengan Yasodana sebelum melanjutkan ucapannya. Dewangkara takut jika ucapannya setelah ini mungkin akan menyinggung Yasodana dan rombongan.
“Ini ... mohon maafkan saya, Kangjeng Dewangkara. Saya membawa lebih banyak orang dari seharusnya karena putri saya, Gayatri ingin melihat ibu kota. Ini adalah pertama kalinya bagi Gayatri melihat Ibu kota.” Hattali Yasodana menunjukkan putrinya kepada Dewangkara yang berada di belakang rombongan. Dewangkara tidak bisa melihat wajah Gayatri karena penutup wajah yang dikenakannya. Beberapa wanita dalam rombongan sudagar sering kali melakukan hal ini, demi melindungi diri mereka dari perhatian yang membuat mereka dalam bahaya ketika melakukan perjalanan.
Beruntung bagi Dewangkara, Tuan Hattala ini adalah sudagar yang cukup pengertian. Setelah lebih dari sepuluh tahun bekerja sebagai pemandu jalan di ibu kota untuk para sudagar, Dewangkara menemukan berbagai macam jenis sudagar: dari yang rendah hati hingga yang tingkahnya bak bangsawan sekelas patih(3) padahal hanya sudagar yang bahkan tidak memiliki darah bangsawan di dalam tubuhnya.
(3)Patih dalam sistem pemerintahan Majapahit sekelas dengan Bupati. Patih biasanya adalah orang yang berjasa pada Maharaja dan kebanyakan berasal dari kalangan bangsawan baik.
Dewangkara sendiri sebenarnya tidak mempermasalahkan darah bangsawan yang mengalir di dalam tubuh orang lain. Dewangkara bukan tipe orang yang menilai orang lain kedudukan dan statusnya. Hanya saja ketika menemukan beberapa orang yang menyebalkan yang bergaya layaknya bangsawan semena-mena bahkan ketika tidak ada darah bangsawan di dalam tubuh mereka, Dewangkara merasa sedikit bersyukur dengan adanya sistem bangsawan di tempatnya hidup.
Kembali pada sudagar Yasodana, Dewangkara menghitung jumlah orang dalam rombongan sudagar hari ini.
Sekitar 10 orang. Jika begini penginapan yang telah aku pesan, mungkin tidak akan cukup untuk tempat mereka tinggal, ujar Dewangkara di dalam hatinya.
“Kangjeng Yasodana ...”
“Panggil saya dengan Hattali, Kangjeng,” sela Hattali Yasodana kepada Dewangkara.
“Baik, Kangjeng Hattali. Karena jumlah rombongan Kangjeng lebih banyak dari seharusnya, mungkin penginapan tidak akan cukup sebagai tempat tinggal kalian untuk beberapa hari ke depan. Apa Kangjeng tidak keberatan jika tinggal di salah satu rumah milik Rakryan Mahapatih Nambi selama tinggal di ibu kota?” Dewangkara mencoba untuk memberi saran dan jalan keluar bagi rombongan Yasodana.
“Apakah itu tidak merepotkan untuk Rakryan Mahapatih Nambi? Saya beserta rombongan tidak ingin merepotkan Rakryan Mahapatih Nambi.”
Dewangkara menggelengkan kepalanya. “Tidak, Kangjeng Hattali. Rumah ini memang diperuntukkan untuk beberapa tamu yang memiliki keperluan di antapura. Jadi Kangjeng tidak perlu khawatir tentang Rakryan Mahapatih Nambi.”
Setelah itu ... Dewangkara mengantarkan rombongan sudagar Yasodana ke pos istana untuk mengantarkan kain yang dipesan antapura. Dewangkara mendengar jika kain buatan sudagar Yasodana adalah kain tenun kualitas terbaik, bahannya lembut dan terlihat memiliki banyak warna yang menarik. Baik orang-orang di antapura atau kalangan bangsawan lainnya, memesan kain dari sudagar Yasodana. Dan karena hal ini, Ayahnya-Rakryan Mahapatih Nambi mengutus Dewangkara untuk langsung mengantar sudagar Yasodana dan rombongannya ke antapura.
“Terima kasih, Kangjeng Dewangkara. Berkat Kangjeng, kami bisa mengantar barang dengan cepat.” Hattala Yasodana mengucapkan rasa terima kasihnya karena berkat Dewangkara, Hattala dan rombongannya tidak kesulitan untuk menemukan pos istana dan bisa mengantar barang pesanan dengan cepat berkat pelat khusus milik Dewangkara sebagai pemandu di ibu kota.
“Tidak perlu berterima kasih, Kangjeng. Saya hanya menjalankan tugas dari Rakryan Mahapatih Nambi saja.”
Dari pos istana, rombongan sudagar Yasodana kemudian bergerak ke arah salah satu rumah milik Rakryan Mahapatih Nambi yang biasa digunakan sebagai rumah singgah untuk tamu penting di ibu kota. Rumah singgah itu berjarak kurang lebih 222 hasta(4) dari kediaman Rakryan Mahapatih Nambi.
(4)Hasta satuan ukuran panjang. Satu hasta sama dengan 45 cm.
“Ini rumahnya, Kangjeng. Di dalamnya ada sekitar tujuh kamar. Pembagiannya saya serahkan kepada Kangjeng dan rombongannya. Untuk makan, nanti abdi dari kediaman Rakryan Mahapatih Nambi akan mengantarkannya kemari. Dan jika Kangjeng dan rombongan ingin makan di luar, mohon mengabari.”
“Terima kasih banyak, Kangjeng Dewangkara. Kami semua berterima kasih banyak atas bantuannya.” Hattala Yasodana mengucapkan terima kasihnya kepada Dewangkara.
“Ini sudah menjadi tugas saya. Dan jika Kangjeng membutuhkan sesuatu, silakan memanggil saya.” Dewangkara merasa tidak pantas menerima ucapan terima kasih itu ketika apa yang sedang dilakukannya saat ini adalah kewajibannya dan tugasnya yang diberikan oleh Ayah asuhnya.
“Aku butuh bantuan.”
Dari belakang rombongan Yasodana, Dewangkara mendengar teriakan suara wanita yang begitu enak di dengar di telinganya. Merdu sekali suara ini, pikir Dewangkara.
“Bisakah aku meminta bantuanmu, Kangjeng Dewangkara?” Si pemilik suara itu berjalan melewati orang-orang dari rombongannya dan melepas penutup wajah yang menutupi sebagian wajahnya.
Pemilik suara itu-putri Tuan Hattali berjalan mendekat ke arah Dewangkara dan membuat Dewangkara dapat dengan jelas melihat kecantikan milik Gayatri yang sejak tadi tersembunyi di balik pentup wajahnya.
“Apa yang bisa saya bantu, Kangjeng?” Dewangkara berusaha untuk bersikap tenang menutupi rasa gugup dan juga rasa kagum yang muncul dalam waktu singkat ketika melihat kecantikan Gayatri.
“Aku ingin berjalan-jalan di ibu kota, Bisakah aku memintamu untuk menemaniku, Kangjeng Dewangkara?”
Permintaan itu ... tentu saja tidak akan ditolak oleh Dewangkara. “Tentu saja, Kangjeng.”