ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
MASA LALU: UMPAN YANG MEMATIKAN PART 1



            Begitu tiba di Lamajang dengan perjalanan yang sangat melelahkan, Dewangkara tadinya tidak pernah menduga bahwa pemandangan yang saat ini dilihatnya saat ini. Ya ... begitu tiba di Lamajang, Dewangkara melihat Rakryan Mahapatih Nambi dalam keadaan bersedih dan mengenakan pakaian berduka dengan warna serba putih.


            “Rama ... “ Dewangkara yang langsung turun dari kudanya dan berjalan dengan menarik tali pengekang kudanya langsung menghampiri Rakryan Mahapatih Nambi yang sedang duduk bersedih di depan kediaman ayahnya yang tidak lain adalah kakek dari Dewangkara.


            “Dewangkara.” Rakryan Mahapatih Nambi melihat ke arah Dewangkara dengan mata nanar karena air matanya yang menggenang di ujung matanya.


            “Rama ini??” Dewangkara yang masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya kemudian mengajukan pertanyaan kepada Rakryan Mahapatih Nambi untuk memastikan.


            Rakryan Mahapatih Nambi langsung memberi anggukan kepala sebagai jawabannya. Tidak seperti sebelumnya Rakryan Mahapatih Nambi akan langsung memeluk tubuh Dewangkara ketika lama tidak bertemu dengan Dewangkara. Kali ini Rakryan Mahapatih Nambi tidak lagi punya tenaga untuk bangkit apalagi menghampiri Dewangkara untuk memeluk tubuhnya. Rakryan Mahapatih Nambi hanya duduk dengan tubuh bersandar dan wajahnya yang masih basah oleh air mata.


            “Rama terlambat, Dewangkara. Sama sepertimu begitu tiba, Rama telah mengembuskan nafasnya. Rama tidak sempat berpamitan.”


            Melihat Rakryan Mahapatih Nambi-ayah asuhnya merasa begitu kehilangan. Dewangkara berusaha untuk menguatkan dirinya. Setelah memastikan kudanya berada di tempatnya dan mendapatkan makanan dan minuman, Dewangkara langsung mengganti pakaiannya dengan pakaian berduka dan memberi penghormatan terakhirnya kepada kakeknya. Setelah melakukan hal itu, Dewangkara bersama dengan semua orang di kediaman milik Ayah dari Rakryan Mahapatih Nambi bersiap untuk melakukan pekerjaan terakhir mereka: adat untuk orang yang telah meninggal.


            Setelah melakukan semua itu, Dewangkara kemudian menuliskan beberapa surat  untuk mengabari kematian dari ayah Rakryan Mahapatih Nambi dan keadaan di Lamajang. Di antara banyak surat yang ditulis oleh Dewangkara, salah satunya dikirim ke Tarik di mana Gayatri tinggal dan antapura di mana Rakryan Mahapatih Nambi seharusnya datang bekerja sebagai perdana menteri.


            “Bagaimana Rama bisa langsung datang ke Lamajang? Apakah Maharaja memberi ijin kepada Rama?” Setelah beberapa hari sibuk melayani pelayat yang mulai berdatangan, Dewangkara akhirnya mengajukan pertanyaan kepada Rakryan Mahapatih Nambi mengingat selama ini ayahnya jarang sekali keluar ibu kota jika keadaan tidak mendesak.


            “Sejak kau pergi, Dewangkara ... keadaan antapura sedikit tegang. Maharaja sepertinya sedang kesal dengan Rama. Jadi Rama memutuskan untuk keluar dari ibu kota untuk sementara waktu dan kebetulan sekali surat itu datang,  mengatakan jika Mbah kakungmu sedang sakit. Rama mengirim surat padamu dan langsung berangkat kemari. Tapi begitu tiba, ternyata mbah kakungmu sudah mengembuskan nafas terakhirnya.”


            “Apa tidak apa-apa Rama pergi meninggalkan posisi Rama di antapura?” Dewangkara bertanya lagi untuk memastikan.


            “Tidak apa-apa, putraku. Mungkin dengan kepergianku selama beberapa waktu, amarah Maharaja bisa berkurang karena tidak melihatku. Apa kau sudah mengirim surat ke antapura untuk mengabarkan berita duka?”


            Dewangkara menganggukkan kepalanya. “Ya, Rama. Sudah. Mungkin besok akan ada kunjungan dari antapura.”


            Keesokan harinya seperti dugaan dari Dewangkara perwakilan dari antapura datang untuk mengucapkan belasungkawanya kepada Rakryan Mahapatih Nambi dan keluarganya. Hanya saja ... orang yang menjadi perwakilan antapura itu adalah seseorang yang tidak pernah diduga oleh Dewangkara: Dyah Halayuda.


            “Maharaja mengirimkan saya bersama dengan rombongan ini sebagai bentuk belasungkawanya kepada Rakryan Mahapatih.” Begitu tiba di kediaman milik ayah dari Rakryan Mahapatih Nambi di Lamajang, Dyah Halayuda langsung mengatakan kalimat itu kepada Rakryan Mahapatih Nambi setelah memberi penghormatan terakhir.


            “Sampaikan salamku pada Maharaja. Terima kasih atas kemurahan dari Maharaja,” balas Rakryan Mahapatih Nambi.


            Dyah Halayuda yang memiliki jabatan lebih rendah dari Rakryan Mahapatih Nambi menundukkan kepalanya sebelum menjawab balasan dari Rakryan  Mahapatih Nambi. “Tentu saya akan menyampaikan pesan Rakryan Mahapatih. Sebagai tanda belasungkawa, Maharaja juga mengirim beberapa tanda belasungkawa untuk keluarga Rakryan Mahapatih. Lalu Maharaja berpesan kepada saya, apa mungkin ada sesuatu yang dibutuhkan oleh Rakryan Mahapatih mengingat semua kerja keras Rakryan Mahapatih untuk kerajaan ini?”


            Rakryan Mahapatih Nambi yang merasa kehilangan dengan kematian ayahnya dan sangat sedih, kemudian mengajukan sebuah permintaan kepada Maharaja melalui Dyah Halayuda. “Tolong sampaikan pesanku pada Maharaja, saya  hanya ingin meminta waktu libur lebih lama lagi untuk duka cita ini. Saya ingin benar-benar melepas kepergian Rama sebelum akhirnya bertugas lagi.”


            “Terima kasihku untukmu, Dyah Halayuda.”


            Setelah memberi penghormatan untuk ayah dari Rakryan Mahapatih Nambi, Dyah Halayuda yang ingin kembali ke ibu kota menghentikan langkah kakinya ketika melihat Dewangkara yang mengantarkan kepergiannya.


            “Sayang sekali ... “ Sebelum naik ke kereta kuda yang membawa dirinya, Dyah Halayuda mengatakan dua kata itu kepada Dewangkara dan memutar tubuhnya untuk melihat ke arah Dewangkara yang berada di belakangnya.


            “Mohon maaf, apa yang sayang sekali, Kangjeng Dyah Halayuda?” Dewangkara bertanya kepada Dyah Halayuda.


            “Sayang sekali kau memilih menikah dengan keluarga kecil dan tinggal di luar ibu kota, Dewangkara putra Rakryan Mahapatih Nambi.”


            Dewangkara mengerutkan keningnya. “Apa yang membuat Kangjeng Dyah Halayuda berpikir pilihan saya itu adalah sesuatu yang harus disayangkan?”


            “Melihat pertandinganmu saat adu tanding saat itu, aku tahu bahwa kau punya kemampuan yang hebat, Dewangkara. Ditambah lagi beberapa tahun yang lalu, kau juga lulus ujian bayangkara dengan peringat pertama. Jika saat itu Rakryan Mahapatih Nambi membiarkanmu menjadi bayangkara, mungkin sekarang kau sudah duduk di posisi Rakryan Tumenggung dan punya pasukan sendiri.”


            Dewangkara menggelengkan kepalanya tidak setuju. “Saya rasa itu hanya pemikiran Kangjeng Dyah Halayuda saja. Saya senang dengan kehidupan sederhana yang saya miliki saat ini, Kangjeng.”


            “Ah benarkah??” Dyah Halayuda masuk ke dalam keretanya dan kemudian keluar lagi dengan membawa tombak khusus buatan pembuat senjata terbaik yang dipesan oleh Maharaja untuk Dewangkara sebagai hadiah pernikahannya. Dyah Halayuda kemudian memberikan tombak itu ke arah Dewangkara.  “Ini ...  adalah tombak yang dipesan khusus oleh Maharaja untukmu, Dewangkara.”


            “Maharaja memberikan ini untuk saya, Kangjeng?” Dewangkara bertanya sembari menerima tombak pemberian dari Maharaja lewat Dyah Halayuda.


            “Ya, tombak terbaik dari pembuat senjata terbaik di kerajaan ini. Kau mungkin tidak tahu, Dewangkara. Tapi di masa lalu, Maharaja pertama pernah memberikan sebuah tombak buatan khusus kepada salah satu menantunya. Jika ingat waktu itu, menantu itu adalah menantu kesayangan Maharaja pertama dan punya karir cemerlang ... “


            Mata Dewangkara membulat mendengar ucapan Dyah Halayuda. Dewangkara tahu siapa yang saat ini sedang dibicarakan oleh Dyah Halayuda.


            “Dalam waktu singkat dia menjadi Rakryan Tumenggung yang dipuja-puja oleh banyak orang di kerajaan ini dan Maharaja pun sangat menyukainya karena dalam peperangan yang dipimpinnya, dia tidak pernah kalah dalam perang. Dia punya prajurit yang benar-benar setia bahkan setelah kematian tragis yang dialaminya, semua pasukannya memilih untuk mati di perang ketika dikirim ke perang. Apa kau tahu siapa orang yang aku maksud, Dewangkara?”


            Dewangkara menundukkan kepalanya sebelum memberikan jawaban. “Saya hanyalah orang sederhana, Kangjeng. Hal-hal seperti itu saya kurang paham, Kangjeng. Mohon pencerahan dari Kangjeng.”


            Dyah Halayuda tersenyum melihat reaksi dari Dewangkara. “Sebelum aku pergi, biarkan aku memberimu satu nasihat, Dewangkara.”


            “Silakan, Kangjeng.”


            Dyah Halayuda mendekatkan wajahnya ke telinga Dewangkara dan kemudian berbisik. “Rakryan Tumenggung Sena yang punya pasukan pribadi saja tidak bisa melindungi gurunya, apalagi kau, Dewangkara.  Itu sebabnya aku bilang sayang sekali ... harusnya kau jadi Rakryan Tumenggung dengan begitu setidaknya kau akan punya pasukan untuk membantumu.”