ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
Hadiah Terima Kasih



“Berhenti!” seru Dava cepat ketika melihat Chike yang ingin pergi. Sedangkan Chike kini sudah menghadap Dava dengan bingung.


“Tebakan aku benar... Kalian berdua tidur bersama semalam kan??? Astaga! Zaky benar-benar berusaha membodohiku seolah-olah aku adalah anak kecil yang tidak mengerti apa pun.” Chike memandang Dava dengan heran, tak paham yang yang sedang dibicarakan.


“Astaga! Dia menjadi sering mengabaikan dan menyiksaku hanya karena sudah memiliki seseorang di sisinya. Dia benar-benar sangat kejam!” Dava mendengus kesal. Sedangkan Chike hanya diam, tak tau harus bagaimana merespon.


“Paman Zaky, maksudku ke mana Kak Zaky pergi?” tanya Chike. Sebenarnya ia bertanya untuk mengubah topik yang tidak dipahaminya. Kebetulan, Zaky tidak terlihat saat ia bangun dari tidurnya.


“Apa kamu sekarang mulai memanggilnya Kakak?!!” seru Dava tak percaya. Chike mengangguk sebagai jawaban.


“Apa? Mengapa kamu begitu tidak adil? Mengapa kamu tidak memanggilku seperti itu juga? Padahal aku dan Zaky seumuran,” ucap Dava lebay.


“Apakah kamu juga ingin kupanggil Kakak?” tanya Chike.


“Tentu saja... Kalau begitu panggil aku Kakak mulai sekarang. Ah, tidak-tidak! Panggil aku Bro...” Dava menepuk pundak Chike pelan, sok akrab. Chike yang tidak ingin ambil pusing pun langsung mengangguk mengiyakan.


“Bagus! Baiklah, Bro ini akan memberikanmu es krim miliknya yang sangat berharga. Kamu harus merasa tersanjung karena aku memberikannya padamu karena itu pertanda jika kamu sudah menjadi salah satu orang terdekatku,” ucap Zaky bangga.


“Jika memang benar seperti itu, apakah artinya aku sudah menjadi salah satu orang yang dekat denganmu?” tanya Chike memastikan.


“Tentu saja! Buat apa aku berbohong?”


“Haha, baiklah aku percaya.”


“Sebenarnya es krim ini adalah milik seseorang. Aku berencana ingin memberikan padanya, namun tidak jadi,” ucap Dava.


“Benarkah? Lalu mengapa kamu tidak memberikannya? Aku tidak mau mengambil barang milik orang lain.”


“Bukan seperti itu... pertama aku memang berniat membelikan ini untuknya. Tapi aku masih kesal dengannya karena pernah memberikan es krim milikku untuk orang lain. Padahal aku sangat ingin memakan es krim itu dan akhirnya harus tertunda karena tindakan Dia.” Dava menjelaskan dengan perasaan yang menggebu-gebu.


“Jika begitu ceritanya maka berikan es krimnya padaku.” Chike mengulurkan tangannya untuk meminta es krim yang ditawarkan.


“Tunggu... Nah, ini dia!” Dava memberikan es krim itu ke tangan Chike.


“Oh, aku sangat menyukai es krim rasa ini!” seru Chike ketika melihat es krim pemberian Dava.


“Sudah lama sejak terakhir kali aku memakannya. Aku pikir ini sudah tidak pernah diproduksi lagi. Ah, aku merindukan rasanya.”


“Benarkah? Tapi jika sudah tidak diproduksi lagi, lalu bagaimana aku membelinya?” tanya Dava bingung.


“Hah? Ah, tidak. Sepertinya aku yang salah bicara,” sahut Chike cepat ketika sadar apa yang barusan ia katakan.


“Tapi, apakah benar kamu menyukai rasa ini?” tanya Dava memastikan.


“Tentu saja! Ini sangat enak dan menjadi rasa favoritku,” sahut Chike.


“Benar! Walau pun tak banyak orang yang menyukai rasa ini, tapi ini adalah favoritku.Wah, Ini sangat kebetulan karena kamu juga menyukainya,” kagum Dava. Chike hanya tersenyum tipis sebagai jawaban.


“Dulu saat aku masih kecil, ada seseorang yang memberikan ini padaku. Pertama aku ragu untuk menerimanya, tapi setelah aku mencobanya dan ternyata itu enak.” Chike kembali mengingat momen saat Zaky pertama kali memberinya es krim.


“Siapa yang memberikannya padamu?” tanya Dava penasaran.


“Paman Zak... Ah, ngomong-ngomong kamu belum menjawab pertanyaanku tadi.” Dengan cepat Chike mengubah topik. Hampir saja ia keceplosan mengatakan Zaky yang memberikannya dan pasti akan membuat Dava curiga.


“Pertanyaan? Yang mana?”


“Ke mana Kak Zaky pergi?” Chike kembali mengulang pertanyaannya.


“Ah.... benar, aku hampir saja lupa. Tadi ada seseorang yang mencarinya di depan asrama. Ketika aku memberitahu, Dia langsung pergi begitu saja.” Dava membuka bungkus es krim miliknya.


“Apa itu seorang gadis kecil berumur 10 tahun?” tanya Chike memastikan.


“Benar! Oh, bagaimana kamu bisa mengetahuinya?” tanya Dava bingung.


“Tolong simpan ini di freezer!” Chike memberikan es krim miliknya ke tangan Dava dan langsung berlari pergi.


“Kenapa?! Ada Apa?! Hei!!!” seru Dava berteriak pada Chike yang sudah semakin hilang dari pandangannya.


“Mengapa aku merasa seperti satu-satunya orang yang berada di kegelapan?” tanya Dava bingung dan akhirnya memilih untuk pergi saja.


*****


“Apakah kamu datang ke sini untuk menemuiku?” tanya Zaky ketika sudah beras di depan Chike.


“Tidak! Aku hanya...aku hanya lewat. Benar! Aku hanya lewat,” sahutnya gugup. Ia tersenyum malu ketika melihat Zaky.


“Benarkah? Jika begitu, kurasa hanya aku yang berharap. Apa aku salah paham jika menganggap kamu datang untuk menemuiku?” tanya Zaky berpura-pura kecewa.


“Eh, tidak sama sekali,” sahutnya cepat.


“Aku mendengar seseorang mengatakan jika kamu ada di luar. Aku bahkan berlari untuk menemuiku. Tapi karena kamu mengatakan tidak berniat untuk menemuiku, haruskah aku kembali?”


“Tidak! Aku memang berniat untuk menemuimu!” Chike langsung menutup mulutnya yang keceplosan dan mengatakan kebenaran. Zaky tertawa pelan melihat itu.


“Apa itu benar? Syukurlah ternyata aku tidak salah sangka. Aku senang kamu datang ke sini karena berniat untuk menemuiku.” Zaky tersenyum lembut.


“Oh, apa ini? Apa kamu membuatnya ketika berada di kelas seni?” tanya Zaky sedikit menunduk untuk mensejajarkan posisinya dengan Chike. Ia menunjuk kalung yang sedang di pakai Chike di lehernya. Kalung itu berbahan pipet yang dibuat tangan.


“Oh, ini... Zya yang memberikannya padaku, Dia adalah tetanggaku. Dia mengatakan berhasil membuat ini saat di sekolah dan memberikannya padaku karena ia membuat lebih,” jawab Chike menjelaskan.


“Wow, ini sangat lucu.” Zaky memegang kalung itu dengan perasaan gemas.


“Apakah Paman ingin aku membuatnya satu untukmu?” tanya Chike antusias.


“Bukankah ini sulit?” tanya Zaky yang merasa tak enak.


“Tidak, ini bahkan sangat mudah untuk dibuat.”


“Kalau kamu mengatakan itu, maka aku ingin memilikinya jika tidak merepotkan mu.” Zaky menerima tawaran itu karena tidak tega menolak niat baik dari Chike.


“Oh, benar! Apa alasanmu menemuiku?” Zaky kembali berdiri dengan tegak.


“Oh, sebentar...” Chike mengambil tas ranselnya. Ia membuka tasnya dan mengambil sesuatu dari dalam. Zaky mencoba mengintip.


“Ini untuk, Paman.” Chike menyerahkan kado berbentuk hati yang dihiasi pita berwarna emas kepada Zaky.


“Apa itu? Apa ini untukku?” tanya Zaky mengambil kado pemberian Chike.


“Wah! Ini sangat imut... terima kasih,” ucap Zaky ketika melihat isi kado tersebut yang ternyata adalah coklat.


“Tapi apa yang harus aku berikan padamu sebagai balasan? Aku tidak tau kamu akan memberikan sesuatu untukku, jadi aku juga tidak mempersiapkan sesuatu juga.” Zaky merasa tak enak hati karena menjadi satu-satunya pihak yang menerima tanpa memberi.


“Tidak usah, Paman! Aku memberikan itu sebagai ucapan terima kasihku untuk kejadian beberapa hari lalu. Aku belum mengucapkan terima kasih dengan benar, makanya aku memberikan ini sebagai gantinya. Terima kasih, Paman.” Chike membungkuk sopan. Zaky tersenyum tipis melihat tingkah Chike yang terlihat menggemaskan.


“Baiklah, jika begitu dengan senang hati aku akan menerima ini. Terima kasih,” ucap Zaky tersenyum.


“Paman...” panggil Chike ragu.


“Iya? Apa ada yang ingin kamu katakan?”


“Apakah boleh jika sesekali aku pergi ke sini untuk menemuimu?” tanya Chike.


“Tentu saja! Mengapa kamu harus bertanya? Aku akan menantikan kedatanganmu yang selanjutnya,” sahut Zaky yang membuat Chike tersenyum senang.


“Kalau begitu aku akan pergi sekarang, Paman. Aku memiliki jadwal les sekarang,” ucap Chike yang sudah memakai tas ranselnya kembali.


“Oke. Belajarlah dengan rajin, ya?” Zaky mengusap kepala Chike pelan.


Chike mengangguk. “Baik, Paman. Kalau begitu sampai jumpa lagi,” pamit Chike.


“Hati-hati di jalan,” sahut Zaky.


“Jangan berlari atau kamu akan terjatuh!” seru Zaky ketika melihat Chike yang berlari kecil.


“Sampai jumpa, Paman...” Chike melambaikan tangannya yang dibalas oleh Zaky.


Zaky ingin kembali masuk ke dalam asrama, namun diurungkan ketika melihat Chike keluar dari asrama dengan langkah yang terburu-buru.


“Hei! Kamu mau ke mana?!” seru Zaky, namun tidak dihiraukan oleh Chike. Ia terus berjalan tanpa berniat untuk menjawab.