ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
MASA LALU: KISAH YANG TIDAK BOLEH DIUNGKAP PART 2



            Jika sebelumnya saat berangkat ke kota Tarik, Dewangkara hanya membutuhkan kurang lebih sembilan jam perjalanan dengan beberapa kali istirahat, maka saat kembali ke ibu kota, Dewangkara membutuhkan waktu yang lebih lama. Dewangkara yang berangkat pagi-pagi sekali dari kota Tarik, tiba di ibu kota saat langit terang telah berubah menjadi gelap. Faktor yang membuat Dewangkara berjalan lebih lambat adalah kuda yang membawa kain-kain itu berjalan lebih lambat karena beratnya. Alhasil ... perjalanan kembali Dewangkara membutuhkan waktu lebih lama dari pada saat pergi.


            Begitu tiba di kediaman utama milik ayah asuhnya, Rakryan Mahapatih Nambi telah beristirahat di kamarnya. Menurut abdi yang menyambut kedatangan Dewangkara, Rakryan Mahapatih Nambi mengalami masalah di antapura selama Dewangkara pergi. Selama beberapa hari ini Rakryan mahapatih Nambi selalu pulang terlambat dan kurang beristirahat, jadi malam ini Rakryan Mahapatih Nambi beristirahat lebih awal karena kelelahan yang telah menumpuk selama beberapa hari terakhir.


            Mungkin aku akan bicara masalah ingatanku yang telah kembali dan masalah Gayatri pada Rama besok. Setelah mengetahui ayah asuhnya sedang kelelahan, Dewangkara memutuskan untuk menunda masalah tentang dirinya hingga besok. Setelah makan malam dan membersihkan diri, Dewangkara akhirnya beristirahat di kamarnya dan tidur nyenyak untuk pertama kalinya di kamarnya sendiri.


            Keesokan harinya ketika membuka mata dari tidurnya yang nyenyak untuk pertama kali di kamarnya, Dewangkara mendapati sinar matahari sudah terlihat dengan jelas dari jendela kamarnya yang sudah terbuka. Buru-buru, Dewangkara bangkit dari tempat tidurnya untuk segera menemui ayahnya. Namun langkahnya terhenti tepat di depan kamarnya ketika abdi di kediamannya muncul dengan membawa makan pagi untuk Dewangkara.


            “Kangjeng sudah bangun rupanya.” Abdi itu bertanya dengan wajah heran melihat Dewangkara terbangun sendiri dari tidurnya tanpa keributan untuk pertama kalinya.  


            “Rama. Apakah Rama sudah berangkat ke antapura??” Dalam pikiran Dewangkara saat ini hanya ada ayah asuhnya dan beberapa cerita yang harus dikatakannya pada ayah asuhnya.


            “Ya, Kangjeng. Kangjeng Mahapatih sudah berangkat sejak tadi. Setelah menengok Kangjeng Dewangkara, Kangjeng Mahapatih berangkat dan berpesan pada saya untuk menyiapkan makan pagi untuk Kangjeng.” Abdi itu masuk ke dalam kamar Dewangkara dan meletakkan nampan yang berisi makan pagi untuk Dewangkara.


            “Hanya itu saja pesan dari Rama?” Dewangkara kembali ke dalam kamarnya dan duduk di meja untuk menyantap makan paginya.


            “Ah satu lagi. Saya hampir melupakannya. Untuk kain pesanan antapura, mohon nanti siang segera diantar ke pos antapura. Beberapa pawestri di antapura sudah tidak sabar untuk melihat kain-kain itu.” Abdi melanjutkan pesan Rakryan Mahapatih Nambi yang nyaris dilupakannya.


            “Aku mengerti. Ada lagi?”


            “Tidak, Kangjeng.”


            Setelah selesai mengantar makan pagi dan menyiapkan air mandi untuk Dewangkara, abdi itu meninggalkan kamar Dewangkara dan kembali pada pekerjaan yang sudah menunggunya. Dengan cepat Dewangkara menyelesaikan makan paginya, membersihkan dirinya dan bersiap untuk ke pos antapura untuk mengantarkan kain-kain pesanan dari antapura.


            Ah ... aku kembali pada aktivitasku sehari-hari. Dewangkara yang berjalan di ibu kota dengan menuntun kuda yang membawa kotak yang berisi kain-kain pesanan antapura, melihat keramaian di ibu kota dan teringat pada hari-hari kecilnya bersama dengan Gayatri dan Biantara. Tidak seperti kota Tarik di mana Gaytri tinggal, ibu kota adalah kota yang sangat ramai. Banyak orang datang dan pergi untuk keperluan mereka yang kebanyakan adalah sudagar yang datang untuk berbisnis.


            “Mohon hati-hati. Kain-kain ini adalah pesanan para pawestri.” Dewangkara memberi peringatan kepada penjaga pos antapura saat menyerahkan kain-kain yang dibawanya.


            “Kami akan berhati-hati. Pagi tadi Rakryan Mahapatih Nambi sudah memberi pesan kepada kami jika anak asuhnya akan datang kemari mengantar kain-kain pesanan para pawestri. Apakah kau putra  asuh dari Rakryan Mahapatih Nambi??” Petugas pos bertanya kepada Dewangkara.


            “Ya, saya adalah putra asuhnya.”


            “Jika aku tidak salah, kau adalah pemandu yang terkenal di ibu kota, bukan??” Petugas pos bertanya lagi kepada Dewangkara.


            Sama seperti bayangkara, sama seperti posisi-posisi lainnya, selalu ada peringkat yang dibuat oleh orang lain untuk penilaian kinerja. Pemandu ibu kota pun begitu meski penilaian itu tidak secara resmi. Sudah sejak lama Dewangkara mendengar kabar bahwa para sudagar yang datang ke ibu kota membuat penilaian untuk jasa pemandu yang mereka gunakan selama di ibu kota. Hanya saja Dewangkara tidak pernah menyadari jika para sudagar memberikan penilaian yang baik kepada dirinya. Bagi Dewangkara, dirinya hanya perlu bekerja dengan baik untuk menjaga nama baik dari ayah asuhnya-Rakryan Mahapatih Nambi.


            “Itulah yang aku dengar tentangmu, Kangjeng. Aku dengar banyak sudagar yang menyukai cara kerjamu selama menjadi pemandu.” Petugas pos itu kembali menyampaikan pujian untuk Dewangkara.


            “Kalau begitu senang mendengar jika sudagar yang memakai jasaku, menyukai pekerjaanku.”


            Selesai mengantar barang pesanan dan menerima pembayaran, Dewangkara berpamitan untuk melakukan tugasnya sebagai pemandu ibu kota. Setelah beberapa hari meminta seseorang untuk menggantikan pekerjaannya, Dewangkara harus segera untuk kembali bekerja dan mengumpulkan banyak uang. Dewangkara ingat masih ada satu hal penting yang harus dilakukannya dan itu membutuhkan banyak uang, pernikahannya dengan Gayatri.


            “Minggir!!!”


            Dari arah depan, Dewangkara melihat Danapati yang sedang berlari dengan kencang dan membuat keributan di jalanan ibu kota yang ramai.


            “Awass!!!”


            Dewangkara melihat Danapati membuat dagangan pada sudagar kecil di ibu kota berhamburan ke sana ke mari karena ditabrak oleh Danapati. Apa lagi masalah yang dibawanya kali ini?? Dewangkara menggelengkan kepalanya karena pemandangan yang saat ini dilihatnya bukanlah pemandangan yang satu dua kali terjadi.


            Danapati terus berlari mendekat ke arah Dewangkara dan kali ini Dewangkara bisa dengan melihat dengan jelas alasan dari Danapati yang terus berlari dan membuat jualan dari para sudagar kecil berhamburan di jalanan.


            Apa-apaan itu?? Kenapa banyak orang mengejar Danapati?? Kening Dewangkara mengerut melihat banyak orang mengejar Danapati dan membuat keributan di ibu kota. Dewangkara hendak berlari menghentikan keributan itu sebelum banyak sudagar kecil lain di ibu kota menderita kerugian lebih besar karena Danapati. Tapi sebelum Dewangkara, para bayangkara yang berjaga di pintu gerbang antapura dan di pos, langsung berlari melewati Dewangkara dan berusaha untuk menghadang orang-orang yang mengejar Danapati.


            “Berhenti!!!” Salah satu anggota pasukan bayangkara itu maju dan mulai membuat barisan blokade untuk menghentikan kumpulan orang yang mengejar Danapati.


            Dua pasukan itu saling bertemu dan menatap tajam satu sama lain. Sementara Danapati yang menjadi incaran dari kumpulan orang-orang itu, segera berlari menyelinap masuk ke dalam pasukan bayangkara yang sedang menghadang.  


            Dasar pria menyedihkan! Aku heran ... bagaimana pria seperti dirinya selalu mampu membuat para wanita tertarik padanya padahal nyalinya benar-benar kecil seperti itu. Dewangkara menggelengkan kepalanya melihat kelakuan dari Danapati.


            “Apa yang kalian lakukan di ibu kota, huh?? Apa kalian tidak menyadari jika kalian telah membuat keributan dan membuat para sudagar di sini mengalami kerugian??” Bayangkara yang tadi berteriak ‘berhenti’ mencoba menjadi penengah dan mencari tahu alasan dari kumpulan orang yang mengejar Danapati.


            Dewangkara mendekat untuk melihat keributan itu dan mendapati alasan Danapati berlari ketakutan seperti itu. Pria-pria itu memiliki otot yang besar dengan tinggi tubuh yang lebih tinggi dari kebanyakan orang di ibu kota. Melihat wajah dari kumpulan orang yang mengejar Danapati, Dewangkara mengenali orang-orang itu. Pukulan mereka pasti cukup menyakitkan.