ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
MASA LALU: GAYATRI DAN PUTARAN KEHIDUPANNYA PART 3



            “Nah sekarang sebelum aku menjelaskan apa yang harus kau lakukan untuk menyelamatkan Cintya ... “ Setelah Hyang Marana dan Hyang Yuda selesai bicara, sekarang giliran Hyang Tarangga yang kembali bicara lagi padaku. “Aku akan menunjukkan beberapa kehidupan milik Gayatri dan Dewangkara sebelum akhirnya terlahir dengan nama Raditya dan Cintya.”


            “Haruskah aku melihat itu, Hyang Tarangga?” tanyaku. “Bukankah aku sudah lebih dari cukup melihat apa yang dialami Gayatri?” 


            “Dengan melihat apa yang dialami Gayatri dan beberapa kehidupannya, mungkin kau akan sangat-sangat berusaha untuk menyelamatkan Cintya kali ini.” Hyang Tarangga menjelaskan dengan wajah sendunya padaku. Tidak lama kemudian, Hyang Tarangga meletakkan tangannya di atas kepalaku dan sebuah gambaran muncul di dalam benakku layaknya sebuah film yang berputar dengan kecepatan berkali-kali lipat.


            Putaran pertama kehidupan Gayatri.  Tahun 1404(1).


(1)   Tahun 1404-1406 adalah tahun terjadinya Perang Paregreg di Kerajaan Majapahit.  


            Dalam benakku, aku melihat seorang wanita yang lahir dengan wajah yang sama dengan Gayatri dan Nona Cintya. Akan tetapi namanya bukan Gayatri dan bukan Cintya.


            “Anantari.”


            “Ya, Rama.”  


            Nama wanita itu adalah Anantari. Dia adalah wanita yang bekerja sebagai petani kecil di pinggiran kerajaan yang entah aku tidak tahu namanya. Yang jelas aku lihat adalah keadaan tempat di mana Anantari tinggal tidak jauh berbeda dengan tempat di mana Dewangkara dan Gayatri tinggal.


            Kehidupan Anantari tadinya tenang dan nyaman. Anantari menikmati hidupnya sama seperti kebanyakan gadis lain seusianya. Tapi semua berubah ketika seorang pemuda bangsawan datang ke tempat tinggal Anantari.  Hanya dalam hitungan tiga detik begitu melihat sosok pria itu, Anantari langsung mengingat semua kenangannya sebagai Gayatri yang mencintai Dewangkara dan rela mati agar bisa bersamanya.


            Kebersamaan antara Anantari dan Ragnala-nama pria reinkarnasi dari Dewangkara, membuat keduanya kemudian jatuh cinta dan tidak butuh waktu lama bagi Ragnala untuk menemukan keberanian dari dalam dirinya untuk kemudian melamar Anantari.


            “Maukah menikah denganku dan jadi istriku?” Ragnala bertanya pada Anantari.


            Anantari yang masih mengingat ingatan kehidupan sebelumnya sebagai Gayatri semenjak bertemu dengan Ragnala, tanpa pikir panjang langsung menerima  lamaran itu.


            “Ya, Ragnala. Aku bersedia.”


            Meski apa yang aku lihat saat ini hanyalah pemutaran ulang dari kehidupan-kehidupanku bersama dengan Cintya sebelum-sebelum ini, tapi aku dapat dengan jelas melihat wajah bahagia dari Anantari dan juga ikut merasakan kebahagiaan dari Anantari seperti kebahagiaan dari Gayatri dan Nona Cintya.


            Setelah lamaran diterima, Anantari bersama dengan Ragnala kemudian mempersiapkan pernikahan mereka dengan sangat cermat. Semakin dekat dengan hari pernikahan, aku dapat dengan jelas melihat wajah bahagia Ragnala dan Anantari yang bersinar karena rasa bahagia di dalam hatinya dan juga cinta yang mereka miliki.


            Deg. Jantungku ikut berdetak kencang merasakan perasaan yang saat ini aku lihat dari Ragnali terhadap Anantari. Rasa bahagia itu ... wajah merona itu benar-benar mirip dengan Nona Cintya ketika dia di sisiku. Dan seperti ucapan Hyang Tarangga mengenai hukuman untuk pilihan yang diambil  Gayatri saat kehilangan Dewangkara, Anantari kehilangan Ragnali dalam perang yang tidak terduga terjadi di desanya. Perang yang tidak terduga datang dan membuat semua orang berada dalam bahaya.Ragnali sebagai seorang pria dan calon suami, langsung bergerak untuk melindungi Anantari-kekasihnya.


            Jleb. Takdir pedih dan menyakitkan  yang mengikat Anantari, membuatnya kehilangan Ragnali sama seperti Gayatri yang kehilangan Dewangkara. Sebuah anak panah tajam meluncur ke arah jantung Ragnali dan membuatnya jaytuh tersungkur sebelum akhirnya kehilangan nyawanya.


            “Tidak, Ragnali!! Tidak!!!”


            Dari tempatku berdiri yang penonton berwujud bayangan, aku melihat Anantari yang memeluk tubuh Ragnali yang telah kehilangan nyawanya.


            “Tidak, Ragnali!! Kau sudah berjanji akan menikah denganku besok!! Kau tidak bisa pergi seperti ini!!” Air mata membanjiri wajah Anantari yang terkejut mendapati calon suaminya-Ragnali mati karena terkena serangan perang demi melindungi dirinya.


            “Ragnali! Kumohon buka matamu!!! Kumohon padamu, buka matamu, Ragnali!!!”


            Setelah berulang kali memanggil dan berusaha untuk membangunkan Ragnali yang telah kehilangan nyawanya, Anantari yang menyadari bahwa usahanya gagal kemudian bangkit dari tempat menangisi Ragnali.  Anantari kemudian berjalan pergi dan langkahnya terhenti pada sebuah pedang yang tergeletak peninggalan pasukan perang yang tadi datang untuk menyerang.


            Dengan pedang itu, Anantari yang merupakan reinkarnasi dari Gayatri kemudian menyayat lehernya sendiri sebelum akhirnya jatuh bersimbah darah di tanah dengan mata yang terus menatap tubuh Ragnali. Sebelum menutup matanya, Anantari bergumam kecil dan aku mendengarnya dengan jelas seperti penonton yang sedang melihat film.


            “Sekali lagi. Di kehidupan selanjutnya, aku pasti bisa menikah denganmu, Ragnali, Dewangkari. Aku yakin itu.”


            Melihat adegan menyakitkan itu, dadaku terasa sesak. Air mataku jatuh lagi  menangisi Anantari yang merupakan reinkarnasi dari Gayatri harus memilih untuk mati hanya karena tidak sanggup kehilangan kekasihnya.


            Tapi adegan itu tidak berhenti di situ saja. Seolah tidak ingin memberi jeda istirahat padaku dan mengatur perasaanku, aku mendengar jentikan jari lagi. Klik. Pemandangan yang aku lihat berubah hitam dan tidak lama kemudian kembali muncul dengan suasana yang berbeda.


            Putaran kedua kehidupan Gayatri. Tahun 1511(2).


(2)Tahun 1511 adalah tahun di mana Bangsa Portugis berusaha untuk menaklukkan Malaka.


            “Luzia! Berhatilah-hatilah!”


            “Aku mengerti, Ayah!”


            Adegan berikutnya yang muncul di hadapanku adalah seorang gadis cantik dengan pakaian khas Eropa yang sedang berdiri di atas kapal. Nama gadis itu adalah Luzia dan dari wajahnya aku sudah dapat dengan jelas menebak siapa Luzia itu. Dia adalah reinkarnasi dari Gayatri dalam kehidupan keduanya dan kebetulan kali ini reinkarnasi Gayatri terlahir sebagai gadis keturunan asing.


            Luzia dan kapalnya yang baru saja mendarat di sebuah pelabuhan, hendak turun dari kapalnya dan tiba-tiba saja kakinya terpeleset karena Luzia yang kurang hati-hati.


            “Kyaaaaa!!!!” Aku melihat Luzia berteriak karena dirinya yang nyaris jatuh ke lautan. Tapi hup ... Beruntung sekali tangan Luzia berhasil ditangkap oleh seorang pria dengan pakaian yang terlihat seperti sultan dalam sejarah yang pernah aku pelajari.


            “Aku menangkapmu, Nona.”


            Waktu seolah membeku ketika Luzia melihat wajah dari pria yang menangkap tangannya dan berhasil membuatnya selamat dari kecelakaan yang akan membuatnya jatuh ke air laut yang dingin.


            Akhirnya aku bertemu denganmu lagi, Dewangkara. Dari posisiku sebagai seorang penonton aku dapat dengan jelas mendengar suara benak Luzia ketika melihat pria yang tengah menolongnya.


            Pria yang memiliki wajah yang sama denganku itu kemudian menarik tangan Luzia dan membuatnya kembali berdiri dengan baik.


            “Terima kasih.” Luzia berkata dengan senyuman di wajahnya. Jika sebelumnya Dewangkara lahir dengan nama Ragnali, kali ini nama seperti apa yang digunakan oleh Dewnagkara.


            “Sama-sama, Nona.”


            “Siapa nama Tuan? Saya harus mengingat nama seseorang yang telah menolong saya.”


            “Haruskah saya mengatakan nama saya hanya karena saya telah menolong Nona sekali saja??”


            “Ya, harus. Setidaknya saya harus membayar pertolongan yang Tuan berikan pada saya.”


            Dari tempatku berada, aku dapat dengan jelas melihat Luzia yang merupakan reinkarnasi Gayatri berusaha dengan keras untuk mengenal reinkarnasi dari Dewangkara yang lahir sebagai rakyat pribumi. Sayangnya ... kali ini reinkarnasi Dewangkara bukanlah orang yang ramah seperti Ragnali. Reinkarnasi Dewangkara itu kemudian pergi begitu saja tanpa menyebutkan namanya kepada Luzia.


            Tapi Luzia yang merupakan reinkarnasi Gayatri dan Anantari, adalah gadis yang tidak mudah menyerah sama seperti dengan Nona Cintya yang aku kenal dan aku tahu Luzia tidak akan menyerah di sini saja.